
Lara dan rekan-rekannya mulai mengajari para artis film itu disanggar tari miliknya. Carlos hanya diam dan terlihat kaku saat menari padahal dia nantinya tokoh utama difilm itu. Lara menghampirinya, dan memberi contoh tarian itu padanya. Dia kembali menari tapi masih belum bisa, Lara mendekat dan membetulkan gerakan tangannya. Carlos menampik tangan Lara karena tak ingin disentuh olehnya.
"Tolong profesional, aku disini hanya mengajarimu. Tidak ada maksud lain, jika kau terus begini sampai kapanpun kau tak akan bisa menari"ucap Lara.
"Heh"ucap Carlos mendengus.
"Menari bukan hal yang bisa kau pelajari dengan singkat, kalau kau tak serius mempelajarinya tarian itu akan terlihat kaku dan tidak enak dilihat orang. Bukannya kau pemeran utamanya yang jadi pusat tontonan orang, jadi belajarlah yang benar"ucap Lara.
Carlos hanya cemberut mendengar ucapan Lara.
Dia kembali menari, mukanya terus cemberut dan ditekuk. Tak ada sedikitpun senyuman dari awal sampai akhir tarian.
"Carlos saat menari kau harus menjiwai isi tarian itu. Membuat tarian itu seakan hidup. Kalau mukamu seperti itu tariannya terasa kosong dan hampa. Bagaimana penonton menikmatinya. Beri senyuman yang tulus dan tidak berlebihan. Cukup senyuman tipis tetap menjaga wibawa"ucap Lara.
Carlos tetap cemberut dia tak mau mengikuti nasihat yang diberikan Lara.
"Oh, kau tetap begitu maka film ini gagal. Dimana kualitas aktingmu. Bukannya kau aktor papan atas, semua orang percaya kemampuan aktingmu. Lalu hanya ini yang ingin kau tunjukan pada penonton"ucap Lara.
"Wanita ini bawel sekali, ingin rasanya ku plaster mulutnya"ucap Carlos dalam hatinya.
Dia mulai menunjukkan senyuman masamnya karena terpaksa.
"Kalau kau tersenyum begitu terlihat kau tidak menyukai tarian ini. Padahal dalam cerita dinaskah yang ku baca pemeran utama sangat suka menari. Bahkan dia tergila-gila dengan tarian daerah"ucap Lara.
Carlos menahan marahnya dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Kemudian dia senyum dengan manis.
"Senyum sudah tapi penjiwaannya belum sempurna. Masih terlihat kau terpaksa melakukannya"ucap Lara.
Carlos mulai tak bisa menahan lagi emosinya.
"Nona kau bawel"ucap Carlos lalu meninggalkan sanggar itu.
"Pergilah, biar film ini tak jadi tayang. Untuk apa mengajari orang yang keras kepala sepertimu"ucap Lara kesal.
Carlos tak mendengar ucapan Lara tetap berjalan keluar sanggar. Dia naik ke mobil miliknya dan pergi dari sanggar itu. Lara begitu kesal dengan sikap Carlos. Dia merasa Carlos tak profesional.
*************
Dianka sedang membereskan meja makan setelah Zion makan malam. Meski dirumah itu ada beberapa pelayan tapi Dianka sudah terbiasa melakukan apapun sendiri. Dia bahkan mencuci semua piring yang menumpuk. Zion datang menghampirinya.
"Sepertinya mulai besok aku tak perlu memiliki pelayan. Asistenku ini sudah bisa merangkap jadi pelayan dirumah ini. Lebih irit jadinya ha....ha....."ucap Zion.
"Kau sudah puas tertawa, senang sekali kalau aku susah"ucap Dianka.
"Cuci piringnya yang bersih jangan ngomel, tangan harus bisa bekerja lebih dari mulutmu yang bawel itu"ucap Zion.
"Hih"ucap Dianka.
"Hei setelah cuci piring buatkan aku kopi tapi ingat jangan dikasih garam"ucap Zion.
"Kau tak melihat cucian piringnya banyak, bisakah kau tak memerintahku dulu"ucap Dianka.
__ADS_1
"Kau kerja untuk kuperintah kau lupa, oya otakmu itu kecil jadi mudah lupa, wajar ha...ha...."ucap Zion.
"Kau itu tak habisnya ya meledekku, apa kau terlahir dengan mulut pedas seperti itu. Oo...aku tahu pasti ibumu dulu makan cabai setiap hari saat hamil jadi mulutmu itu pedas iyakan ha....ha..."ucap Dianka.
"Aku malas kalau kau mulai menyerangku, aku tunggu dimeja makan cepatlah selesaikan cucian piringnya, aku tak menggajimu untuk malas,oke"ucap Zion.
Zion meninggalkan dapur dan duduk diruang makan. Dianka cemberut sambil mencuci piring, dia kesal Zion itu menyebalkan mulutnya bisanya memerintah dan meledeknya.
Selesai mencuci piring, Dianka membuat kopi untuk Zion. Dia membawa kopi itu ke meja makan.
"Nih kopinya, jangan komplain"ucap Dianka.
"Mukamu itu memang dari lahir ditekuk gitu ya, pasti dulu ibumu lupa tertawa saat hamil ha....ha..."ucap Zion dengan santainya.
"Eh tunggu ini kopi tak beracunkan, soalnya dari tadi aku meledekmu, yah kali kau dendam padaku dan ingin balas dendam"ucap Zion.
"Iya kopi itu aku beri sianida kau puas"ucap Dianka.
"Wah, kau ingin membunuhku cepat ya"ucap Zion lalu mulai mengambil cangkir kopi itu dan menyeruputnya.
"Ehm....kopinya pas, rasanya seperti minum dicafe. Besok-besok buatkan aku kopi seperti ini. Ingat aku memujimu kali ini jadi lupakan kata-kataku yang tadi"ucap Zion.
Dianka yang berdiri didepan meja makan hanya diam dan cemberut tak peduli pujian dari Zion.
Zion meletakkan cangkir kopinya. Lalu mendekati Dianka dan membopongnya.
"Hei kau mau ngapain?"tanya Dianka.
"Lepaskan aku, ingat janjimu, aku tak perlu memenuhi kebutuhan ranjangmu"ucap Dianka.
"Gak peduli"ucap Zion.
Zion tetap membawa Dianka ke sebuah kolam renang dibelakang rumahnya.
"Zion kau mau apa?"tanya Dianka yang masih dibopong Zion.
"Tadi pagi kau mengerjaiku, jadi sekarang aku akan mengerjaimu balik"ucap Zion.
"Jangan, ini sudah malam Zion. Air kolam renang pasti dingin. Kau tak maukan aku sakit. Nanti siapa yang memasak untukmu"ucap Dianka.
Zion tak peduli dan melempar Dianka ke kolam renang.
Byuuuuur............
Dianka tercebur dikolam renang itu. Dia langsung berusaha berdiri.
"Zion kau ini ya dasar monster jahat"ucap Dianka.
"Apa kau bilang, aku monster jahat"ucap Zion ditepi kolam renang itu.
"Monster jahat, diktaktor, menyebalkan, bisanya cuma memerintah, apalagi ya. Oh....takut air iyakan. Gak gentle, kalau takut air, tangkap aku kalau berani ha....ha...."ucap Dianka lalu berenang menjauh.
"Kau ini lihat saja aku akan menangkapmu"ucap Zion.
__ADS_1
Zion menceburkan diri ke dalam kolam renang untuk menangkap Dianka.
Byuuuuur............
"Hei tunggu aku menangkapmu"ucap Zion.
"Kau monster bodoh, akhirnya kau kena perangkapku juga. Lihat dirimu basah juga ha...ha..."ucap Dianka.
"Aku benar-benar akan menangkapmu"ucap Zion.
Zion berenang mengejar Dianka yang berenang juga. Sampai pada akhirnya dia bisa menangkap Dianka dalam pelukannya. Mereka saling memandang dan merasa canggung.
"Hei wajahmu itu canggung padaku, jangan-jangan kau suka padaku. Secara pesonaku ini sulit ditolak para wanita"ucap Zion yang masih memeluk Dianka.
"Jaga ucapanmu ya Zion, siapa juga yang suka denganmu. Kau itu monster jahat dan menyebalkan"ucap Dianka.
"Terus ngapain masih dipelukanku, nyaman ya"ucap Zion.
"Ih siapa juga yang mau dipelukanmu"ucap Dianka melepas pelukannya.
Dianka langsung berenang ke tepi kemudian keluar dari kolam renang.
"Hei, ingat besok bangun pagi. Jangan terlambat karena ini, aku tak mau mendengar alasanmu" ucap Zion berteriak.
"Masa bodoh"ucap Dianka.
Dianka pergi meninggalkan kolam renang itu. Zion tersenyum merasa hatinya sangat bahagia saat itu. Dia merasa hidupnya mulai menarik dan tidak membosankan lagi.
*********
Lara sedang dikamar menonton film yang dimainkan Carlos sambil marah-marah. Dia kesal Carlos tak profesional. Padahal Lara bertanggungjawab membuat Carlos bisa menari untuk kebutuhan film itu. Lara terus saja berbicara sendiri dan mengutuk Carlos.
Gibran yang baru masuk kamar tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia menghampiri Lara dan duduk disampingnya.
"Sayang kau sedang kesal, siapa Carlos? dari tadi kau marah-marah memanggil namanya"ucap Gibran.
"Itu artis pemeran utama pria difilm Semua Orang Bisa Menari"ucap Lara.
"Oh, orang yang kau ajari menari ya sayang?" tanya Gibran.
"Iya, tapi dia itu menyebalkan sayang. Keras kepala dan juga tertutup. Gimana coba aku mengajarinya. Dia benar-benar membuatku sulit" ucap Lara.
"Kalau seperti itu memang akan sulit mengajarinya, tapi kau harus tetap semangat dan berusaha lagi sayang. Mungkin karena dia butuh adaptasi dulu. Tidak semua orang bisa beradaptasi dengan cepat. Aku percaya lama-lama pasti dia bisa akrab denganmu dan mau belajar menari dengan baik"ucap Gibran.
"Padahal waktunya terbatas, sebentar lagi syuting filmnya"ucap Lara.
"Coba kau melakukan pendekatan sebagai seorang teman. Orang seperti itu biasanya kesepian dan memendam masalahnya sendiri" ucap Gibran.
"Kau benar, makasih ya sayang. Kau selalu punya solusi"ucap Lara.
"Kalau begitu ayo kita mandi bareng sayang sambil"ucap Gibran.
Lara mengangguk, Gibran langsung membopongnya ke toilet. Mereka melakukan hal romantis sebelum mandi. Setelah dirasa lelah baru mereka mandi bersama.
__ADS_1