Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 106 Sebuah Setia


__ADS_3

Indahnya lembayung terganti dengan pekatnya malam. Mulai saat ini malam-malam Dhea akan selalu berwarna terbingkai bahagia.


Belahan jiwa tepati janjinya bagai sang senja yang selalu setia menghias cakrawala.


Dhea melangkah masuk ke dalam rumah joglo yang sangat luas itu.


Langkah Syifa tertahan bersama eyang putri yang memanggilnya.


Sang abi meninggalkannya,dan memilih menyusul


langkah umi Syifa menuju kamarnya.


Anajib merasa kasihan melihat kondisi Dhea yang sedang hamil besar itu sepertinya semakin sulit bergerak.Setibanya di kamar Dhea segera menuju


kamar mandinya,untuk mandi.


Tiba-tiba tubuh tinggi itu menerobos duluan tanpa dosa. "Mas bojo,jangan mulai dehhh!"


Teriak Dhea gemes dengan sikap suaminya.


Anajib malah cengengesan merasa suka dengan


omelan Dhea.


"Maaf sayang sengaja!"


Kata Anajib.


"Tapi janji ya,jangan minta yang aneh-aneh!"


Jawab Dhea,dan membiarkan suaminya mandi bersamanya. Benar juga Anajib menepati janjinya.


Selesai mandi Anajib dan Dhea mengenakan


bajunya. Dan lanjut melaksanakan solat magrib berjamaah.


Malam ini seperti malam-malam biasanya.


Sehabis solat isya Dhea sibuk menyiapkan makan malam,suasana meja makan tak ada tegur sapa.


Dan tatapan itu Dhea semakin tajam menatapnya.


Hanya Syifa yang berani mendekat dan mengajak ngobrol dengannya. Tiba-tiba suara Syifa bertanya,


"eyang kapan sich dede bayi aku lahir?"


Tanya Syifa pada eyangnya.


Semua diam Anajib maupun Dhea hanya menyimak dan melanjutkan suapannya.


"Nanti sayang kalau sudah saatnya lahir!"


Jawab beliau sambil berlalu meninggalkan meja makan. Disertai tatapan tajam itu sepintas menatap kearah pasangan yang sedang makan.


Ada rasa tak nyaman hinggap di hati seorang Dhea. Namun ia berusaha sembunyikan.


Sehabis makan Dhea merapikan meja makan.


Dan lanjut mencuci piring kotor bekas makan keluarga.


Ketika langkah itu menuju kamar,nampak Anajib


sedang menghadap beliau,namun sayang Dhea tak mendengar obrolan antara anak dan bapak itu.


Dhea terus membawa langkahnya ke kamarnya.


Setibanya di kamar Ia langsung menyelonjorkan kedua kakinya. Usia kandungannya masuk bulan kesembilan jadi tinggal menunggu hitungan hari.


Rencana esok hari ia akan mengajukan cuti untuk


melahirkan.


Terdengar suara Syifa rewel bidadari kecilnya protes kapan abi akan antar Syifa sekolah.


"Abi..,kok abi nggak bisa anter aku sekolah?"


Terdengar suara itu terus bertanya pada abinya.


"Abi berangkat kerjanya pagi sekali sayang."

__ADS_1


Jawab sang abi berusaha memberi pemahaman.


"Tapi teman-teman aku,abinya kerja juga bisa anterin dulu."


Suara Syifa terdengar masih belum paham.


"Abi mereka berangkat kerjanya siang,kalau abi Syifa berangkatnya sangat pagi sekali,kalau abi anter Syifa sekolah sebelum abi berangkat kerja


kan sekolahnya Syifa belum dibuka,Syifa nanti di sekolah belum ada temannya sayang."


Terdengar suara sang abi panjang sekali menjelaskan pada Syifa.


Lalu sepi tak terdengar suara protes lagi.


Dan pintu kamar itu terbuka langkah Syifa bersama sang abi mendekat sang umi yang sedang duduk ditepi ranjang.


Tak ada perdebatan lagi antara Syifa dan sang abi.


Lalu pemilik wajah cantik nan lucu itu naik keranjang untuk bersiap tidur.


Anajib nampak tersenyum menatap Dhea yang memandangnya seakan penuh tanya obrolan apa saja antara bapak dengannya.


Pemilik wajah ganteng dan senyum manis itu kini


mendekat dan merengkuh Dhea sambil mengelus-elus perut besar Dhea.


"Sayang,kapan kamu mo ambil cuti?"


Tanyanya sambil mencium mesra Dhea.


"InsyaAllah besok baru mau ajukan cuti."


Jawab Dhea sambil membalas ciuman suaminya.


Dhea nampak ragu,namun ia akhirnya bertanya.


"Sayang bapak bilang apa?"


Tanya Dhea pada Anajib yang terus mengelus-elus


perut besarnya.


Anajib menahan tawa melihat reaksi Dhea yang langsung manyun.


Bagi Anajib melihat istrinya marah adalah hal yang lucu.


"Okee,Kata bapak abi suruh tinggal di pondok,


supaya abi tak lelah perjalanan pulang pergi."


Kata Anajib menjelaskan pada Dhea dengan sangat hati-hati,karena bumil ini sangat sensi.


Bener saja setelah mendengar penjelasan suaminya,Dhea langsung alih posisi sekarang tidur menghadap tembok dan memunggungi sang abi.


Anajib nampak menghela nafas,dan memeluk orang yang sedang mulai ngambek.


"Apapun yang kamu minta aku akan lakukan,yang terpenting jangan marah,karena tidak baik pengaruhnya buat persalinan nanti."


Bisik Anajib sambil memeluk Dhea.


"Aku mau abi tinggal disini bukan di pondok,TITIK!"


Suara itu terdengar sudah parau karena menahan air mata.


"Okee..,abi akan tinggal disini,selalu menemani malam-malammu..."


Anajib berbisik menenangkan hati istrinya.


Tangan itu terus memeluk wanita yang menjadi tambatan hatinya.


Akhirnya malam pun menghilang bersama datangnya sang fajar.


Pagi ini setelah mengantarkan Anajib di depan pintu Dhea pun bergegas menyiapkan Syifa untuk berangkat sekolah.


Pagi ini tak ada pertanyaan dari Syifa karena sang abi sudah memberi pemahaman,alasan abi tak bisa mengantar.


"Oke bidadari kesayangan,p umi berangkat kerja dulu,jangan nakal ya!"


Pesan Dhea pada Syifa sebelum ia berangkat kerja.

__ADS_1


Dan setelah pamitan pada ustadz beserta istrinya.


Lalu motor itu melaju perlahan meninggalkan orang yang menatapnya tajam.


"Bu kini Dhea bener-bener sudah memberi pengaruh buruk pada Anajib."


Kata sang ustadz sangat kecewa pada keputusan Anajib yang menolak tinggal di pondok hanya


demi seorang Dhea.


"Bagaimana lagi,Anajib sudah besar,sudah memiliki keluarga,mungkin semua keputusannya


sudah ia pikirkan baik buruknya pak."


Jawab sang istri merasa serba salah.


Tapi tidak dengan sang ustadz.


Semua yang Anajib lakukan itu adalah permintaan Dhea. Yaa,Dhea bagi ustadz adalah seorang yang tak tau terimakasih.


"Semua sudah ku beri.


Tapi kenapa Anajib juga sekarang ia kuasai."


Bisik sang ustadz merasa jengkel pada sang mantu yang bukan pilihan hatinya.


Kini sang istri ustadz pergi mengantar Syifa sekolah.Dan beliau juga bersiap untuk ngantor.


Di pondok Anajib nampak sibuk dengan aktivitasnya sebagai pendidik.


Lelah ia rasa untuk perjalanan tempuh pulang perginya,namun demi sebuah setia buat Dhea.


Anajib rela melakukan apa pun.


Anajib ikut merasakan perasaan Dhea yang selalu merasa bersalah pada bapaknya.


Tapi Dhea tak pernah salah.


Karena cinta yang hadir antara ia dan Dhea bukan


lah aib maupun dosa.


Anajib selalu berharap dalam doanya.


Semoga bapaknya tak selalu larut dalam kecewa


dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


Intinya hanya satu berlapang dada,dan menerima Dhea sebagai mantunya.


Selama beliau tidak mau ikhlas menerima.


Selama itu jua Dhea akan tersiksa merasa berdosa.


Dan kini ditempat kerja Dhea sudah menghadap pak bos,untuk mengajukan cuti melahirkan.


Tanpak sang bos menatap lekat pada Dhea.


Mendapati tatapan itu Dhea merasa risih sampai ia menundukkan wajahnya.


"Kamu masih seperti dulu,selalu malu dan menghindar dari tatapanku."


Bisik Amir dalam hatinya.


Dan akhirnya Amir ACC,lalu Dhea meminta ijin untuk meninggalkan ruangan pak bos.


Setelah pamit pada mbak Lily,mbak April dan teman yang lainnya Dhea pun melangkah keluar


menuju parkiran dan segera melajukan motornya


dan tatapan mata dari ruangan itu terus mengawasinya sampai Dhea tak nampak olehnya.


***


🌺 Oke sampai jumpa di episode selanjutnya🌺


Mohon maaf kakak semua baru bisa up.🙏🙏


Dan terimakasih buat kakak semua,atas hadir

__ADS_1


dan dukungannya🙏🙏❤


__ADS_2