
Ketika belahan jiwaku pergi.
Senja janganlah kau ikut pergi.
Temani aku di sini bersama rindu..
Hari demi hari sudah terlewati,dua pekan begitu cepat tak terasa. Syifa sudah begitu dekat dengan Anajib yang sudah Syifa panggil Abi setiap saatnya. Walaupun tanpa di kenalkan Anajib itu memanglah abinya. Mungkin dengan adanya ikatan batin yang begitu kuat,hubungannya dengan Anajib terjalin begitu cepat akrab
dengan waktu yang singkat.
Besok seorang Anajib putra kebanggaan sang ustadz akan kembali terbang,kembali ke rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa dan yang kini dia merangkap sebagai asdos ustadz Sanusi di Sebuah Univertisas Kairo Mesir.
Saat ini kepulangannya hanya untuk mengisi waktu libur semesternya.
Malam ini adalah malam terakhir Anajib berada dekat dengan orang-orang yang ia sayangi dan cintai. Jujur hati Anajib pun sudah merasa dekat dengan anaknya yang untuk pertama kalinya ia temui.
Walaupun begitu ia sangat bersyukur istri dan anaknya di jemput orang tuanya dari Bandung.
Dan kini tinggal bersama orang tuanya.
Setidaknya hati Anajib lebih merasa tenang saat meninggalkan Dhea dan Syifa anaknya.
Entahlah ada apa dengan Syifa sejak sore tadi dia tidak mau jauh dari Anajib. Kemanapun langkah Anajib,Syifa tak mau tertinggal dengan abinya.
"Umi... mana mukenanya?"
Suara Syifa memanggil uminya yang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Sebentar sayang,"jawab sang umi yang merasa tanggung dengan kegiatannya.
Syifa yang takut tertinggal pergi ke masjid.
Kini teriak memanggil Anajib.
"Abiiii....."
Teriakan Syifa membawa langkah Anajib yang sedang bersiap ke masjid,menghampiri teriakan Syifa yang ada di dalam kamarnya.
Kini langkah Anajib mendekat,dan kini masuk ke dalam kamar. Detak jantung Anajib terasa berdetak kencang ketika tangannya mencari mukena Syifa. Ia tak paham "yang mana?"
Anak cerdas itu melihat abinya kesulitan.
Kini ia berlari keluar dan menarik tangan uminya.
"Umi buruan!"
Syifa yang takut di tinggal sang abi,terus menarik tangan uminya dan membawanya ke dalam kamar.
Deg
Jantung Dhea berdetak kencang.
Melihat Anajib yang sibuk mencari sesuatu.
"Mas bojooo,apa yang kamu lakukan dengan baju-baju yang sudah ku setrika?"
Teriak tertahan Dhea sambil mendekat pada Anajib yang belum berhasil menemukan mukena Syifa yang ia cari,namun tumpukan baju yang belum sempat di rapikan di dalam lemari itu,kini
sudah tak rapi lagi.
__ADS_1
Dhea merasa gemes melihat tumpukan baju yang sudah rapi ia setrika kini berubah berantakan.
Tanpa sadar Dhea ngomel pada orang yang sudah berhasil membrantakin kamarnya.
Dan keduanya sibuk berdebat,tanpa menyadari Syifa keluar kamar meninggalkan keduanya.
Suara Dhea tak terkontrol ngomelnya kini minta Anajib untuk tanggung jawab.
"Pokoknya harus seperti tadi lagi!!"
Kata Dhea sambil membantu merapikan kembali baju-bajunya sambil mulutnya ngomel. Anajib bukannya membantu merapikan malah cengegesan tanpa dosa.
Matanya tak lepas menatap mulut Dhea yang sedang ngomel. Hatinya bergetar saat tangan Anajib memegang kedua tangan Dhea.
Keduanya saling menatap,dan wajah itu sudah sangat dekat,ketika siap menerkam.
Syifa datang tapi tidak sendiri.
Dia menuntun eyangnya mata sang eyang melotot,
"astagfirullah mas dan Dhee.. apa yang kalian lakukan?"
Tanya sang ibu penuh selidik dan beliau masuk ke kamar Dhea, siap untuk berceramah.
"Abi mana mukena aku?"
Suara Syifa yang merajuk,menyelamatkan abi dan uminya.
Mendengar keributan di kamar Dhea sang ustadz yang hendak pergi ke masjid mengurungkan niatnya. Beliau melangkah ke kamar Dhea.
Tatapan itu kini semakin tajam.
Kata beliau begitu tegas,lalu beliau berlalu.
Disusul langkah Anajib,baru juga satu langkah Syifa teriak "abii..."
Langkahnya berhenti,Syifa benar-benar tak mau tertinggal Anajib.Dhea membawakan mukenanya dan menuntun tangan Syifa kini Syifa melepaskan tangan uminya.
Dan memilih tangan abinya.
"Assalamualaikum,umi." Anajib memberi salam sambil tersenyum manis.
"Walaikumsalam."
Jawab Dhea sambil melangkah masuk untuk mengambil mukena,dan memilih bareng bu ustadz. Untuk pergi ke masjidnya.
Sepulang dari masjid.
Kegiatan keluarga ustadz melanjutkan makan malam. Syifa tak mau makan kalau tidak disuapin
abi.Semua harus dengan abi. Ketika mau tidur Syifapun rewel.
Dhea penuh perjuangan merayu Syifa.
Akhirnya tidur juga digendongan Anajib.
Setelah benar-benar nyenyak baru di tidurkan dikasur kamar Dhea.
Malam semakin larut kini hati Dhea yang semakin gelisah. Waktu perpisahan dengan belahan jiwanya semakin dekat. ingin sebenarnya besok ia ikut serta ke bandara,namun Dhea tak berani minta ijin pada sang ustadz.
__ADS_1
Akhirnya subuh pun menjelang. Setelah sholat Subuh berjamaah. Keluarga ningrat bertolak ke bandara. Syifa seperti sudah paham akan di tinggalkan sang abi. Dari Subuh Syifa ikut riweuh.
"Umi aku ikut abi,"dan langkah kecilnya selalu mengikuti langkah Anajib.
Ada rasa pilu di hati Dhea dan Anajib.
Tak ada ucapan perpisahan,tak ada pelukan atau pun cium perpisahan buat Dhea.
Ketika suaminya melangkah keluar rumah,terasa ada yang hilang dari hatinya.
Mobil merah itu membawa pergi belahan hatinya.
Ketika suara mobil itu menjauh dan tak terdengar
lagi. Dhea bergegas mengambil jaket dan helmnya.Saat ini tak ingin ia tertinggal.
Dhea berusaha mengejar ketertinggalannya.
Orang yang ia kejar sudah check in.
Waktu terus berlalu dan tak pernah mau menunggu.
Syifa terus memegangi abinya.
Entah kenapa air mata Anajib saat ini tak kuasa lagi ditahan. Ustadz melihat air mata putra kesayangan menetes membasahi jenggotnya.
Badan tinggi itu membungkuk merayu Syifa yang tak mau melepaskan pelukannya.
"Abii jangan pergii."
Tangis Syifa benar-benar merapuhkan hati seorang Anajib.
Dari kejauhan sang umi tak mampu menahan tangisnya. Ingin ia memeluk dan menenangkan buah hatinya namun tak ia lakukan.
Langkahnya tertahan,"belum saatnya Dhea."
Bisik hatinya menahan semua keinginannya.
"Abiii.."
Syifa terus menangis,ketika sang abi melepaskan peluknya.Dan langkahnya semakin menjauh.
"Saatnya Take off."
Ada sebuah doa yang selalu mereka panjatkan.
Doa dari pasangan ustdaz beserta istri,doa untuk keberhasilan sang putra.
Doa dari Dhea untuk suami tercinta,"semoga selamat,sehat selalu ya abi."Bisik Dhea dari kejauhan.
Burung besi semakin terbang tinggi ke awan membawa jiwa yang terkasih untuk menuntut ilmu di negeri orang.
Sekeping hati kan selalu setia menanti bersama buah hati. Bersama senja merajut doa.
Bercerita tentang rindu yang tak pernah bertepi.
πΊπΊ Sampai disini dulu kakak..πΊπΊ
Terimakasih atas dukungannya.π
__ADS_1