
Lara berjalan ditepi jalan sambil menangis. Alex yang melihat Lara keluar gedung tadi, dia langsung menitipkan Mahira pada anak buahnya. Dia menyusul Lara yang berjalan ditepi jalan. Lara terus menangis mengingat kebersamaannya bersama Gibran. Hari-hari yang indah itu telah berlalu begitu saja. Kini dia harus menelan pil pahit kalau Gibran sekarang suami Siva.
"Hik....hik....hik.....rasanya sakit sekali, apa aku bisa melupakan Gibran dari hatiku"ucap Lara.
"Apa ini takdir? mungkin aku dan Gibran tidak bisa bersama lagi hik....hik......"ucap Lara.
Lara berlutut ditepi jalan sambil menangis. Tiba-tiba hujan deras, seakan hujan tahu perasaannya yang sedang terluka. Dibelakang tubuhnya ada Alex memayunginya dengan jas miliknya.
"Sayang, ayo pulang. Hujannya semakin deras, kau bisa sakit, kasihan bayi dalam kandunganmu"ucap Alex.
"Hik...hik...hik....Alex apa memang aku harus selalu terikat denganmu?"tanya Lara.
"Sayang, aku tidak akan memaksamu, tapi ku mohon jangan seperti ini, kau sedang hamil. Mahira juga mencemaskanmu"ucap Alex.
"Apa semua ini rencanamu? biar aku tidak bisa bersama Gibran lagi"ucap Lara.
"Aku hanya menemukanmu dijurang, mungkin benar aku sengaja membuat Gibran mengira kau mati. Tapi aku tidak berencana membuat Gibran menikahi orang lain. Dan hilang ingatannya dirimu murni kecelakaan saat kau jatuh dijurang"ucap Alex.
"Hik....hik.....hik.....Kini semuanya berakhir, aku hanya bisa merelakan Gibran dengan wanita lain" ucap Lara.
"Sayang maafkan aku, kau boleh membenciku dan memukulku sepuasmu. Asal jangan menyakiti dirimu seperti ini, aku mencemaskanmu dan bayi kita"ucap Alex.
Alex berjongkok berlutut bersama Lara didepannya sambil menutupi Lara dengan jas miliknya.
"Berilah aku kesempatan, ku mohon. Biarkan aku membahagiakanmu sayang, terlepas dari kesalahanku dimasa lalu dan sekarang"ucap Alex.
Lara menatap Alex didepannya,.
"Aku tidak akan memaksamu mencintaiku secepatnya, tapi hiduplah denganku sayang. Kita rawat kedua anak kita bersama dan memulai hidup baru, aku akan menebus semua kesalahanku, kau boleh menghukumku dan memerintahku semaumu setiap hari"ucap Alex.
Lara akhirnya menurunkan egonya. Dia mengangguk sambil menatap Alex. Melihat Lara mengangguk, Alex langsung memeluknya.
"Sayang ayo pulang, kau belum makan, aku akan memasap sup hangat biar tubuhmu hangat"ucap Alex.
"Iya"ucap Lara.
Alex langsung membopong Lara menuju ke mobilnya. Mereka pulang ke rumah bersama-sama.
***********
Malam itu Siva melihat Gibran terdiam dibalkon kamarnya. Dia menghampiri Gibran yang sedang berdiri ditepi balkon itu.
"Om, aku minta maaf, mungkin semua ini salahku, Om dan istri menjadi seperti ini. Ceraikanlah aku setelah aku melahirkan, aku ikhlas asal Om bisa bahagia bersama istri Om"ucap Siva.
"............."Gibran hanya diam.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya lagi untuk menebus kesalahanku dan membalas semua kebaikan Om"ucap Siva.
"............."Gibran tetap diam.
__ADS_1
"Aku tahu Om sangat mencintai istri Om, aku tidak ingin kalian terpisah karenaku"ucap Siva.
".........."Gibran masih diam.
"Aku pamit ya Om, kita akan bertemu dipersidangan setelah aku melahirkan nanti"ucap Siva.
Siva meninggalkan Gibran, dia membereskan pakaiannya ke dalam koper. Lalu berjalan menuju ke pintu kamar, tapi tangannya ditarik Gibran.
"Kau mau kemana Siva, sekarang kau istriku"ucap Gibran.
"Aku cuma tidak ingin melihat Om bersedih, Siva tidak masalah jika Om menceraikan Siva nantinya"ucap Siva.
Gibran langsung menarik Siva dalam pelukannya.
"Siva, semua sudah terjadi dan menjadi takdir antara aku dan Lara. Dan kini kaulah istriku kedepannya, kita akan membesarkan dan merawat anak kita"ucap Gibran.
"Maafkan Siva ya Om"ucap Siva.
"Lupakan semuanya, ayo kita sambut hidup yang baru"ucap Gibran.
Siva mengangguk dengan ucapan Gibran.
"Ayo tidur, kau pasti lelah seharian berdiri tadi, apalagi kau sedang hamil"ucap Gibran.
"Iya Om"ucap Siva.
************
Rahel asyik makan rujak dimeja makan. Dia bahkan membeli banyak rujak. Semua rujak itu dimakannya begitu lahap. Tiba-tiba William datang dan mengambil rujak-rujak itu.
"Sayang, mau dikemanakan rujakku?"tanya Rahel.
"Dibuang"ucap William.
"Loh kok dibuang, aku lagi makan rujaknya"ucap Rahel.
"Sayang kalau kebanyakan nanti perutmu sakit"ucap William.
"Jangan sayang, aku nyidam nih"ucap Rahel.
"Kau bukan hanya nyidam, tapi setiap hari memakannya"ucap William.
"Tapi aku suka sayang"ucap Rahel.
William kembali menaruh rujak itu dimeja. Dan dia memegang dagu Rahel.
"Sayang, kau boleh makan rujak, tapi sedikit aja, jangan nakal, nanti sakit perut kasihan dede bayi kita"ucap William.
"Sayang kau manis sekali sekarang"ucap Rahel.
__ADS_1
"Karena aku sangat menyayangimu dan buah hati kita"ucap William.
"Suapin sayang"ucap Rahel.
"Manjanya kau sayang, tapi aku suka"ucap William.
"Dedenya bilang kangen sama Daddynya jadi minta Daddynya nyuapin Maminya"ucap Rahel.
"Bisa aja kamu sayang, bikin aku gemes sama kamu"ucap William.
Rahel tersenyum pada William. Dia bahagia sekali William menyuapinya makan rujak, dan selalu perhatian dan posesif padanya. Itu menjadi hal terindah dalam hidupnya sekarang.
**********
Zion memasak setiap hari untuk Dianka. Maklum semenjak Dianka hamil, dia selalu ingin makan masakan Zion meskipun tak enak. Tapi Dianka selalu lahap memakannya. Siang itu Dianka makan sup ayam buatan Zion. Dianka lahap sekali memakan sup itu.
"Sayang sup itu...., jujur saja tidak enak menurutku" ucap Zion.
"Enak banget sayang, kau Chef handal"ucap Dianka.
"Yang betul, perasaan rasanya gak jelas dilidahku" ucap Zion.
"Itu mungkin karena kau yang memasaknya, tapi aku yang memakannya enak kok"ucap Dianka.
Dafa datang menghampiri Dianka dan Zion yang sedang makan dimeja makan itu.
"Dafa cobain sup buatan Papa"ucap Zion.
"Oke Pa"ucap Dafa.
Dafa memakan sup itu dengan sendok.
"Gimana Dafa, enakkan?"tanya Dianka.
"Gak enak, rasanya gak jelas"ucap Dafa.
"Tuhkan sayang kataku apa, ini sup rasanya nano nano, kenapa kau malah bilang enak"ucap Zion.
"Pokoknya masakanmu is the best sayang"ucap Dianka.
"Lidahmu lagi lupa ingatan kali sayang"ucap Zion.
"Kalau gitu sekolahin dulu lidah Bunda, biar pinter"ucap Dafa.
"Betul kata Dafa sayang, lidahmu mengalami turun kelas, harus ujian lagi biar naik kelas"ucap Zion.
"Masakan enak begini kok dibilang gak enak, kalian berdua lah yang harus sekolah"ucap Dianka.
Zion heran melihat Dianka yang lahap memakan sup ayam buatannya yang tidak enak itu. Hampir setiap hari masakan tak enak Zion selalu habis dimakan Dianka
__ADS_1