
Laura melongo mendengar ucapan handy yang mengatakan icanya ngga jauh beda dengannya. Memang Laura tahu anaknya juga menguras uang laki - laki di luar sana, tapi menurut Laura itu bukan urusan handy. Dan darimana handy tahu tentang putrinya. Handy ngga berhak menghina putrinya, karena Ica tidak pernah mengganggu kehidupan handy.
Dia berlari ke hadapan handy dan menghadang langkah handy. Tapi valdo menghalangi Laura menyentuh bosnya itu, begitupun pak Bastian, karena mereka sangat tahu betapa bencinya handy sama wanita ini. Mereka tidak ingin sampai handy benar - benar emosi, bisa fatal akibatnya untuk Laura dan kehidupannya nanti ke depan.
"tolong jaga sikap anda nyonya, jangan sampai anda menyesal, anda belum tahu dan kenal dengan tuan handy" ujar valdo pelan tapi penuh tekanan.
Tapi dasar Laura terbiasa di pasaran, dia pikir dia masih sehebat dulu. Segala sesuatu bisa diselesaikan olehnya, walaupun kadang menghancurkan harga dirinya.
"kenapa emank, apa yang perlu aku takutkan, hanya karena dia kaya, cuihhhhh" ucap Laura dengan pedenya sambil meludah ke tanah.
Handy melihat itu sudah sangat emosi, dia tidak bisa lagi mengontrol dirinya, apalagi wanita hina ini menghinanya di depan anak buahnya. Handy sudah berubah menjadi monster yang tidak ada hati sama sekali. Sekelabat kaki kiri handy menendang kaki Laura membuat dia langsung tersungkur di Tanah. Bahkan siapapun tidak bisa menebak gerakan kaki handy selain valdo asistennya.
Semua orang diam, kalau sudah begini tidak ada orang yang berani mendekati handy. Laura terlalu nekat dan percaya diri. Bahkan kakinya yang terbungkus sepatu mahal itu langsung menginjak tangan Laura tanpa perasaan.
"Dari dulu mamiku mengajariku untuk hormat dan sayang sama perempuan, karena bagaimanapun seorang perempuan adalah seorang ibu. Tapi hari ini aku tidak menyesal menendangmu, karena aku tidak mau mengotori tanganku untuk memukulmu ******, sampah harus di injak, supaya dia sadar bahwa dia sampah. Kalau di pungut nanti takutnya dia merasa berharga" ujar handy panjang menahan geram sambil menatap ke udara.
Laura sudah merintih tangannya sakit, tapi handy tidak hendak beranjak juga, dia sudah mati rasa dengan rintihan wanita itu. Wanita yang sudah menyingkirkan maminya dan sekarang mencoba menghinanya. Wanita yang tidak tahu posisinya sama sekali.
Sementara pak Hadi juga tidak berdaya menolongnya, dia hanya menangis terpaku di tempatnya. Entah menangisi apa, apakah menangis untuk kesakitan Laura atau menangis melihat handy anaknya yang sekarang menjadi seperti itu.
Lalu handy memberi kode kepada bodyguardnya yang di mobil untuk mendekat.
Keluarlah empat orang laki - laki berwajah tampan, tidak terlihat kasar sama sekali mendekat kepada handy.
"iya bos"
"sadarkan wanita sampah ini, jangan sampai mulutnya bisa bicara lagi" ujar handy tegas.
Valdo dan Bastian sudah khawatir kalau sampai handy membunuh Laura, ini sudah tindak pidana.
Tapi dasar Laura wanita ngga sadar diri, dia malah kembali teriak setelah kaki handy bergerak dari tangannya.
"aku akan membalasnya lewat papimu" ujarnya lantang membuat seorang bodyguard itu langsung menendang wajahnya sehingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Lalu bodyguard itu mendekatkan wajahnya ke wajah Laura dan mencengkram wajahnya dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Anda terlalu berani nyonya, seharusnya kalau anda diam ini semua tidak terjadi" ucapnya melepaskan cengkeramannya dari wajah Laura dengan kasar.
"inilah kalau sampah dikasih hati, merasa dia berlian" ucap handy mencemooh.
"handy" panggil pak Hadi mendekati Handi dan berlutut di depannya. Pak Hadi tidak mau anaknya ini menjadi penjahat, setidaknya dia harus mencegah anaknya untuk berbuat tindak pidana.
Handy terdiam, memaku di tempatnya. Kalau mengikuti egonya dan ingat penderitaan maminya, ingin rasanya handy menendang laki - laki ini juga. Tapi entah kenapa, hati kecilnya bergetar juga melihat penderitaan laki - laki ini. Laki - laki yang dulu gagah saat memarahi maminya di depannya, dan sekarang hanya laki - laki tua renta tanpa daya.
"papi tahu papi tidak layak meminta apapun padamu, tapi kali ini dengarkan papi. lepaskan Laura, biarkan dia pergi, kalau kamu marah marahin aja papi, papi tidak akan melawan" ucapnya pelan sambil menatap Laura
"pergilah Laura sejauh mungkin, jangan sampai handy berbuat jahat karena mu" ujar pak Hadi.
Semua yang disana sudah tegang, tidak ada yang berani bertindak apapun. Karena mereka lihat handy memang sudah pada tahap emosi yang meledak. Dia tidak akan perduli apapun, bahkan masuk penjara sekalipun.
Laura melangkah kearah pintu masuk rumah itu, tapi di cegah oleh valdo.
"maaf nyonya, pintu keluar ke sana Anda sudah tidak di perbolehkan masuk rumah itu lagi, pak handy adalah pemilik rumah itu sekarang"
"apa, ? aku hanya mau mengambil barang - barangku" ujarnya masih sok sewot sambil kesakitan.
"kurang aj..." belum kelar ucapan Laura, seorang bodyguard itu sudah mendorongnya menjauh dari sana.
"sepertinya memang anda ngga bisa diajak kerjasama nyonya, harus dikerasin" ucapnya menarik Laura seperti menarik karung beras.
"tolong lepaskan dia" ucap pak Hadi pelan tanpa ekspresi.
"pergilah Laura, setidaknya anakmu masih ada untuk mengurusmu" ucap pak Hadi pelan berharap Laura segera pergi dari sana.
Pak Hadi memang bukan orang yang tega melihat penyiksaan di depan matanya, tapi dia bisa apa? anaknya juga punya alasan kuat untuk melakukan itu buat mereka bahkan mungkin lebih sakit dari itu pun pantas Laura dan dirinya terima.
Dengan tertatih Laura bangkit dan berjalan keluar, diikuti oleh bodyguard itu dan juga valdo.
"saya urus dia dulu Han" bisik valdo di telinga handy. Valdo sudah tahu apa yang diinginkan bosnya itu.
Mereka langsung memasukkan Laura ke mobil biasa itu lalu mereka berniat menghubungi Ica tanpa sepengetahuan mamanya. Ica memang sudah punya nomor baru lagi, dan mereka dapat nomor itu berkat seorang teman mereka yang jago hacker.
__ADS_1
"ibu anda sedang terluka, ada di depan mall xx, tolong di jemput" bunyi pesan chat dari bodyguard itu. Setelah itu handphonenya langsung mati.
Begitu sampai di samping mall xx, mereka menurunkan Laura dan segera pergi dari sana.
Laura sudah kesusahan untuk bicara karena bekas luka di bibirnya mulai mengering, kalau bergerak lagi terasa ngilu.
Dan begitu Ica datang, dia sudah melihat mamanya yang babak belur.
"kok bisa begini, mama kenapa"? tanya Ica
Laura hanya menganga karena susah bicara. Lalu setelah duduk di mobilnya yang diberikan David, Ica memberikan mamanya minum dan membersihkan wajah mamanya dan juga jari tangannya yang bengkak.
Setelah di bersihkan dan di beri salap luka, Laura sedikit lebih tenang.
"sebenarnya apa yang terjadi ma, om Hadi tahu mama kerja"? tanya Ica
"ini ulah handy, anak dari tua Bangka itu"! ujarnya masih kurang jelas tapi sudah bisa di mengerti.
"maksud mama anaknya om Hadi"? tanyanya ngga percaya bertemu lagi dengan anak mantan istri dari suami mamanya.
"hhmmmm, dia membeli rumah itu" ujar Laura
"berarti sekarang mama punya uang dong" Ica sedikit semangat kalau rumah itu sudah terjual berarti dia bisa pinjam dulu uang mamanya.
"boro - boro" ucap ibu Marlina
"terus, katanya jual rumah"
"barangku semua nggada yang bisa aku bawa, termasuk dompet"
"ya ampun"
Hai semua, jangan bosan ya
Dukung terus, like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih🙏