ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Kembalinya


__ADS_3

Zion dan Dianka datang ke pesta ulang tahun Perusahaan Antropo Group. Mereka masuk ke dalam gedung tempat acara itu berlangsung. Zion terus menggandengkan tangan Dianka. Begitu banyak orang yang hadir diacara itu. Hampir semua pebisnis hadir di acara itu. Zion dan Dianka bersalaman dengan sang empunya acara.


"Selamat Bos Darvin atas ulang tahun Perusahaan Antropo Group yang ke 20"ucap Zion.


"Terimakasih Bos Zion atas ucapannya"ucap Darvin.


"Oya, perkenalkan calon istri saya, Dianka"ucap Zion.


"Senang bertemu dengan Anda"ucap Dianka sambil tersenyum pada Darvin.


"Saya juga senang bertemu dengan Nona Dianka" ucap Darvin.


Setelah menemui Bos Darvin, Zion dan Dianka berjalan menuju ke tempat hiburan.


"Sayang, kau ingin menyumbang lagu?"tanya Zion.


"Manis sekali kata-katamu itu"ucap Dianka.


"Aku ingin mengenang saat pertama kita bertemu, kau sedang berdiri dan bernyanyi, saat itu kau terlihat cantik dan seksi"ucap Zion.


"Maksudmu sekarang aku sudah tidak cantik dan seksi lagi"ucap Dianka.


"Bisakah kita tidak berdebat dulu, bangun kemistri, kita sedang berada ditempat umum, keromantisan ini harus tampak jelas biar semua orang tahu kalau kita pasangan bukan musuh"ucap Zion.


"Terserah kau"ucap Dianka.


Ketika Zion dan Dianka sedang berdiri diantara tamu undangan, ada seorang gadis cantik menghampiri mereka.


"Zion, lama tak bertemu kangen"ucap Sesil.


"Sesil, ngapain kau disini?"tanya Zion.


"Zion kau sombong sekali, kau lupa kita pernah menghabiskan malam bersama"ucap Sesil.


Dianka hanya diam, dia tahu Zion pernah tidur dengan beberapa wanita sebelumnya. Dia berpikir mungkin Sesil salah satunya.


Sesil langsung melepas tangan Dianka dari Zion dan dia langsung memeluk Zion.


"Aku rindu memelukmu seperti ini"ucap Sesil.


Dianka langsung menarik Zion dari pelukan Sesil.


"Nona, Anda harus tahu diri dong, Zion ini calon suamiku jadi jangan genit"ucap Dianka.


Zion kaget melihat Dianka protektif padanya.


"Heh, kau tahu aku dan Zion dulu pernah menghabiskan malam bersama"ucap Sesil.


"Itu dulukan, hanya masa lalu. Lagi pula apa arti sebuah masa lalu, akulah masa depannya jadi pergilah jangan memalukan dirimu sendiri"ucap Dianka.


"Kau wanita, mulutmu itu"ucap Sesil.


"Sesil pergilah dari hadapanku dan Dianka, kalau tidak kau tanggung akibatnya"ucap Zion marah pada Sesil.


"Tapi Zion"ucap Sesil.


Para pengawal Zion masuk ke dalam ruangan itu dan membawa Sesil keluar dari tempat itu. Zion menatap Dianka yang terlihat kesal.


"Kau marah dengan yang kau dengar tadi?"tanya Zion.


"Untuk apa aku marah, aku sudah tahu kau itu monster jahat jadi sudah tak aneh bila terjadi hal seperti tadi"ucap Dianka.


"Aku senang punya pasangan mental besi sepertimu, bisa menerima kebusukanku dimasa lalu. Tapi wajahmu kenapa ditekuk seperti itu, kau cemburu ya"ucap Zion.


"Cemburu? ngapain? rugi besar kalau harus cemburu padamu, aku mau nyari calon suami yang baru, kau tidak berkualitas"ucap Dianka.


Dianka berjalan meninggalkan Zion ditempat itu.


"Hei wanita, awas saja kau berani menggandeng laki-laki lain, aku akan menerkammu sampai habis nanti malam"ucap Zion berbicara pada Dianka yang meninggalkannya.


"Coba aja kalau berani"ucap Dianka.


Dianka berjalan sambil tersenyum meninggalkan Zion sendirian, tak disangka seorang lelaki bersetelan jas rapi menghampirinya. Dia terlihat berkuasa dan angkuh, lelaki itu adalah William. Dianka kaget dan hanya mematung, ini pertemuan pertama kalinya dengan William setelah bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


"Dianka, aku senang sekali ternyata kau masih hidup Tuan Putriku"ucap William mendekati Dianka.


"............"Dianka hanya diam.


"Kenapa?....apa kau rindu padaku calon istriku yang hilang"ucap William.


"Hei, siapa bilang dia calon istrimu, sebentar lagi dia akan jadi istriku dan tidak ada yang bisa menghentikannya"ucap Zion menghampiri William dan Dianka.


William menoleh ke arah Zion yang datang menghampirinya.


"Zion"ucap Dianka.


"Alex atau seseorang yang mirip dengannya"ucap William.


"Aku Zion, bukan Alex"ucap Zion.


"Aku pernah dengar nama Zion. Oh.....kau pengusaha dari luar negeri itu"ucap William.


"Kenapa?...kau takut?"tanya Zion.


"Asal kau tahu, aku tidak akan melepas Dianka untuk yang kedua kalinya"ucap William.


"Takdir Dianka ada ditanganku, hidupnya milikku, jadi dia akan bersamaku selamanya"ucap Zion.


"Kau yakin, lihat saja nanti, dia akan bersamamu atau bersamaku"ucap William.


Setelah itu William pergi meninggalkan Zion dan Dianka. Zion langsung menarik lengan Dianka dan membawanya ke dalam mobil.


"Zion kau ini selalu memaksaku mengikutimu" ucap Dianka.


"Hei, kau mau lelaki aneh itu mengambilmu dariku, kau akan kesepian dan bosan bila hidup dengan lelaki robot sepertinya yang senyum saja jarang, muka datar, gayanya bosi banget. Lihat aku punya semua yang kau butuhkan, bahkan kita bisa bertengkar seharian, bukannya itu seru"ucap Zion.


"Zion siapa juga yang mau hidup denganmu, aku akan kecapean dan telingaku ini panas mendengar celotehan mu yang tak ada habisnya" ucap Dianka.


"Dianka sayang, jangan pernah berani meliriknya sedikitpun, kalau tidak aku akan menerkammu sekarang juga"ucap Zion.


"Hih, diktaktor"ucap Dianka.


"Kau suka itu, ayo tersenyumlah. Aku ingin melihatnya"ucap Zion.


"Kau puas senyumanku sudah manis kan"ucap Dianka.


"Aku makin cinta jadinya"ucap Zion.


"Huh"ucap Dianka mendengus.


Setelah itu mereka kembali pulang ke rumah besar Zion. Dianka mengkhawatirkan Zion, dia tahu William tak akan menyerah begitu saja. Walaupun dia sering kesal pada Zion tapi dia merasa nyaman saat bersamanya.


***********


Lara tidak berangkat bekerja karena sakit. Dia terus berbaring dikamarnya. Dengan banyak pemberitaan dan wartawan yang silih berganti terus berjaga didepan pintu gerbang rumahnya membuatnya pusing dan tidak nyaman. Dia merindukan kehadiran Gibran disaat seperti ini.


Lara coba menelpon Gibran, tapi ternyata yang mengangkat telponnya seorang wanita.


"Hallo sayang"ucap Lara.


"Hallo"ucap Nona Zelina.


"Siapa ya?"tanya Lara.


"Aku Nona Zelina"ucap Nona Zelina.


"Oo...kok handphone suami saya ada pada Anda?"tanya Lara.


"Coba kau pikirkan jika handphone suamimu ada ditanganku, berarti?"ucap Nona Zelina.


"Maksud Anda apa?"tanya Lara.


"Tentu kau tahu jawabannya, Gibran sedang mandi, tadi dia habis......."ucap Nona Zelina.


"Anda sedang memprovokasi saya?"tanya Lara.


"Apa kata-kata saya ada yang memprovokasi Anda, coba ditelaah ulang, selamat pagi"ucap Nona Zelina langsung menutup telponnya.

__ADS_1


Lara bingung kenapa handphone milik suaminya ada ditangan Nona Zelina. Dia jadi mengkhawatirkan Gibran, mungkin saja Nona Zelina terus menggodanya. Pikirannya jadi tak tenang setelah itu.


Lara keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, dia melihat Carlos sedang berbincang dengan Ibu Yuliana diruang tamu. Lara menghampiri mereka.


"Carlos, kau ada disini?"tanya Lara.


"Tadi pagi aku dengar kau tidak masuk karena sakit, jadi aku menjengukmu kemari"ucap Carlos.


"Lara, Carlos, ibu tinggal ke dapur dulu ya"ucap Ibu Yuliana.


"Iya Bu"ucap Lara dan Carlos.


Ibu Yuliana meninggalkan Lara dan Carlos berdua diruang tamu. Mereka duduk disofa dan mulai berbincang.


"Carlos terimakasih sudah repot-repot menjengukku"ucap Lara.


"Tidak masalah, lagi pula kau adalah guru tariku, jadi sudah seharusnya aku menjengukmu"ucap Carlos.


"Maaf ya hari ini aku tidak bisa mengajarimu menari"ucap Lara.


"Tidak apa-apa, yang penting kau cepat sehat" ucap Carlos.


"Aduh kepalaku pusing"ucap Lara lalu pingsan.


Carlos langsung menghampiri Lara, Ibu Yuliana yang baru masuk ke ruang tamu meminta Carlos membawanya ke kamarnya. Carlos membaringkan Lara diranjangnya, Ibu Yuliana keluar dari kamar itu untuk mengambil kotak obat. Carlos kasihan dengan Lara, dia begitu mencemaskannya. Saat dia mencoba membelai rambut Lara, Gibran masuk ke kamar itu.


"Kau siapa? kenapa berani menyentuh istriku" ucap Gibran.


Carlos langsung menarik tangannya dari rambut Lara.


"Oh..., maaf"ucap Carlos.


"Gibran, kau sudah pulang nak"ucap Ibu Yuliana yang baru masuk kamar itu.


"Iya Bu, aku meminta orang lain menggantikanku, tapi karena handphoneku hilang belum sempat mengabari Lara dan Ibu"ucap Gibran.


"Begitu ya, oya Gibran ini Carlos, artis yang belajar menari disanggar tari milik Lara"ucap Ibu Yuliana.


"Aku sering melihatmu ditelevisi, tapi pertama kali bertemu secara langsung. Apa kau sudah selesai dengan urusanmu, sebaiknya segera pulang jika sudah selesai"ucap Gibran.


"Baik, saya pamit pulang dulu, terimakasih ya Bu"


ucap Carlos.


"Ya, mari ibu antar sampai ke depan"ucap Ibu Yuliana.


Ibu Yuliana dan Carlos keluar dari kamar itu. Gibran langsung mendekati Lara yang sedang pingsan. Dia mencium kening Lara, sentuhan itu membuat Lara sadarkan diri.


"Sayang, ini kau beneran?"tanya Lara.


"Iya sayang, aku kangen"ucap Gibran.


"Aku juga kangen sayang"ucap Lara.


Gibran langsung memeluk Lara yang sedang berbaring itu dalam dekapannya.


"Maaf ya sayang, aku tidak ada disisimu saat kau dalam masalah seperti ini"ucap Gibran.


"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau sudah  ada disisiku"ucap Lara.


"Oya, tadi Carlos kesini menjengukmu?"tanya Gibran.


"Iya dia menjengukku karena hari ini aku tidak masuk kerja"ucap Lara.


"Apa dia selalu perhatian padamu seperti itu?" tanya Gibran.


"Kau cemburu sayang? aku dan Carlos hanya berteman baik"ucap Lara.


"Ya semoga saja dia tetap menganggapmu teman dan tidak lebih dari itu"ucap Gibran.


"Oya sayang tadi saat aku menelponmu, kenapa Nona Zelina yang mengangkatnya?"tanya Lara.


"Handphoneku hilang, mungkin saja terjatuh di villa dan ditemukan Nona Zelina"ucap Gibran.

__ADS_1


"Bisa jadi, yang penting kau sudah pulang aku seneng"ucap Lara.


Lara dan Gibran melepas kerinduan mereka. Gibran masih memikirkan sikap Carlos yang tak biasa pada Lara. Dia berharap Carlos tidak memiliki niat lain saat berteman dengan istrinya itu.


__ADS_2