
Lara bangun dari tidur melihat ke sekelilingnya. Alex sudah tidak ada dikamar itu. Lara langsung mandi, selesai mandi Lara keluar dari toilet. Dia melaksanakan sholat subuh, berdzikir dan berdoa. Tidak ada yang lebih penting dari itu didunia ini.
"Ya Allah, aku akan menjebloskan suamiku sendiri ke penjara atas semua kesalahan dan kejahatannya, lancarkan semuanya, jangan biarkan hambamu ini terlibat cinta dengannya, amin" ucap Lara dalam doanya.
Selesai sholat, pelayan mengetuk pintu kamarnya. Lara membuka pintu kamarnya, sudah ada tiga pelayan yang siap melayaninya. Pelayan pertama membawa beberapa potong dress dari desainer yang sudah dibeli Alex, pelayan kedua siap menjadi hair style list, dan pelayan ketiga akan membantu Lara berdandan. Mereka melayani Lara sesuai perintah Alex. Lara jadi sangat cantik setelah berdandan dan mengenakan dress yang indah. Setelah itu dia turun ke lantai bawah, Alex sudah menunggunya untuk sarapan.Alex berdiri dan berjalan menghampiri Lara. Dia mencium tangan Lara.
"Sayang ayo kita sarapan, aku sudah menyediakan semuanya untukmu"ucap Alex.
Lara hanya tersenyum palsu dan mengikuti Alex ke meja makan itu. Semua hidangan tersedia penuh dimeja itu. Pelayan melayani mereka saat makan. Selesai makan Alex berbincang pada Lara.
"Lara apa kau mau jalan-jalan atau berbelanja?" tanya Alex.
"Tidak perlu, aku dirumah saja"ucap Lara.
"Nanti sore sepulang bekerja, aku akan mengajakmu ke Mall untuk jalan-jalan dan berbelanja, aku harap kau mau"ucap Alex.
"Baiklah, aku mau"ucap Lara.
"Ikuti saja permainan ini dulu biar Alex benar-benar percaya"ucap Lara dalam hatinya.
"Yasudah, aku harus berangkat bekerja.Jika kau butuh sesuatu para pelayan ini akan membantu semua kebutuhanmu dirumah ini"ucap Alex.
"Ya aku tahu"ucap Lara.
Alex berdiri dari kursinya dan menghampiri Lara lalu mencium keningnya.
"Sampai jumpa Lara sayang"ucap Alex.
Lara hanya diam, dia malas harus berbicara pada Alex. Alex keluar dari rumah besar itu dengan mobil pribadinya dan beberapa pengawal pribadinya yang mengendarai mobil yang lain.
**************
Dianka masih dirumah besar milik William.Dia keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Tak sengaja dia melihat Ricard masuk ke dalam ruang kerja William. Dianka membuntutinya lalu menguping pembicaraan mereka.
"Bos, Alex sudah mengurung Ibu Laura dipenjara bawah tanah di Markas Tengkorak Berdarah"ucap Ricard.
"Gimana kondisinya?"tanya William.
"Dia sedang sakit setelah kemarin dibanting Alex. Selain itu Alex tidak memberinya makan"
ucap Ricard.
"Apa Alex masih mencari Dianka?"tanya William.
"Masih, dia mengerahkan semua pasukannya untuk mencari Dianka"ucap Ricard.
"Terus kumpulkan informasi untukku"ucap William.
"Baik Boss"ucap Ricard.
Dianka langsung kaget dan sedih mendengar kabar itu. Dia khawatir dengan kondisi Ibunya yang ditawan Alex.
__ADS_1
"Alex sangat kejam dan bengis, Ibuku bisa mati jika tetap ditangan Alex. Aku harus kesana untuk membebaskan Ibuku"ucap Dianka.
Dianka menyelinap keluar dari rumah besar William. Dia pergi ke Markas Tengkorak Berdarah sendirian.
Sampai dimarkas itu Dianka langsung masuk dan menghadap Alex yang duduk di singgasananya.
"Dianka ternyata aku tak perlu repot-repot mencarimu tapi kau malah datang sendiri padaku"ucap Alex.
"Aku datang kesini karena kau menawan Ibuku Alex. Tolong bebaskan Ibuku, kau boleh mengurungku atau melakukan apapun sesukamu, asalkan bebaskan Ibuku Alex"ucap Dianka.
"Bagus mangsaku yang ini lebih berani, aku memang tidak meragukan kemampuanmu Dianka. Tapi kali ini aku tidak akan berbelas kasih padamu,anak Giorgio"ucap Alex.
"Pengawal bawa masuk Ibu Laura"ucap Alex.
"Baik Bos"ucap Pengawal itu.
Ibu Laura dibawa masuk ke ruangan itu dan berjumpa dengan Dianka. Dianka langsung berlari menghampiri Ibunya lalu memeluknya.
"Ibu, ini Dianka putrimu"ucap Dianka sambil menangis.
"Iya nak,Ibu tahu sayang. Pergilah secepatnya dari sini, dia jahat nak. Dia akan mencelakaimu nantinya"ucap Ibu Laura.
"Tidak, aku baru saja bertemu Ibu. Aku tidak ingin mereka menyakiti Ibu. Aku akan membebaskan Ibu dari sini"ucap Dianka.
"Nak, Ibu sudah tua,kalau matipun tidak apa-apa. Tapi kau masih muda perjalananmu masih panjang, Ibu sangat menyayangimu. Pergilah dari sini ku mohon"ucap Ibu Laura.
Prooook.....proooook....prooook....
Alex bertepuk tangan karena senang melihat Dianka dan Ibunya menderita.
"Pengawal pisahkan mereka"ucap Alex.
Pengawal itu menarik Ibu Laura dan pengawal lauinnya menarik Dianka.
"Dianka jika kau ingin ibumu bebas, kau harus diam saja saat sepuluh pengawal menyakitimu, aku ingin melihat betapa menyakitkan saat kau terluka didepan ibumu"ucap Alex.
"Tidaaak....kau biadap"ucap Ibu Laura.
"Jangan nak, lebih baik Ibu mati dari pada kau melakukan itu"ucap Ibu Laura sambil menangis.
Ibu Laura tidak bisa berbuat apa-apa kedua tangannya dipegang oleh pengawal Alex.
Sepuluh pengawal itu mulai mengerumuni Dianka.
"Apa yang harus ku lakukan? jika aku melawan nyawa Ibuku dalam bahaya tapi jika aku mengikuti kemauan Alex, apa yang akan terjadi pada anak yang ku kandung? Alex kau biadap, aku sedang mengandung anakmu"ucap Dianka.
Dianka hanya pasrah saat sepuluh pengawal itu mendekatinya. Mereka hendak memukul Dianka tapi
Ibu Laura menginjak kaki pengawal Alex lalu mengambil pistol dan menembakkannya ke dadanya.
Dooor..........
__ADS_1
"Ibuuuuuuu.........."ucap Dianka berteriak.
Dianka langsung berlari ke arah Ibunya dan memeluknya dipangkuannya.
"Ibu, jangan tinggalkan aku,aku baru saja bertemu denganmu"ucap Dianka.
"Pergilah dari sini nak, selamatkan dirimu"ucap Ibu Laura.
"Tidak, aku akan membebaskanmu"ucap Dianka.
"Tidak ada seorang Ibupun yang tega melihat anaknya disakiti didepan matanya. Ibu lebih baik mati, agar kau bisa pergi dari sini"ucap Ibu Laura.
"Ibu......"ucap Dianka.
"Di...an...ka"ucap Ibu Laura.
"Tidaaaaak......"ucap Dianka.
Ibu Laura langsung tertidur. Dianka menangis sejadi-jadinya. Matanya penuh kemarahan. Dia berdiri dan mau menghajar semua pengawal Alex. Tadi dia diam saja karena Ibunya ditawan sekarang tidak ada lagi hambatan. Dianka langsung melompat, menendang dan memukul semua pengawal Alex, dia merebut pistol dan menembaki kaki dan tangan semua pengawal Alex sampai mereka tumbang lalu kabur.
Dor....dor.....dor.....
Ruangan itu sepi, tinggal Alex dan Dianka berdua diruangan itu. Dianka berjalan menuju ke arah Alex dan mengarahkan pistol ke kepala Alex.
"Kau ingin membunuhku Dianka?"tanya Alex.
"Tadi aku berdiam diri karena Ibuku kau tawan tapi kini aku tak punya alasan lagi untuk tidak melawanmu"ucap Dianka penuh amarah.
"Bukannya kau tangan kananku Dianka"ucap Alex.
"Tangan kanan? kau saja tak pernah menghargai jerih payahku untukmu selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan aku hampir mati ditangan gengster Kalajengking karena melindungimu. Tapi apa? kau malah memperlakukan Ibuku seperti binatang. Kau boleh balas dendam padaku tapi jangan pada Ibuku yang sudah tua dan tak berdaya"ucap Dianka.
"Tak berdaya? dulu Ibu dan kakakku juga tak berdaya. Tapi apa yang dilakukan ayahmu pada mereka?"ucap Alex.
"Dendam itu lagi, aku muak mendengar kata itu Alex, jika peliharaan saja bisa mengigit majikannya. Kenapa aku tak bisa membunuhmu.Kalau perlu kita mati sama-sama disini biar tidak ada lagi dendam"ucap Dianka.
Dianka mengarahkan pistol ditangan kanannya ke kepala Alex dan pistol ditangan kirinya ke kepalanya sendiri.
"Selamat tinggal"ucap Dianka.
Alex langsung menangkis kedua tangan Dianka hingga pistol itu terjatuh dilantai.
Praaang...
Pistol itu jatuh ke lantai, Alex langsung menangkap Dianka dalam dekapannya.
"Sekarang apa yang bisa kau lakukan Dianka?"
tanya Alex.
Dianka langsung menyikut Alex dengan tangannya lalu menendang Alex. Alex mulai melawan Dianka. Mereka bertarung diruangan itu. Dianka melompat dan melakukan tendangan tapi ditangkap tangan Alex lalu Alex membalas dengan tendangan balik sampai hampir mengenai perut Dianka, tapi ditahan Dianka menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Anakku hampir saja kau terbunuh oleh ayahmu sendiri"ucap Dianka.
Dianka kembali melawan Alex,hingga mereka bertarung cukup lama dan akhirnya Dianka pingsan karena kelelahan.