Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 71 Sad Or Happy Whatever It Is


__ADS_3

"Allah Adalah Sebaik-baik Penolong Dan Pelindung."


Dhea sudah pasrah hukuman apapun yang akan ustad beri. Entah sampai kapan status pernikahannya akan Anajib sembunyikan.


Dhea hanyalah seorang istri, biarlah imamnya yang akan menyampaikan pada sang ustad.


Apapun kenyataan yang akan terjadi.


Entah esok atau nanti atau kapanpun bila waktunya tiba sang ustad mengetahuinya.


Entahlah bagaimana endingnya.


Semua kisahnya sudah Tuhan gariskan.


Dhea semakin khusyuk membaca setiap ayat-ayat Tuhan. Ia pasrahkan pada kuasanya tentang semua kisahnya dan semoga suaminya selamat dalam menembus gelapnya malam untuk memenuhi panggilan sang bapak.


Malam sudah menunjukkan pukul 21.00


Tetapi kedua orang tua itu masih gelisah menanti kedatangan seseorang.


Di gelapnya malam motor itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai ke rumah supaya tak ada kecurigaan dari kedua orang tuanya. Dan akhirnya setelah melalui perjalanan panjang.


Tepat pukul 23.30 motorpun menepi pelan.


Perlahan ia turun dari motor.


Hati-hati tangannya mengetuk pintu.


Tok Tok Tok.


"Assalamualaikum."


"Buuu.."


Hening malam, tak ada sahutan salam atau pun


suara ibu.


Di ketuknya lagi pintu itu agak keras, berharap bapak atau ibu mendengar panggilannya.


Tok Tok Tok..


"Buuu...


"Ehemmmm, suara deheman itu.?"


"Kenapa harus bapak yang membuka pintu.?"


Anajib kini berdiskusi dengan hatinya.


CEKREKKKK.


Pintupun di buka.


Terlihat jelas wajah wibawa itu menanti dirinya.


Berusaha tenang.


Sambil mendorong motornya.


Lalu membuka helmnya, dan salim pada beliau.


Hendak berlalu tanpa dosa, sambil menjinjing helmnya. "Tunggu !"


Suara itu menahan langkah Anajib yang hendak melangkah ke kamarnya.

__ADS_1


"DUDUK.!" Perintahnya.


Anajibpun duduk sambil menata hatinya.


"Dari mana mas?"


Suara itu pelan tapi menyelidik.


"Teman pak."


Jawabnya sembari melepas jaketnya.


Mata itu terlihat melotot.


Dan kini beliau mendekat, tanganya memegang dagu yang sedikit berjengot.


Dada Anajib berdetak tak karuan.


Ketika tangan itu mengangkat dagunya.


"INI APA MAKSUDNYA MAAS.?"


Suara itu pelan tapi terdengar galak.


Anajib hanya diam tak menjawab.


Sang bapak melihat jam di pergelangan tangannya. "Istirahatlah.!"


"Besok bapak minta jawaban apa saja yang sudah kamu perbuat di luaran sana.?"


Bapak jadi ingin buru-buru mengirimmu ke Mesir.


Lalu beliau berlalu pergi.


Ia langsung membuka pintunya.


CEKREK.


Segera disimpan helm dan jaketnya.


Dan ditutup kembali pintunya.


"Ditelitinya dibawah dagunya ada apa.?"


Didepan kaca terpangpang jelas dan nyata.


Wajah ganteng itu kaget dan melotot seperti reaksi bapak tadi. Dhea sudah pandai mengukir tanda kepemilikan di seluruh lehernya.


"Kenapa aku tak menyadarinya.?"


"ASTAGFIRULAH.."


Kenapa aku melepas jaket di depan beliau.


Payah gara-gara kutu buku menghukumku.


Kaos oblong ini yang kudapat.


Kini ia memilih meluruskan pinggangnya.


Badannya terasa lelah membuat Anajib cepat tertidur.


Di kamar yang berbeda Dhea masih gelisah memikirkan ibunya yang sakit.


Dan Dhea harus rela semakin jauh terpisah dengan

__ADS_1


ibu karena kini ibunya tinggal bersama kakaknya


di Surabaya.


Dhea semakin sendiri.


Tetapi Dhea berusaha tegar dan sabar jalani hari-hari semua Dhea lakukan seperti yang suaminya pesankan.


Dan semua demi buah hatinya.


Kini Dhea mengelus perutnya yang semakin membesar dan masyaAllah ia sudah mulai bergetar pelan.


Dhea berusaha terpejam dan terus memeluk perutnya penuh sayang ia mulai ngobrol dengan buah hati yang berada di rahimnya.


"Sayang sehat selalu ya nak.!"


"Umi akan selalu menjagamu sayang.."


Dan Dheapun akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Malam-malamnya berteman sunyi dan gelapnya


malam.


Keyakinannya kuat akan pertolongan Tuhan.


Cintanya yang tulus akan membuatnya setia dalam penantian.


Jarak yang terbentang menjadikan jurang pemisah antara ia dan belahan jiwanya.


Dhea selalu yakin akan janji Tuhan.


Ia selalu bersabar menjalani hari-harinya dengan iman. Percaya akan ada kebahagian di ujung sana


setelah perjuangan.


Dan begitu cepatnya waktu berputar.


Adzan Subuh mengumandang.


Terdengar jelas dari menara masjid pondok.


Yang berada di sebrang jalan.


Dheapun terbangun angannya terkenang sang imam. "Mas ingin aku selalu bersamamu."


Tapi aku akan sabar menantimu kembali ke sini.


Bisik Dhea dan perlahan bangun menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Tak lama pintu kamarpun di ketuk.


Tok Tok Tok.


"Ayo mba Dhea."


Suara bu Euis masih setia menunggu Dhea.


Untuk pergi sholat subuh berjamaah di masjid pondok.


Dan keduanya melangkah ke masjid bersama-sama.


Di dalam sujudnya Dhea selipkan doa, semoga apapun yang akan Dhea terima dan hadapi akan menjadi indah pada waktunya.


Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2