
Ingin rasa hati selalu dekat dengan orang yang kita sayangi. Tapi apa daya menuntut ilmu itu yang lebih utama.
Pemuda itu pamit pada bapak dan ibunya.
"Lhoo mas kenapa bibirmu.?
Tanya sang ibu.
Ya ibu memanggil Anajib dengan sebutan mas, karena membahasakannya.
Memang seperti itu kalau di kota kecil.
Karena Anajib terlahir dari keluarga yang di tuakan atau paling di segani karena pengetahuan ilmu agamanya lebih dari masyarakat lainnya.
Selain itu keluarganya masih memiliki keturunan
"Priyayi." Atau darah biru.
"Anajib tidak menyadari kondisi bibirnya sangat
memar."
Sang ibu berusaha memeriksa keadaan bibir sang putra.
Tapi pemuda itu segera masuk dalam mobil.
Sambil menghindar.
Tidak papa buu.
"Cuma kegigit..!
katanya dari dalam mobil, Dan pak sopirpun membungkukkan badannya, lalu Pak ustad beserta istri melambaikan tangannya.
Sebenarnya masih terlalu pagi.
ketika mobil merah itu melaju meninggalkan
Kota kelahiran sang pemuda.
Untuk menuju pondok pesantren tempat Ia menimba ilmu agama.
"Sekarang mah pulangnya seminggu sekali ya mas.?
Pak sopir membuka obrolannya.
"Ya sebenarnya pulang itu tergantung pak"
Setiap pondok memiliki kebijaksanaan beda-beda."
Ada yang Seminggu sekali, ada yang sebulan sekali. " Ada yang tidak mau pulang sama sekali kata pemuda itu. "kok aneh yaa mas..,
Saking krasannya kali yaa mas??
tanya pak sopir Heran Dia.
__ADS_1
"Yaaa karena dia tidak punya keluarga!!
Jadi selalu di pondok.
Yaa sambil bantu-bantu kyai..!!
"Ooo..." kata sopir itu.
"Lalu mas Anajib, kalau mondok itu butuh berapa
lama??
Kata pak sopir.
Begitu ingin tahunya.
Berapa lamanya di pondok, itu juga setiap pondok satu dan yang lain berbeda pak,
Tergantung kurikulum atau kebijakan pondok itu sendiri.
"Kalau tempat ku mondok, Yaa sampai santri itu
Menguasai semua ilmu yang di uji dalam ujian.
Dan butuh berapa lamanya..???
Tergantung kemampuan santri menuntaskan
Belajarnya"
Ada yang butuh waktu hanya enam tahun.
Hingga ada yang butuh waktu dua belas tahun.
Intinya kembali lagi kemampuan santri itu sendiri .
"Ooooo... "
Dari tadi supir pak ustad itu menyimak putra majikannya menerangkan sampai detail pertanyaannya.
"Memang anak bapak mo mondok??
Tanya pemuda itu dengan santun pada sopirnya.
"Heehee.." Nggaak sich mas cuma ingin tahu saja
Jawabnya sambil tertawa.
Dan obrolan yang panjang itu akhirnya di hentikan, karena mobil merah itu sudah memasuki gerbang pondok.
Setelah mengucapkan terimakasih pada sopirnya
Pemuda itu turun dari mobil.
Dan melangkah menapaki lorong bangunan menuju kobongnya.
__ADS_1
Di kamar sudah menanti Ahmad teman sekamarnya. Di kobong.
Dan kedatangannya di sambut Istigfar dari mulut
Ahmad.
"Astagfirullah..., bibir Antum kenapa..?
Anajib hanya nyengir dan menonjok pelan tangan Ahmad." Tergigit jawabnya jujur.".
"Dhea giginya tajam juga"
Kata hati Anajib sambil meraba bibirnya yang bengkak dan terlihat memar.
Terlihat Anajib tersenyum sendiri.
***
Di kota dan kamar yang berbeda pemuda yang memiliki segalanya itu selalu menatap Photo Dhea yang sengaja Ia pasang sebagai "Wallpaper" HP nya.
"Dhee..
Setiap hari bisa memandang mu di kelas.
Itu sudah bahagia hati ku.
"Dan yang paling membuat ku bahagia ketika melihat mu teriak ketakutan Dan kamu dengan erat akan memelukku."
Lalu Amir tersenyum nakal.
Sebenarnya hatinya tulus cuma , Dia suka memanfaatkan keadaan.
"Duch dhe...
kapan kamu akan paham sinyal-sinyal yang ku berikan pada mu.
Yaaa... memang butuh waktu untuk memilikimu.
***
Dhea pergi sekolah selalu berangkat lebih awal
kata ibu jangan selalu berangkat dengan Amir.
Nggak enak selalu merepotkan , Selain itu..
Juga tidak enak dengan pandangan tetangga.
Dhea melangkah dengan pasti.
walaupun tangannya sambil menjinjing dagangannya.
Setelah menunggu mobil angkot yang di tunggupun lewat juga.
Dhea segera naik , Dan angkot pun menggantarnya untuk menuntut " ILMU"
__ADS_1
***
NEXT