
Almira berpakaian rapi menggunakan kemeja panjang, dilapis cardigan dan celana panjang. Dia sedang menunggu di ruang tunggu. Almira menunggu orang yang akan menginterviewnya.
"Almira silahkan masuk, anda sudah ditunggu," ucap seorang wanita yang berpakaian rapi itu.
"Oya terimakasih," ucap Almira langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan itu.
Seorang laki-laki tampan berpakaian rapi dengan kemeja dilapis jas dan celana panjang. Rambutnya yang pirang, kulit putih dan badannya yang tegap membuatnya terlihat semakin tampan. Almira masuk ke dalam ruangan.
"Pagi Pak." Almira menyapa laki-laki itu.
Laki-laki itu membalas sapaan Almira. Dia mulai menginterviewnya. Berbagai pertanyaan diajukan laki-laki itu, seputar pendidikan, identitas,
pengalaman kerja, gaji, dan keadaan perusahaan. Almira menjawabnya dengan baik. Laki-laki itu juga memperkenalkan dirinya. Dia bernama Mico Geraldi. Manajer di perusahaan itu. Manajer Mico sengaja menginterviewnya sendiri karena dia ingin bekerja dengan orang pilihannya sendiri. Jabatan yang sedang dilamar oleh Almira adalah Asisten Manager. Jika Almira terpilih, dia akan bekerja bersama Mico.
"Nona cantik, bolehkan aku save nomor mu secara pribadi, biar kapan-kapan aku bisa telp kamu kalau kangen," ucap Miko seperti merayu Almira.
Almira terkejut dengan kata-kata yang cukup berani dari seorang manajer perusahaan yang sedang menginterviewnya. Mico memang selalu bersikap manis pada setiap gadis cantik. Bukan karena dia playboy tapi karena dia menghargai mahluk tuhan yang cantik. Sekalipun selalu bersikap manis pada setiap gadis cantik tapi Mico sebenarnya belum punya pacar. Dia belum menemukan gadis yang benar-benar dia cintai.
"Oya pak, sudah selesai ya interviewnya?" tanya Almira yang menunggu Mico dari tadi.
"Belum, masih ada pertanyaan dari hati ke hati," ucap Mico.
"Tadi aku pikir dia dingin dan tertutup, ternyata playboy dan genit," batin Almira.
"Apa yang ingin ditanyakan Pak?" tanya Almira.
"Udah punya pacar belum?" tanya Mico.
Almira merasa ini pertanyaan di luar pekerjaannya.
"Maaf Pak, saya tidak bisa menjawab apapun di luar yang berhubungan dengan pekerjaan," jawab Almira.
Almira segera berdiri dan bersalaman dengan Mico. Mico menjawab sapaan dan salamnya. Almira buru-buru keluar karena tidak tahan dengan rayuan Mico yang berani padahal baru bertemu.
"Tadi ada yang interview seorang gadis
cantik, pasti Pak Mico menggodanya," ucap seorang karyawan di depan Almira.
"Iyalah, Pak Mico kan memang begitu,
tapi dia baik loh sebenarnya."
__ADS_1
Almira yang malu langsung bergegas berjalan kedepan secepatnya tanpa basa basi. Sepertinya Dia tahu kalau Mico memang wataknya seperti itu.
. ***
Seminggu setelah interview Almira mendapat kabar kalau dia sudah diterima di perusahaan itu. Almira senang akhirnya dia mendapatkan pekerjaan. Dia langsung ke kamar Mahira untuk menceritakan hal ini pada kakaknya.
"Kak Mahira aku sudah di terima kerja."
"Oya, selamat ya Almira," ucap Mahira.
"Iya Kak."
"Ngomong-ngomong keterima kerja di perusahaan apa?"
"Perusahaan Axton Brandon Kak."
"Apa? itu kalau gak salah perusahaan milik Chaiden juga, tapi cabangnya."
Almira terkejut, dia tidak mengecek ulang profil perusahaan itu. Dia sudah mengiyakan tawaran itu tidak enak jika harus membatalkan tiba-tiba.
"Bagus kalau adik kecil kerja di sana."
"Kak Mahira kenapa kok murung? ada masalah?"
"Chaiden mau mengajakku bertemu keluarganya pekan depan," ucap Mahira dengan wajahnya yang terlihat tidak bahagia.
"Bukannya ini yang kakak tunggu ya?"
Almira tahu sudah lama kakaknya menantikan Chaiden mengajak Mahira ke rumah orangtuanya, tapi saat ajakan itu datang Mahira terlihat tidak bahagia.
"Aku takut ada kesalahan, saat aku bertemu nanti. Ini pertama kalinya aku bertemu keluarganya. Bagaimana aku harus bersikap nanti. Ibu dan adiknya seperti apa juga gak tahu. Chaiden jarang bicara masalah keluarganya padaku."
"Kak Mahira tidak perlu berbuat apapun, bersikaplah seperti biasa. Kakak orang yang baik semua orang selalu nyaman berada di sisi kakak."
Mendengar ucapan Almira, Mahira mulai menghilangkan kecemasannya. Almira tahu kakaknya sangat baik, sopan, ramah, dan cantik pasti akan mudah diterima oleh keluarga Juan.
"Semoga kakak bahagia," batin Almira. Dia ingin melihat Mahira bahagia. Tak peduli mungkin nanti dia akan menyaksikan pernikahan Chaiden dengan kakaknya.
***
Almira duduk di kursi kerjanya, dia sudah mulai bekerja hari ini. Segudang berkas mulai dia pelajari. Mico satu ruang kerja dengan Almira. Walaupun Mico gemar menggoda gadis cantik tapi saat bekerja dia sangat serius.
__ADS_1
"Almira kalau ada yang belum dimengerti bisa menanyakan pada saya."
"Baik Pak Mico."
Selesai memeriksa dan mempelajari berkas-berkas itu Almira pergi ke toilet sebentar. Dia masuk kesalah satu toilet yang ada di toilet perempuan.
"Asisten manajer yang baru itu katanya anak Keluarga Aliando," ucap salah satu karyawan yang sedang berdandan di depan kaca toilet.
"Wah, kenapa dia gak kerja di perusahaan
Keluarga Aliando ya. Disana pasti posisinya bisa lebih tinggi," ucap karyawan lainnya.
Mereka membicarakan Almira, tapi mereka tidak tahu kalau Almira ada di dalam salah satu toilet itu. Almira hanya mendengarkan perkataan mereka dari dalam.
"Menurut informasi dia anak angkat dari Keluarga Aliando."
"Pantas saja dia kerja di sini, begitulah nasib anak angkat kaya di film-film."
Kedua karyawan itu terus saja membicarakan Almira, karena merasa keluarganya mulai disinggung Almira keluar dan menghampiri kedua karyawan itu.
"Sepertinya kalian asyik mengobrol, apa sudah selesai pekerjaannya?" tanya Almira menyindir mereka.
Mereka malu dengan ucapan Almira dan langsung pergi meninggalkan toilet. Almira tidak berpikir akan ada gosip seperti ini pada dia dan keluarganya.
Siang itu Almira sedang duduk makan siang di kantin perusahaan. Mico yang melihatnya sendirian mendekati meja makannya dan duduk makan bersama Almira.
"Makan sendiri tidak baik untuk gadis cantik."
Mico mengeluarkan gombalan manisnya untuk Almira. Setelah tidak bekerja, mode on untuk merayu gadis cantik mulai aktif, tapi Almira tetap makan dan tidak menjawab ucapan Mico.
"Biasanya kalau diam makin manis deh."
Mico kembali dengan gombalannya yang baru, tapi Almira lagi-lagi diam. Rasanya Almira ingin segera meninggalkan meja itu.
"Nanti pulang mau bareng, kita searah."
Mico masih berusaha mendekati Almira dengan cara lain. Dia tipe cowok yang pede dan tebal muka. Sekalipun didiamkan oleh Almira, Mico tetap berusaha.
"Maaf Pak Mico, saya naik taksi saja."
Almira menolak ajakan Mico secara sopan dan meninggalkan meja makan itu. Di kediamannya banyak mobil milik Keluarga Aliando, hanya saja Almira lebih memilih naik taksi. Almira tipe anak yang mandiri. Dia tidak mau merepotkan siapapun dalam urusannya. Begitupun dalam hal mobil, walaupun ayah Alex memberinya fasilitas mobil tapi dia memilih naik taksi sampai nanti dia bisa membeli mobilnya sendiri.
__ADS_1