ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 24


__ADS_3

Mahira dan Almira melihat ke arah orang berjubah yang mengenakan topeng, menghampiri mereka berdua. Dia berdiri di depan mereka sambil memegang pistol di tangannya.


"Sebenarnya aku tak berniat secepat ini mengeksekusimu Mahira, aku masih ingin bermain, membuatmu takut dan kehilangan semua yang kau miliki," ujar Mr.X.


"Apa salahku? kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Mahira.


"Salahmu? tanya pada Papamu, apa salahmu?" timpal Mr.X.


"Papa? aku maksudmu?" tanya Mahira.


Mr.X berjalan memutari Mahira sambil memegang pistol yang di arahkan ke Mahira.


"Kau lupa siapa Papamu?" ucap Mr.X.


Almira hanya diam mendengarkan Mr.X bicara.


"Kau hanya membuatku bingung, kau pengecut!" ujar Mahira.


Mr.X marah, dia mencengkram lengan Mahira, mengarahkan pistol ke dahinya.


"Aku akan membunuhmu dan Papamu, agar kalian mati bersama," ujar Mr.X.


"Ha ... ha ... ha ..., sudah ku duga kau hanya bisa melakukan apapun dibalik topeng dan jubahmu, kalau kau berani buka semuanya," tantang Almira. Dia sengaja mengalihkan Mr.X.


"Awalnya aku berpikir ingin membebaskanmu, karena kau tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, tapi kau membuatku marah Almira," ujar Mr.X. Dia melepas tangannya dari Mahira, berjalan menghampiri Almira, mengarahkan pistol ke kepalanya.


"Ayo bunuh aku duluan, Chaiden," ujar Almira.


"Kau tau itu aku?" Chaiden terkejut ketika Almira menyebut namanya.


"Aku sangat mengenalmu lebih dari siapapun Chaiden," ujar Almira.


"Ha ... ha ... ha ..., Almira kau sama seperti mereka, menjadi sekutu Alex demi hidup nyaman, dan melupakanku," ucap Chaiden.


"Tidak, tidak mungkin Chaiden," ucap Mahira.

__ADS_1


Chaiden menoleh ke arah Mahira yang tak percaya Mr.X itu Chaiden.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Chaiden.


"Kita sudah bersama selama dua tahun, sebentar lagi kita menikah, lalu kata cinta yang selalu kau ucapkan itu apa?" tanya Mahira.


"Cinta? aku hanya memanfaatkanmu untuk tujuanku," ujar Chaiden.


Mahira menangis dan terus menyangkal kalau lelaki berjubah dan bertopeng di depannya itu calon suaminya. Selama mengenal Chaiden, di mata Mahira, Chaiden sosok lelaki yang baik dan pekerja keras. Dan sekarang tiba-tiba dia mengakui dirinya yang sudah melakukan semua teror dan kejahatannya pada Mahira.


"Aku mencintaimu tulus, tak pernah terbersit dipikiranku kalau kau Mr.X itu, aku tak percaya," ujar Mahira menangis.


"Baik akan ku tunjukkan kalau aku Chaiden," ucap Chaiden.


Chaiden membuka topeng dan jubahnya. Terlihat wajah tampannya yang terlihat dingin, penuh dendam berbeda dari sebelumnya.


"Chaiden," ucap Mahira.


"Kau percaya, kalau aku Chaidenkan?" ujar Chaiden.


Mahira hanya menangis.


"Kenapa kau baru meneror Kak Mahira sekarang? kenapa tidak dari dulu?" tanya Almira.


"Aku tidak pernah meneror Mahira, itu hanya kerjaannya Sisi, dia menyingkirkan semua wanita yang mendekatiku, Sisi bahkan tak ragu membunuhnya, aku sengaja membiarkannya karena tujuanku itu Alex, melalui Mahira aku bisa membalas semuanya tapi Sisi bermain terlalu jauh, dia menghalangi jalanku, padahal tinggal selangkah lagi," ujar Chaiden.


"Kenapa harus balas dendam, itu masa lalu Chaiden, bisakah kita saling memaafkan dan hidup damai?" tanya Mahira.


Chaiden kembali tertawa. Dia tidak mau berdamai. Apa yang sudah dilakukan Alex sudah membuat luka di hatinya.


"Damai? apa kau bisa membuat ayahku hidup lagi?" tanya Chaiden.


Mahira terdiam.


"Kalau bisa, aku akan memaafkan," ujar Chaiden.

__ADS_1


"Dendam takkan membawa kebahagiaan Chaiden, hanya akan membuat hidupmu semakin menderita, kau akan menyesal," ucap Almira.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin membalas kematian ayahku, itu saja," ucap Chaiden.


"Ya sudah, bunuh aku! biarkan semua dendammu mati bersamaku," pinta Mahira.


"Tidak, jangan Kak Mahira," tolak Almira.


"Bunuh aku!" perintah Mahira.


Chaiden menaikkan tangannya ke udara dan bersiap menembak Mahira.


"Chaiden, kau ingat saat kita masih sekolah dulu, kau bilang padaku, hal besar yang bisa kita lakukan itu memaafkan, karena orang yang memaafkan sangat mulia," ujar Almira.


Chaiden terdiam. Dia teringat masa sekolahnya dulu bersama Almira.


"Aku selalu ingat itu, apapun yang kau katakan, karena kau orang yang baik dan jadi panutanku saat itu, aku rindu Chaiden yang dulu," ucap Almira.


Mata Chaiden berkaca-kaca. Tangannya jadi lemas tak ada tenaga memegang pistol. Dia merasa dirinya kini sudah jadi monster yang siap memakan siapapun.


"Aku mencintaimu Chaiden, ikhlaskan semua yang sudah berlalu, mari kita sambut masa depan bersama," bujuk Mahira.


"Aku berharap kau bahagia bersama Kak Mahira, kalian pasangan yang serasi," ujar Almira.


"Kalian pikir bisa membujukku?" Chaiden mengambil satu pistol lagi di sakunya, lalu dia mengarahkan pistol ke arah Mahira dan Almira.


"Selamat tinggal Mahira, Almira," ujar Chaiden.


Chaiden bersiap menembak keduanya tapi ketika hendak menekan pistolnya, Chaiden tak mampu, kedua pistol itu terjatuh di lantai.


Praaang ...


Chaiden berlutut, dia menangis. Tak sanggup harus membunuh orang-orang yang disayanginya, meskipun di dalam hatinya ada dendam.


Tak lama Chaiden berdiri, melepas ikatan yang mengikat Mahira dan Almira. Tiba-tiba Sisi datang membawa pistol di tangannya.

__ADS_1


"Sisi!" Chaiden, Mahira dan Almira terkejut.


"Kak, aku sangat mencintaimu, tapi kau selalu menganggapku adikmu, aku berusaha menyingkirkan satu per satu siapapun yang dekat denganmu, Jodi, Bunga, Andin, Karin, dan Vita. Akulah yang menghasud Nia supaya menciummu, dengan begitu Jodi akan meninggalkanmu, aku juga yang merusak rem mobil Bunga hingga dia kecelakaan, Andin yang bodoh, ibunya ku hasud dengan uang sampai meminta uang padamu terus menerus, Karin, aku membayar orang untuk mendekatinya dan merusak karirnya, aku membeli haters untuk menyerang Karin hingga dia stress dan mengkonsumsi narkoba, lalu Vita, akulah yang membayar orang untuk menjebaknya di kamar hotel bersama seorang lelaki. Sekarang Mahira, aku terus menerornya, aku berharap dia stress dan bunuh diri, tapi dia beruntung masih bisa hidup sampai sekarang, Semua itu ku lakukan karena aku tidak ingin ada yang memilikimu selain aku," ujar Sisi.


__ADS_2