ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 25


__ADS_3

Sisi mengacungkan pistolnya ke arah depan.


"Sisi turunkan pistolmu, ku mohon," bujuk Chaiden.


"Jika aku tidak bisa memilikimu yang lain juga tidak boleh memilikimu, kalian semua harus mati," ucap Sisi.


"Sisi, apa yang kau lakukan dulu atau sekarang, takkan membuatmu bahagia, menyakiti orang lain untuk kepentinganmu sendiri hanya akan membuatmu semakin menderita," ucap Almira.


"Sisi jangan menambah kesalahanmu, kau sudah membunuh Bunga dan Karin, sekarang kau ingin membunuh kita bertiga," ujar Mahira.


"Iya, memang kenapa? di penjara? sebelum semua itu terjadi, kita akan mati bersama," ujar Sisi.


"Sisi, kakak sangat menyayangimu, kau bisa menemukan jodoh yang terbaik untukmu," bujuk Chaiden.


"Kalian tidak mengerti, mencintai itu menyakitkan, apalagi saat orang yang kita cintai mencintai orang lain, sakit ... sakit rasanya," ujar Sisi.


"Bodoh, matamu sudah dibutakan cinta, sampai kau lupa mana yang benar atau salah," ucap Almira.


"Kau pikir dengan membunuh kita semua kau bisa bersama Chaiden? orang jahat sepertimu akan pergi ke neraka," ucap Mahira.


Sisi kesal dia menekan pistolnya ke arah Mahira.


Dor ...


Chaiden menjadikan tubuhnya tameng untuk Mahira. Peluru itu mengenai punggungnya hingga tembus di jantungnya, darah mengalir di dadanya. Mahira langsung menangkap tubuh Chaiden yang sudah tak mampu berdiri. Dia duduk di bawah memangku kepala Chaiden.


"Chaiden ...," ucap Mahira sambil menangis.


Almira segera menghampiri mereka berdua. Dia duduk di dekat Chaiden.


"Chaiden ..., jangan tinggalkan aku, kita harus main basket lagi," ujar Almira.


"Mahira, Almira, maafkan aku, karena dendam aku melupakan cintaku padamu Mahira, Almira," ucap Chaiden pelan.


Almira dan Mahira terus menangis. Sisi yang melihat Chaiden sekarat semakin marah, rasa bencinya pada Mahira dan Almira semakin menjadi-jadi, dia mengarahkan pistol ke arah mereka berdua lalu menembak.


Dor ...


Tangan Sisi tertembak duluan oleh polisi. Mereka langsung menangkap Sisi dan mengamankannya, sedangkan Almira dan Mahira masih mendampingi Chaiden di sisa waktunya.

__ADS_1


"Ma-hira, Al-mira, ma-afkan a-ku ...," ucap Chaiden untuk yang terakhir. Chaiden menghembuskan nafas terakhirnya.


"Chaiden ...," teriak Almira dan Mahira.


Mereka berdua menangis. Harus kehilangan orang yang dicintainya dalam situasi yang tidak diinginkan.


***


Mahira, Almira dan Ibu Rika duduk di samping nisan Chaiden. Semua orang sudah meninggalkan tanah pemakaman itu. Tinggal mereka bertiga yang tersisa. Mahira dan Almira masih menangis. Semuanya mendadak, tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka kalau Chaiden Mr.X. Kini dia sudah pergi untuk selamanya.


"Mahira, Almira, maafkan Chaiden, ibu tidak tahu kalau Chaiden sampai menyimpan dendam, padahal ibu selalu menasehatinya agar mengikhlaskan semuanya," ucap Ibu Rika.


"Iya Bu, kami sudah sudah memaafkan Chaiden, biar bagaimanapun Chaiden orang yang kami cintai," ujar Almira.


Mahira hanya diam dan menangis.


"Kalau begitu ibu pamit duluan," ujar Ibu Rika.


Almira mengangguk. Ibu Rika berjalan meninggalkan tanah makam itu.


"Kak ayo pulang," ajak Mahira sambil merangkul kakaknya.


Almira dan Mahira berjalan meninggalkan tanah makan itu. Mereka berusaha tegar dan melupakan semuanya, menyambut masa depan baru.


***


Satu tahun berlalu. Mahira sudah bisa melupakan masa lalunya bersama Chaiden. Papanya juga sudah sadar dari koma. Mahira mulai menata hidup barunya. Begitupun dengan Almira. Mereka sudah bisa tertawa dan bersenda gurau seperti biasanya. Pagi itu semua anggota Keluarga Aliando sarapan bersama di ruang makan.


"Havara sudah dua kali Papa dipanggil ke sekolah gara-gara nilaimu di bawah rata-rata, belajarlah yang giat, lihat kakakmu Mahira, dia lulus dengan nilai terbaik, selama bersekolah kakakmu selalu nomor one, pialanya saja berjejer di lemari," ujar Alex.


"Kenapa sih Pa, selalu bandingin aku sama Kak Mahira, aku memang bodoh, makanya Papa lebih sayang sama Kak Mahira," ucap Havara.


"Papa bukan bandingin, tapi kenyataan, kau harus mencontoh kakakmu, lihat sekarang Mahira memimpin perusahaan Papa," ujar Alex.


"Sudah apa Pa, setiap anak punya kelebihan masing-masing," ungkap Lara.


"Iya Pa, Havara kan pinter nyanyi," imbuh Mahira.


"Pinter nyanyi gimana? beberapa kali ikut audisi saja gagal padahal baru tahap seleksi, berarti dia harus fokus sekolah kalau mau hidupnya mujur," bantah Alex.

__ADS_1


Havara meletakkan sendoknya di atas piring, dia berdiri.


"Aku kenyang, mau berangkat sekolah dulu," ucap Havara.


"Loh nak, baru dua suap kok kenyang?" tanya Lara.


Havara tidak menjawab ucapan ibunya, dia berjalan meninggalkan ruang makan.


"Pa, gak usah deh, besok-besok membandingkan anak gitu, kasihan Havara, setiap anakkan beda-beda," ujar Lara.


"Iya Pa, Havara pasti memiliki kelebihannya sendiri, hanya belum diasah aja," sahut Almira.


"Ya udah, aku berangkat dulu semuanya," ujar Mahira.


"Iya," sahut Alex, Lara, dan Almira.


Mahira berdiri, berjalan meninggalkan ruang makan. Dia keluar dari rumahnya, mengendarai mobilnya menuju perusahaan.


***


Havara duduk di kafe dekat taman bersama teman-teman nongkrongnya. Semua temannya bersenda gurau, hanya Havara yang terlihat cemberut. Dia hanya diam memikirkan ucapan Papanya.


"Havara ada apa?"


"Iya, mukamu itu loh, kusut banget."


"Cerita dong ma kita-kita."


Akhirnya Havara menceritakan masalahnya pada teman-temannya.


"Gak enak banget dibandingin sama kakak sendiri."


"Kalau aku, udah pergi aja dari rumah."


"Itu sebabnya, aku harus gimana?" tanya Haura.


"Kalau kakakmu tidak ada, pasti kau tidak akan dibandingkan dengannya."


"Kakakku tidak ada?" Havara memikirkan ucapan temannya. Dia berpikir apa yang diucapkan mereka ada benarnya.

__ADS_1


__ADS_2