ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 18


__ADS_3

Mahira sedang menyuapi Chaiden di ruang rawat inap itu. Dia senang Chaiden sudah sadar dan mulai pulih. Almira hendak masuk ke ruangan itu, baru membuka pintu sedikit tapi tidak jadi saat melihat Mahira sedang berduaan dengan Chaiden. Almira kembali keluar tidak jadi masuk ke dalam. Dia tahu kakaknya butuh waktu bersama dengan calon suaminya.


"Aku senang kau sudah sadar Chaiden, walau rasanya sakit melihatmu bersama Kak Mahira tapi ini yang terbaik," ucap Almira sambil meneteskan air matanya.


Almira berjalan menjauh dari ruang pasien tempat Chaiden dirawat. Almira pergi ke atap gedung rumah sakit itu, lalu dia meneriakkan nama Chaiden.


"Chaiden ...," ucap Almira berteriak.


"Aku rindu ...," ucap Almira berteriak lagi.


"Seandainya aku bisa berada di sisimu saat ini, tapi itu tidak mungkin hik ... hik ...," ucap Almira sambil menangis.


Almira hanya menangis di atap gedung itu. Hatinya begitu terluka sekaligus bahagia karena Chaiden sudah sadarkan diri. Dia sudah merelakan Chaiden untuk kakak kesayangannya, meskipun hatinya akan terluka terus menerus.


Mahira memberi Chaiden obat, tak lama datang Vita masuk ke ruang rawat inap itu. Vita langsung mendekati Chaiden dan memeluknya tanpa menghiraukan keberadaan Mahira.


"Chaiden untung kau tidak apa-apa," ucap Vita.


"Vita lepaskan tanganmu dariku!" ucap Chaiden sambil melepas paksa tangan Vita dari tubuhnya.


"Chaiden kamu tahu tidak aku khawatir padamu, aku sampai tidak bisa tidur saat mendapat kabar tentangmu," ucap Vita.


Mahira hanya diam, walaupun dia kesal dengan tingkah Vita yang kecentilan pada calon suaminya.


"Siapa yang memberitahumu aku ada di rumah sakit?" tanya Chaiden.


"Sisi yang memberitahuku kabarmu," jawab Vita.


"Sisi?" ucap Chaiden. Dia tak menyangka Sisi masih berhubungan dengan Vita. Padahal sudah lama mereka tak bertemu dan bertegur sapa sejak Chaiden putus dengan Vita.


"Iya adikmu yang memberitahuku," ucap Vita kembali menjelaskan.

__ADS_1


"Vita pulanglah! aku sudah tidak apa-apa," ucap Chaiden.


Mahira hanya diam. Dia coba menahan emosinya melihat Vita yang terus menggoda Chaiden.


"Aku ingin di sini denganmu Chaiden, biarkan aku merawatmu ya?" tanya Vita.


"Vita, aku sudah bersabar dari tadi, jadi sekarang keluarlah dari sini!" ucap Chaiden tegas.


"Chaiden kau jahat, padahal aku ke sini untuk merawatmu," ucap Vita.


"Vita kau sudah dengar Chaiden bicara apa jadi keluarlah!" tegas Mahira yang sudah sangat kesal dengan tingkah Vita. Dia tak ada habisnya untuk membuat Mahira cemburu.


"Mahira beraninya kau berkata seperti itu padaku, awas saja aku akan membalasnya!" ucap Vita lalu pergi dari ruangan itu.


Setelah Vita keluar, Chaiden turun dari ranjang menghampiri Mahira yang sedang berdiri di sudut ruangan.


"Mahira jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan Vita melukaimu," ucap Chaiden.


Mahira sudah terbiasa dengan ancaman dan ulah Vita. Mantan calon istri Chaiden itu tak habis-habisnya ingin memisahkannya dengan Chaiden. Bahkan dia melakukannya terang-terangan di depan Mahira.


***


Di tempat yang berbeda Vita menemui seseorang di suatu tempat yang sangat sepi. Vita merencanakan sesuatu untuk membuat Mahira menjauhi Chaiden.


"Aku ingin gadis itu jera, tapi jangan membuatnya mati," ucap Vita.


"Oke," ucap seseorang itu.


"Buat dia ketakutan hingga tak berani mendekati Chaiden lagi," ucap Vita.


"Gampang, sesuai keinginanmu. Akan ku buat dia tidak berani mendekati Chaiden lagi," ucap seseorang itu.

__ADS_1


"Ini uangnya, sisanya ku bayar setelah pekerjaan kalian selesai," ucap Vita sambil menyodorkan amplop.


"Beres," ucap seseorang itu.


Setelah selesai bicara, Vita mengakhiri pertemuannya dengan seseorang itu. Dia meninggalkan tempat itu dengan senyuman licik di bibirnya. Apapun akan dilakukan demi mendapatkan Chaiden kembali. Meskipun dengan cara kotor sekalipun.


***


Almira berjalan memasuki ruangan tempat Chaiden di rawat, dia melihat Chaiden sedang tidur sendirian. Almira mendekat ke arahnya. Dia berusaha menyentuh muka Chaiden dengan tangan kanannya tapi tidak jadi, dia menarik lagi tangannya.


"Chaiden tidurlah dengan tenang, kau harus cepat sembuh ya, aku selalu ada di sini tanpa kau tahu," ucap Almira dalam hatinya.


Chaiden mengigau menyebut nama Jodi.


"Jodi tunggu ... tunggu aku ... aku bisa jelaskan semuanya ...," ucap Chaiden saat mengigau.


Almira menangis saat Chaiden berkata seperti itu. Hatinya begitu sakit tidak bisa memberi tahu pada Chaiden bahwa dia adalah Jodi.


"Chaiden hik ... hik ..., aku Jodi ada disini selama ini hik ... hik ...," ucap Almira dalam hatinya.


"Jodi ...," ucap Chaiden terbangun langsung dari tidurnya.


Chaiden melihat Almira yang sedang berdiri di sampingnya. Dia melihat mata Almira yang sembab dan menangis.


"Almira kau kenapa?" tanya Chaiden.


"Tidak, aku hanya kelilipan debu. Apa kau mau makan atau minum Chaiden biar ku bantu?" tanya Almira.


"Iya aku mau minum," jawab Chaiden.


Almira membantu Chaiden minum air. Hatinya begitu sedih dekat dengan orang yang dicintainya tapi seperti jauh dan berada di dunia yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2