
Dianka sudah memasak pagi-pagi sekali untuk sarapan dan makan siang sekalian. Mumpung hari libur, dia ingin mengajak Dafa jalan-jalan. Selesai memasak, Dianka naik ke lantai atas untuk membangunkan Zion yang masih tidur. Dianka naik ke atas ranjang dan menepuk lengan Zion sambil berbicara padanya.
"Zion...Zion...bangun....bangun....."ucap Dianka membangunkan Zion.
"Zion ayo bangun sudah pagi, biasanya kau jogingkan"ucap Dianka sambil menepuk lengan Zion.
Dianka belum berhasil membangunkan Zion, dia mencoba sekali lagi.
"Zion bangun....bangun....ayolah bangun"ucap Dianka.
"Ngantuk"ucap Zion singkat lalu kembali tidur lagi.
"Aduh, kalau dia tak segera bangun dan sarapan bagaimana aku akan minta izin padanya untuk mengajak Dafa jalan-jalan keluar, ah aku punya ide"ucap Dianka dalam hati.
"Kebakaran...kebakaran....."ucap Dianka.
"Apa? kebakaran? dimana?"tanya Zion terbangun karena kaget.
"Dibibirku"ucap Dianka.
"Hei, aku sudah jantungan kau pikir ini bercanda, kau benar-benar ingin membuatku mati ya Dianka"ucap Zion.
"Habis aku sudah bawel membangunkanmu dari tadi kau tetap saja tidur, ayo bangun dan cepatlah sarapan"ucap Dianka.
"Kau ini Bosnya atau aku sih? kenapa terkesan kau yang memerintahku, kau ini tahukan hari ini hari libur, aku masih ingin tidur"ucap Zion.
"Aku dan Dafa ingin jalan-jalan ke Mall. Sudah lama kami tak pernah kesana, jadi bolehkah aku pergi jam 10 pagi nanti?"tanya Dianka.
"Kau harus mengurusku dulu, pagi ini temani aku joging, lalu sarapan dan kerjakan pekerjaanmu yang dikantor masih menumpuk"ucap Zion.
"Kalau begitu kapan selesainya, Dafa akan kecewa. Aku sudah janji padanya mau pergi hari ini"ucap Dianka.
"Hei gajimu itu tak ada hari liburnya jadi kerjakan semuanya, baru kau pergi ke Mall"ucap Zion.
"Hih"ucap Dianka kesal.
Dianka keluar dari kamar Zion dengan sangat kecewa. Dia merasa lelaki itu semakin membatasi ruang geraknya.
Zion memaksa Dianka ikut joging bersamanya. Sepanjang jalan Dianka cemberut pada Zion.
"Larimu itu seperti kura-kura yang sedang balapan dengan kelinci, lelet banget"ucap Zion.
"Aku capek kau tahu, dari pagi memasak untukmu dan mengurus semua keperluanmu" ucap Dianka.
"Berlari cepatlah sedikit ini juga bagian pekerjaanmu. Kau tak maukan gajimu lelet juga datangnya"ucap Zion.
"Ih membosankan kata-kata itu lagi"ucap Dianka.
"Begini kalau cuma bisanya cemberut, olahraga itu untuk tubuh bukan untuk muka he....he..."ucap Zion.
"Lama-lama dia menyebalkan sekali"ucap Dianka.
Dianka berlari menghampiri Zion dan menubruknya hingga terjatuh.
"Woi"ucap Zion.
"Olahraga tuh untuk tubuh bukan untuk mulut he...he....."ucap Dianka.
Dianka langsung berlari menjauh selesai bicara pada Zion.
"Hei wanita aku akan menyusulmu dan menciummu lihat saja biar kau tahu rasanya olahraga mulut"ucap Zion.
Zion berdiri dan berlari mengejar Dianka. Dia terus berlari sampai bisa menangkap Dianka lalu menciumnya paksa.
"Ehm...ehm...."ucap Dianka kesulitan nafas karena Zion menciumnya secara buas.
Tak lama Zion melepas ciuman itu, Dianka terlihat cemberut dan kesal.
__ADS_1
"Itu yang namanya olahraga mulut kau paham" ucap Zion sambil berlari menjauh dari Dianka.
"Hei, monster kau seenaknya mencium orang secara paksa. Kau memang monster jahat, aku benci kau"ucap Dianka.
Zion tak peduli dengan ucapan Dianka dan terus berlari.
Setelah pekerjaannya selesai, Dianka dan Dafa pergi ke Mall. Zion mencari keberadaan Dianka dan Dafa.
"Kemana sepasang ibu dan anak itu? dari tadi aku mencarinya tak ada dirumah. Oh...aku ingat mereka pergi ke Mall"ucap Zion.
Zion langsung mengendarai mobilnya menyusul Dianka dan Dafa ke Mall. Sampai di Mall Zion mencari mereka hingga kesemua tempat yang ada di Mall. Zion berjalan secepat mungkin kesana kemari. Naik ke lantai atas kemudian turun lagi.
"Dimana mereka? capek sekali rasanya"ucap Zion.
Dua orang Ibu-ibu sedang berbicara sambil berjalan, Zion mendengarkannya.
"Ayo cepet naik ke lantai atas ada sepasang Ibu dan anak jatuh dari lantai tiga"ucap Ibu Sri.
"Denger-denger mereka mati langsung ditempat ya"ucap Ibu Noni.
Zion langsung berlari ke lantai diatasnya. Dia sampai berkali-kali menabrak orang. Sampai dilantai dua, dia melihat dua jasad yang ditutupi kain menunggu polisi datang. Zion menghampiri dua jasad itu dan duduk disampingnya.
"Kenapa kalian pergi begitu cepat, aku belum puas tertawa mengerjai kalian. Hariku baru saja menarik. Maafkan aku terkadang menjengkelkan"ucap Zion sampai meneteskan air matanya.
"Hei kau, kenapa kau menangisi jasad itu? apa dia simpananmu dan anak terselubungmu"ucap Dianka.
Mendengar suara Dianka Zion langsung berbalik.
Dianka dan Dafa berada dibelakangnya. Zion begitu malu sudah menangisi orang yang salah.
Zion langsung berdiri dan menghampiri Dianka dan Dafa.
"Kalian kalau pergi pamit dong, aku ini bertanggungjawab atas orangku. Jangan seenaknya seperti ini. Kau tahu dari tadi aku...."ucap Zion langsung terhenti karena gengsi mengakui kalau dia tadi mencari Dianka dan Dafa.
"Bajumu basah kuyup penuh keringat, apa kau tadi habis berlari mencari kami?'tanya Dianka.
"Baguslah, lagi pula paling kalau kau mencariku pasti mau memerintahku, hari ini aku dan Dafa ingin jalan-jalan tak mau diganggu, bye. Ayo Dafa kita lanjutkan lagi main diplayground sana"ucap Dianka menarik tangan Dafa untuk pergi dari tempat itu.
"Dah Papa, Dafa pergi dulu"ucap Dafa.
Dianka dan Dafa pergi meninggalkan Zion.
"Hih, wanita itu, dia tak tahu apa dari tadi aku mencarinya"ucap Zion.
Zion akhirnya menyusul mereka ke Playground. Zion masuk ke Playground itu dan bermain bersama Dafa.
"Ayo Papa jumping lagi, Dafa belum capek"ucap Dafa.
"Aduh kepalaku pusing banget, mual lagi"ucap Zion.
Zion dan Dafa menghabiskan waktu mereka bermain berbagai permainan yang ada diplayground itu.
***********
Lara dan rekannya kembali mengajari para artis itu menari. Tapi dia tak melihat ada Carlos disanggarnya. Lara coba menanyakan pada teman satu profesi dengan Carlos tapi mereka tak tahu. Akhirnya Lara mencoba menghubungi Manager Carlos.
"Hallo, selamat pagi"ucap Lara.
"Hallo, selamat pagi juga"ucap Demian.
"Pak Demian, Carlos hari ini tidak datang ke sanggar. Apa Anda tahu kenapa?"tanya Lara.
"Dia sedang mengurung diri dirumahnya Nona Lara"ucap Demian.
"Mengurung diri?"tanya Lara kembali.
"Dari kemarin dia mengurung diri dikamar, tidak mau bertemu dengan siapapun"ucap Demian.
__ADS_1
"Begitu ya, boleh minta alamat rumahnya?"tanya Lara.
"Boleh, saya akan kirimkan ke no Anda"ucap Pak Demian.
"Terimakasih Pak Demian"ucap Lara.
"Sama-sama"ucap Demian.
Lara menutup telponnya setelah berbicara pada Pak Demian. Dia berpikir untuk pergi ke rumah Carlos. Lara mengendarai mobilnya menuju ke rumah Carlos. Rumah itu cukup besar dan megah. Lara masuk ke rumah itu diantar pelayan. Didepan kamar Carlos, Pak Demian sedang membujuk Carlos dari pintu luar kamarnya.
"Pak Demian, Anda sudah disini?"tanya Lara.
"Dari kemarin saya disini, Carlos tidak mau syuting apapun dari kemarin"jawab Demian.
"Apa dia belum membukakan pintu sama sekali?"tanya Lara.
"Belum, saya juga sedang mencemaskannya, dia bahkan belum makan dari kemarin"ucap Pak Demian.
Lara coba mengetuk pintu kamar itu dan berbicara pada Carlos.
Tuk....tuk....tuk.........
"Carlos, bukakan pintunya, keluarlah kita semua disini mencemaskanmu"ucap Lara.
Tapi tak ada tanggapan dari dalam tetap hening.
"Carlos....Carlos.....Carlos....."ucap Lara.
"Carlos jangan bodoh, karirmu bisa hancur dalam sehari. Kau tak sayang, bertahun-tahun kau meniti karir apa hanya sampai disini"ucap Lara.
"Aku pikir kau itu artis besar yang diidolakan banyak orang, bahkan semua orang ingin sepertimu. Tapi penilaian ku salah kau hanya artis yang bermental tempe, tidak profesional, semaumu sendiri, keras kepala, sombong, jutek, gampang marah, mudah menyerah....."ucap Lara.
Pintu kamar itu terbuka, Carlos keluar dari kamarnya.
"Sudah selesai menjelekkan aku"ucap Carlos.
Demian dan Lara tersenyum akhirnya Carlos membuka pintunya. Lara langsung menarik lengan Carlos membawanya ke ruang makan.
"Hei kau ini siapaku, lepaskan tanganku"ucap Carlos.
"Kau duduk disini dan makan cepat"ucap Lara.
"Aku tidak lapar"ucap Carlos acuh.
"Kalau kau tak makan, aku akan terus memarahimu sampai telingamu itu panas, oke" ucap Lara.
"Bawel"ucap Carlos.
Carlos akhirnya memakan makanan dimeja makan itu. Selesai makan dia bicara pada Lara.
"Kenapa kau harus kemari, padahal kau hanya guru tariku saja?"tanya Carlos.
"Ayo kita berteman, aku tahu terdengar aneh. Dan mungkin kau tak suka pada sikapku yang keras padamu kemarin, itu semua karena aku ingin mengajarimu sampai kau bisa menari, aku minta maaf"ucap Lara.
"Kau tak perlu minta maaf, akulah yang salah. Gara-gara aku tidak profesional kau kena imbasnya"ucap Carlos.
"Carlos bila kau ada masalah, kau bisa berbagi dengan orang terdekatmu. Masalah tak akan selesai jika kau hanya memendamnya"ucap Lara.
"Aku ingin jadi seorang aktor, tapi ayahku ingin aku jadi seorang pengusaha. Aku pergi dari rumah dan meniti karir jadi aktor. Aku pikir ayah akan bangga padaku saat aku jadi aktor papan atas tapi itu tetap saja dianggap sebelah mata oleh ayahku. Aku bahkan tidak boleh bertemu Ibu dan adikku. Rasanya rindu tapi tak bisa bertemu" ucap Carlos.
"Kalau begitu minta maaflah pada ayahmu dan yakinkan dia bahwa jadi aktor atau pengusaha sama saja. Banyak aktor bahkan merangkap jadi pengusaha dengan investasi saham diberbagai usaha. Mungkin kau bisa mencobanya dan menunjukkan hasilnya nanti pada ayahmu"ucap Lara.
"Kau betul, terimakasih Lara. Aku tak tahu berbagi cerita padamu ternyata membuat hatiku lega"ucap Carlos.
"Kalau begitu besok kau harus belajar menari lagi ya, ku tunggu"ucap Lara.
"Oke"ucap Carlos.
__ADS_1
Setelah berbincang dengan Carlos, Lara kembali ke sanggar. Dia akhirnya berhasil membujuk Carlos dan memecahkan permasalahannya