ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Halusinasi


__ADS_3

Dianka tertidur diantara seranggga yang merayap ditubuhnya. Pagi itu dia merasa sangat lapar setelah kemarin memakan jangkrik-jangkrik itu, haruskah dia kembali memakannya.Dalam kondisi lemah dan lemas dia mendengar suara Alex memanggilnya.


"Dianka...Dianka..."ucap Alex kecil.


"Alex aku rindu, ayo kita main lagi"ucap Dianka berhalusinasi.


"Dianka kemarilah aku akan menggendongmu dipunggungku"ucap Alex kecil.


"Alex tubuhku lemas dan lemah, aku lapar"ucap Dianka berhalusinasi.


"Aku punya buah apel banyak, baru kupetik, ayo kita memanjat lagi lebih banyak Dianka"ucap Alex kecil berlari menjauh dari Dianka.


"Ya, tunggu aku, aku tak bisa mengejarmu"ucap Dianka berhalusinasi.


Dianka berhalusinasi karena tubuhnya lemas dan lemah. Alex datang menghampirinya dan mengecek kondisi Dianka. Tubuh Dianka demam bahkan dia setengah sadar.


"Alex tunggu aku, jangan tinggalkan aku"ucap Dianka berhalusinasi.


"Dianka, sadarlah. Kau kenapa? kau itu mangsaku"


ucap Alex.


Dianka masih  berhalusinasi dan memeluk Alex.


"Alex jangan pergi meninggalkanku lagi"ucap Dianka.


".........."Alex hanya diam ketika Dianka memeluknya.


"Alex kenapa kita tidak bisa seperti dulu, aku rindu padamu sejak kita berpisah dulu"ucap Dianka.


"........."Alex hanya diam.


"Kenapa kita begitu jauh sekarang bahkan aku dan kau seperti bumi dan langit yang tak mungkin bertemu"ucap Dianka.


"........."Alex hanya diam.


"Jika ada tempat dimana dendam ini hilang, aku ingin tinggal disana"ucap Dianka.


".........."Alex hanya diam.


"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu yang dulu selalu menggandeng tanganku"ucap Dianka.

__ADS_1


"Dianka kau itu mangsaku jangan bermain api dengan pemangsamu"ucap Alex.


Dianka tak lama langsung pingsan dipelukan Alex. Alex langsung membawa Dianka keluar dari penjara bawah tanah. Dia membawa Dianka ke lantai atas ke sebuah kamar yang biasa digunakan Alex istirahat di markas itu. Alex membaringkan Dianka diranjangnya. Dia mengambil waslap dan membasahinya lalu menempelkan didahi Dianka.


"Biasanya kau sangat kuat Dianka, kenapa sekarang kau begitu lemah?"ucap Alex.


Alex menemani Dianka yang sedang berbaring.


Tubuh Dianka mengalami demam, sesekali Alex mengecek kondisinya. Dianka mengigau sambil tidur.


"Alex...Alex...Alex..."ucap Dianka saat mengigau.


"Tubuhnya panas sekali"ucap Alex.


Tak lama Dianka mulai menggigil kedinginan, Alex memegang tangan Dianka yang kedinginan, lalu dia menyelimuti tubuh Dianka. Kini Dianka tidak kedinginan dan mengigau lagi..


"Dianka apa aku harus balas dendam padamu?


Ada sebagian kecil dihatiku yang membuatku iba melihatmu seperti ini tapi dendamku lebih membara"ucap Alex.


Alex naik ke ranjang tidur disamping Dianka.


Setelah beberapa jam demam Dianka sudah turun. Alex terbangun dan mengecek kondisi Dianka yang sudah tidak demam lagi. Kemudian dia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. Alex bicara pada Ricard.


Alex.


Selesai bicara dengan Ricard, Alex pergi meninggalkan Markas Tengkorak Berdarah.


Dianka bangun dari tidurnya, dia melihat kesekeliling, dia berada dikamar milik Alex di markas itu.


"Aku berada dikamar Alex, apa dia tadi yang memindahkanku kesini?"ucap Dianka.


"Aku lemas sekali rasanya, apa begini rasanya jadi Ibu hamil, aku merasa sangat lemah dari biasanya"ucap Dianka.


Tak lama Ricard datang ke kamar itu membawa makanan dan minuman untuk Dianka.


"Dianka makan dan minumlah, ini perintah Bos Alex"ucap Ricard.


"Apa benar dia menyuruhku makan dan minum?"tanya Dianka.


"Kau tak usah bertanya, Dianka aku punya informasi untukmu"ucap Ricard.

__ADS_1


"Informasi apa?"tanya Dianka.


"Menikahlah dengan Bos William, dia akan membebaskanmu dan Ibumu dari cengkraman Alex"ucap Ricard.


"Kenapa William begitu menginginkanku jadi istrinya, dia itu kaya pasti bisa mendapatkan banyak wanita"ucap Dianka.


"Dia menyukaimu Dianka, kalau kau tertarik bilang padaku"ucap Ricard.


Ricard keluar dari kamar itu setelah berbicara pada Dianka.Dianka memikirkan ucapan Ricard.


"Menikah dengan William? apa itu caraku pergi dari tempat ini tapi apa nasibku akan berbeda jika aku memilih menikah dengan Wiliam? dia begitu kaya dan berkuasa, kenapa harus memilihku?"


ucap Dianka.


Dianka bingung memikirkan perkataan Ricard tentang William. Dia berpikir  bersama Alex atau William mungkin akan sama saja. William lelaki yang selalu menginginkan wanita, Dianka takut lelaki itu hanya menginginkan dirinya saja tidak dengan cintanya.


***********


Lara masuk ke ruang kerja milik Alex. Dia mengeledah ruangan itu, berharap ada sesuatu yang menyangkut dengan bisnis ilegal milik Alex.


Lara membuka setiap laci dan membaca setiap dokumen yang ditemuinya.


"Dimana Alex menyimpan semua hal yang berhubungan dengan bisnis ilegalnya?" ucap Lara.


"Apa dia menyimpannya diperusahaan? haruskah aku pergi kesana kapan-kapan?"ucap Lara.


Lara kembali mengecek beberapa dokumen dilaci itu, tiba-tiba dari belakang ada Alex memeluknya.


"Kau sedang mencari apa Lara?"tanya Alex.


"Tidak, aku..aku..."ucap Lara ketakutan karena ketahuan Alex.


"Apa Alex akan membunuhku karena ini?"ucap Lara dalam hatinya.


Alex langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar miliknya. Dia membaringkan Lara diranjang itu. Lalu dia mengajak Lara melakukan hal yang romantis itu.


"Lara, lihat aku, aku ingin melihat senyuman diwajahmu"ucap Alex menghentikan kegiatan romantis itu sementara.


Lara akhirnya memberinya senyuman sesuai kemauannya. Mereka merajut cinta meskipun dihati Lara ada kebencian dan kekesalan pada Alex.


"Sampai kapan aku harus bersama Alex? aku ingin secepatnya membuatnya membusuk dipenjara"ucap Lara didalam hatinya.

__ADS_1


Alex begitu menikmati saat-saat berdua bersama Lara. Dia terbuai dalam cinta hingga kurang waspada, dia tak tahu Lara sudah menjadi singa yang akan menerkamnya sewaktu-waktu.


__ADS_2