ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Kematian Alex


__ADS_3

Martin pulang ke rumah besar Alex. Dia ingin memberitahu pada Alex apa yang terjadi pada Dianka. Dia menemui Alex yang sedang berada diruang kerjanya. Alex sedang asyik dengan laptop dimeja kerjanya. Tanpa basa basi Martin langsung mengabarkan semuanya pada Alex.


"Kak Alex, aku membawa kabar yang mungkin akan membuatmu kaget"ucap Martin.


"Apa maksudmu Martin?"tanya Alex.


"Dianka tewas, dia melakukan bom bunuh diri di Markas Gengster Kalajengking"ucap Martin sambil menundukkan kepalanya.


Alex langsung menghampiri Martin dan menarik kerah bajunya.


"Apa?.....kau bercanda Martin"ucap Alex masih belum percaya dengan perkataan Martin.


"Aku tidak bercanda Kak Alex, Dianka memintaku mengantarnya ke Markas Kalajengking, dia ingin mengakhiri semua permasalahan ini. Tapi aku tak tahu kalau dia akan melakukan bom bunuh diri. Aku menyesal Kak Alex, aku tak tahu kalau akan begini jadinya"ucap Martin.


Alex langsung memukul Martin berkali-lali sampai mukanya babak belur.


"Martin siapa yang memberimu izin membawa Dianka kesana, kenapa kau mulai berani bertindak tanpa sepengetahuanku"ucap Alex.


"Maaf Kak Alex, ini permintaan Dianka, aku hanya menemaninya saja"ucap Martin.


"Martin, kau tahu aku paling tidak suka dengan orang yang tak patuh padaku, apalagi kau membuatku sangat marah padamu Martin, kau tahu seberapa pentingnya Dianka untukku"ucap Alex menghentikan pukulannya pada Martin.


"Aku tak tahu akan begini jadinya Kak Alex, aku menyesal, maafkan aku. Pukulah aku sepuasmu jika ini bisa membuatmu puas Kak Alex, aku memang salah"ucap Martin.


"Keluar! jangan pernah kau berani menampakkan mukamu didepan ku"ucap Alex dengan nada yang keras.


Martin keluar dari ruang kerja Alex, dia tahu kali ini Alex benar-benar marah padanya. Alex langsung memukul tembok didepannya dengan kedua tangannya.


Dug.....dug.....dug.........


"Dianka kenapa kau lakukan semua ini, kau tak boleh pergi meninggalkanku Dianka, kita berjanji akan selalu bersama Dianka, kenapa kau tinggalkan ku Dianka"ucap Alex.


Alex keluar dari ruang kerjanya berjalan keluar dari rumahnya mengendarai mobil pribadinya.


Tak lama Alex keluar, Lara baru sampai dirumah besar itu. Gibran mengantar Lara sampai depan rumahnya.


"Lara kau yakin akan tinggal disini lagi?"tanya Gibran.


"Iya Gibran, sampai aku berhasil mendapatkan bukti itu"ucap Lara.


"Kalau ada apa-apa langsung telpon aku ya, jangan biarkan dirimu dalam bahaya"ucap Gibran.


"Iya Gibran, kau jangan khawatir, aku akan berhati-hati"ucap Lara.


Gibran mencium kening Lara, setelah itu Lara masuk ke rumah besar itu. Dengan berat hati Gibran meninggalkan rumah besar itu.


********


Lara mencari keberadaan Alex tapi tak menemukan dikamarnya. Dia mencari ke sekeliling rumah tapi tak menemukannya juga. Akhirnya Lara masuk ke ruang kerja Alex. Disana terdapat laptop yang masih menyala dan belum ditutup. Lara penasaran dan melihat data apa yang terdapat dilaptop itu. Ternyata semua data pengiriman bisnis ilegal milik Alex.


"Kenapa Alex kali ini ceroboh, aku harus copy paste data ini ke dalam flash disk"ucap Lara.


Secepatnya Lara copy paste semua data tersebut ke dalam flash disk yang disiapkannya.


"Aku harus cari data lainnya mumpung Alex tak ada dirumah"ucap Lara.

__ADS_1


Lara mencari data lainnya dilaptop itu, kemudian dia mengcopy paste semuanya.


"Dengan semua data ini, semoga Alex bisa dijebloskan ke penjara"ucap Lara.


Selesai mengcopy paste semua data dilaptop itu, Lara keluar dari ruang kerja Alex. Dia langsung menelpon Gibran. Mengetahui hal itu Gibran langsung mengendarai mobilnya kembali ke rumah besar Alex. Gibran langsung menjemput Lara dari rumah besar itu dan membawanya pergi dari tempat itu.


Setelah keluar cukup lama, Alex kembali ke rumah besarnya. Dia langsung kembali ke ruang kerjanya. Baru mau duduk dikursi kerjanya, suara ramai dari halaman rumahnya terdengar jelas.


"Saudara Alex sebaiknya Anda keluar, rumah ini telah kami kepung"ucap polisi itu.


Mendengar ucapan itu Alex langsung keluar, dia melihat banyak polisi. Mereka mengepung rumah besarnya. Alex tidak bisa kabur atau melawan, akhirnya Alex ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.


*********


William sedang duduk diruangan kerjanya diperusahaan miliknya. Ricard masuk ke ruangan itu untuk melapor pada William.


"Bos, Dianka sudah meninggal"ucap Ricard.


"Apa?.....kau bercanda Ricard"ucap William.


"Tidak Bos, Dianka melakukan bom bunuh diri di Markas Gengster Kalajengking"ucap Ricard.


"Tidak mungkin, Dianka tidak mungkin mati, dia sangat kuat"ucap William masih tak percaya.


"Selain itu, Alex ditangkap polisi Bos, dia sudah ditahan. Lara melaporkannya ke polisi"ucap Ricard.


"Aku sudah tak peduli lagi tentang Alex, tapi Dianka. Kenapa semua harus terjadi seperti ini"ucap William.


"Sorry Bos, tapi ini yang terjadi"ucap Ricard.


Ricard keluar dari ruangan kerja William setelah memberikan laporannya. William hanya diam dan menatap foto Dianka dimeja kerjanya. Dia tak menyangka kalau Dianka akan mati dengan cara seperti itu.


Lara ditemani Gibran membesuk Alex diruang besuk tahanan. Lara duduk didepan Alex dan mulai berbicara padanya.


"Alex aku datang kesini bukan untuk simpati padamu tapi justru aku ingin melihat seberapa penyesalanmu didalam penjara ini"ucap Lara.


"Kau senang sekarang keinginanmu terpenuhi, aku sudah mendapat hukuman atas semua perbuatanku padamu Lara"ucap Alex.


"Ya, aku senang sekali. Sebentar lagi kau akan dihukum mati atas semua perbuatanmu selama ini Alex, kau memang pantas mendapatkannya" ucap Lara.


"Aku tahu semua ini atas laporanmu Lara, tapi aku tidak menyalahkanmu, mungkin dengan semua ini bisa menebus semua kesalahanku padamu selama ini. Semoga kau bahagia dan sekali lagi aku minta maaf. Aku harap kau bisa memaafkanku dengan tulus untuk yang terakhir kalinya"ucap Alex.


"Awalnya aku datang dengan penuh kebencian tapi kini melihatmu seperti ini, aku akan memaafkanmu dengan tulus Alex"ucap Lara.


"Jika nanti aku mati, bisakah kau menaruh seikat bunga dibatu nisanku"ucap Alex.


"Pasti, aku akan meletakkan seikat bunga untukmu"ucap Lara.


Lara yang tadinya penuh kebencian dan kemarahan melihat Alex saat ini, dia merasa kasihan. Tak lama waktu besuk habis, Lara keluar dari ruangan itu bersama Gibran. Dia naik mobil bersama Gibran menuju ke rumahnya. Diperjalanan Lara hanya diam dan terlihat sedih.


"Lara ada apa? kau terlihat sedih setelah bertemu Alex"ucap Gibran.


"Awalnya aku ingin sekali dia dipenjara dan mati membusuk disana tapi melihatnya tadi minta maaf, aku merasa kasihan padanya. Apalagi dia akan mendapatkan hukuman mati. Gibran apa aku ini kejam padanya?"tanya Lara.


"Lara semua yang akan dia terima sebanding dengan semua kesalahannya. Membunuh banyak orang selama ini, memproduksi barang ilegal dan memasarkannya,  kekerasan seksual padamu dan penyiksaan yang terjadi padamu dan Ardi itu sebanding dengan hukumannya saat ini"ucap Gibran.

__ADS_1


Lara hanya diam, meskipun dia tahu ini sebanding dengan semua kesalahan dan kejahatan Alex, tapi dia merasa iba saat melihat Alex tadi.


************


Dianka menyapu didepan rumahnya, kini dia tinggal disebuah rumah sederhana. Perutnya mulai terlihat membesar. Selesai menyapu dia duduk dikursi teras rumahnya. Dia membaca koran hari ini. Dia melihat berita Alex yang akan dijatuhi hukuman mati. Dianka sudah tahu kalau Alex ditahan, tapi dia sudah memutuskan untuk memulai hidup barunya dan melupakan semua kehidupan lamanya demi bayi yang dikandungnya.


"Haruskah aku menemui Alex dan memberitahunya tentang kehamilanku tapi dia tahunya aku sudah mati, jika dia tahu aku masih hidup dan mengandung anaknya ini akan membuat Alex semakin menderita saat menghadapi hukuman matinya"ucap Dianka.


"Tapi Alex harus tahu kalau dia punya anak apapun nanti yang terjadi, dia berhak tahu semua ini sebelum dia dihukum mati, dia harus tahu anak ini"ucap Dianka.


Dianka memutuskan membesuk Alex ke penjara.


Alex kaget saat melihat Dianka, dia langsung memeluk Dianka.


"Dianka, aku pikir kau sudah mati dan aku tak bisa bertemu denganmu lagi"ucap Alex menangis memeluk Dianka.


"Alex, maafkan aku harus meninggalkanmu"ucap Dianka.


Alex melepas pelukannya dan melihat perut Dianka yang terlihat besar.


"Dianka, apa kau hamil?"tanya Alex.


"Iya, aku hamil anakmu Alex, sudah lama aku menyembunyikan kehamilanku darimu, maafkan aku Alex"ucap Dianka.


Alex langsung berlutut dan memeluk perut Dianka.


"Sayang, ini ayah, kau harus sehat dan baik-baik saja didalam perut ibumu. Maafkan ayah nanti tidak bisa melihat kau tumbuh besar. Ayah ingin kau tumbuh jadi anak yang kuat dan harus bisa menjaga Ibumu, maafkan ayah mungkin nanti tak bisa bersama kalian"ucap Alex sambil meneteskan air matanya.


Dianka menangis melihat Alex dan merasakan kesedihan yang dirasakannya. Dianka langsung berlutut juga dan memeluk Alex.


"Dianka maafkan aku tidak bisa menemanimu merawat anak kita nanti, aku ini tak berguna hanya bisa membuatmu menderita"ucap Alex.


"Alex semua sudah terjadi, aku akan merawat anak ini dengan baik, dia akan tumbuh jadi anak laki-laki pemberani dan kuat sepertimu Alex"ucap Dianka.


"Dianka beri nama Dafa pada anak kita nanti" ucap Alex.


"Iya, aku akan memberi nama Dafa pada anak kita nanti"ucap Dianka sambil menangis.


Jam besuk habis, Dianka dan Alex harus berpisah. Alex begitu sedih melihat Dianka yang harus hamil tanpa dia disisinya. Dia merasa sangat bersalah telah melakukan kesalahan selama ini hingga membuat orang-orang disekelilingnya menderita.


*********


Dua bulan kemudian


Lara berada didepan batu nisan Alex, dia meletakkan seikat bunga dibatu nisan itu. Dia memenuhi janjinya pada Alex untuk meletakkan seikat bunga dibatu nisannya. Lara meneteskan air matanya.


"Alex semoga kau tenang disana, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu"ucap Lara.


Gibran menghampiri Lara yang duduk disamping batu nisan itu.


"Lara ayo pulang"ucap Gibran.


"Iya"ucap Lara lalu berdiri.


Gibran dan Lara meninggalkan tempat pemakaman itu. Setelah sepi barulah Dianka datang ke pemakaman itu. Dianka meletakkan seikat bunga sambil duduk disamping batu nisan Alex.

__ADS_1


"Alex aku datang untuk melihatmu, sebentar lagi aku melahirkan. Anak kita sehat, aku berharap kau melihat kami nanti disana. Alex aku akan menjaga anak ini dan mencintainya seperti aku mencintaimu. Aku akan selalu mendoakanmu semoga kau tenang disana"ucap Dianka sambil meneteskan air matanya.


Dianka menangis didepan batu nisan itu sambil memegang perutnya yang sudah membesar. Dia tahu ini akan terjadi pada akhirnya. Dia akan melewati hari yang sulit tanpa Alex dan semua orang yang disayanginya. Kini hanya buah hatinya yang akan menemaninya nanti dan mengisi hari-harinya.


__ADS_2