ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
New Generation Part 1


__ADS_3

Syahira berjalan menuju ruang prakteknya, ia tampak terburu-buru. Kontras dengan jam yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Ternyata Syahira buru-buru karena agar tidak dicurigai oleh orang-orang. Ia hari ini datang ke rumah sakit dengan naik angkot. Ternyata di pintu ruang praktiknya sudah ada Suster Anna yang menunggu kedatangannya.


“Pagi Dok.” Sapa Anna dengan ramah.


“Pagi Ann.” Jawab Syahira dengan senyum tipis. Ia lalu membuka pintu.


“Dok, barusan ada pasien yang menanyakan dokter. Saya bilang kalau dia terlalu pagi datangnya jadi dokter belum masuk. Tetapi dia kekeh ingin masuk ke ruang dokter, untung petugas keamanan cepet-cepet datang. Pokoknya aneh banget tahu.” ucap Suster Anna sembari berjalan mengikuti Syahira.


“Pasien? Pasien yang mana?” Tanya Syahira. Ia lalu mengenakan jas putihnya.


“Katanya dia udah bikin janji temu sama dokter tapi pas saya cek jadwal dokter gak ada. Makanya saya bilang aneh.” Dokter Anna berdiri di samping Syahira.


“Seinget aku sih engga juga Ann. Tapi kamu tahu gak nama pasien itu? Terus ciri-cirinya gimana?” Syahira kini duduk di meja kerjanya sembari memandangi layar laptop.


“Namanya Pak Vir. Kok saya seperti pernah mendengar nama itu ya? oh, kalau ciri-cirinya dia pria berusia sekitar lima puluh atau enam puluh tahunan lah, terus pakai kacamata. Rambutnya hampir penuh sama uban. Kulinya putih. Matanya agak sipit sedikit.” Jelas Suster Anna.


“Astaga Ann, itu bokap aku. Kenapa dia pake nyamar jadi pasien segala sih? Terus kemana dia sekarang?” tanya Syahira dengan tak sabar.


“Dia udah pulang dok.” Jawab Anna.


“Yah, Dad pasti mau bilang sesuatu sama aku. Aku harus menemuinya nanti. Tapi gimana ya...?” Syahira kini termenung memikirkan cara untuk menemui Ayahnya.


“Oh ya, Ann. Ada satu hal lagi yang mau aku bilang sama kamu dan semua orang yang ada di rumah sakit ini. aku rasa udah gak ada lagi yang harus ditutup tutupi.” Kini Syahira menutup laptopnya. Ia menatap Suster Anna dengan tatapan yang begitu serius.


“Hal apa dok?” Suster Anna benar-benar dibuat tegang.


“Kamu kan udah tahu kalau aku sudah menikah dengan Syamir. kemarin, kami baru aja ngasih tahu soal pernikahan kami ke keluargaku. Dan sesuai dengan prediksiku, mereka menentang pernikahan kami. Aku diusir dari rumah, dan sekarang aku tinggal bersama Syamir. karena sekarang kedua orang tuaku sudah tahu, jadi kamu gak usah lagi menyembunyikan soal pernikahan kami kepada semua orang.” Jelas Syahira.


“Dok...,”Suster Anna berlinang air mata, ia lalu merangkul Syahira.


“Saya tahu pasti itu gak mudah. Yang sabar ya dok.” Anna memeluk Syahira dengan erat.


“Thanks Ann.” Syahira ikutan menitikan air mata.


“Sama-sama dok.” Suster Anna lalu melepaskan pelukannya.


Tak lama, terdengar ketukan pintu. Dengan sigap Suster Anna membukakan pintu. Dokter Alma masuk ke ruangan mendekati Syahira. Ia terlihat menenteng dua gelas kopi dari kedai.


“Good Morning Beib.” Alma menaruh kopi itu di atas meja Syahira.

__ADS_1


“Nih, Coffee for my bestie. Biar pagi lo seger.” Ucap Alma, ia lalu duduk di depan Syaira.


“Thanks Al.” Syahira terlihat murung.


“No problem, but, kok muka lo kusut amat sih, masih bagi kok udah kusut aja. Tell me, what happend?”


“Al, sebelumnya aku minta maaf ya karena selama ini aku gak berterus terang sama kamu. But, aku rasa ini saat yang tepat buat bilang yang sebenernya sama kamu.”


“Kok gue jadi tegang sih Sya. Emangnya apa? Apa yang selama ini lo tutup-tutupi dari gue?”


“Al, sebenernya aku.....,” Syahira lalu menceritakan semuanya pada Alma. Mendengar cerita Syahira, wajah Alma berubah kaget dan tak percaya. berkali-kali ia menggelengkan kepalanya.


“Sya, lo gak lagi nge prank gue kan?” tanya Alma serius.


“No Al, i’m serious about that.” Jawab Syahira dengan yakin.


“Gue kaya lagi diceritain dongeng deh sama lo. Kok bisa hal semacam itu terjadi di kehidupan lo?”


“Emang udah takdirnya aja Al. Tapi kamu gak marah kan sama aku?”


“Ofcourse no. Gue ngerti kok posisi lo Sya. Gue malah ngerasa kasihan sama lo Sya. Terus tadi lo ke sini naik apa?”


“Kalo gitu mulai besok gue jemput lo tiap hari ya. Lo kasih tahu aja alamat lo di mana, biar gampang.”


“Gausah Al, beneran. Gue gak papa kok. But, thanks ya sebelumnya buat tawarannya. I appriciate it.”


“Oh, come on Sya. Kita kan sahabatan udah dari SMA, masa gue tega liat sahabat gue sendiri lagi susah. Sya, kalo lo butuh apa-apa lo bilang ya sama gue, jangan sungkan oke.”


“Iya Al. Kamu gak usah ngerasa gak enak kaya gitu dong. Aku baik-baik aja kok Al.”


“Beneran baik-baik aja?” kini Alma berkaca-kaca. Alma tak sanggup membendung air matanya. Ia lalu menangis, Syahira langsung merangkulnya.


“Uuuh, cup-cup Al. Kok jadi kamu yang nangis sih? Udah, aku aja gak papa kok.” Syahira memeluk Alma sembari menepuk lembut pundaknya.


“Gue gak bisa liat sahabat gue kayak gini. Gue gak terima Sya, huaaaaa.” Alma menangis kencang. Syahira malah tertawa jadinya, Suster Anna yang melihat mereka jadi ikut tertawa.


“Udah Al, kamu kaya anak kecil deh.” Kata Syahira.


Syahira lega setelah menceritakan semuanya pada dua orang dekatnya. Usai perbincangan pagi itu mereka bertiga kembali bekerja seperti sedia kala. Siangnya mereka bertiga kembali berkumpul di kantin. Syahira sebenarnya tidak ingin ikut ke kantin karena ia tidak membawa uang yang cukup, tetapi Alma dan Suster Anna memaksanya untuk ikut.

__ADS_1


“Udah deh Sya, gak usah nolak. Lo gak usah khawatir, kita berdua traktir lo, ya kan Ann?” kata Alma sembari menarik lengan Syahira.


“Iya Dok, ayo!” Suster Anna ikut menarik lengan Syahira.


“Tapi gue gak enak, nanti keterusan lagi.” Jawab Syahira.


“Ya jelas gak papa lah, emang kalo keterusan kenapa? Kita berdua gak bakal bangkrut kali kalo cuma nraktir lo makan siang. Udah Ayo.” Kini Syahira menyerah, ia pasrah diseret ke kantin oleh kedua temannya.


Usai makan siang itu mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tak terasa waktu sudah menunjukkan untuk pulang. Syahira kembali dipaksa oleh Alma untuk diantar olehnya. Syahira tidak bisa menolak tawaran dari sahabatnya. Apalagi itu seorang Alma, Syahira tidak pernah bisa menolaknya.


“Lo tunjukin ya arahnya.” Alma kini menginjak gas.


“Oke.” Syahira lalu memasang sabuk pengaman.


Mereka pun tiba di pinggir jalan dekat temapt tinggal Syamir. Syahira turun dari mobil disusul oleh Alma. Alma terlihat kaget saat melihat daerah tempat tinggal Syahira saat ini.


“Sya, lo beneran tinggal di tempat kayak gini?”


“Emangnya kenapa Al?”


“Gak, gue Cuma kaget aja. Lo beneran betah tinggal di sini? jalannya aja Cuma nuat buat motor, padet penduduk banget Sya.”


“Ya habis mau gimana lagi. Aku kan harus ikut kemanapun suamiku pergi.”


“Iya sih. Ya udah, gue pulang sekarang ya Sya.”


“Iya Al.”


“Bye, see you tomorrow beib.” Alma melambaikan tangannya kemudian masuk ke mobil.


“See you.” Syahira ikut melambaikan tangan. Alma pun pergi.


Syahira hendak menyebrang. Ia melihat Syamir di pinggir jalan yang lain tengah menunggunya. Kini pria itu melambai padanya. Syahira balas melambai. Syahira hendak menghampirinya. Tetapi, tiba-tiba Syamir dipukul berkali-kali oleh orang yang tak di kenal secara tiba-tiba. Orang yang memukuli Syamir lalu pergi setelahnya. Syahira menjerit, ia lalu menghampiri Syamir.


“Syam.” Syahira hendak memegang Syamir, tetapi Syamir langsung ambruk pingsan. Syamir jatuh dipangkuan Syahira.


“Syam, bangun Syam. Tolong! Tolong!” Syahira berteriak minta tolong.


Entah siapa orang yang tengah memukuli Syamir barusan. Kemunculannya begitu cepat dan mendadak, mebuat Syamir tidak sempat menghindar. Orang itu juga mengenakan penutup kelapa sehingga wajahnya tak terlihat. Syahira kini panik dengan kondisi Syamir yang tengah tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2