
Satu pekan sudah, Dhea menghilang dari pandangan.
Senja demi senja Anajib selalu menelan kecewanya.
"Padasan itu kini tak ada lagi canda tawa."
Anajib benar-benar sangat kehilangan Dhea.
Dia kini tak bisa menumpahkan rindunya.
Mungkin hanya padasan yang mampu memahami gejolak kerinduannya yang begitu
menyiksa hatinya.
"Aneh saja... "
Semua teman yang sama-sama ngaji bersamanya , Tak satupun yang tahu keberadaan
Dhea.
Seperti senja-senja yang telah Anajib lalu bersama Dhea.
Senja ini masih sama..
Ada Salman, kak wandi ,dan dua sohib mu
Siti dan Aminah juga yang lainnya.
Yang tak mungkin aku absen satu persatu.
Yang membedakan senja saat ini..
Aku tak bisa menatapmu, tak bisa mencipratkan
air wudhuku, Apa lagi memeluk muu...!
Sepulang dari kajian dan sholat jamaah di masjid
Anajib menuju kamarnya.
Pak ustad sebenarnya tahu banyak perubahan
pada anak laki-lakknya.
Pak ustad tak ingin anaknya terbuai cinta yang Memabukkan.
Dengan sengaja pak ustad menjauhkan Dhea dari anaknya.
Hanya pak ustad yang tahu tujuannya.
Dan Beliau memilih melihat anaknya menderita
Karena kehilangan Dhea.
Dari pada melihat Anajib dengan kenakalannya berduaan di padasaan bersama Dhea.
"Anajib maupun Dhea tak pernah menyadari
Ada seseorang kepercayaan pak ustad yang selalu mengawasi gerak gerik keduanya.
Sebenarnya hal yang wajar bagi sepasang remaja
Yang di mabuk cinta.
Tetapi tidak sederhana itu bagi pak ustad.
Beliau yang jadi tolak ukurnya adalah adab.
__ADS_1
Cara menjalankan kehidupan pun.
Harus sesuai tuntunan , harus melihat halal
Haramnya hubungan.
Harus selalu sadar batasan, batasan mana
Yang halal dan mana yang haram.
Dengan semua pertimbangan.
Sang ustad pun tak pedulikan perasaan anaknya
Dengan tegas Beliau tunjukkan melalui sikapnya
Dengan cara memisahkan ke duanya.
"Sayang Anajib mau pun Dhea tak pernah menyadari perpisahan mereka adalah sudah Menjadi sebuah rencana ustad yang tak lain Bapak Anajib sendiri.
***
"Di kamar yang berbeda."
Amir pemuda yang mencinta Dhea dengan ketulusannya.
Masih setia menunggu jawaban darj Dhea.
Amir mengira Dhea belum sempat menjawab
Ungkapan hatinya.
"Akhirnya Amir berinisiatif untuk " Chat Dhea".
Dhe...
Kita belum pernah berjumpa.
Dhe..
Jujur aku merindukan saat-saat bersama kita.
pulang sekolah selalu bersama.
Dhe...
Tanpamu aku merasa sepi.
Mungkin ini terlihat kekanak-kanakan.
Tapiii...
Begitulah adanya.
Dhe..
ku harap kamu tidak melupakanku.
**
Amir berharap Dhea membaca chatnya.
Dan Amir pun menyimpan HP nya.
Dia harus bersiap menyiapkan semuanya.
Untuk menghadapi hari pertama "OSPEK" nya.
__ADS_1
Amir di terima di sebuah PTN di Jogja.
Sebenarnya harapan Amir tak jauh berbeda dengan harapan dan doa Anajib.
"Berharap satu kampus dengan Dhea."
Beruntungnya Dhea di sayangi dan di cintai
Kedua sahabatnya.
Satu sahabat dari masa kecilnya.
Yang satu sahabat kala SMA.
"Tetapi sayanggggg.... Keadaan tak berpihak
padanya."
Amir maupun Anajib tak pernah menyadari Orang yang mereka rindu dan cinta kini
Berada jauh dari mereka.
***
Pagi yang cerah di kampus UPI.
"Hari ini hari pertama Dhea menjalani OSPEK
Nya. "Dhea melangkah dengan pasti dengan setelan baju kemeja putih dan rok hitamnya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit Dhea
berjalan kaki dari tempat kostnya.
Menuju kampusnya.
Dhea memasuki kelas dengan arahan kakak tingkatnya.
Mereka nampak ramah menyambutnya.
Semua duduk di bangkunya masing-masing.
Hari pertama masih masa perkenalan.
Semua mahasiswa maupun mahasiswi mendapat
Giliran untuk memperkenalkan dirinya.
untuk hari pertamanya Dhea lalui dengan
Hati gembira , karena OSPEK nya tak seseram
Yang Dia bayangkan sebelumnya.
Tak terasa waktu pulang tiba.
Dan Dhea pun pulang ke tempat kostnya.
walau badan terasa lelah tapi hatinya terasa Senang.
Dhea sudah ada bayangan teman-teman barunya.
Setelah sepuluh menit berjalan kaki.
Dhea sudah kembali lagi ke kamar kostnya.
***
__ADS_1