
Disetiap langkah ada tujuan, disetiap nafas ada kehidupan, disetiap harapan ada kepastian dan setiap doa ada jawaban.
Hari-hari Dhea lalui seperti air mengalir apa adanya. Pagi-pagi pergi sekolah, dan senjanya pergi mengaji. Entah berapa senja, atau puluh senja... , Atau bisa jadi ratusan senja, Ia lalui
tanpa pernah ia temui si tawa lebar itu.
Dhea jalani dengan ikhlas hati.
"Satu semester itu terasa lama baginya.
Hanya untuk melihat sebuah tawa.
"Haruskah aku selalu menghitung senja?
Dhea tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Ketika sebuah kerinduan itu menyiksa batin dan jiwanya. "Dia tak pernah berani cerita kepada siapapun.
Ia hanya bisa mengeluarkan amplop-amplop itu dari persembuyiannya. lalu Dhea akan membacanya lalu mengulang-ulangnya, sampai
Berkali-kali, sampai air matanya membasahi surat yang ia baca. Sampai matanya lelah dan akan tertidur bersama surat-surat yang ia baca.
"Roda sepeda Dhea terus berputar mengiringi
hari-harinya pergi sekolah. Tak sia-sia Dhea mengayuh sepedanya, Dia mampu masuk tiga besar setiap tahunnya. Ibu Dhea sangat bangga
Walaupun Dhea bukan yang pertama.
Salma sahabat yang duduk sebangku dengannya
Sudah menantinya , melihat kedatangan Dhea
Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Hari ini hari yang melelahkan, karena pulang sekolah dilanjut dengan Eskul.
Benar saja sudah masuk senja Dhea baru keluar dari gerbang sekolah.
"Okeee... Dhee hati-hati yaaa..!
Pesan Salma kepada Dhea.
Dhea melambaikan tangannya.
Tak ada cahaya matahari yang membakar kulitnya.
karena yang menemani pulang sekolah hari ini sang senja. Maka Dhea bisa dengan nyantai mengayuh sepedanya. karena badannya sudah lelah.
Saat melintas dijalan raya didepan masjid.
Suasana masjid sudah ramai. Nampak Siti dan Aminah sudah ada disana.
"Assalamualaikum... Ucap Dhea sambil mendorong masuk sepedanya.
"Walaikumsalam" jawab ibu sambil menyambut Dhea. "Tidak ke masjid dulu tidak apa-apa!
Kamukan baru nyampai pasti cape.
Kata ibu bijak,.
Ngga papa bu... ," Dhea ke masjid saja. masih keburu kok.
Dhea melangkah dengan buru dengan waktu.
Langsung menuju padasan untuk mengambil air wudhu."Kenapa hatiku merasa sakit bila ingat Dia mencipratkan air wudhu kemukaku.,??
Diam-diam Dhea merindukan masa-masa itu.
Hati Dhea berharap orangnya ada disini.
Ketika Dhea melangkah meningalkan padasan
Ia berharap ada dia yang menghentikan langkahnya, Tapi harapnya hanya sia-sia.
Akhirnya Dhea telan kecewanya.
Sholat mahgrib telah usai seperti biasa.
Seperti senja-senja yang lalu , Kajian diawali dengan absen lewat tatapan mata tajam pak ustad.Dhea masih terus berharap Dia ada.
Diam-diam pandangan mata Dhea mencari-cari
__ADS_1
Diantara teman-temannya yang nampak jelas hanya Salman. tapi ada seseorang yang terhalang badan Salman.
"Astaqfirullah... kenapa aku sibuk memikirkan Dia.? "Aku ke masjid untuk mengaji.!
Sisi lain hati Dhea segera menyadari.
Dhea tidak menyadari sepasang mata terus menatapnya, terus memperhatikan kegelisahan
Di hati gadis pendiam itu.
Dia malah tersenyum sambil berlindung dibalik badan Salman.
Senja ini tak ada setoran hafalan.
Pak ustad mengajar tentang wudhu.
Bab pertama rukun wudhu, lalu dilanjut bab hal-hal yang membatalkan wudhu.
"Tiba-tiba pak ustad memanggil nama Dhea.
Tetapi Dhea tidak mendengarnya. Karena Dia
Tidak fokus, pak ustad menggulang lagi.
"Dheee... coba rukun wudhu ada berapa,??
Dhea hanya diam , tak tahu jawabnya padahal itu
Pelajaran dikelas tujuh. kenapa aku bisa nggak tahu apa-apa... sesal hati dhea.
"Jangan-jangan hal yang membatalkan wudhu juga kamu nggak tahu..?
Nada suara pak ustad mencandai Dhea.
Gemana kamu tahu, kalau di padasan sukanya main cipratan air wudhu...!!
DEG.
Dan terdengar tawa cekikikan teman-temannya.
Pak ustad tak segalak biasanya, ada senyum dibibirnya.
"Ehemmm" Pak ustad berdehem .
Canda pak ustad menutup kajiannya.
Sang pemilik tawa lebar terus tersenyum.
Dia geli melihat Dhea di candain bapaknya.
Padahal itu kan perbuatan dirinya bukan Dhea.
Sampai Dhea melangkah keluar masjid, dia tak menyadari orang yang ia rindukan ada dekat dengannya. tapi sayang... sang pemilik tawa lebar tak bisa memanggil namanya .
karena tatapan bapaknya selalu mengawasinya.
Diapun harus merelakan Dhea pulang tanpa tahu Dia ada. sebenarnya ingin ia menyapanya.
Tapi tidak untuk senja ini.
Ia pun juga harus menelan kecewanya.
Sepanjang jalan Siti dan Aminah terus mengodanya.
" Aduhhhh yang selalu dalam tatapan.."
Dhea hanya diam .
Dia tak tahu arti candaan kedua sohibnya itu.
Okee sampai besok kata keduanya sambil melambaikan tangannya. ketika ketiganya sampai dipersimpangan.
"Assalamualaikum.." salam Dhea sambil menghampiri ibunya.
"Walaikumsalam" jawab ibu sambil mengelus kepala Dhea.
Dhea langsung berlalu ke kamarnya.
pintu kamar Dia kunci rapat-rapat. malam ini Dhea tak menyentuh buku pelajarannya.
Dia sibuk mengeluarkan album perpisahan itu.
__ADS_1
Dan ia pun mengeluarkan amplop-amplop berwarna biru itu dari persembuyiannya.
Ada apa dengan aku..??
kenapa aku selalu merindukanmu..??
Dhea menatap fofo tawa lebar itu yang sedang berdiri disampingnya.
"Mungkinkah kamu sama seperti aku.?
Yang selalu merindu..?
Dhea memulai membaca surat-surat yang Anajib kirim lewat salman.
Surat itu seperti biasa , akan dibacanya sampai berulang-ulang. kadangkala air matanya sampai membasahi surat-surat itu.
Dhea tak pernah tahu, Anajib pun merasakan hal yang sama. Tetapi dia tidak memiliki keberaniaan untuk sekedar menyapanya.
Karena tatapan mata itu juga mulai mengawasinya.
Ia berharap semoga Dhea pulang sekolahnya tidak terlambat. dengan begitu Ia ada kesempatan menyapa, atau hanya sekedar mecipratkan air wudhunya, ke muka Dhea.
Padahal dia pun sama menunggu waktu yang cukup lama, hanya untuk bermain air dipadasan
bersama Dhea.
Sunyinya malam semakin menambah sunyi yang ada diruang hati. pemilik tawa yang selalu Dhea rindukan. Seakan merasakan apa yang Dhea rasakan. ia pun tak bisa segera pejamkan matanya. Ia mengambil bukunya .
Ia mulai menulis semua tentang isi hatinya..
ia berharap Dhea tahu tiap senja ia menantinya.
Suasana subuh memang waktu paling enak untuk tidur. "Dheeee... dhe... suara ibu terdengar
membangunkan Dhea.
"Tumben ini anak... tidak seperti biasanya.
Kata ibu sambil berlalu.
Dhea segera bangun dan ambil air wudhu.
Sslesai sholat ia sempatkan mengecek jadwal pelajaran yang Semalam ia lewatkan.
"Kerinduan hatiku pada sitawa lebar, kadang membuatku lupa kadang malas untuk belajar.
"Andai aku bisa melihat mu.. "
mungkin aku tidak sesedih ini. kata Dhea dalam hatinya.
Aku berharap dalam doaku..
Semoga Allah menjawabnya, aku ingin sekali senja ini bertemu dengannya.
Dhea terus bersepeda sambil terus berdoa.
Saat dia melintas jalan raya depan masjid , ada suara berusaha menghentikan laju sepedanya.
"Haiii kamuuu ."' Teriak Dhea penuh suka cita.
Anajib sudah tertawa memamerkan barisan gigi putihnya.
" Haa ha ha.." Kamu rinduuuu yaa..?
Tanya Anajib sambil menunjuk Dhea.
Lalu keduanya tertawa.
Dan nampak dari jauh ..
Tatapan tajam itu sedang mengawasi mereka.
***
Sekian dulu kk
bila ingin tahu kekanjutannya.
tunggu epesode berikutnya...!!
Terimakasih..🙏
__ADS_1
Bila berkenan jejakkan like beserta Votenya.🥰🥰🥰