
"jangan pikirkan uang dulu" ucap handy sambil melirik valdo.
"Bos saya ini benar Bu, sekarang urusan uang bisa aja pak handy bantu ibu, tapi urusan hak - hak adek itu harus ada seorang ahli yang mengerti, mumpung belum terlambat" ucap valdo semangat.
Handy terlihat manggut - manggut dengan ucapan asistennya. Sebenarnya itu yang ingin dia sampaikan.
"saran saya, ibu dan tita tinggal di sini aja dulu, ibu bisa menggunakan dan merawat rumah ini, toh selama ini juga kosong" saran valdo yang dia yakin handy ngga keberatan.
Handy terlihat senang dengan ucapan valdo, karena dia sangat setuju dengan usulan itu, supaya mereka bisa memantau perlakuan orang kepada kedua wanita ini.
"iya kak, saya setuju banget, tinggallah di sini dulu, kalian bisa gunakan rumah ini sebagai tempat berteduh sampai rumah kalian kembali" tutur handy
Sejujurnya Linda sangat gembira bisa berteduh juga, tadinya dia sudah kebayang akan tidur di kolong jembatan sampai mereka pergi entah kemana keluar dari kota ini. Kota yang penuh kenangan manis dan pahit.
"terimakasih handy sudah banyak menolong saya, nanti kalau saya sudah bekerja aku pasti akan membayar semuannya perlahan" ucap Linda.
Handy menyeruput kopi yang di buat valdo, lalu dia membenarkan duduknya.
"kak linda, tidak usah berterima kasih, anggap aja saya adikmu, saya hanya sedikit membantu yang saya bisa, karena saya pernah di posisi tita" ujar handy tenang bercerita.
"maksudnya"? tanya Linda serius namun bingung.
"Dulu papiku selingkuh dan meninggalkan mamiku sampai mamiku akhirnya sakit - sakitan dan meninggal." ujar handy masih tenang.
Tapi tidak begitu dengan Linda, dia sedikit kaget dan langsung menyimpulkan kalau kemarin handy menolong tita karena dia juga pernah mengalami hal yang sama. Mungkin handy tulus memang menolong mereka karena merasa senasib.
"maafkan kalau kami sempat meragukan niatmu menolong tita kemarin" ujar Linda sendu.
"tidak apa - apa kak, saya hanya langsung geram setiap melihat tingkah laku p.lakor"
"iya han, tita ini tumbuh dengan kasih sayang yang penuh dan hangat, makanya dialah yang paling tersakiti dengan perilaku daddynya" ujar Linda sendu.
"iya, dulu saya juga seumuran dia ketika orang tuaku berpisah. Tapi dulu aku berontak bukan dengan seperti yang tita lakukan, aku ambil harta papi sebanyak - banyaknya dan aku gadaikan semua harta tak bergeraknya." ujar handy senyum hambar.
"Saya sudah tidak perduli apa reaksi dia setelah kami pergi. Tapi yg pasti rekeningku sudah penuh uang untuk hidupku dan mamiku." lanjutnya
"kakak tahu, aku sampai menggadaikan satu rumah mewahnya di kawasan elite, dan karena pengelolanya cukup tahu dan kenal aku, semua jadi mudah, tagihan semua ke papiku. Black card mamaku yang sudah lama tidak di gunakan, aku kuras sebanyak - banyaknya. Saya sudah ngga perduli"? ujar handy Lagi.
__ADS_1
"Setelah itu aku bawa mamaku keluar kota, yang papiku sama sekali ngga bisa lacak. ke pedesaan" lanjutnya
"ternyata tita tidak sendirian mengalami hal begini" ujar Linda.
"ya elah kak, banyak yang alamin, hanya saja banyak cara yang orang lakukan. ada yang memilih diam dan ada juga dengan cara yang sangat ekstrim" ujar handy lagi.
Linda sedikit merasa lega karena merasa tidak sendirian.
"oh iya han, ini sudah siang, kita mau makan siang ke luar atau disini aja makan siangnya" tanya valdo karena bosnya itu belum makan siang.
"iya gimana ya" ucap handy sambil melihat jam tangan mahalnya.
"ngga apa - apa kalian pergi aja, saya nanti aja" ujar Linda , dia sedang berpikir gimana caranya menggadaikan cincinnya untuk biaya hidup mereka.
"kita keluar aja sebentar" ujar handy
"oh iya sepertinya kak Linda harus stay dulu karena tita masih tidur, nanti kami belikan makan siang buat kak Linda" ujar handy
"tidak usah repot - repot Han, aku juga belum lapar"
"ya sudah, kami keluar dulu, kalau kalian butuh sesuatu disini ada pak Amir yang jaga. minta aja sama dia atau tanya aja sama dia" ucap handy bangkit berdiri lalu berjalan menuju mobilnya.
"val, tolong bilangin pak Amir untuk jaga mere ka terutama tita, jangan sampai keluar gerbang" perintah handy. Sejujurnya dia masih bingung sih mau melakukan apa, tapi dia tidak ingin anak itu kabur terus menyiksa diri sendiri dengan mengikuti daddynya diam - diam.
"oke"
Begitu handy masuk mobil valdo akhirnya bicara dulu dengan pak Amir untuk tetap stay dulu di sini, dan kalau mereka butuh sesuatu supaya telepon handy atau valdo.
Akhirnya mobil handy ke luar dari gerbang rumahnya. Mereka akhirnya menuju mall terdekat, hanya beberapa menit dari rumah itu.
"kita makan di mall depan itu aja, biar jangan lama" ucap handy.
"oke" jawab valdo sambil memberitahu supirnya.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah masuk mall kecil itu. Valdo langsung turun ingin buka pintu, tapi ternyata handy sudah turun terlebih dahulu.
Handy langsung melangkah masuk dan naik menuju lantai tiga tempat foodcourt. Saat di escalator handy melihat counter pakaian wanita.
__ADS_1
"val, tolong belikan baju ganti buat mereka lengkap" ujar handy
"oke" valdo memang paling sigap kalau mengenai perintah handy. Tapi syukurnya handy juga bukan bos yang sangat ribet kalau posisinya lagi enak, dia bisa seperti teman umumnya. Ketika valdo belanja pasti handy sudah pesan makanan buat valdo. Jadi mereka saling melengkapi.
Valdo mendekati handy dengan beberapa paper bag.
"kamu belikan buat mereka berdua kan"?
"iya han, aku sangat kasian sama mereka berdua"
"apalagi aku, aku tahu banget posisi mereka sekarang"
Lalu mereka langsung makan dan setelah itu langsung pulang ke rumah lagi.
Tidak lupa sebelum keluar dari mall valdo tadi sempatkan belanja isi kulkas saat handy ingin ke toilet sebentar, karena menurut pak Amir kulkas sudah lama di cabut karena tidak ada isinya. Mungkin mereka nantinya ingin masak, jadi valdo ingin belanja isi kulkasnya.
Sudah hampir sore ketika handy dan valdo tiba di rumahnya. Mereka langsung turun dan bertanya sama pak Amir.
"Dimana mereka pak"
"masih di ruang tengah pak, ngga mau aku suruh tidur di kamar" ujar pak Amir.
"mereka masih tidur"
"iya pak, sepertinya ibu itu ngantuk banget, tapi ngga mau tidur di kamar"
Handy dan valdo saling pandang , langsung menuju ruang tengah dimana tadi mereka meninggalkan Linda dan tita.
Saat mereka masuk terlihat tita masih tidur di pangkuan Linda sementara Linda juga terlihat sudah tidur dengan posisi duduk. Sepertinya mereka kecapean sehingga bisa tertidur dengan posisi seperti apa pun.
Handy dan valdo sebenarnya tidak ingin mengganggu tidur mereka, tapi Linda keburu kebangun.
"ehhh kalian sudah pulang, maaf tadi kami ketiduran" ucapnya sedikit malu dengan matannya yang terlihat sangat bengkak.
"ngga apa - apa, kenapa ngga tidur di kamar aja kak" ujar handy tulus. Linda hanya tersenyum, bingung mau jawab apa, karena pikirannya juga entah sedang dimana.
Lagi ya guys minta dukungan
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih🙏