
Tujuh Tahun Kemudian
Dafa memberikan selebaran pada setiap lelaki dewasa. Selebaran itu berisi pengumuman untuk mencari calon suami untuk Ibunya. Dafa juga menempel selebaran itu dipohon, tiang listrik dan dipagar-pagar.
"Semoga aku secepatnya dapat calon suami untuk Bunda, kasihan Bunda kerja terus gak ada yang menyayangi dan menjaganya. Dafa harus mendapat lelaki yang cocok untuk Bunda"ucap Dafa yang masih polos.
Dafa berjalan dijalan raya sambil menyebar selebaran dan menempelnya diberbagai tempat dan bangunan. Sampai disebuah perusahaan besar. Dafa masuk ke area perusahaan itu. Dia masuk ke dalam perusahaan itu dan menemui resepsionis.
"Kakak cantik, aku mau bertemu Presdir perusahaan ini"ucap Dafa.
"Maaf adik kecil tidak sembarangan orang boleh bertemu dengan Presdir. Kamu kok ada disini?"tanya Mita.
"Aku mau bertemu Predir diperusahaan besar ini, aku akan menunggunya"ucap Dafa.
Dafa langsung duduk dikursi tunggu. Mita hanya tersenyum melihat tingkah polos Dafa. Sampai sore Dafa menunggu, sampai dia melihat seorang berpenampilan rapi dengan seorang disampingnya dan pengawal yang mengikutinya.
"Apa itu Presdir perusahaan ini, aku harus menemuinya"ucap Dafa.
Dafa mengikuti orang itu sampai ke parkiran. Dia langsung menghalangi orang itu masuk ke mobilnya.
"Hei anak kecil, minggir"ucap Sekretaris Yuma.
"Aku mau memberi ini"ucap Dafa memberi selebaran itu pada orang berpenampilan rapi itu.
Sekretaris Yuma mengambil selebaran yang diberikan Dafa.
"Urus dia Yuma"ucap Zion.
Zion diantar pengawalnya masuk ke mobilnya. Sementara Sekretaris Yuma berbicara dengan Dafa.
"Aku ingin memberi selebaran itu pada orang tadi"ucap Dafa.
"Anak kecil, Bos bukan orang sembarangan yang bisa kau beri selebaran seperti ini. Kau cari orang lain saja ya. Om kasih uang buat jajan nih"ucap Sekretaris Yuma memberi uang kertas pada Dafa.
"Aku tidak mau uang, aku mau memberi selebaran ini untuk orang tadi Om, dia cocok jadi suami untuk bundaku"ucap Dafa.
"Oke, rumahmu dimana? Om antar pulang ya"ucap Sekretaris Yuma.
"Aku tidak mau pulang, aku mau selebaran ini untuk orang tadi Om"ucap Dafa.
"Baiklah, Om akan berikan selebaran ini nanti, sekarang kau harus pulang, Bundamu pasti mencarimu"ucap Sekretaris Yuma.
"Terimakasih Om, jangan lupa selebaran itu harus dibaca orang yang tadi. Besok aku akan kesini lagi untuk bertemu dengannya"ucap Dafa lalu pergi dari tempat itu.
"Akhirnya anak kecil itu pergi juga, Zion pasti marah sekali kalau dia masih mengikutinya"ucap Sekretaris Yuma.
Sekretaris Yuma masuk ke mobil bersama Zion yang sudah duduk didalam mobil itu. Dia duduk disamping Zion, dikursi belakang. Mobil itu melaju menuju ke sebuah rumah yang besar dan megah. Zion dan Sekretaris Yuma masuk ke rumah itu. Zion langsung masuk ke ruang keluarga dan duduk disofa sambil menikmati segelas anggur.
__ADS_1
"Zion, anak tadi memberi ini untukmu"ucap Sekretaris Yuma menyodorkan selebaran itu pada Zion.
"Buang saja ke tempat sampah"ucap Zion tidak mau menerima selebaran itu.
"Kalau dilihat Ibu anak ini cantik juga, kau tak mau membaca selebarannya?"tanya Sekretaris Yuma.
"Aku bisa membeli wanita cantik untukku, kenapa harus repot berurusan dengan janda anak satu, bukan tipeku"ucap Zion.
"Kalau dilihat-lihat anak kecil itu mirip denganmu waktu kecil Zion. Jangan-jangan dia anakmu dengan wanita yang kau sewa"ucap Sekretaris Yuma.
"Aku tak pernah menaruh benih pada wanita yang ku sewa. Mana mungkin aku punya anak"ucap Zion.
"Ya aku hanya kasihan saja melihat anak itu berharap kau mau membaca selebaran ini, besok dia akan menemuimu kembali Zion"ucap Sekretaris Yuma.
Zion hanya diam tak menggubris ucapan Yuma. Selebaran itu diletakkan diatas meja oleh Yuma.
Zion tak mau melihat selebaran itu, bahkan untuk sekedar meliriknya saja dia malas.
**********
Dianka pulang ke rumahnya setelah seharian mencari kerja. Dia masuk ke rumah lalu mencari Dafa. Dia tak menemukan Dafa dirumah itu, Dianka cemas takut Dafa pergi kemana-mana.
"Kemana Dafa? apa dia main keluar? anak itu pasti menyebar selebaran lagi"ucap Dianka.
Tak lama Dafa masuk ke rumah, dia melihat Bundanya sudah menunggunya diruang tamu dengan tatapan marah padanya.
Seketika kemarahan Dianka mereda, dan justru sedih mendengar ucapan Dafa. Dianka langsung memeluk Dafa.
"Sayang, jangan menyebar selebaran lagi ya. Bunda tidak butuh suami sayang. Bunda bisa merawat dan menjaga Dafa. Besok Bunda gak akan nyanyi lagi di cafe. Bunda sedang mencari kerja yang lebih baik biar Dafa gak cemas mikirin Bunda lagi"ucap Dianka sambil menangis.
"Kerja kantoran ya Bunda?"tanya Dafa.
Dianka mengangguk dengan ucapan Dafa.
"Jangan nyanyi di cafe lagi Bunda, nanti Bunda dimarahi tetangga terus, Dafa sedih melihat mereka menghina Bunda"ucap Dafa.
"Bunda gak akan nyanyi di cafe lagi sayang, Bunda lagi nyari kerja kantoran jadi Dafa gak usah nyebar selebaran lagi ya sayang"ucap Dianka.
"Tapi aku ada janji besok Bunda, aku mau ketemu dengan calon suami untuk Bunda"ucap Dafa.
Dianka menangis tersedu-sedu dengan ucapan Dafa. Dia merasa belum bisa membahagiakan Dafa. Tidak adanya Alex disisinya membuat Dafa kehilangan sosok ayah. Dianka sadar meskipun dia berusaha memenuhi kebutuhan Dafa tapi kasih sayang seorang ayah dibutuhkan untuk Dafa.
Setelah Dafa tidur diranjang kamarnya. Dianka keluar dari kamar Dafa. Dia menangis didepan pintu kamar Dafa sambil duduk.
"Dafa maafkan Bunda sayang hik...hik...."ucap Dianka sambil menangis.
"Apa aku harus menikah, biar Dafa tidak seperti ini lagi. Haruskah aku menikah dengan Tomi. Selama ini dia baik padaku dan Dafa. Dialah yang membantu kesulitan kami selama ini"ucap Dianka.
__ADS_1
Tomi adalah seorang teman yang dikenal Dianka saat dia hendak melahirkan. Saat itu Dianka hendak melahirkan ditepi jalan. Tomi menolongnya dan mengantar Dianka ke rumah sakit. Sejak saat itu Tomi berteman dengan Dianka. Dia juga selalu membantu Dianka dan Dafa saat kesulitan. Beberapa kali Tomi mengajak Dianka menikah tapi Dianka belum mau membuka hatinya. Tomi terus menunggu hingga Dafa berusia enam tahun.
*********
Lara sedang menemani putrinya tidur diranjang kamarnya. Gibran yang baru pulang bekerja langsung mencium Lara dan Putri kecilnya itu. Dia bahagia memiliki Lara dan Putri kecil mereka.
"Sayang sudah pulang?"tanya Lara yang terbangun dari tidurnya.
"Maaf ya sayang, ada kasus yang harus ku tangani jadi pulangnya kemalaman"ucap Gibran.
"Tidak apa-apa, yang penting kau pulang dengan selamat sayang"ucap Lara.
Gibran langsung membopong Lara kembali ke kamar mereka. Lara tersenyum melihat Gibran yang selalu romantis padanya. Sampai dikamar mereka, Gibran membaringkan Lara diranjang. Dia mencium Lara dan mulai melakukan hal romantis bersamanya. Lara begitu menikmati kebersamaan mereka. Selama menikah, Gibran begitu lembut dan penuh kasih sayang padanya. Lara begitu mencintai Gibran, selain suami yang baik, Gibran adalah sosok ayah yang penyayang.
Lara beruntung bisa bertemu dan bersama Gibran. Selesai melakukan hal romantis itu, mereka berbincang.
"Sayang, sebentar lagi Mahira mau masuk TK, apa kau bisa cuti, kita akan mengantar Mahira nanti dihari pertama sekolah?"tanya Lara.
"Tentu sayang, nanti aku ambil cuti khusus untuk hari pertama Mahira sekolah, kita akan mengantarnya sekolah dihari pertamanya masuk TK"ucap Gibran.
"Makasih sayang"ucap Lara.
Gibran memeluk dan mencium kening Lara. Dia begitu menyayangi Lara dan Mahira. Waktu bersama dengan mereka begitu berharga untuk Gibran. Meskipun pekerjaannya sibuk, tapi dia selalu berusaha menyempatkan hadir disetiap hari penting keluarga kecilnya.
Pagi harinya, Gibran sarapan bersama Lara, Mahira dan Ibunya diruang makan.
"Papa, Mahira mau boneka baru tapi belinya sama Papa ditoko mainan"ucap Mahira.
"Oke, nanti sore kita beli boneka baru ditoko mainan"ucap Gibran.
"Makasih Papa"ucap Mahira.
"Iya putri kecil kesayangan Papa"ucap Gibran memuji putri kecilnya.
"Sayang mau tambah nasinya?"tanya Lara.
"Boleh, masakanmu memang enak, jadi pengen nambah terus"ucap Gibran.
"Lara memang jago masak Gibran, sekarang kau tiap hari sarapan dirumah, gak kaya dulu waktu lajang, sarapan dimana aja"ucap Ibu Yuliana.
"Iya Bu, oya bukannya Ibu dan Lara mau belanja hari ini ya?"tanya Gibran.
"Siang ini aku dan Ibu memang mau belanja bulanan sayang, sekalian jalan-jalan ngajak Mahira"ucap Lara.
"Selamat berbelanja, semoga kalian semua happy"ucap Gibran.
Gibran bahagia dengan keluarga kecilnya. Begitupun Lara, Gibran adalah matahari dihidupnya. Dia memberi kehidupan baru dan kebahagiaan untuknya.
__ADS_1