
Sementara di rumah pak Hadi, sekarang tinggal Hadi dan beberapa anak buah handy. Pak Hady hanya di beri waktu sepuluh menit untuk berkemas, sedangkan uang hasil penjualan rumah itu juga tidak seberapa karena harus menebus suratnya yang di agunkan.
Dengan perlahan dan beserta tas ransel kecil pak Hadi ke luar dari rumah itu, rumah yang menjadi saksi kehancurannya karena keegoisannya dulu. Rumah yang hanya melihat kehancuran pak Hadi setelah meninggalkan anak dan istrinya demi seorang wanita malam, yang awalnya terlihat seperti seorang janda yang hidupnya elegan setelah kematian suaminya.
Tapi ya, begitulah hidup, penyesalan selalu di belakang, karena kalau di depan itu biasanya pendaftaran🫢😄.
Setelah mengetahui kehidupan selingkuhannya yang sebenarnya, jujur pak Hadi ingin mundur, hanya saja waktu itu Laura pura - pura mengaku hamil untuk menjerat pak Hadi. Dan itupun ternyata penuh kepalsuan, semua terungkap ketika beberapa bulan kemudian perusahaan pak Hadi hancur dan berpindah tangan. Semua asetnya di sita kecuali satu rumah mewah dan mobil mereka. Tapi karena sudah tidak lagi bekerja rumah itupun di jual untuk membeli rumah yang lebih kecil, yaitu rumah yang sekarang mau di jual. Dan sisanya buat mereka hidup.
Lama - kelamaan duit makin menipis, pak Hadi tidak bekerja dan Laura juga dinyatakan sakit ginjal sehingga dia memutuskan untuk tidak keluar malam lagi dan minum alkohol lagi.
Karena istrinya masih belum terlalu parah, masih bisa di sembuhkan, begitu kata dokter waktu itu.
Akhirnya mereka sepakat jual mobil untuk biaya pengobatan Laura, ditambah duit yang di berikan anak Laura, Ica.
Sungguh ironi memang, dua tahun bersama Laura tanpa ikatan, pak Hadi yang sudah menganggur juga sudah sering sakit - sakitan.
Karena itulah tahun ketujuh bersama atau sekitar dua tahun kemarin mereka mengagunkan rumah itu ke bank. Dan karena tidak mampu lagi mencicil, makanya kemarin mereka putuskan untuk menjual rumah itu, yang ternyata pembelinya adalah handy anaknya pak Hadi yang telah dia sia - siakan sekitar sepuluh tahun lalu.
Sejujurnya Handy juga tidak menginginkan rumah itu, tapi dia tidak suka dengan wanita itu dan bahkan menginginkan kehancuran wanita itu.
Sejahat - jahatnya handy, dia masih menyuruh seseorang untuk memperhatikan papinya begitu keluar dari rumah itu, dengan mengajak papinya tinggal bersamanya. Dan valdo sudah mengatur itu semua itu seolah - olah seperti kebetulan.
Valdo mengatur seolah - olah orang suruhannya itu adalah seorang pengamen jalanan, dan mengontrak kamar sendiri. Sehingga dia mengajak pak Hadi untuk tinggal di rumahnya. Padahal rumah itu di kontrak oleh handy lewat valdo.
Pak Hadi merasa bersyukur memiliki tempat untuk tinggal, dia ingin beristirahat sejenak untuk menenangkan hatinya yang sudah hancur berkeping - keping karena ulahnya sendiri.
"dimana rumah bapak" tanya Dwi sang pengamen.
"bapak sudah ngga punya rumah nak, baru bapak jual buat bayarin utang" ucap pak Hadi jujur.
"apa bapak tidak punya keluarga, anak atau istri" tanya Dwi lagi
Terlihat pak Hadi sedih dan menangis.
"bapak ini orang berdosa nak, dulu bapak meninggalkan anak dan istri bapak demi seorang wanita, yang ternyata bukan wanita baik" ucapnya
"hahhh kok bisa"
"yahhhh begitulah , bapak tidak bisa melawan nafsu sementara" ucapnya sambil menerawang.
"terus"
"setelah mereka pergi barulah aku merasa sangat kehilangan, dan frustasi. bersamaan dengan itu juga aku baru tahu wanita itu bukan wanita baik - baik. Tapi apa mau di kata, nasi sudah jadi bubur" ucapnya lemah
"terus bapak tidak pernah mencari anak bapak"? tanya dwi
"pernah, tapi bapak kehilangan jejak karena mereka pindah keluar kota"
__ADS_1
"ohhhhh, yang sabar ya pak, kalau memang bapak rindu anak bapak, mendingan bapak berdoa aja semoga dia bisa memaafkan bapak" ucap Dwi
"iya nak"
"sekarang bapak istirahat aja, saya juga mau istirahat, cape pak" ucap dwi
Pak Hadi tidur di kasur tipis bersama dengan Dwi.
Sementara handy, setelah kejadian tadi di rumah papinya, dia langsung meninggalkan tempat itu. Tapi entah kenapa bukannya ke kantor atau ke rumahnya handy malah mendatangi rumah tita dan maminya, yaitu rumah lama handy.
Begitu sampai rumah tita handy langsung di sambut tita dan Linda maminya.
"halo " sapa handy ramah
"halo han, tumben siang - siang ke sini, ngga ngantor"? tanya Linda
"hehehe lagi malas kak, pengen liat wajah jutek bocil ini" ucap handy asal
"huhhhh bocil - bocil, namaku tita tau, t i t a" ucap tita sambil mengeja namanya.
"iya deh iya, tita" ucap handy mengikutkannya.
Handy langsung duduk di sofa ruang tengah dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa itu.
"bocil tita, tolongin donk, bikinin kopi"
"sebentar ya Han, saya buatin " ucap Linda, langsung beranjak ke dapur membuatkan kopi untuk handy.
Tidak berapa lama Linda sudah datang dengan kopi di tangan.
"makasih kak" ucap handy
"sama - sama"
dddrrttt dddrrttt dddrrttt
"halo"
"tuan wanita itu sudah bersama anaknya, dan papi anda sudah bersama dengan Dwi di kontrakan kecil" valdo melaporkan
"kamu kesini aja, rumah lama" ucapnya pendek.
"oke bos" valdo langsung mengerti.
"valdo kemana Han" tanya Linda
"hehhh dia sedang membereskan wanita itu" ujarnya sambil menyeruput kopinya
__ADS_1
"hahhhh Ica maksudnya, aduhhh jangan Han, aku takut David akan marah sama kamu"
"biarin aja" handy menjawab santai
"Han, kamu tahu kan pak David, bahkan membentak tita yang anak kesayangannya dia sanggup Han, aku takut dia nantinya membuatmu dalam masalah"
"hehehe ternyata kak Linda dan tita belum tahu aku" ucapnya sambil menyeruput kopinya lagi.
"Han, aku cuma takut kamu dalam masalah" ujar Linda khawatir
"tenang aja kak" ujar handy senyum kecil
Tidak berapa lama valdo telah tiba di tempat itu bergabung dengan Linda dan tita dan juga handy.
"pak Bastian kemana"?
"masih ada urusan tadi bentar pak, katanya ntar malam baru menemui bapak"
"hmmmm"
"hallo tita, kamu baik - baik aja" sapa valdo
"baik om" ucap tita
"apa kamu sudah siap sekolah lagi"? tanya valdo
Terlihat tita bingung, menatap valdo lalu maminya, setelah itu dia menggeleng perlahan.
"ngga om, ngga mau" ucapnya
"kenapa"? valdo menatap tita
Tita bingung untuk menjawab kenapa. Tapi hatinya belum siap untuk menemui teman - teman sekolahnya.
"pergilah" ucap handy pendek menatap tita. Tapi tita tetap menggelengkan kepalanya.
"sebaiknya juga tita tidak usah sekolah dulu Han, aku takut daddynya masih marah sama dia" ucap Linda pendek.
"biarlah dia tahunya kami menghilang dulu untuk sementara, dan kalau bisa dia ngga usah tahu kami di sini sampai rumah kami itu terjual" lanjut Linda.
Bukan tanpa alasan Linda melakukan itu, karena dia takut Ica memprovokasi David untuk mencari tita putrinya demi mendapatkan rumah itu.
Hai semua
dukung terus ya
like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏