
Lara sedang memasak didapur untuk sarapan. Dia memasak sendiri semua makanan untuk keluarga kecilnya. Meskipun dirumah itu banyak pelayan tapi Lara ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Makanan buatannya sebagai bentuk kasih sayangnya karena dimasak dengan penuh cinta. Dari belakang Gibran tiba-tiba mencium pipinya.
Cup
"Selamat pagi sayang"ucap Gibran.
"Pagi sayang, sepagi ini kenapa kau sudah bangun padahal aku belum juga membangunkanmu"ucap Lara.
"Hari ini aku ingin membantumu memasak"ucap Gibran.
"Kalau begitu bisakah sayang mencuci sayuran yang masih ada diplastik itu"ucap Lara sambil menunjuk ke arah sayuran itu.
"Tentu bisa, biarkan aku yang melakukannya"ucap Gibran.
Gibran mencuci sayuran itu sambil sesekali memercikkan air pada Lara untuk menggodanya.
"Sayang kau ini ya malah menggodaku"ucap Lara.
"Habis sayang terlihat cantik saat serius seperti itu, aku jadi ingin menggodamu"ucap Gibran.
"Mana sayurannya, sudahkah sayang mencucinya?"tanya Lara.
"Sudah sayang, nih bersihkan"ucap Gibran.
"Wah bersih juga, sini ku beri hadiah untukmu" ucap Lara.
Gibran mendekat saat tahu mau mendapatkan hadiah dari Lara.
Cup
Lara mencium pipi Gibran, mereka tersenyum saling memandang, rasanya begitu bahagia karena cinta diantara mereka semakin kuat.
**********
Dianka sedang memasak didapur untuk sarapan Zion. Pagi buta dia sudah didapur berkelut dengan panci dan kompor. Tangannya lihai memotong berbagai sayuran dan daging. Dianka berusaha secepat mungkin menyelesaikannya agar bisa memandikan Dafa sebelum dia berangkat bekerja bersama Zion. Saat Dianka sibuk dengan tangannya. Zion berada dibelakangnya memperhatikan Dianka memasak.
"Ternyata tanganmu tak hanya pandai mematahkan tulang tapi pandai juga memotong sayuran dan daging"ucap Zion.
Mendengar suara Zion Dianka berbalik dan melihat ke arahnya.
"Dari tadi kau disitu?"tanya Dianka.
"Baru saja, aku hanya mengecek apa kau sudah menjalankan tugasmu. Aku lapar segera hidangkan masakan itu"ucap Zion.
"Aku bukan pesulap, kau lihat masakannya masih ku masak"ucap Dianka.
"Aku tidak mau tahu, aku ingin masakan itu segera tersaji dimeja makan"ucap Zion.
"Kau benar-benar diktaktor"ucap Dianka.
Zion hanya tersenyum licik dan menuju ke meja makan. Dia duduk dikursi menanti Dianka menyajikan makanan untuknya. Tak lama Dianka menaruh makanan itu dimeja makan. Wajahnya cemberut karena kesal dengan Zion.
"Hei wajahmu itu bisa manis sedikit, aku disini membayarmu gajimu tiap bulan nanti. Kau tahu ketika datang ke restoran pelayan menyajikan makanan dengan senyuman manis"ucap Zion.
Dianka langsung tersenyum terpaksa mendengar kata gaji.
"Apa kau sudah puas senyumanku sudah manis seperti gulakan. Bisakah kau cepat makan, aku harus memandikan Dafa setelahnya"ucap Dianka.
__ADS_1
"Aku tak terbiasa makan buru-buru, lagi pula aku Bos disini jadi suka-suka aku"ucap Zion.
"Hih"ucap Dianka kesal.
Dianka terus menunggu Zion makan dengan santai. Dia gregetan karena belum membangunkan Dafa dan memandikannya.
"Hei, ambilkan aku ayam ayam panggangnya, itu terlihat enak"ucap Zion.
Dianka mengambilkan Zion ayam panggang itu.
"Kau cemberut terus, apa tidak lapar?"tanya Zion.
"Aku sudah kenyang melihatmu makan dengan santainya"ucap Dianka.
"Bagus kalau begitu, aku jadi lebih hemat karena tak perlu memberimu sarapan pagi cukup memintamu melihatku makan dengan santai"ucap Zion.
Dianka menahan kesalnya, laki-laki ini ternyata menyebalkan. Setelah beberapa saat Zion selesai sarapan.
"Kau sudah selesai sarapan, aku akan pergi ke kamar Dafa, sudah bolehkan?"tanya Dianka.
"Jangan lupa ke kamarku setelahnya. Kau harus mengurus keperluanku juga"ucap Zion.
"Ya aku tahu"ucap Dianka.
Dianka pergi meninggalkan ruang makan itu naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Dia membangunkan Dafa dan mengajaknya mandi.
Setelah itu dia pergi ke kamar Zion. Dianka mengetuk pintu kamar itu.
Tuk.....tuk.....tuk.........
"Masuk"ucap Zion.
"Hei,kenapa menutup matamu, harusnya kau suka melihat dada bidangku, semua perempuan tak tahan melihatnya"ucap Zion.
"Aku jijik melihatnya, cepetan tutup"ucap Dianka.
"Benarkah?"ucap Zion mendekati Dianka.
"Kau mau apa? ingat aku tak perlu memenuhi kebutuhan ranjangmu jangan lupa itu"ucap Dianka.
"Aku hanya mengambil kotoran yang tersangkut dirambutmu" ucap Zion.
Setelah mengambil kotoran itu Zion mengenakan bathrobe miliknya.
"Buka matamu, aku sudah mengenakan bathrobe" ucap Zion.
Dianka membuka matanya dan melihat Zion mengenakan bathrobe.
"Ambilkan aku baju kerjaku"ucap Zion.
"Oke, kau ingin memakai kemeja yang mana?"tanya Dianka sambil memilih-milih kemeja Zion dilemari itu.
"Kemeja yang kau pilih saja"ucap Zion.
Terlintas dipikiran Dianka untuk mengerjai Zion.
Dia mengambilkan Zion kemeja berwarna pink.
__ADS_1
"Ini bagus terlihat sweet, bagaimana?"tanya Dianka.
"Bagus juga, sekalian setelan jasnya dan dasinya ada dilemari sampingnya"ucap Zion.
"Siap"ucap Dianka.
"Hei kau belum mandi, kau bau dapur. Sebelum menghadapku seperti ini kau harus wangi dan rapi ingat itu"ucap Zion.
"Makannya lelet, nambah terus gimana aku mau wangi dan rapi"bisik Dianka.
"Apa kau bilang?"tanya Zion.
"Bukan, besok aku akan tampil wangi dan rapi. Kalau perlu pewangi satu botol aku pakai semua biar satu ruanganmu wangi semua, puas"ucap Dianka.
"Cepetlah bekerja, tanganmu itu ku gaji setiap menitnya" ucap Zion.
"Hih"ucap Dianka kesal mendengar ucapan Zion yang memerintahnya.
***********
Lara berangkat bekerja di sanggar tari Kembang Mekar miliknya. Dia kembali melanjutkan hobinya menari dengan mendirikan sanggar tari. Lara beserta beberapa rekannya yang bergabung bersamanya bekerja di sanggar tari. Pekerjaannya ini santai tidak mengharuskan bekerja seharian. Karena Lara disini hanya sebagai pemilik dan sesekali membantu rekannya mengajar tari. Hari itu ada seorang utusan dari rumah produksi film datang ke sanggar tari miliknya.
"Selamat pagi"ucap Benso.
"Selamat pagi"ucap Lara.
"Apa benar anda pemilik sanggar tari ini?"tanya Benso.
"Benar"ucap Lara.
"Perkenalkan saya Benso"ucap Benso.
"Lara"ucap Lara.
"Ada keperluan apa Anda kemari ?"tanya Lara.
"Saya dari rumah produksi Beautiful Garden datang kemari untuk mengajak kerja sama Anda terlibat difilm kami terbaru, film itu kebetulan mengangkat cerita tentang tarian daerah. Bos meminta tolong Anda dan tim untuk mengajari artis kami untuk menari daerah. Jika Anda bersedia tolong datang ke rumah produksi Beautiful Garden besok"ucap Benso.
"Baik, saya akan pikirkan dulu"ucap Lara.
"Terimakasih, maaf sudah mengganggu waktunya"ucap Benso.
"Sama-sama, tidak masalah"ucap Lara.
Benso pergi dari sanggar tari itu. Lara duduk dikursi dan memikirkan tawaran itu. Rekannya Sari datang menghampirinya.
"Lara, dia itu bukannya Sekretaris dari Bos Evander seorang pemilik rumah produksi Beautiful Garden. Rumah produksi terbesar dinegara kita. Jangan-jangan dia datang kesini menawarimu sebuah kerjasama?"tanya Sari.
"Kau benar, dia datang kesini memang menawariku sebuah kerjasama. Ada film baru yang sedang digarap rumah produksi tersebut. Film itu mengangkat cerita tentang tarian daerah. Bosnya meminta kita untuk mengajari artisnya menari untuk film tersebut"ucap Lara.
"Wah bagus dong, lalu kenapa kau terlihat murung Lara, bukankah ini impianmu dari dulu saat kita masih jadi penari latar. Kau ingin jadi penari yang terkenal sehingga namamu dikenal banyak orang"ucap Sari.
"Ya itu mimpiku dulu saat masih muda, tapi kini aku sudah memiliki keluarga. Aku sangat menyayangi suami dan putri kecilku. Jika aku mengambil tawaran ini, tentu waktuku akan banyak diluar. Aku akan sering pergi meninggalkan mereka. Waktuku akan berkurang bersama mereka"ucap Lara.
"Keluarga memang yang paling utama, walaupun kita punya mimpi tapi keluarga adalah kebahagiaan yang sejati dihidup kita, sebaiknya kau pikirkan dulu. Coba kau bicarakan dengan Gibran, siapa tahu ada solusinya"ucap Sari.
"Terimakasih Sari atas nasihatmu"ucap Lara.
__ADS_1
"Sama-sama"ucap Sari.
Lara berpikir Sari benar, mungkin dia harus menceritakan hal ini pada Gibran. Dia tidak ingin kebersamaannya bersama keluarga kecilnya nanti jadi terganggu karena mengambil tawaran ini