
Lara bangun tidur melihat ke sekeliling. Dia merasa asing dengan kamar itu. Suara langkah kaki mendekat. Gibran masuk ke kamar itu. Lara ingat kalau sebelum dia tidur, dia digendong Gibran. Dia berpikir mungkin dia sedang berada dirumahnya Gibran.
"Nona Lara sudah bangun?"tanya Gibran.
"Iya, Gibran apa ini dirumahmu?"tanya Lara balik.
"Benar, ini memang rumahku, tadi aku mengajakmu ke rumahku karena jaraknya lebih dekat kesini. Tapi tenang aku akan mengantarkanmu pulang nanti"ucap Gibran.
"Aku jadi merepotkanmu terus"ucap Lara.
"Tidak, justru aku senang dapat membantumu Lara"ucap Gibran.
"Kalau begitu terimakasih ya Gibran"ucap Lara.
"Iya Nona Lara, mari ikut aku, kita makan malam dibawah, Ibuku sudah memasak khusus untukmu"ucap Gibran.
"Baik"ucap Lara.
Lara turun ke lantai bawah menuju ke ruang makan bersama Gibran. Dia heran seorang polisi tapi memiliki rumah yang sebesar itu dan juga megah. Lara merasa Gibran mungkin bukan orang biasa. Diruang makan Ibu Yuliana sudah menanti Gibran dan Lara untuk makan bersama.
Gibran dan Lara duduk dikursiakan tersebut.
"Nak Lara maaf ya, hanya ini yang bisa Ibu hidangkan untukmu"ucap Ibu Yuliana.
"Tidak apa-apa Bu, ini lebih dari cukup, justru saya yang berterima kasih Ibu dan Gibran bersedia menerima saya bertamu dirumah ini"
ucap Lara.
"Ibu senang kau bisa bertamu kesini, tak pernah ada yang bertamu kesini apalagi seorang wanita. Ini baru pertama kalinya Gibran membawa seorang wanita ke rumah ini"ucap Ibu Yuliana.
"Ibu, jangan cerita soal itu, Gibran jadi....."ucap Gibran.
"Saya senang bisa bertemu dengan Ibu disini" ucap Lara.
"Ibu juga senang bisa bertemu denganmu, anggap saja ini rumahmu, kau jangan sungkan ya"ucap Ibu Yuliana.
"Gibran dan Ibunya orang yang baik, ramah dan hangat, berada ditengah-tengah mereka, aku merasa seperti memiliki keluarga kembali"ucap Lara dalam hatinya.
"Gibran jangan bengong, ayo bantu Lara mengambil piring dan lauk pauk"ucap Ibu Yuliana.
"Baik Bu"ucap Gibran.
Gibran langsung mengambilkan Lara piring dan lauk pauk. Mereka makan bersama diruang makan itu. Lara begitu bahagia saat bersama Gibran dan Ibunya. Senyuman yang dulu sempat hilang kini terlihat lagi. Gibran senang melihat Lara bisa tertawa lepas.
Setelah makan Lara kembali ke kamarnya. Gibran menyusulnya ke kamar itu. Dia penasaran apa yang telah terjadi pada Lara sehingga dia begitu mengigau seperti itu. Lara mempersilahkan Gibran masuk ke kamarnya.
"Nona Lara maaf, bukannya aku bermaksud ikut campur dengan masalahmu, tapi aku ingin tahu apa yang terjadi padamu, selama ini aku melihat mukamu selalu murung dan terlihat sedih. Apa ada yang tidak menyenangkan hatimu?"tanya Gibran.
__ADS_1
"Gibran kau terlalu baik, aku tidak ingin membawamu dalam masalahku"ucap Lara.
"Masalahmu? Nona Lara apapun masalahmu jika kau ingin berbagi cerita denganku mungkin aku bisa membantumu, bukan sebagai polisi tapi ......
sebagai.....orang yang peduli padamu"ucap Gibran berusaha jujur dengan apa yang ada dihatinya.
"Gibran aku tidak mau membawamu dalam bahaya, aku ini istri Alex penguasa yang kejam. Dia bisa melukaimu, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri"ucap Lara.
"Lara aku.....aku berharap kau mau membagi ceritamu padaku, jujur aku sangat mencemaskan mu"ucap Gibran.
"Gibran banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu hik...hik...."ucap Lara langsung menangis saat mengingat semua yang telah dilakukan Alex padanya.
Gibran spontan menghampiri Lara dan berusaha memeluknya.
"Jangan menangis, ku mohon, biar aku bisa membuat air matamu jadi kebahagiaan untukmu Lara. Aku tak pernah merasa begitu peduli dengan seorang wanita selain dirimu, entah perasaan apa ini. Yang jelas aku ingin melihatmu bahagia"ucap Gibran.
"Kau begitu baik Gibran, aku hanya wanita yang tak punya harga diri lagi, jika kau tahu aku ini wanita yang kotor pasti kau akan jijik padaku" ucap Lara.
Gibran langsung melepas pelukannya. Dia langsung memegang kedua lengan Lara.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi, ku mohon jangan buat aku merasa tak berguna"ucap Gibran terlihat marah karena merasa telah terjadi sesuatu pada Lara.
"Gibran hidupku begitu rumit apa kau yakin ingin mendengarnya?"tanya Lara.
"Ya, aku tak peduli seberapa rumit ataupun seberapa besar masalahmu, aku akan tetap disampingmu Lara. Beri aku kesempatan untuk bisa membantumu"ucap Gibran.
Gibran langsung marah dan memukul tembok disampingnya berkali-kali hingga tangannya terluka dan berdarah.
"B4jingan, manusia macam apa Alex, tega sekali melakukan itu padamu, rasanya aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri"ucap Gibran.
Gibran begitu emosi dan hendak berjalan keluar untuk menghajar Alex, tapi ditahan Lara yang memeluknya dari belakang.
"Gibran jangan pergi ku mohon hik.....hik....."ucap Lara.
"Lara aku tidak bisa membiarkan dia menginjak-nginjak kehormatanmu, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri"ucap Gibran.
"Gibran kau orang yang baik, jangan kotori tanganmu hanya untuk Alex, biar aku yang menyelesaikan masalahku"ucap Lara.
Gibran langsung berbalik dan memeluk Lara.
Dia begitu perih melihat Lara begitu menderita selama ini.
"Lara, biarkan aku membahagiakanmu kali ini.
Hiduplah bersamaku, aku janji akan membahagiakanmu Lara"ucap Gibran.
"Aku hanya wanita kotor Gibran tak pantas untukmu"ucap Lara.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan itu, bagiku membahagiakanmu itu lebih penting"ucap Gibran.
"Beri aku waktu, ada yang harus aku selesaikan dengan Alex, ketika itu selesai tunggu aku diujung pintu jika aku berhasil dan masih hidup"ucap Lara.
"Tapi Lara? aku tak ingin kau kembali ke rumah itu"ucap Gibran.
Lara langsung melepas pelukannya dan mencium bibir Gibran. Melihat Lara menciumnya sesaat tadi jantungnya bergetar tak karuan, dia merasakan tubuhnya tak bisa dikendalikan seolah tubuhnya memberitahu kalau dia menginginkan wanita itu untuk bersamanya.
Gibran langsung menarik Lara dan menciumnya ulang.
"Lara, aku mencintaimu"ucap Gibran setelah melepas ciumannya.
Lara terlihat malu saat Gibran menyatakan perasaannya.
"Lara jawab aku"ucap Gibran.
"Aku juga mencintaimu Gibran"ucap Lara.
Gibran begitu bahagia mendengar Lara juga mencintainya. Dia langsung mengangkat tubuh Lara.
"Gibran turunkan aku"ucap Lara.
"Biarkan hari ini aku senang melihatmu Lara" ucap Gibran.
Setelah beberapa saat Gibran menurunkan Lara.
Dia senang Lara membalas perasaannya.
"Gibran antarkan aku pulang, aku janji setelah urusanku dan Alex selesai kita akan bersama" ucap Lara.
"Apa kau sedang mengumpulkan bukti?"tanya Gibran.
"Iya, aku ingin Alex dipenjara dan menerima semua hukuman yang pantas atas perbuatannya" ucap Lara.
"Lara jika terjadi sesuatu bilang padaku, jangan biarkan dirimu dalam bahaya, aku juga akan mengumpulkan bukti-bukti untuk menjerat Alex ke penjara"ucap Gibran.
"Ya, aku tahu Gibran"ucap Lara.
Akhirnya Gibran mengantarkan Lara pulang kerumahnya. Dia yakin tak lama lagi dia bisa bersama Lara untuk selamanya.
*********
Dianka berdiri disebuah kota baru, setelah membunuh Tom Snike dia memutuskan untuk memulai hidup baru diluar kota. Dikota ini dia akan membesarkan anaknya. Dia ingin hidup normal tanpa dendam dan pembalasan, karena dia tahu itu tak baik untuk perkembangan anaknya nanti.
"Alex, semoga kau bahagia bersama Lara. Aku sudah menyelesaikan masalahmu dengan Tom Snike. Kau bisa hidup tenang bersama Lara. Maafkan aku jika pergi jauh dari hidupmu, aku ingin hidup damai bersama anakku, aku akan membawa semua kenangan itu bersamaku"ucap Dianka.
Dianka melangkah dikota baru itu. Begitu ramai dan banyak orang lulu lalang. Dia akan memiliki sebuah rumah kecil ditempat ini bersama anaknya nanti.
__ADS_1