
Mahira masih terdiam di kamarnya, sudah satu minggu setelah Papanya koma. Almira juga sama dia hanya mengurung diri di kamar. Mereka merasakan kesedihan atas kejadian yang menimpa Alex. Mahira bahkan belum juga berbicara pada siapapun. Dia selalu bermimpi buruk akan kejadian yang menimpa dia dan Papanya. Mahira selalu menyalahkan dirinya atas komanya Alex. Handphone Mahira berdering sebuah pesan singkat masuk.
Pesan dari Mr.X
Bagaimana sudah menerima hadiahku
Ternyata kau selalu selamat dari bahaya
Permainan ke depan harus lebih seru
Tunggu saja
Itu isi pesan dari Mr.X, Mahira ketakutan membaca pesan itu. Dia yakin kejadian yang menimpanya dan Alex ada hubungannya dengan Mr.X itu. Mahira berusaha mengirim pesan pada Mr.X tapi tidak bisa terkirim karena no telponnya tidak ada. Dia tidak tahu apa yang diinginkan Mr.X darinya. Kenapa dia selalu menginginkan Mahira mati. Apa salah Mahia, dia terus bertanya dan bertanya. Seingat Mahira dia tidak memiliki musuh.
Tak lama Almira masuk ke ke kamar kakaknya untuk melihat kondisinya. Almira melihat Mahira yang menangis di kamarnya. Matanya Mahira terlihat bengkak dan mukanya pucat.
"Kak Mahira," ucap Almira.
"Jangan mendekati aku, nanti kau juga akan dalam bahaya," ucap Mahira.
"Apa terjadi kak?" tanya Almira. Dia sangat mencemaskan kakaknya. Tak biasanya Mahira bersikap seperti itu, seolah Mahira terkena depresi.
"Jangan mendekat!" perintah Mahira.
"Kak ini Almira adik kecil kakak," ucap Almira.
"Keluar dari kamarku!" perintah Mahira dengan suara keras. Matanya melotot dan tatapannya dingin.
"Kak!" ucap Almira.
Mendengar suara Mahira yang keras, Lara masuk ke kamar Mahira. Dia melihat Mahira mengusir Almira dari kamarnya. Lara segera mengajak Almira keluar dari kamar Mahira agar kondisi Mahira tidak semakin memburuk.
"Almira, ayo kita keluar dulu," ucap Lara menarik lengan putri angkatnya.
"Tapi Ma?" ucap Almira.
__ADS_1
"Mahira mungkin masih butuh waktu sendiri," ucap Lara.
"Keluar! jangan dekati aku," ucap Mahira.
"Baik," ucap Almira. Dia terpaksa mengikuti Lara.
Lara dan Almira keluar dari kamar itu. Almira tahu kakaknya sangat sedih atas apa yang terjadi pada Papany, tapi kondisi Mahira seperti orang yang mengalami depresi. Dia menangis dan marah-marah sendiri.
"Ma, apa yang terjadi pada Kak Mahira?" tanya Almira.
"Sudah satu minggu dia tidak bicara apapun bahkan ditanya pun tak mau menjawab," jawab Lara. Dia terlihat sedih dengan kondisi Mahira. Selain terpukul karena suaminya koma, dia juga sedih karena Mahira yang masih mengurung diri.
"Kak Mahira mungkin trauma karena melihat kejadian yang menimpa Papa di depan matanya sendiri," ucap Almira.
"Mama juga berpikir seperti itu," ucap Lara.
Mereka menebak hal yang sama. Depresi yang dialami Mahira sejak kejadian yang menimpaanya dan Alex.
"Aku ingin mengajaknya bicara supaya kesedihannya berkurang tapi kakak tidak mau ku dekati," ucap Almira.
"Iya Mama tahu, kemarin Chaiden ke rumah juga dia begitu," ucap Lara.
*********
Pagi itu Almira mau mengajak Mahira berjalan-jalan agar kakaknya senang. Almira masuk ke kamar kakaknya. Mahira terlihat diam dan melamun, Almira meraih tangannya dan mengajaknya bicara.
"Kak kita jalan-jalan santai di alun-alun ya," ucap Almira.
Mahira hanya diam dan mengangguk. Dia tidak bicara atau mengeluarkan ekspresi apapun.
Almira mengajak Mahira ke alun-alun kota untuk jalan-jalan santai. Banyak muda-mudi dan anak-anak yang berjalan -jalan di alun-alun itu. Mahira hanya diam dan mengikuti Almira berjalan.
"Kak udaranya sejuk ya," ucap Almira.
Mahira hanya diam. Tatapannya kosong.
__ADS_1
"Kakak haus gak? aku beli minum dulu ya, kakak duduk di sini saja," ucap Almira.
Mahira mengangguk. Almira meninggalkan Mahira untuk membeli air mineral. Mahira berdiri dari duduknya dan berjalan di sekitar orang yang lulu lalang. Tiba-tiba dia berpapasan dengan seseorang berbaju hitam, memakai topi hitam dan masker hitam. Orang itu membuka jaketnya, di kaos yang dipakainya ada tulisan untuk Mahira *Bersiaplah Kehilangan Segalanya*. Setelah Mahira membaca tulisan di bajunya, orang itu langsung pergi. Dan Mahira langsung ketakutan dan menangis. Dia sampai jongkok dan menutupi telinganya dengan kedua tangannya. Almira baru saja selesai membeli air mineral dan mencari kakaknya yang tidak ada dikursi itu. Dia berjalan ke sana ke mari mencari kakaknya. Dia melihat orang-orang berkerumun.
"Pak ada apa kok pada berkerumun?"
tanya Almira.
"Gadis itu aneh, apa dia gila ya," ucap orang itu.
"Gila?" ucap Almira.
Almira masuk ke kerumunan orang-orang itu. Dia melihat kakaknya sedang menangis menutup telinga dengan tangannya sambil jongkok di bawah.
"Kak Mahira!" pekik Almira.
Almira langsung memeluk kakaknya dan membawanya keluar dari kerumunan orang-orang itu. Dia mengajaknya pulang ke rumah. Sampai di rumah, Almira mengantarkan kakaknya ke kamar. Almira berusaha mengajak kakaknya bicara.
"Tadi kakak kenapa?" tanya Almira.
"Almira kejadian kemarin yang menimpa Papa itu semua salahku, harusnya aku yang koma, orang itu menginginkan aku mati," ucap Mahira ketakutan.
"Kak apa yang terjadi pada Papa itu takdir, kita harus ikhlas dan berdoa agar Papa sembuh dan sadar lagi," ucap Almira.
"Bukan, orang itu bilang itu hadiah untukku, dia juga menerorku. Bahkan tadi kakak bertemu orang itu di alun-alun, dia memakai baju yang tulisan di bajunya mengatakan kakak akan kehilangan segalanya," ucap Mahira.
"Kakak ini pasti karena rasa bersalah kakak. Kakak jangan banyak pikiran nanti berhalusinasi kemana-mana," ucap Almira.
"Ini bukan halusinasi," ucap Mahira. Dia coba menjelaskan pada Almira.
"Apa yang terjadi pada Papa sudah diselidiki, kata polisi murni kelalaian," ucap Almira.
"Tidak, ini pasti perbuatan orang itu," ucap Mahira.
"Kakak tidur saja, jangan banyak pikiran," ucap Almira.
__ADS_1
Mahira terdiam. Adiknya tidak percaya apa yang sudah dijelaskan olehnya.
Mahira bingung harus cerita pada siapa tentang hal ini, Almira saja tidak percaya. Mahira yakin apa yang terjadi pada Papanya pasti disebabkan Mr.X itu.