
Mahira menuju perusahaannya setelah beberapa hari dia tidak pergi kerja. Banyak pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. Mahira juga harus memantau proyek pembangunan perusahaan cabangnya. Sejak di rumah beberapa hari, proyeknya dipantau ayahnya.
"Presdir hari ini jadi mau melihat pembangunan perusahaan cabang di kota B," ucap Sekretaris Yuni.
"Iya, mungkin sore nanti, masih banyak pekerjaan yang tertumpuk di mejaku," ucap Mahira.
"Baik," ucap Sekretaris Yuni.
Sekretaris Yuni meninggalkan ruangan itu. Mahira mulai mengerjakan pekerjaannya. Banyak berkas yang harus dicek dan ditanda tangani.
Disela-sela kesibukannya Mahira sempat chattingan dengan Chaiden. Mahira memberitahu pada Chaiden sore ini akan pergi melihat pembangunan perusahaan cabang. Chaiden selalu memberi support padanya, Mahira berpikir dengan sedikit membaca pesan dari Juan akan membuatnya semangat bekerja. Dan pekerjaannya akan mudah dikerjakan. Saat dia sedang membaca pesan-pesan dari Chaiden muncul pesan dari Mr.X itu.
Pesan dari Mr.X
Sakira terimalah hadiahku nanti.
Kamu membuatku semakin ingin mempermainkanmu.
Semakin aku marah semakin menarik permainan ini.
Tunggu saja.
Mahira merinding membaca pesan dari Mr.X itu. Dia tidak berani membalas pesannya atau menanyakan maksud Mr.X selalu mengganggu dia. Mahira berpikir untuk menceritakan ini pada Almira. Mahira pergi ke perusahaan tempat Almira bekerja. Saat jam istirahat dia menghubungi Almira untuk makan siang di cafe depan perusahaan Almira. Almira pun menyetujuinya, mereka akhirnya bertemu di cafe itu.
"Kak Mahira lama menunggu?" tanya Almira.
"Tidak baru saja tiba adik kecil," ucap Mahira.
"Kak kok tumben ngajak makan siang disini?" tanya Almira.
"Ada yang mau kakak bicarakan padamu," ucap Mahira.
Mahira dan Almira makan di cafe itu. Mereka memesan makanan favorit mereka. Setelah makan barulah Mahira berbicara pada Almira.
"Almira kakak selalu dapat pesan gelap seperti ini dari Mr.X," ucap Mahira menunjukkan pesan itu.
"Kakak aku geli membacanya, masih ada saja pesan aneh seperti itu," ucap Almira.
"Kok tanggapanmu biasa sih, bukannya ini pesan ancaman," ucap Mahira.
"Kak zaman sekarang banyak pesan aneh. Dari pesan minta diisiin pulsa, penawaran pinjaman uang, pesan kencan romantis, pesan pemberian hadiah, dan pesan penipuan lainnya. Mungkin pesan ini juga salah satunya seperti itu," ucap Almira.
"Tapi kakak merasa ini pesan ancaman," ucap Mahira.
__ADS_1
"Kakak cantik tidak usah banyak pikiran, abaikan pesan itu semua bereskan," ucap Almira.
"Iya ya, mungkin kakak yang terlalu sensitif," ucap Sakira.
Setelah makan siang Mahira kembali ke perusahaannya. Dia mencoba saran dari Almira, untuk mengabaikan pesan itu. Mahira mulai bekerja kembali dan tidak memikirkan pesan itu lagi.
***
Mahira menuju perusahaan cabang yang sedang dibangun. Dia kesana untuk memantau sejauh mana perusahaan itu sudah dibangun. Baru masuk ke area proyek itu. Ternyata di sana juga ada ayahnya. Mahira langsung menuju arah Alex berada.
"Sore Ppa, Papa ada disini juga?" tanya Mahira.
"Iya," ucap Alex.
"Makasih ayah sudah membantuku sejauh ini," ucap Mahira.
"Ya nak, kamu baru pulang?" tanya Alex.
"Iya Papa," jawab Mahira.
Mereka terus mengobrol sambil berjalan diarea proyek itu. Tak lama mereka berjalan sebuah tiang bangunan jatuh dari atas crane tepat di atas Mahira. Alex berteriak memanggil Mahira.
"Mahira awas ...." ucap Alex berlari ke arah Mahira dan memeluk anaknya hingga mendorongnya ekuat tenaga Mahira dari tempat itu, sedangkan dia kejatuhan.
"Papa ... tidak ....,"ucap Mahira berteriak melihat pingsan.
Akhirnya semua orang di situ datang mengangkat tiang itu. Beberapa orang menghubungi ambulan. Mahiraira naik ke ambulan itu mengantar ayah Hari ke rumah sakit.Sepanjang perjalanan Mahira tak berhenti menangis dan memanggil ayahnya.Sl Mahira merasa seharusnya dia yang diposisi ayahnya.
Sampai dirumah sakit Akex langsung dibawa keruang UGD. Di ruang UGD itu dokter memeriksa kondisinya. Ternyata Alex harus operasi. Mahira langsung hancur hatinya, pikirannya kosong seolah dia kehilangan segalanya. Dia tidak percaya Alex terluka karena menyelamatkannya. Dia hanya diam dan duduk di bawah lantai tanpa mengatakan apapun, hanya air mata yang berjatuhan dipipinya.
Almira, Havara, Lara sampai di rumah sakit itu. Mereka berlari menuju ruang operasi.
Mereka mendapati Mahira duduk dilantai depanbrusng operasi. Almira dan Lara mendekatinya.
"Kak Mahira, apa yang terjadi pada Papa?" tanya Almira.
"Mahira Papamu gimana keadaannya?" tanya Lara.
Mahira hanya diam.
"Kak Mahira ..., jawab," ucap Almira.
"Keluarga Bapak Alex silahkan masuk ke dalam," ucap Dokter.
__ADS_1
Lara masuk ke dalam ruang operasi. Dia bicara dengan Dokter. Almira sangat sedih mendengarnya. Bagi Almira ayahnya, ayahnyang baik untuk keluarganya. Almira menangis dan memanggil Mahira, dia memeluk Mahira yang terdiam. Dia coba menenangkan Mahira yang terdiam.
***
Mahira hanya diam di kamarnya, Chaiden berusaha mengajaknya bicara. Mahira seperti orang yang sedang depresi. Lara meminta Chaiden untuk berusaha mengajaknya bicara.
"Mahira katakan sesuatu,berbagilah kesedihanmu padaku," ujar Chaiden.
Mahira hanya diam.
"Mahira aku tahu kamu sangat sedih, tapi bicaralah sedikit untuk meringankan bebanmu," ucap Chaiden.
Mahira tetap diam.
"Aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini," ucap Chaiden.
Mahira masih diam.
"Apapun yang terjadi semua ini adalah takdir dan Papa Alex koma, dia butuh doa kita supaya cepat sadar," ucap Chaiden.
"Seharusnya akulah yang koma," ucap Mahira.
"Mahira hentikan, ini semua sudah takdir kita manusia tidak bisa melawannya," ucap Chaiden.
Mahira diam tapi air matanya terus menetesi pipinya.
Chaiden menghapus air mata di pipi Mahira. Chaiden menghiburnya, dia tahu Mahira sangat terluka. Ini berat untuk keluarganya biarbagaimanapun kejadian itu terjadi secara dadakan dan Mahira saksi matanya.
Setelah dari kamar Mahira, Chaiden melewati kamar Almira. Dia berpikir Almira pasti sangat terluka karena Alex adalah ayah angkat Almira. Chaiden ingin masuk ke kamar Almira tapi Lara keburu datang menghampirinya untuk menanyakan kabar Mahira. Chaiden turun ke bawah berbincang dengan Lara.
"Chaiden gimana? apa Mahira sudah mau bicara?" tanya Lara.
"Hanya sedikit," ucap Chaiden.
"Mahira pasti mengalami trauma,dia melihat langsung kejadian itu," ucap Lara.
"Sepertinya begitu, dia merasa seharusnya dia yang berada diposisi Papanya," ucap Chaiden.
"Mahira pasti menyalahkan dirinya atas kejadian ini, Mama tidak tahu harus gimana supaya Mahira bisa kembali pulih," ucap Lara.
"Mungkin Mahira butuh sendiri saat ini. Tapi kalau dia tetap diam dan tidak bicara terus menerus mungkin kita butuh psikiater untuk mengembalikan psikisnya," ucap Chaiden.
"Ya sepertinya begitu, terimakasih Chaiden," ucap Lara.
__ADS_1
"Sama-sama Tante," sahut Chaiden.
Setelah bicara dengan Lara, Chsiden pulang ke rumahnya. Semua orang sedih atas komanya Alex. Yang paling terpukul adalah Mahira. Dia terpukul karena seharusnya dialah yang diposisi Alex, Mahira menyaksikan langsung kejadian menyakitkan itu.