
Gibran berenang mencari Lara yang hanyut disungai itu. Dia berusaha berenang ke arah Lara yang mulai kesulitan berenang karena arusnya semakin deras. Gibran meraih tubuh Lara dan memeluknya dengan satu tangan. Sementara tangan satunya berusaha berenang ke tepi. Mereka sampai ditepi sungai, Gibran membopong Lara ke bawah pohon ditepi sungai itu. Dia mencoba mengeluarkan air yang mungkin tertelan Lara dengan menekan-nekan perut Lara hingga air itu keluar dari mulutnya. Gibran juga memberi nafas buatan pada Lara tapi Lara belum sadar juga. Lara terlihat lemas dan kedinginan. Gibran memeluk Lara supaya tubuhnya cepat hangat.
"Lara bangunlah, kita sudah selamat"ucap Gibran.
Karena Lara masih belum sadar Gibran menggendong Lara dipunggungnya. Dia berusaha mencari rumah penduduk yang terdekat tapi belum juga menemukannya. Gibran hanya melihat perbukitan dan hutan belantara. Gibran terus berjalan menggendong Lara hingga sampai disebuah gua. Gibran membaringkan Lara disebuah batu. Sementara Gibran mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Setelah kayu terkumpul, dia membawa kayu itu ke dalam gua.
Lalu menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri. Dia membopong Lara mendekati api unggun. Kemudian duduk dan memangku Lara dipelukannya. Gibran bersandar didinding Gua sambil tidur karena kelelahan.
Keesokannya Lara bangun dan melihat Gibran sedang duduk memeluknya. Lara memperhatikan wajah Gibran yang terlihat tenang saat tidur.
"Melihatnya tidur sangat tenang dan damai" ucap Lara.
Tak lama Gibran bangun melihat Lara sedang melihatnya.Mereka saling bertatap muka, Lara segera memalingkan wajahnya karena merasa malu telah memperhatikan Gibran dari tadi.
"Nona Lara kau sudah bangun?"tanya Gibran.
"Aku baru saja bangun Gibran"ucap Lara langsung berdiri dan agak menjauh dari Gibran.
"Aku akan mencarikan mu makanan ya"ucap Gibran.
"Aku jadi merepotkanmu Gibran, padahal ini masalahku"ucap Lara.
"Nona Lara kau tak merepotkanku, aku hanya berusaha melindungimu sebagai polisi yang memang itu tugasku"ucap Gibran.
"Aku membuatmu berada dalam bahaya Gibran"
ucap Lara.
"Mereka itu sepertinya bukan orang biasa, seperti anggota gengster kalau dilihat dari penampilan dan logo dibajunya. Ada logo kalajengking, mungkinkah mereka Gengster Kalajengking?" ucap Gibran.
"Gengster Kalajengking"ucap Lara.
"Iya, aku pernah dengar dari ayahku tentang gengster itu"ucap Gibran.
"Mereka bilang akan membunuhku karena aku istri Alex"ucap Lara.
"Berarti suamimu punya masalah dengan gengster itu"ucap Gibran.
"Aku tidak peduli masalah itu"ucap Lara
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan mencari makanan dulu , Nona Lara diam disini jangan kemana-mana"ucap Gibran.
"Baik, terimakasih Gibran"ucap Lara.
"Sama-sama Nona Lara"ucap Gibran.
Gibran keluar dari gua itu mencari umbi-umbian dan buah-buahan setelah itu dia kembali.
"Nona Lara makanlah buah apel dan jambunya dulu, sementara menunggu saya membakar umbinya"ucap Gibran.
"Baik Gibran"ucap Lara.
Gibran terlihat serius saat membakar umbi, Lara jadi berpikir bahwa Gibran lelaki yang baik dan pekerja keras.
Setelah umbinya matang, Gibran memberikan umbi itu pada Lara.
"Nona Lara makanlah umbi bakar ini"ucap Gibran
"Terimakasih Gibran, dari tadi kau mengurusiku terus,kapan kau urusi dirimu sendiri ?"ucap Lara.
"Gampang, yang penting kau kenyang, nanti aku pasti makan"ucap Gibran.
"Aku belum punya istri, jangankan istri pacar saja aku juga belum punya"ucap Gibran.
"Tidak mungkin laki-laki seperti Anda belum punya pacar, pasti setiap wanita juga ingin jadi pacar Anda"ucap Lara.
"Aku memang belum punya pacar, mungkin terdengar lucu tapi itu kenyataannya"ucap Gibran.
Lara merasa apa yang dikatakan Gibran itu benar adanya.Gibran memang belum memiliki pacar ataupun pasangan.
"Kalau sudah selesai, ayo kita kembali pulang, aku akan mengantarmu sampai rumahmu"ucap Gibran.
"Baik, aku sudah selesai"ucap Lara.
Mereka akhirnya berjalan keluar dari gua itu. Lara berjalan dibelakang Gibran, tak sengaja mereka bertemu dengan dua ekor singa betina. Lara ketakutan dan mendekati Gibran.
"Gibran, ada singa"ucap Lara.
"Tenang Lara, kau bersembunyi biar aku yang hadapi singa-singa lapar ini"ucap Gibran.
__ADS_1
"Tapi gimana kalau terjadi sesuatu padamu?" tanya Lara.
"Tidak akan terjadi sesuatu padaku, yang penting kau selamat, bersembunyilah"ucap Gibran.
Dengan berat hati Lara meninggalkan Gibran bersembunyi disemak-semak.Gibran mengambil batang pohon yang terjatuh ditanah sebagai senjata. Kedua singa betina yang lapar itu mulai menyerang. Gibran berkali-kali menghindar dan tangannya terkena cakaran singa yang melompat ke arahnya. Dengan batang pohon itu akhirnya Gibran bisa menghalau singa itu sampai mereka terjatuh dan pergi meninggalkan Gibran. Lara keluar dari persembunyiannya menghampiri Gibran.
"Gibran tanganmu"ucap Lara.
"Tidak papa nanti juga sembuh"ucap Gibran.
Lara merobek blizer yang dipakainya untuk menutupi luka Gibran yang berdarah. Dia memerban luka itu dengan kain sobekan dari blizer miliknya.
"Gibran apa sakit?"tanya Lara.
"Tidak, yang penting aku bisa menyelamatkanmu Lara"ucap Gibran.
"Setelah Ardi pergi, hanya kau orang yang mau peduli dengan orang asing sepertiku"ucap Lara.
"Ardi?"ucap Gibran heran.
"Dia mantan pacarku tapi sekarang dia sudah meninggal"ucap Lara.
"Lalu suamimu, bukannya dia orang yang kaya raya, aku yakin dia pasti bisa membuatmu bahagia"ucap Gibran.
"Hidupku tak sesederhana itu, banyak hal yang sudah terjadi, aku ini hanya wanita yang sudah tak punya harga diri lagi, aku hanya hidup untuk membalas dendam saja"ucap Lara.
"Balas dendam?.....apapun itu, balas dendam tak akan pernah memberikan kepuasan ataupun kebahagiaan. Lebih baik ikhlaskan dan mulailah kehidupan yang baru yang lebih baik"ucap Gibran.
"Masalahku rumit, kau pasti jijik padaku jika kau tahu aku seperti apa"ucap Lara.
"Nona Lara setiap orang pasti punya masalahnya sendiri-sendiri. Tergantung gimana kita menyelesaikannya. Aku juga takkan pernah jijik padamu apapun itu"ucap Gibran.
"Kau tak tahu apa saja yang telah terjadi padaku, aku hanya wanita hina sekarang hik....hik...."ucap Lara sambil menangis.
Gibran langsung memeluk Lara dalam dekapannya.
"Maafkan kata-kataku tadi, kau pasti sangat terluka ya. Menangislah jika itu bisa mengurangi beban dihatimu"ucap Gibran.
Lara menangis dipelukan Gibran, dia merasa bisa menangis sepuasnya mengeluarkan semua rasa sakitnya selama ini. Entah kenapa sosok Gibran mengingatkannya pada Ardi. Dia merasa nyaman saat bersama Gibran. Dia merasa bisa meluapkan rasa sedihnya dihadapan Gibran. Laki-laki yang bahkan tak mengenalnya sebelumnya ini terasa sangat hangat.
__ADS_1