ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Sedikit Mengingat


__ADS_3

Lara mengantar Alex berangkat bekerja. Dia berjalan keluar rumah bersama Alex. Didepan teras rumah Alex berpamitan pada Lara sambil mencium keningnya. Saat melihat dasi milik Alex tidak rapi, Lara merapikannya.


"Sayang makasih ya, kau sudah merapikan dasiku"ucap Alex.


"Iya sayang, nanti sore mau makan apa? biar aku masak untukmu"ucap Lara.


"Apa saja yang terpenting kau yang memasak sayang"ucap Alex.


"Baiklah aku akan memasak apa saja ya"ucap Lara.


"Sayang nanti pulang kerja mau ku belikan apa?" tanya Alex.


"Aku ingin kue strawberry pasti seger dimakan sore hari"ucap Lara.


"Oke, nanti pulang aku mampir toko kue untuk membeli kue strawberry"ucap Alex.


"Sayang hati-hati dijalan ya"ucap Lara.


"Iya sayang"ucap Alex.


"I Love You"ucap Lara.


"I Love You Too"ucap Alex.


Alex pergi meninggalkan rumahnya mengendarai mobilnya menuju ke perusahaannya. Sementara itu Lara yang bosan dirumah pergi keluar rumah. Lara mengendarai mobilnya jalan-jalan sambil mencari kesibukan. Entah kenapa ingatannya menujukkan jalan menuju TK Almanda tempat Mahira bersekolah. Lara juga tidak tahu kenapa dia mengendarai mobilnya ke TK itu.


"Aku kok kesini ya, rasanya gak asing"ucap Lara.


Lara turun dari mobilnya dan melihat sebuah TK. Dia berjalan menuju TK tersebut. Saat dia melihat anak-anak bermain di playground TK itu, Mahira melihat Lara berdiri dipagar TK itu.


"Mama....., Mama"ucap Mahira menghampiri Lara.


Lara kaget melihat anak kecil memanggilnya Mama. Mahira memeluk Lara dan menangis padanya.


"Mama, Mahira kangen sama Mama"ucap Mahira.


"Mama?......."ucap Lara masih kebingungan.


"Mama kenapa gak pulang-pulang, Mahira main sendiri"ucap Mahira.


"Anak kecil ini kenapa memanggilku Mama, dan rasanya aku tak asing dengan panggilan itu"batin Lara


Lara melepas pelukan Mahira dan berdiri didepan Mahira.


"Adik kecil siapa namamu?"tanya Lara.


"Mahira"ucap Mahira.


"Mahira?"ucap Lara.


"Rasanya tak asing mendengar nama itu"batin Lara.


"Kenapa Mahira memanggil Tante ini Mama?" tanya Lara.


"Tante Mamaku, mukanya mirip Mamaku"ucap Lara.


"Mukanya mirip? apa benar?"tanya Lara.


"Iya Ma"ucap Mahira.


"Begitu ya, lalu dimana Mamamu?"tanya Lara.


"Mamaku sudah meninggal, aku rindu padanya" ucap Mahira.


"Oh Mamamu sudah meninggal"ucap Lara.


"Yasudah kau boleh menganggap Tante Mamamu ya"ucap Lara.


"Aku pergi sekolah dulu ya Ma"ucap Mahira.

__ADS_1


"Iya sayang"ucap Lara.


Mahira kembali ke dalam ruang kelas TK itu. Lara senang bisa bertemu Mahira kecil. Hatinya merasa begitu dekat dengannya.


***********


Dianka berada ditepi jalan menunggu taksi. Mobilnya tiba-tiba mogok. Dia membiarkan mobilnya nanti diambil mekanik. Sementara dia berangkat ke kantor mencari taksi. Dia terus melambai ditepi jalan. Tapi belum kunjung mendapatkan taksi. Tak disangka sebuah mobil mewah berhenti didepannya. Kaca mobil itu diturunkan hingga wajah pengemudinya terlihat jelas.


"Dianka"ucap Alex.


"Presdir Betrand"ucap Dianka.


"Ayo naik"ucap Alex.


"Terimakasih"ucap Dianka.


Dianka naik ke mobil itu, dia duduk disamping Alex. Saat hendak mengenakan sabuk pengaman, Dianka kesulitan. Alex membantunya memakaikan sabuk pengaman, tubuhnya dan tubuh Dianka begitu berdekatan hingga meninggalkan sedikit spasi. Alex menatap wajah Dianka.


"Sepertinya sudah bisa"ucap Dianka.


"Oh....iya"ucap Alex.


Alex kembali ke posisinya dikemudi. Dia teringat masa-masa saat bersama Dianka. Kehidupan telah banyak yang berubah termasuk dirinya. Dia tahu kini dihati Dianka ada orang lain.


"Dianka apa kau sudah sarapan?"tanya Alex.


"Sudah, tadi bersama Dafa dirumah"ucap Dianka.


"Dianka pasti sulit ya membesarkan Dafa seorang diri tanpa Alex disisimu saat itu?"tanya Alex.


"Iya, apalagi saat melahirkan Dafa. Aku sangat membutuhkannya disisiku, tapi mau gimana lagi takdir berkata lain"ucap Dianka.


"Dianka maafkan aku tidak berada disisimu saat itu"batin Alex.


"Apa Dafa sering menanyakan Alex saat dia masih kecil?"tanya Alex.


"Hampir setiap hari, untung Dafa yang anak baik, dia bisa menerima setiap aku memberi penjelasan padanya"ucap Dianka.


"Apa Dafa tahu Alex seorang narapidana?"tanya Alex.


"Tidak, aku tidak memberitahunya, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui dan menerima semua ini"ucap Dianka.


"Pasti dia akan kecewa saat tahu ayahnya seorang narapidana"ucap Alex.


"Mungkin tidak juga, Dafa anak yang baik, dia tidak mungkin seperti itu, aku yakin suatu hari nanti saat dia mengetahui masa lalu ayahnya, dia akan menerimanya dengan baik"ucap Dianka.


"Apa kau masih mencintai Alex?"tanya Alex.


"Alex akan menjadi kenangan terindah dihidupku, sekarang dihatiku sudah ada Zion, dia telah memberiku dan Dafa hangatnya memiliki sebuah keluarga"ucap Dianka.


"Semoga kau bahagia bersama Zion"ucap Alex.


"Terimakasih"ucap Dianka.


Mobil itu terus melaju menuju Perusahaan Sky Light. Alex mengantar Dianka sampai diperusahaan itu.


***********


Siva membawa rantang makanan menuju kantor polisi. Dia hendak membawakan Gibran makan siang sebagai tanda ucapan terimakasihnya pada Gibran. Dia mencari Gibran dikantor polisi itu. Tapi belum juga bertemu dengannya. Siva duduk diruang tunggu.


Gibran sedang duduk dikantin dikantor polisi itu, seorang temannya menghampiri Gibran yang sedang duduk.


"Bro, ada gadis muda mencarimu, cantik deh" ucap Andika.


"Cewek muda? cantik?"ucap Gibran masih belum tahu.


"Lo kok gak bilang punya gebetan gadis muda kinyis-kinyis, selera lo udah berubah yah"ucap Andika.


"Siva"ucap Gibran spontan.

__ADS_1


"Oh.....namanya Siva, kenalin sama gue dong"ucap Andika.


"Enak aja, rusak kalau sama lo"ucap Gibran.


"Bilang aja lo udah pake duluan ya"ucap Andika.


"Bukan urusan lo"ucap Gibran.


"Udah samperin sana, Si cantik udah nungguin dari tadi"ucap Andika.


Gibran langsung bangun dan berjalan menuju ke ruangan tempat Siva berada. Dia melihat Siva duduk diruangan itu. Gibran menghampirinya.


"Siva"ucap Gibran.


"Om"ucap Siva.


"Ada urusan apa kau mencariku?"tanya Gibran.


"Aku membuatkan makan siang untuk Om, kebetulan tadi aku masak banyak"ucap Siva.


"Terimakasih ya Siva"ucap Gibran.


"Sama-sama"ucap Siva.


Gibran mengajak Siva ke kantin, dia duduk dengan Siva diluar kantin dekat taman.


"Masakanmu enak Siva"ucap Gibran sambil makan.


"Syukurlah kalau Om suka"ucap Siva.


Gibran menghabiskan semua makanan yang dibawakan Siva untuknya.


"Siva ayo ku antar pulang"ucap Gibran.


"Apa tidak merepotkan Om?"tanya Siva.


"Tidak, kebetulan sekalian tugas diluar"ucap Gibran.


"Baiklah kalau begitu"ucap Siva.


Gibran dan Siva berjalan dikorodir kantor polisi itu menuju parkiran. Tak sengaja bertemu Nona Zelina.


"Gibran"ucap Nona Zelina.


"Nona Zelina"ucap Gibran.


"Siapa lagi nih cewek, masih kecil juga berani banget nempel Gibran"batin Nona Zelina.


"Siapa gadis disampingmu Gibran?"tanya Nona Zelina.


"Kenalkan ini Siva"ucap Gibran.


"Siva"ucap Siva.


"Zelina"ucap Nona Zelina.


"Lara udah mati, ini lagi penggantinya, nyebelin" batin Nona Zelina.


"Nona Zelina saya pergi dulu"ucap Gibran.


"Kemana?"tanya Nona Zelina.


"Mau mengantar Siva sekalian bertugas diluar"ucap Gibran.


"Baik"ucap Nona Zelina.


"Ayo Siva"ucap Gibran.


"Iya"ucap Siva.

__ADS_1


Gibran dan Siva meninggalkan tempat itu, sementara Nona Zelina kesal saat melihat Gibran bersama Siva.


__ADS_2