
Setelah lama ngobrol sampai ngopi bersama di rumah lama handy, akhirnya pak Bastian beserta rombongan pun keluar dari rumah itu.
Tinggallah handy, valdo, kak Linda dan tita juga pak Amir.
Setelah semua sepakat, ternyata pak Amir tetap jaga di depan, tapi mba Lilis di bawa pulang ke rumah handy.
Akhirnya handy , valdo dan mba lilispun pulang bersama pak Yanto. Tinggallah Linda dan putrinya tita serta pak Amir jaga di depan.
Tapi tetap mereka belum bebas keluar rumah, nanti mereka akan pesan bahan makanan online aja.
Setelah semua sepakat, Linda dan tita masuk rumah dan berniat mandi sore. Setelah itu ingin masak ala kadarnya karena tadi pagi mereka sudah minta pak Amir belanja dikit di tukang gerobak depan.
Setelah makan malam, mereka tidak melakukan apapun lagi, mungkin terlalu penat dengan semua masalah yang ada membuat mereka harus tertidur cepat.
Keesokan paginya Linda sudah minta tolong pak Amir untuk belanja sayur. Setelah datang belanjaannya dia dan tita langsung masak alakadarnya.
Linda juga membuat kopi untuk pak Amir.
Baru aja Linda dan tita ingin beberes, ternyata orang yang bertugas membersihkan rumah ini datang juga. Jadilah mereka bekerja bersama - sama membersihkan rumah itu.
Siang harinya Linda dan tita yang sudah cape langsung tidur siang.
Sementara handy dan valdo yang siang ini akan ketemu pak Hadi sudah sedang menuju rumah yang di tuju. Dibelakang mereka selalu ikut satu mobil yang biasa aja yang berisi orang - orang handy, semacam bodyguardnya hanya saja ngga selalu di bawa.
Handy dan valdo sudah tiba di depan gang rumah itu, rumah yang akan dia beli dengan menyuruh Bastian.
Handy sudah melihat Bastian dan seorang laki - laki yang sudah tua, sedang berbincang dengan Bastian. Ya..Bastian sedang berbincang dengan pak Hadi, yang ternyata sekarang sangat kurus dan jauh dari kata gagah. Ini lebih buruk dari bayangan handy. Tadinya dia berpikir papinya hanya miskin tapi tidak sekurus ini.
Entah apa yang mereka bicarakan, handy hanya melihat dari tempat yang agak jauh. Tapi begitu handy menghubungi pak Bastian, dan mengatakan mereka di ujung gang Bastian langsung berdiri dan mendekati mobil handy di ujung gang.
Lalu Bastian mengangkat tangannya untuk memberitahu, dan terlihat mobil handy mendekat.
Valdo langsung turun dari mobil itu dan mendekati Bastian. Bastian langsung masuk lagi ke teras rumah pak Hadi dimana mereka sedang ngobrol tadi.
__ADS_1
Setelah itu di susul oleh valdo dan handy memilih berjalan di belakang valdo. Handy merasa deg - deg an juga untuk bertemu papinya, biar bagaimana pun dulu papinya adalah idolanya sampai wanita itu menggodanya.
"pak Hadi , ini yang akan membeli rumah ini" ujar pak Bastian membuat pak Hadi langsung mengalihkan pandangannya dari surat yang tadi ditunjukkan oleh Bastian dari pihak bank.
Pak Hadi merasa wajah ini tidak asing, wajah valdo, dan disusul oleh handy di belakangnya.
Handy tampil dengan pakaian mewah dan juga tampilan yang paling oke.
Handy bahkan tidak menyapa papinya yang masih melongo menatap wajahnya. Terlihat ada genangan air di matannya membuat handy hampir trenyuh kalau saja tidak di buyarkan oleh kehadiran wanita pelakor itu. Wanita yang dulu sangat seksi dan bohai ternyata sekarang sudah sedikit keriput dan sepertinya sudah tidak terawat.
Melihat wanita ini, kembali handy muak dan ngga punya perasaan.
"handy" ucap papinya pelan, tapi handy tak bergeming, dia malah menyuruh Bastian untuk segera membereskan semuannya.
"pak Bastian, tolong di percepat, saya ngga punya banyak waktu" ucapnya dengan gayanya tanpa perduli tatapan pak Hadi dan Laura.
"handy" ucap Laura sumringah sambil meletakkan kopi itu di meja.
"jangan sembarangan menyebut namaku dari mulut kotormu" bentak handy langsung membuat Laura langsung diam ngga berani lagi berkutik.
Sementara pak Hadi juga ngga bisa bilang apa - apa, mungkin juga karena dia masih kangen dengan anak kandungnya ini. Anak yang dulu sudah dia telantarkan dan ternyata sekarang sudah sukses.
Sebenarnya pak Hadi sudah tahu kalau handy sudah sukses, tapi dia tidak berani mencari tahu karena dia sadar diri.
Melihat situasi yang sangat kaku, pak Bastian akhirnya berinisiatif untuk mencairkannya.
"pak Hadi, tadi kita sudah sepakat bukan, jadi sekarang pak handy ini sebagai pihak pembeli akan tanda tangan sekarang" ucap pak Bastian membuyarkan lamunan pak Hadi.
"jadi yang mau membeli rumah ini handy"? tanya Laura sedikit tenang, dia berpikir untuk menyuruh suaminya merayu handy supaya bisa tinggal di rumah ini.
"iya Bu" jawab Bastian
"syukurlah handy, kamu menyelamatkan papimu dari calon gelandangan, tadinya aku berpikir akan tinggal dimana kami, tapi kalau kamu yang beli baguslah, kamu ngga mungkin tega usir papimu di luaran kan, pasti kami bisa tinggal disini kan"? Laura masih nyerocos aja tanpa perduli expresi handy yang sudah susah di gambarkan.
__ADS_1
"Dasar jal.ng, aku sudah bilang jangan sebut namaku dengan mulutmu yang kotor itu" bentak handy membuatnya langsung terdiam.
Dan pak Hadi juga hanya bisa menunduk tanpa berani menatap handy.
"pak Bastian selesaikan pekerjaan anda, dan kosongkan rumah ini segera setelah saya tanda tangan" tegasnya dengan wajah menakutkan. Benar - benar tingkah wanita ini membuatnya muak.
"baik pak" ucapnya langsung membuka satu file dan meletakkannya di meja depan pak Hadi. Mau ngga mau handy harus sedikit menunduk di depan papinya untuk tanda tangan. Pak Hadi sudah menangis tanpa dia sadari, tapi tidak berani komentar.
Beda lagi dengan pikiran handy, dia memang sempat trenyuh dengan papinya, tapi melihat pedenya wanita ini dan mengingat putrinya Ica membuat darah handy mendidih lagi.
Setelah membubuhkan tanda tangan dan diperiksa oleh valdo, handy langsung berbalik ingin pergi. Namun ketika papinya memanggil namanya handy berhenti sejenak tapi tidak berbalik.
"handy" panggilnya
Handy terhenti, tapi dia enggan untuk berbalik menatap papinya.
"maafkan papi" ucap pak Hadi lemah
Handy tidak menanggapi, dia takut trenyuh melihat papinya sementara wanita itu yang tenang. Dia ingin melanjutkan langkahnya ketika Laura malah mencelanya dengan kasar.
"dasar anak durhaka, giliran papinya susah malah tidak di aku" ucapnya membuat darah handy kembali naik ke ubun - ubunnya.
Dia berbalik dan....tunggu sebelum handy berbalik dengan sempurna, papinya sudah memarahi wanita itu membuat handy tidak jadi berbalik.
"cukup Laura, cukup kamu bicara" ucapnya entah apa tujuan dan alasannya menyuruh selingkuhannya itu diam.
"kenapa, kenapa saya harus diam" tantang Laura merasa di atas angin. Dia yakin handy tidak perduli papinya, dan pak Hadi tidak akan meninggalkannya, karena pak Hadi sekarang sudah tua, mau bersandar kemana dia. Itulah isi otak bodoh Laura. Dia lupa ikatan darah, bahwa sejahat apapun papinya bisa jadi handy akan menerimanya kembali. entahlahhh...
"Dasar sampah, maka turunannya juga sampah, ngga jauh beda anakmu sama kamu" cela balik handy tenang lalu melangkah keluar dari teras itu.
Hai semua, dukung terus ya
like coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏