Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 73 Setiap Langkah Ada Tujuan


__ADS_3

Yang jauh hanyalah pijakan bukan perasaan.


Yang berjarak hanyalah raga bukan rasa.


Malam ini terasa panjang, mungkin malam terpanjang dalam hidup Anajib.


Amarahnya tak mampu ditahan, mana kala kontak


sang istri tak bisa di hubungi.


Tut Tut Tutttttt.


"Astagfirullah bumilllllll......!"


"Kebiasaan.!"


Teriak Anajib penuh amarah.


Kini bukan hanya bibirnya yang pecah terasa perih.


Namun hatinya kinipun tak kalah perih.


Bingung bagaimana cara menyampaikan pada istrinya. Ia putuskan untuk menulis pesan.


πŸ’•Entah dari mana kan kutulis cinta..


Lihatlah mas disini melawan takdir ku sendiri.


Dhe tanpa mu aku lemah tiada berdaya.


Bayang wajahmu *melintas menyiksa mengoreskan


luka. ingin hati selalu bersama.


Namun apa daya..


Entah kapan pesan ini akan nyampai padamu.


Cuma satu yang perlu kau tahu


Esok adalah jadwal penerbanganku*.


Jangan lagi kau tunggu hadirku.


Karena suamimu tak bisa hadir seperti hari-hari yang lalu.


Pada yang maha cinta, cinta ini ku titipkan.


Pada yang maha pelindung dirimu dan anak kita


mas titipkan.


Kutu buku.


Jangan sedih ya.


Kalau kamu rindu pada masmu yang ganteng ini,


Masih ingatkan, titipkan rindumu pada doa dan senja.


I love u.


πŸ’ŒπŸ’ŒπŸ’Œ


Dan pemilik wajah ganteng itu mematikan HPnya.

__ADS_1


Kini ia memilih memejamkan mata.


Masih terdengar syahdu lantunan ayat-ayat Al-quran dari ruang tamu.


Para tetangga dan bapak ustad mengaji.


Untuk melepas dirinya esok, semoga selamat dalam perjalanan. Dan sang bapak berharap Anajib sukses dalam langkahnya menuju cita-cita


menjadikan ia seorang ulama untuk meneruskan


dakwah sang bapak.


**


Dhea masih ditempat kerjanya.


Nampak Bilqis dan kak Umar sedang mengecek barang. Kini Dhea duduk di kasir bersama kak Annisa. Entah kenapa kak Annisa menanyakan keadaannya.


"Dhe, kamu sehatkan?"


"Alhamdulillah kak, Dhea sehat."


Lalu diam-diam kak Annisa memperhatikan Dhea dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


Tiba-tiba Bilqis dan kak Umar menghampiri keduanya.


Tak terasa jam pulang tiba.


Bilqis dan Dhea pamit duluan.


Dan di susul teman yang lain.


Kini tinggal berdua Annisa dan Umar yang melangkah keluar. Keduanya nampak berbincang


"Wajarlah Dhea sedang hamil.!"


Kata Umar pada Annisa.


"Ooo, pantes.."


Kata Annisa sambil melangkah disisi Umar.


Dan keduanya masuk kedalam mobil Annisa.


Ya Annisa adalah atasan Umar, dan pemilik tunggal Swalayan.


Dhea menghentikan angkutan umum yang mengantarkan pulang.


"Kiri bang."


"Duluan yaa Bil."


Lalu Dheapun turun, dan berlalu setelah membayar ongkosnya.


Langkah kakinya menuju kamar kosnya.


Walaupun Dhea sudah lulus kuliah, dan sekarang sudah memiliki penghasilan. Dhea tidak berniat pindah kos. Karena menurut pak ustad kalau Dhea tak mau pulang ke kota kecil. Dhea boleh tinggal di kost-kosan adik pak ustad. Berharap ada yang memantau Dhea.


Tak pernah sang ustad sadari.


Dhea yang telah ustad singkirkan untuk menjauhi putra kesayangan.


Kini sudah mengandung buah hati Anajib Putra Ramadhan, sang putra kesayangan.


Cekrek.

__ADS_1


Dhea membuka pintu kamar kostnya.


Dan Dhea menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya.


Setelah membersihkan badan Dhea pergi untuk tidur. Ia tak menyadari HPnya lowbet total.


Efek kelelahan begitu cepat ia pun tertidur.


Malam semakin larut.


Nampak bintang menghias langit malam.


Setiap kelipnya seolah menghibur hati yang sedang menanti belahan jiwanya mengangkat panggilannya, atau membaca pesannya.


Penantian yang sia-sia.


Tak terasa waktu subuh telah tiba.


Keluarga ningrat itu sudah bertolak ke bandara


Soekarno Hatta. Untuk mengantarkan sang putra


harapan.


Sepanjang perjalanan Anajib hanya terdiam.


Karena dia sadar perpisahan ini hanya untuk sementara.


Lembar sang waktu berganti.


Burung besi itu sudah membawa belahan jiwa


terbang tinggi diangkasa.


Kini kedua hati yang saling mencinta.


Terpisah semakin jauh jarak dan ruang, memisahkan keduanya.


Nampak senyum puas sang ustad.


Merasa menang melindungi Anajib dari pergaulan yang menurutnya putra harapannya terjebak pergaulan bebas.


Dhea tak pernah menyadari.


Dia telah jauh pergi, karena pagi ini Dhea baru tahu alat penghubung dia dengan belahan jiwanya


lowbet.


"Ya Allah, kenapa aku sampai lupa mengisi daya HP sampai mati."


Dhea nampak berkata-kata sendiri.


Ia berharap setelah merapikan kamarnya bisa


bermanja pada suaminya walau hanya lewat VC.


"Sabar ya sayang, nanti umi telpon abi."


Kata Dhea pada bayi dalam kandungannya.


Biarlah Tuhan yang akan menghibur Dhea.


Ketika dia sadari belahan jiwa itu jauh berada.


**

__ADS_1


__ADS_2