
Mobil avanza berwarna merah itu nampak menepi perlahan,di halaman luas rumah joglo yang berdiri
kokoh dengan ciri penuh ukiran kayu jati.
Dari penampakan gaya bangunan semua orang di kota kecil sudah paham keluarga pemilik rumah itu adalah keluarga 'priyayi' atau bukan orang sembarangan.
Menandakan mereka adalah keturunan darah biru.
Yang semua orang menghormati,namun keluarga itu merasa derajat ningratnya sudah terkoyak
dengan pernikahan Anajib dan Dhea.
Tak lama tubuh tinggi itu melangkah keluar dari mobil itu. Dan nampak ia membukakan pintu mobil
untuk seorang yang turun dari mobil itu sambil mengendong bayi.
Karena proses persalinan Dhea normal.
Jadi ia tak butuh waktu lama nginep ditempat praktek bidan,hanya butuh waktu semalam dan paginya Dhea dan bayinya sudah diijinkan pulang.
Kemudian nampak keduanya berjalan beriringan.
Pemilik tubuh tinggi itu menjinjing tas sambil sesekali memeluk pundak istrinya.
Dari teras pemilik tatapan tajam itu,selalu mengawasi setiap langkah keduanya.
Selangkah lagi mereka mendekat dan mengucapkan salam,lalu Anajib maupun Dhea mencium punggung tangan beliau.
Syifa dan eyang putrinya menyambut dengan gembira. Walaupun Dhea bukanlah harapan. Toh naluri hati seorang ibu tak bisa di bohongi,beliau terlihat bahagia.
"Abi,dede bayinya udah lahir,yaa?"
Syifa dengan polosnya bertanya pada abinya yang
melangkah menuju kamar bersama uminya dengan mengendong dede bayi.
Abi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dan sang ibu minta ijin ikut masuk kedalam kamar
Anajib dan Dhea. Tanpa Dhea duga beliau minta untuk memangku bayi mereka.
Dhea duduk ditepi ranjangnya,dengan menylonjorkan kakinya. Syifa nampak bahagia mendekat sang eyang yang memangku dede bayinya. Ibu nampak diam beliau hanya menatap bayi merah yang dalam pangkuannya.
Sebenarnya hati ibu bergetar,ketika wajah anak kedua Anajib itu bagaikan pinang dibelah dua dengan putra kebanggaannya.
Tiba-tiba deheman itu mengagetkan semuanya.
"Ehemm"
Dan langkah beliau hanya tertahan di pintu kamar.
"Mas kamu nggak ke pondok?"
Tanya beliau pada Anajib,yang belum bersiap-siap.
"Anajib ambil cuti pak."
Jawab Anajib pada sang bapak.
Lalu beliau menatap Syifa sang cucu.
Walaupun pernikahan mereka bukan pernikahan yang diharapkan toh Syifa sudah terlanjur dekat dengan beliau.
"Ayo Syifa bersiap,kamu harus berangkat sekolah."
Kali ini beliau menegur sang cucu.
Namun Syifa hanya diam tak mau jauh dari dede bayinya.
Beliau mulai menatap pada istrinya.
"Bu bujuk Syifa untuk sekolah!"
Perintah beliau tak bisa di tolak.
__ADS_1
Perlahan ibu menidurkan bayi itu.
Dan mengajak Syifa untuk bersiap,tapi bukannya nurut kali ini ia malah menangis.
"Aku nggak mo sekolah,aku sekolahnya cuti aja,
abi dan umi juga cuti."
Kata Syifa diantara tangisnya.
Anajib yang sibuk dengan cucian,kini melangkah
mendekat pada Syifa.
"Sayang,kalau abi cuti karena umi masih belum bisa mencuci baju Syifa,baju dede,baju abi,dan kalau umi cuti karena kalau dedenya nangis minta minum susu kan umi yang harus beri dede minum susu."
Anajib butuh waktu,dan penjelasan yang panjang
untuk membujuk Syifa untuk berangkat sekolah.
Dan akhirnya Syifapun nurut juga.
Syifa berangkat ke sekolah diantar sang eyang putri. Rumah terasa sepi ketika sang ustadz pun
berangkat untuk ngantor.
Kini tinggal Anajib dan Dhea dalam rumah besar itu.
Entah siapa yang mulai pembicaraan,tiba-tiba Dhea minta persetujuan Anajib.
untuk tinggal misah dengan orang tua beliau.
"Umi jangan sekarang,abi takut bapak akan tambah marah,nanti bikin masalah baru!"
Jawabnya.
"Tapi aku serba salah hidup dalam pengawasan!"
Jawab Dhea dengan suara parau.
Ia biarkan Dhea sendiri di kamar,kalau suara istrinya mulai parau tanda-tanda tangisnya pecah
dan ujung-ujungnya rasa cemburu pada Ashofa mulai ia tumpahkan padanya.
Rasa cemburunya Dhea pada Ashofa bukan tidak
beralasan,suaminya tiap hari ngajar di pondok
dan Ashofa adalah wanita harapan kedua orang tuanya. Bisa saja abi memiliki rasa karena hari-hari abi bersamanya.Itu kata-kata Dhea pada suaminya kalau rasa cemburu menguasainya.
Hari-hari seorang Anajib semakin terlihat sibuk.
Kehidupan rumah tangganya,sebenarnya sudah terlihat lengkap dengan kelahiran putra keduanya.
Namun yang jadi kendala kebahagian mereka adalah sebuah harapan sang bapak yang ingin menjaga kasta. Bagi beliau kewajiban beliaulah
untuk meneruskan silsilah ningratnya.
Tak ada yang dikorbankan,kalau saja Anajib
setuju menikah dengan Ashofa. Pernikahannya
dengan Ashofa bukanlah sebuah dosa.
Dalam agama boleh dan sah,karena menurutnya
Anajib mampu dan bisa berbuat adil.
Selesai sudah tugas beliau melaksanakan kewajibannya. Tapi sayang tidak semudah itu,bagi Anajib tidak akan ada pernikahan lagi baginya cukup Dhea pendamping hidupnya.
Dhea memang bukan terlahir dari keluarga 'priyayi' tapi Dhea memiliki cinta yang tulus begitu juga dengan Anajib. Keduanya memiliki ikatan hati yang kuat,dari masa mengaji bersama masa kecil yang selalu bersama walau dari keluarga yang berbeda kasta.
Kini senja mulai menyapa,Anajib nampak sibuk menyiapkan keperluan Syifa anak pertamanya itu
minta mukena,dan peralatan ngajinya.
__ADS_1
Melihat suaminya yang nampak kerepotan Dhea akhirnya turun tangan juga.
Setelah sang umi memberikan mukena dan peralatan ngajinya,Syifa segera bergegas pergi ke masjid bersama kedua eyangnya.
Semua bertolak ke masjid untuk menunaikan solat maghrib berjamaah.
Kini tinggal Dhea sendiri bersama bayinya yang dalam pangkuannya.
Dhea mencoba menyimpan semua nestapa.
Dhea coba kubur duka lara dalam hatinya.
Tapi perih tak bisa ia sembunyikan.
Air matanya satu persatu jatuh membasahi pipinya betapa sakit ia rasa,ketika semakin ia sadar kalau dia bukan harapan kedua orang tua suaminya.
Kini tangis itu tak mampu Dhea tahan.
Di peluknya bayinya.
Tiba-tiba lengan yang kokoh itu merengkuhnya.
"Menangislah kalau tangismu mampu mengurangi lukamu."
Suara Anajib menenangkan hatinya.
"Abi akan selalu menjagamu dan anak-anak kita."
Anajib terus menguatkan hati Dhea.
Dan keduanya membelai bayi laki-laki mereka yang sedang terlelap dalam pangkuan Dhea.
Kehidupan memang tak ada yang sempurna.
Begitu juga nasib seseorang pastilah berbeda-beda,ada yang beruntung terlahir dari keluarga si kaya dan ada yang harus menerima terlahir dari keluarga sederhana.
Ada yang terlahir dari kalangan bangsawan dan ada yang harus rela terlahir dari rakyat biasa.
Begitu juga kisah antara Anajib dan Dhea.
Tak ada yang salah dalam cinta mereka,karena cinta tak pandang kasta.
Ego orang tua jadi penghalang kebahagiaan keduanya. Anak-anak yang terlahir dari rahim seorang Dhea,mereka tak pernah tau begitu rumitnya perjalanan kedua orang tuanya.
"Cukup umi yang merasakan semuanya,
tidak dengan kalian,bisik Dhea dalam hatinya."
Ketika suara Syifa terdengar pulang dari masjid bersama kedua eyangnya.
Dhea tetap tersenyum dihadapan semua.
Ketika para tetangga,dan sanak saudara dari keluarga sang ustadz berkunjung untuk memberi ucapan selamat atas kelahiran anak keduanya.
Begitu Dhea,selalu pandai menyembunyikan luka hatinya.
***
Di tempat berbeda ada sekeping hati yang merasakan sebuah kerinduannya.
Amir duduk termenung di dalam kamarnya yang sangat luas,ia nampak memandangi foto seorang wanita.
"Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan,lebih baik cinta itu tak perlu hadir."
Bisik hati Amir,yang begitu merindukan seorang Dhea.
Dhea tak pernah salah,karena aku bukanlah seseorang yang Dhea harapkan.
Semua yang kita harapkan kadang tak pernah jadi kenyataan,tapi tidak ada salahnya kita terus berdoa agar Tuhan bisa ubah takdir yang sudah Tuhan tuliskan.
Amir terus berharap dalam doa..
🌺Sampai jumpa di episode selanjutnya..🌺
"Mohon maaf ya kakak semua.., Upnya telat."🙏
__ADS_1
Dan terimakasih atas dukungannya.🙏🙏