
Dianka duduk diranjang kamarnya sambil melamun. Zion menghampiri Dianka dan duduk disampingnya. Dia menyandarkan kepala Dianka dibahunya. Dianka memeluk Zion dari samping. Rasanya bebannya sedikit berkurang karena ada orang yang peduli padanya.
"Sayang kenapa bengong, apa sedang memikirkan saat kita bersama malam tadi"ucap Zion.
"Kau ini tak ada apa yang kau pikirkan selain itu"ucap Dianka.
"Sayang, aku ini lelaki normal yang ingin tiap hari bermesraan denganmu"ucap Zion.
"Zion, Alex menemui Dafa disekolah"ucap Dianka.
"Alex? dia sepertinya tak ada habisnya mengganggu hidup kita. Aku akan menyuruh orangku untuk menjaga Dafa disekolah"ucap Zion.
"Makasih Zion"ucap Dianka.
"Aku akan melindungi kalian, apapun itu"ucap Zion.
"Zion....."ucap Dianka manja padanya.
"Dianka, mumpung Dafa dah tidur, ayo kita...." ucap Zion.
Dianka hanya mengangguk, akhirnya mereka berbagi cinta dan kasih sayang dimalam panjang itu. Dianka dengan senang hati dan tersenyum selama penyatuan cinta itu. Zion seolah mendapatkan madu yang sangat manis hingga dia ingin dan ingin lagi memakannya. Mereka akhirnya berbaring diranjang itu untuk istirahat.
"Sayang hidupku terasa sempurna saat kau dan Dafa ada dihidupku, sebelumnya hidupku kacau balau, tak ada tujuan pasti, tapi semenjak hadirnya dirimu dihidupku aku jadi punya tujuan hidup dan punya sesuatu yang berharga untuk ku perjuangkan"ucap Zion.
"Semenjak ada dirimu dihidupku, aku merasa ada seseorang yang menyayangiku dan peduli padaku. Selama ini aku hidup sendirian dan kesepian. Hidupku terasa dingin dan hampa tapi saat kau hadir dihidupku semua kembali menghangat dan ada saja yang membuatku merasa senang saat bersamamu"ucap Dianka.
Zion memeluk Dianka dalam dekapannya.
"Zion aku sudah melayani setiap malam, terus kapan kau menggajiku?"tanya Dianka.
"Oh ya, asistenku belum ku gaji, saking keenakkannya aku lupa menggajimu. Tapi karena kau mengeluh dimalam pertama kita, jadi gajimu ku potong sebagian"ucap Zion.
"Apa? kau akan memotong gajiku, kejam sekali. Aku sudah melayani segala hal kebutuhanmu, benar-benar Bos yang pelit dan irit"ucap Dianka.
"Asistenku harus tersenyum manis bukan sering asem dan galak sepertimu"ucap Zion.
"Oh..., jadi kau ingin asisten yang manis? cari saja penggantiku, aku juga malas harus melayani semua keinginanmu yang bermacam-macam itu"ucap Dianka.
"Gak sayang, aku maunya cuma kamu meskipun suka marah, galak dan senyummu itu mahal"ucap Zion.
Zion memeluk Dianka semakin erat dan mencium keningnya.
"I Love You"ucap Zion.
".............."Dianka hanya diam saja.
"Hei aku sudah bicara manis, setidaknya kau balas dong"ucap Zion.
"I Love You Too"ucap Dianka.
__ADS_1
"Sayang lagi yuk...."ucap Zion.
"Gak mau capek"ucap Dianka.
"Sayang......."ucap Zion.
"Ingat, setelah ini mau kau membayarku lebih banyak lagi"ucap Dianka.
"Semua hartaku akan jadi milikmu sayang"ucap Zion.
Dianka akhirnya mau melakukannya lagi. Mereka kembali berbagi cinta dan kasih sayang. Zion selalu berhasil membuat Dianka marah dan akhirnya berdamai, itu membuat Dianka senang bersama Zion, ada sisi lain yang membuat Dianka nyaman dengan segala tingkah Zion yang membuat hidup Dianka berbeda dari sebelumnya. Zion seakan hadiah yang dikirim Sang Pencipta untuknya.
************
William memandangi foto Dianka dimeja kerjanya. Dia selalu terobsesi pada Dianka. Tapi langkahnya semakin sulit saat Dianka lebih memilih Zion. Dia merasa harus mulai melakukan cara kotor untuk mendapatkan Dianka dalam pelukannya. Seorang wanita masuk ke ruangannya bersama Ricard.
"Bos ini wanita yang ingin Anda temui"ucap Ricard.
"Halllo saya........"ucap Wanita itu lalu distop bicaranya saat dia hendak menyebutkan namanya oleh William.
"Aku sudah tahu"ucap William.
"Bos saya keluar dulu"ucap Ricard.
"Oke, tugasmu memang sudah selesai Ricard" ucap William.
Ricard keluar dari ruangan kerja William.
"Tapi aku....."ucap Wanita itu.
"Bukannya sekarang kau butuh uang? aku bisa memberimu sebanyak yang kau mau"ucap William.
"Baik"ucap Wanita itu.
"Aku suka jika kau setuju seperti ini"ucap William.
William tersenyum, dia akan memisahkan Dianka dan Zion dengan berbagai cara meskipun itu cara yang kotor.
*************
Lara sedang berkebun bersama Gibran. Dia hanya berdua pergi ke kebun strawberry itu.
Gibran terus memegang tangan Lara sambil berjalan dilahan perkebunan itu. Lara begitu senang bisa menikmati indahnya perkebunan itu.
"Sayang kau senang?"tanya Gibran.
"Iya, aku senang sekali Gibran"ucap Lara.
"Sayang lihat strawberrynya matang-matang, ayo kita petik"ucap Gibran.
__ADS_1
"Oke sayang"ucap Lara.
Gibran dan Lara memetik strawberry yang siap panen itu. Gibran memakan satu buah strawberry yang dipetiknya.
"Sayang rasanya manis sedikit asam, seger deh, cobain"ucap Gibran sambil menyuapkan Lara strawberry itu.
"Benarkah?"tanya Lara.
Lara membuka mulutnya dan memakan strawberry yang disuapkan oleh Gibran.
"Em...em....manis sedikit asam tapi seger banget"ucap Lara.
"Inilah nikmatnya berkebun sayang, kita bisa menikmati hasil panen yang ditanam dan dirawat sendiri"ucap Gibran.
"Kau benar sayang"ucap Lara.
Tak lama Gibran mendapat telpon dari rekan sejawatnya.
"Sayang, aku angkat telponnya dulu ya"ucap Gibran.
"Ya"ucap Lara.
Gibran mengangkat telpon dari teman sejawatnya.
"Gibran kembali ke kantor"ucap Toni.
"Memang ada apa? aku cuti hari ini"ucap Gibran.
"Komandan menyuruh tugas penting untukmu"
ucap Toni.
"Tugas apa?"tanya Gibran.
"Nona Zelina diculik"ucap Toni.
"Ada yang lainkan"ucap Gibran.
"Tapi komandan meminta dirimu yang mengerjakan tugas ini"ucap Toni.
"Baik, aku akan segera ke kantor"ucap Gibran.
Selesai bicara Gibran menutup telponnya. Dia menghampiri Lara yang sedang asyik memetik strawberry.
"Sayang sepertinya aku harus kembali ke kantor, ada tugas dadakan"ucap Gibran.
"Yasudah, kalau itu penting"ucap Lara.
"Makasih ya sayang"ucap Gibran.
__ADS_1
"Iya sayang"ucap Lara.
Gibran mengantar Lara pulang ke rumah, kemudian dia berangkat ke tempatnya bertugas. Gibran sebenarnya masih ingin menghabiskan waktunya bersama Lara tapi tugas sudah menantinya