KAKAKKU MERTUAKU

KAKAKKU MERTUAKU
PART 14 TURUNAN


__ADS_3

Handy benar - benar ngga nyangka kalau Tuhan membuatnya berurusan lagi dengan wanita yang paling dia benci itu. Bahkan sekarang tanpa handy sengaja dia bisa menolong Linda dan tita yang sama sekali dia tidak kenal sebelumnya, dari jeratan wanita licik seperti Ica yang ternyata adalah anak dari wanita selingkuhan papinya, Laura.


'Ternyata alam masih mendukungku untuk memberi kalian pelajaran' batin handy sangat geram.


'Kalian harus mendapatkan ganjaran akibat dari perbuatan kalian merebut laki orang dan membuat anak - anaknya sengsara. Tidak ada ketenangan sejati buat pelakor' batin handy


Handy kembali bersama Linda dan Vita.


"apa om valdonya sudah balik"? tanya tita kepada handy yang kembali sendiri untuk bergabung bersama mereka.


"sudah, di telepon istrinya kali" ujar handy asal, entah kenapa ya kok dia kurang suka kalau tita lebih bisa terbuka dengan valdo.


"padahal aku mau minta tolong" ucap tita kecewa ala remaja.


"oh iya kak Linda, kalian kan ingin menjual rumah kalian itu, jadi menurutku gimana kalau kalian ngontrak rumahku ini aja, hitung - hitung biar rumah ini terawat. tidak usah mahal - mahal deh, murah aja, karena kalian juga harus bisa memanage keuangan kalian" ujar handy pura - pura serius padahal handy hanya ingin melindungi mereka dari pak David dan Ica itu.


"emanknya ini berapa setahun Han"?


"terserah kakak aja sanggup bayar berapa asal jangan terbeban," ujar handy tenang


"gimana nak, kamu suka suasananya rumah ini, biar kita ngga usah cari - cari lagi untuk tempat tinggal" ujar Linda.


"tita terserah mami aja, tapi om handy tidak akan tinggal di sini kan" ucap tita kepada mami yang sangat menyayanginya.


"tidak cil, kakak kan sudah punya rumah sendiri" ujar handy santai


"om handy kaya juga ya, mobilnya aja mewah banget"


"biasa aja, buktinya aku juga masih harus kerja" ucapnya jujur.


"tapi kan jadi bos, yang bisa suka - suka" tita kembali nyeplos


"ngga boleh begitu sayang, baiklah Han, kami sewa ini aja, saya transfer dpnya dulu, nanti saya lunasin kalau rumah itu sudah terjual. Tapi kami hanya mampu bayar dua puluh juta ya" ujar Linda


"itu sepertinya keberatan buat kak Linda, apalagi keuangan kalian lagi ngga stabil. bayar aja 10 juta, nanti kalau tahun depan kalian sudah bekerja dan mapan baru aku naikkan. Kalian rawat aja semua keadaan rumah ini dan perabotannya" ujar handy membuat Linda melongo. Padahal tadi dia sudah takut mengatakan dua puluh juta, tapi ternyata hanya setengahnya handy terima.


"terimakasih banyak han, saya ngga tahu gimana membalas kebaikan kamu" ucap Linda tulus


"ngga usah lebai kak, biasa aja, yang penting kalian nyaman. Pak Amir akan tetap jaga di depan, apa kalian butuh bi Lilis"? tanya handy


"ehhh ngga ngga Han, kami bisa berdua kok. pak Amir juga ngga usah, ada keamanan komplek ini kan"? tanya Linda yang yakin komplek semewah ini ngga mungkin keamanannya kurang.

__ADS_1


"pak Amir itu sudah di bayar sama kantor kak, karena dulunya dia karyawan kantor. Jadi dia jaga atau ngga di sini sudah tetap di bayar" ujar handy


"tapi kalau bi Lilis itu memang salah satu art di rumah, kalau kalian tidak butuh dia bisa balik ke rumah" ujar handy. Linda sejenak berpikir, tapi menit berikutnya dia kembali sadar dengan keadaan mereka sekarang.


"iya han, ibu Lilis tidak usah di sini, kami ngga sanggup bayar" ujar Linda jujur.


"nanti kami gantian aja untuk membersihkan rumah" tuturnya sambil melirik putrinya tita.


Tita terlihat tidak bereaksi, dia memang tidak pernah pegang kerjaan rumah, tapi mengingat kondisi mereka sekarang tita harus bisa membantu maminya biar maminya tidak tambah terbeban.


Handy bisa melihat dari reaksinya kalau tita jarang megang kerjaan rumah.


"kalau membersihkan rumah ini sih ada juga bi arsih, tapi datangnya dua hari sekali. Dan tugasnya hanya membereskan rumah, tidak termasuk kamar dan cucian" tutur handy.


"nantinya biar kami aja Han, ngga usah ada yang bersihin lagi, biar kita aja yang kerjain, apa lagi aku juga belum kerja"


"ngga apa - apa biarin, kasian juga ibu arsih kalau di PHK" tutur handy beralasan, padahal dia hanya ingin membantu mereka.


"iya mi kasian, biarin deh mi, nanti tita tidak usah dapat uang jajan dulu, biar uang jajan tita buat bayar mba arsihnya" ucap tita senyum ke maminya.


Handy sangat senang melihat senyum gadis kecil itu, gadis labil yang ternyata bisa berpikir realistis juga. Dia ingin meringankan beban maminya. Padahal handy tahu itu tidak gampang buat dia yang sudah biasa hidup senang dan mewah.


"huhhhh bocil bocil, gua udah besar tahu" ujar tita memutar bola matanya malas.


Linda hanya senyum melihat anaknya sudah banyak bicara walaupun belum secerewet biasanya.


"iya deh, anak mami memang sudah besar, tidak bocil lagi Han" ucap Linda mengusap kepala putrinya sambil senyum memberi kode ke handy.


"mami kok ikutan bilang bocil sih"


"iya sayang, maaf ya" Linda menahan senyumnya. Ditengah kehancuran keluarga mereka masih ada hal kecil yang membuat mereka bisa tersenyum.


dddrrttt dddrrttt dddrrttt


Saat mereka berbincang handphone handy berdering, valdo calling....


"hallo" handy agak menjauh dari Linda dan tita


"hallo bos, wanita itu sudah menghubungi pak Bastian tentang uang satu miliarnya"


"terus"

__ADS_1


"bos tidak ikut"


"tidak, saya muak melihat wanita itu"


"oke bos, kami urus itu dulu baru urus pembelian rumah"


"atur aja"


"bos masih di rumah lama"?


"ya, aku tunggu kalian di sini"


"baik bos, oh ya ada info tambahan ternyata papimu sekarang benar - benar hancur, dan wanita itu juga sudah tidak perduli padanya karena dia juga sudah di biayai oleh Ica anaknya"


"terus"


"hanya sekedar info doank sih, dan Ica itu ternyata ngga tahu aslinya anak siapa, ayah nya adalah orang yang sedang jadi suami ibunya, hehehe" cerita valdo sambil ketawa


"huhhh dasar turunan sampah ya jadi sampah" ucap handy senyum mengejek.


"kalau begitu aku ketemu pak Bastian dulu han" ucap valdo


"oh iya, jangan kasih kendor sama wanita itu, kuras semua uangnya mumpung ada celah, biar dia merasakan karma dari perbuatannya"


"baik bos"


Handy langsung memutuskan sambungan telepon itu dan dia kembali memperhatikan Linda dan tita yang sedang melihat - lihat taman belakang rumah handy.


'kasian mereka berdua, aku tahu mereka tidak terbiasa hidup prihatin, tapi karena keadaan mereka mau mencoba hidup prihatin' batin handy.


'Laura dan anaknya akan merasakan lebih sakit dari yang aku dan tita rasakan, anak korban perceraian akibat perselingkuhan' batin handy.


Hai semua pembacaku yang setia


Jangan bosan - bosan ya


Dukung terus


like, coment dan vote


Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2