ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Penyelamatan


__ADS_3

Gibran mengajak Lara ke taman hiburan. Saat libur dari tugasnya Gibran ingin bisa membahagiakan keluarga kecilnya. Dia tak ingin kehilangan moment penting bersama Lara dan Mahira. Waktu mungkin tak bisa diputar tapi Gibran bisa mengukir kenangan untuk keluarga kecilnya. Mereka berjalan diantara berbagai wahana. Mahira digendong dipundak Gibran.


"Sayang apa tak lelah kau menggendong Mahira seperti itu, semalam kau pulang larut malam pasti cukup lelah, biar aku yang menggendong Mahira"ucap Lara.


"Sayangku, aku ini seorang ayah dan suami jadi harus kuat seperti super Hero biar bisa menjaga dan melindungi kalian"ucap Gibran.


"Iya dong, papakan super hero mama"ucap Mahira.


"Tuh Mahira aja tahu"ucap Gibran.


Lara langsung menggandeng lengan Gibran. Suaminya itu selalu punya alasan untuk bisa membuatnya bahagia dan terharu.


"Mahira mau naik apa putri kecil?"tanya Gibran.


"Mahira mau naik komedi putar Pa"ucap Mahira.


"Kalau begitu ayo kita naik komedi putar"ucap Gibran.


"Hore....."ucap Mahira.


Lara tersenyum melihat tingkah suami dan putri kecilnya. Dia tak menyangka hidupnya akan sebahagia ini setelah banyak penderitaan yang dilewatinya.


Gibran menemani Mahira naik komedi putar. Meskipun dia seorang polisi tapi naik komedi putar bersama putri kecilnya bukan hal yang memalukan. Dia tidak ingin putri kecilnya kehilangan sedikitpun kasih sayangnya walaupun itu hal kecil.


"Pa, seru ya. Mahira kalau ke taman hiburan paling senang naik komedi putar dan makan kembang gula, nanti beli ya Pa"ucap Mahira.


"Oke putri kecil kesayangan Papa"ucap Gibran lalu mencium kening Mahira.


Setelah puas naik komedi putar mereka beli kembang gula. Mahira begitu senang memakan kembang gula itu dengan lahap.


"Mahira tidak boleh banyak-banyak makan kembang gulanya nanti giginya gigis dan berlubang"ucap Lara.


"Nanti setelahnya Mahira gosok gigi Mama"ucap Mahira.


"Sayang biarin aja, jarang-jarangkan Mahira makan kembang gula. Hari inikan kita harus bahagia jadi lakukan apa yang kita suka"ucap Gibran.


"Sayang kau selalu memanjakan Mahira ya"ucap Lara.


"Nanti malam giliran aku memanjakanmu"ucap Gibran berbisik ditelinga Lara.


Lara hanya tersenyum dengan ucapan Gibran yang sedikit menggoda itu. Mereka kembali berjalan-jalan sambil bercanda. Mahira mengajak naik bianglala. Lara menemani Mahira naik bianglala itu. Gibran menunggu mereka dibawah wahana itu. Tiba-tiba ada seorang pria berlari membawa anak kecil yang menangis digendongannya, dia merebut tiket milik salah satu pengunjung naik ke bianglala itu juga. Gibran awalnya agak sedikit curiga tapi saat bianglala mulai berputar ada seorang ibu dan sekelompok orang datang. Ibu itu menangis kearah bianglala itu.


"Anakku.....hik...hik.....laki-laki itu membawa anakku hik...hik...."ucap Ibu Rani.


"Yah dia naik ke bianglala"ucap Pak Nurdin.


"Padahal tadi hampir tertangkap"ucap Pak Lindan.


"Cepet banget larinya, kasihan anak ibu itu"ucap Pak Toni.

__ADS_1


Mendengar itu kecurigaan Gibran terbukti. Dia langsung menghampiri Ibu Rani untuk menanyakan cerita lengkapnya. Setelah itu Gibran langsung menemui petugas bianglala dan memintanya memberhentikan bianglala itu. Tapi tiba-tiba terjadi kesalahan teknis. Bianglala itu berhenti total tak bisa diputar ataupun digerakkan lagi. Posisi Lelaki gila yang membawa anak kecil itu berada diatas. Begitupun posisi Lara dan Mahira. Mahira ketakutan dan menangis saat berada diketinggian. Lara berusaha menenangkannya tapi tetap menangis. Gibran tak memiliki banyak waktu, dia mengambil peralatan miliknya dimobil dan berlari kedalam wahana itu. Dia memanjat bianglala tersebut untuk menyelamatkan anak kecil itu. Sampai diatas dia melihat putri kecilnya menangis ketakutan. Hatinya dilema saat harus memilih siapa yang akan diselamatkan duluan. Tapi dia harus bisa memilih dan menegakkan keadilan. Gibran menghampiri Mahira sebentar untuk menenangkannya.


"Papa hik...hik..."ucap Mahira.


"Mahira sayang, jangan menangis nanti Papa akan menyelamatkan Mahira dan Mama. Jangan takut ada Papa. Sekarang Papa menyelamatkan adik kecil itu dulu, dia dibawa orang jahat sayang"ucap Gibran.


"Iya Papa"ucap Mahira.


Mahira mencium pipi Gibran begitupun Lara.


"Semangat Papa"ucap Lara dan Mahira.


Gibran tersenyum lalu menuju ke arah anak kecil yang dibawa lelaki gila itu. Gibran masuk ke kabin tempat mereka naik, lelaki itu langsung menyodorkan pisau pada Gibran.


"Kalau kau berani mendekat aku akan menusukmu dan anak ini"ucap Lelaki gila itu.


"Lepaskan anak itu, mari kita bicara baik-baik" ucap Gibran.


"Anak ini anakku, aku ingin mengajaknya ke taman hiburan, aku sudah tidak sibuk lagi sekarang"ucap Lelaki itu.


"Sepertinya lelaki ini memiliki masalah kejiwaan, mungkin berhubungan dengan masalah pribadinya"ucap Gibran dalam hatinya.


"Anakmu menangis, biar aku membantu menenangkannya"ucap Gibran.


"Tidak, aku tidak ingin berpisah lagi dengan anakku, dia masih hidup belum mati"ucap Lelaki itu.


"Sepertinya akan susah bernegoisasi dengan orang yang memiliki masalah kejiwaan, lebih baik aku menggunakan cara lain"ucap Gibran dalam hatinya.


Sampai dibawah, Gibran memberikan anak itu pada Ibunya. Kemudian dia naik kembali ke bianglala itu untuk menyelamatkan Mahira dan Lara. Mahira turun duluan, baru setelahnya Gibran naik lagi untuk menyelamatkan Lara. Sampai dikabin itu Lara sudah menunggunya dengan cemas. Saat melihat Gibran masuk ke kabin. Lara langsung memeluknya.


"Sayang kau membuatku cemas, aku takut akan kehilanganmu"ucap Lara.


"Kalau begitu beri aku hadiah sayang"ucap Gibran menggoda Lara.


Lara langsung mencium bibir Gibran, tak mau kalah Gibran membalas ciuman itu. Mereka berciuman didalam kabin. Setelah puas berciuman Gibran turun dari bianglala itu bersama Lara. Tak lama setelah perbaikan oleh pihak taman hiburan bianglala itu bisa kembali beroperasi kembali. Semua orang bisa turun dan lelaki itu dibawa Gibran ke kantor polisi.


**********


Dianka masih dirantai dari semalaman. Dia sudah berpikir apa yang akan diputuskan saat bertemu Zion. Langkah kaki terdengar mendekat, Zion masuk ke dalam sel bawah tanah tempat Dianka ditahan. Dengan senyuman licik Zion memandang ke arah Dianka.


"Bagaimana? apa kau sudah memikirkan tawaranku?"tanya Zion.


"Aku mau jadi orangmu"ucap Dianka.


"Bagus, aku akan membebaskanmu sekarang"ucap Zion.


Setelah rantai dilepas Zion menarik lengan Dianka. Dia membawa Dianka ke ruang kerjanya.


"Dianka mulai besok kau jadi asistenku mengurusi semua keperluanku baik makanan, pakaian, dan segala kebutuhanku"ucap Zion.

__ADS_1


"Tunggu, aku tidak bisa memenuhi satu kebutuhanmu, aku tidak mau memenuhi kebutuhan ranjangmu"ucap Dianka.


"Tenang, soal itu aku bukan orang yang terobsesi pada kebutuhan ranjang, jika aku mau banyak wantia diluar sana yang bersedia kencan denganku"ucap Zion.


"Mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku dirumah ini, anakmu juga akan tinggal disini"ucap Zion.


"Apa?......tidak bisakah aku pulang pergi, aku bisa berangkat sangat pagi dan pulang malam asalkan jangan tinggal disini"ucap Dianka.


"Kau tidak bisa menolak, ikuti peraturanku jika masih ingin bertemu Dafa"ucap Zion.


"Baik"ucap Dianka.


Tok....tok.....tok.........


Yuma mengetuk pintu ruang kerja Zion. Dia masuk ke ruangan itu atas permintaan Zion.


"Yuma antarkan Dianka ke kamar anaknya"ucap Zion.


"Baik Bos, mari Nona"ucap Yuma.


Yuma mengantarkan Dianka menuju ke kamar Dafa. Dianka melihat foto-foto yang terpajang didinding. Dia memperhatikan wajah Zion yang mirip Alex. Dianka tak tahu kenapa Zion begitu mirip dengan Alex.


"Nona anda adalah wanita pertama yang berhasil membuat Bos memperhatikanmu"ucap Yuma.


"Benarkah?....bukannya dia sudah biasa tidur dengan banyak wanita"ucap Dianka.


"Ya walaupun begitu dia belum pernah jatuh cinta Nona, selama ini Bos berkencan hanya sekedar jenuh. Oya Dafa itu lucu ya, untuk anak seusia dia sangat berani dan pintar"ucap Yuma.


Dianka hanya tersenyum kecil. Yuma mengantar sampai depan pintu kamar itu. Kemudian Yuma meninggalkan Dianka. Dengan perasaan rindu, Dianka masuk ke kamar itu. Dia melihat Dafa sedang bermain dengan berbagai macam mainan dikamar itu.


"Dafa"ucap Dianka.


"Bunda"ucap Dafa lalu berlari memeluk Dianka.


Dianka memeluk Dafa dengan erat, dia begitu merindukan dan mencemaskan anaknya.


"Ternyata Zion menawan anakku ditempat yang layak, kupikir dia menawan Dafa disel ternyata dikamar yang nyaman dan dipenuhi mainan"ucap Dianka dalam hatinya.


"Bunda Papa Zion membelikanku semua mainan ini, Papa baikkan Bunda"ucap Dafa.


"Dafa, dia bukan Papamu. Jangan terlalu dekat dengannya"ucap Dianka.


"Tapi kenapa Bunda?"tanya Dafa.


"Dia itu sekarang Bosnya Bunda, mulai sekarang Bunda akan bekerja padanya"ucap Dianka.


"Bagus, nanti Bunda akan sering bersamanya" ucap Dafa.


"Dafa"ucap Dianka.

__ADS_1


Dianka tahu Dafa masih kecil belum faham hubungan yang rumit antara dia dan Zion. Dianka membiarkan untuk sementara Dafa berpikir seperti itu.


__ADS_2