
Bukan pada sahabat, bukan pula kepada ibunya.
Aku pilih senja dan pena. Untuk mencurahkan
Perasaan rinduku pada mu.
Hanya lewat doa-doaku sebagai penguat hatiku.
Hari-hari aku berharap dan selalu terus berharap. tapi hanya kecewa yang selalu ku temui.
Aku isi hari-hari dengan pergi sekolah.
Dan pergi mengaji.
Seperti dulu ketika kamu belum melanjutkan
Study mu ke pondok.
Hari ini sangat padat.
Biasanya ada saja kelas kosong.
Tetapi tidak dengan hari ini.
Hari ini semua kelas Full.
Dilanjut lagi dengan kegiatan Eskul.
Sangat melelahkan.
Hari sudah mulai senja, ketika Dhea dan Salma melangkah keluar dari gerbang sekolah.
"Aduhhhhh... laparnya perutku."
Kata Salma sambil memegang perutnya.
Dan terus melangkah disamping Dhea , yang menuntun sepedanya.
"Tenang Salma."Sebentar lagi nanti kamu bisa
bebas makan sepuasmu di rumah.
Kata Dhea menenangkan hati Salma.
"Aku kalau sudah sampai rumah, rasa laparku
hilang seketika. "kata Salma sambil tertawa.
"Okee sampai besok yaaa."
Dhea melambaikan tangannya.
Dhea pun mulai menggoes sepedanya.
Salma membalas lambaian tangan Dhea.
Dan merekapun berpisah.
Dengan santai Dhea menggoes sepedanya.
Aku lelah, biarlah aku pergi ke masjidnya terlambat juga.
Tak apa aku tertinggal oleh
Teman yang lain. Bisik hati Dhea pasrah.
Sambil terus menggoes sepedanya.
Betul juga halaman masjid sudah nampak ramai.
"Heeii mobil itu..?
Kenapa terparkir disana ?
Dhea bertanya-tanya, namun Dhea terus berlalu.
Badannya sudah lelah menghadapi pembelajaran hari ini.
Ia malas-malasan menuju kamarnya.
Ingin rasanya Dhea rebahkan badanya.
Tapi dia memilih mandi, supaya tak semakin
Terlambat pergi mengajinya.
Dhea melangkah keluar kamarnya untuk pamit
pada ibunya. "ibu selalu berkata bijak padanya
Kalau lelah, Sudahlah tidak mengaji juga tak apa.
Dhea hanya diam dan mengganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum..," salamnya.
"Walaikumsalam.." jawab ibunya.
Suara adzan sudah berkumandang.
Dhea tetap berjalan pelan. Saat ini Ia tak mau berburu dengan waktu.
Langsung padasan yang ia tuju.
Aku tak mau berharap lagi, ada yang menahan
Langkahku. Aku sudah bosan kecewa.
Aku tak ingin lagi mencari mu.
Seperti senja-senja yang lalu.
Mataku sudah lelah selalu mencari mu.
Tetapi harapku selalu sia-sia, karena aku tak pernah dapati diri mu.
Dhea terus melangkah dengan kecewanya.
Tapi aku sudah mulai terbiasa menelan kekecewaan di setiap senja.
Senja ini jadwal untuk menyetor hafalan surat.
QS. Arrahman.
"Duchhh.. Kenapa aku selalu jadi korban yang pertama dalam hal setor hafalan."
Keluh hati Dhea.
"Ayooo.. kenapa Diam?
__ADS_1
Suara itu, Bukan suara yang biasanya penuh wibawa. "Suara ituu..??
Dhea angkat kepalanya yang sedari tadi hanya tertunduk, maksud hati menghindari tatapan tajam yang mengabsennya.
Dia baru sadar tidak ada pak ustad?
Kemana pak ustad?
"Lalu... sejak kapan ada dia.?
"KAMU..?
Spontan Dhea berteriak antara senang dan kaget. Dan seketika majlis ilmu itu penuh dengan
tawa teman-temannya.
"Hupp ."Dhea langsung menutup mulutnya.
"Hadeuhhh.."
Kenapa dia begitu tenang menatapku.?
Apa itu bagian ilmu yang dia dapat dari pesantren.
Sedangkan diriku, ada apa dengan hatiku?
Aku malah ingin menghilang dari semua mata yang memandangku. tatapan semua temannya
semua tertuju padanya.
"Coba aku punya kantong ajaibnya doraemon."
Dah ku keluarkan alat menghilang dari pandangan.
"Kenapa diam."
Suara itu menggulang kalimatnya, untuk ke dua
kalinya.
"Ichhhhhh..." Ini orang tidak pernah peka sama aku.! Nggak tahu apa ya.
Bagaimana rasa maluku ?
Begitu sulitnya aku saat ini, untuk menata gejolak hatiku. Uuhhhh detak jantung ku
semakin berpacu.
Awas yaaa kamu bisik hati Dhea kesel dengan
Si tawa lebar.
"kenapa..?? Kamu belum hafal??
Suara itu sengaja mempermalukan Dhea.
Duchhh kenapa ayat-ayat itu hilang dari memori
Ku. " Kemana hafalanku?
keluh Dhea penuh sesal.
Kenapa tatapannya membuat fokusku sirna seketika.
Lihat dia malah tertawa tanpa dosa.
Tawanya malah penuh kemenangan.
Suara itu meminta Salman untuk moraja'ah.
Salman begitu lancar tanpa kendala.
Tak ada yang terlewat satu ayat pun.
"Latif jiddaan"!!
Suara itu memuji Salman.
Tapi tatapan matanya ke arah Dhea.
"Hebat Salman puji Dhea dalam hati."
"Duch tahu Sengenessss ini.!
Nyesel aku bela-belain berangkat ke masjid.
Sesal Dhea dalam hati.
"Biarin tidak melihatnya juga."
Bukankah aku sudah terbiasa selalu kecewa
Tidak berjumpa dengannya.
Tapi kenapa dia ada??
Dhea terus berperang dengan hatinya.
Suara adzan Isya mengakhiri.
Muraja'ah mereka.
"Huuhhhhhh."Dhea hempaskan semua rasa.
Akhirnya Ia bernafas lega.
Siti dan Aminah menariknya ke padasan.
Dhea akhirnya melangkah bersama kedua sohibnya. sudah jadi kejahilan teman-temanya.
Giliran Dhea yang mengambil air wudhu mereka
akan meninggalkannya.
"uch JAHATNYA mereka."
Benar-benar tak berakhlak.
Teriak hati Dhea. kesel dengan kelakuan teman-temanya.
Salman dan tawa lebar melangkah kepadasan.
Buru-buru Dhea berlalu.
Tapi, hup tangan itu menahannya.
"Haiii... kamu !
Teriak Dhea.
__ADS_1
Dan berusaha menarik tangannya, Dari pegangannya.
Salman berlalu sambil tertawa meninggalkan mereka.
"Kamu tahu nggak ?
"I MISS U ...
Tawa lebar tanpa malu menyatakan rindu ?
Duchhh ini nyata?
Atau mimpikah aku?
Ihh apaan sih kata Dhea marah.
Dia malah menarik tangan Dhea .
"Apaan sichh ?
Berisik.!
Ayoooo Wudhu katanya.
Sambil terus tertawa.
Ichhhhh... Gara-gara kamu.
Aku harus ulang wudhuku, kata Dhea.
"Ha haaa.." Tapi kamu sukakan?? katanya.
Dhea berwudhu lagi.
Lihat kenapa Dia masih disitu?
Dhea melangkah tanpa menghiraukannya lagj.
Tapi suara itu menghentikannya.
"Dheee..." Tumben itu orang tahu namaku.
Biasanya Dia cuma bilang kamu !
"He Heee.." sama seperti diriku padanya."
Ketika Dhea menghentikan langkahnya.
Lihat perbuatannya.. Dia mecipratkan air wudhu yang membasahi wajahnya.
"Nichhh buat mu katanya sambil tertawa dan terus berlalu.
Dhea hanya menghela nafas menghadapi kejailannya. Aneh kenapa aku selalu memaafkannya.
Sholat isya segera dimulai.
Tapi pak ustad tak nampak pula .
Kak wandi juga nggak ada.??
Nampak tawa lebar melangkah maju ketempaf
Imam. Suaranya begitu merdu membaca surat-surat dalam bacaan sholat.
Bacaannya tartil.
"Hemm hatiku semakin tengelam dalam doa."
***
Siti terus ngomel-ngomel ...
Aminah sudah bosan dengan ulah anak laki-laki
yang suka banget memindahkan sendal-sendal mereka. Aminah pilih diam.
Dhea serba salah walaupun Dia hanya menatapnya dari kejauhan..
Tapi itu sudah membuatnya spot jantung.
Hatinya terus bergetar tak karuan.
"Ayoo lah kita pulang.." Dhea tak mampu selalu
Dalam pandangannya. kalau pandangannya
Mengetarkan hatinya.
"Ngga papa Dhee..
Kami rela menemanimu.
Menggobati rindu ..!!
Kata Aminah seakan dia paham apa yang sahabatnya rasakan.
Apaan Sichhh ?
Ayo pulang.! Dhea menarik tangan Aminah dan Siti, kita pulang tanpa sendal protes Siti.
Dari kejauhan tawa lebar, Salman dan teman-temannya tertawa penuh kemenangan.
Awasssss yaaa kalian, besok aku laporin pak ustad. Teriak Siti kesal.
"Ha Haaaa.." Mang beraniii..?? kata mereka kompakan.
Akhirnya Dhea dan kedua sohibnya harus rela pulang tanpa alas kaki.
Parahhhh.!!
candaan mereka.
kita harus lapor pak ustad. Siti ngoceh panjang lebar. Aminah cuma ngakak geli.
Dhea sendiri sibuk dengan suasana hatinya.
Sampai mereka terpisah.
"Dhea terus pegangi tangannya.
Yang dipegang Anajib.
Dia terus tersenyum.
Sebelumnya Ia panjatkan doa.
Dia sangat bersyukur atas pertemuaannya denganya.
Sampai di sini dulu kakak.
__ADS_1
Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya Yaa 😉
Terimakasih yang sudah mampir🙏