
Kadang rasa cemburu memenuhi ruang hati Amir.
Dhea dalam tidur selalu Anajib yang selalu ia panggil-panggil. Malam ini pun sama lagi-lagi nama Anajib yang Amir dengar dari mulut istrinya
yang sedang terlelap diatas kasurnya.
Amir bangun dan keluar dari kamar itu.
Kini ia menuju kamar tamu menghindari suara berisik Dhea. Akhirnya subuhpun menjelang.
Ketika mata Dhea terbangun dari tidurnya tak ia jumpai Amir yang biasa tidur membentangkan kasur lantai. "Amir sepagi ini ia sudah merapikan kasur lantainya?" Batin Dhea sambil bergegas mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Tentunya setelah ia tunaikan solat subuhnya.
"Dimana nak Amir..?"
Suara bapak mertua mencari keberadaan Amir.
Dhea segera melangkah mencari keberadaan Amir tak ingin keduluan beliau yang menemukan Amir duluan.
"Amir..." perlahan sekali Dhea terus memanggil.
Di dalam kamar tamu Amir masih terlelap.
Langkah Dhea perlahan-lahan mendekat pada Amir yang tanpa dosa masih berlindung didalam selimut tebalnya.
"Amir..."
Tak ada jawaban.
"Amir...."
Samar-samar terdengar namanya di panggil.
Amir membuka matanya.
Ia melihat tubuh mungil istrinya sedang membuka korden. Amir pura-pura memejamkan matanya kembali. Langkah itu terasa mendekat.
Dan Amir merasakan tangan itu membelai wajahnya.
"Amir....Amir..."
Suara itu terus memanggilnya.
"Terussss panggil nama ku Dhe....!"
Batin Amir yang benar-benar merindukan suara itu memanggilnya.
"Amir........" Jangan bercanda nggak lucu ayo bangun!" Akhirnya Dhea mulai curiga akan ulah jail Amir.
Tawa cengegesan Amir mendapat hadiah cubit yang terasa panas mendarat di pinggangnya.
merasa tertipu ulah Amir Dhea mendaratkan cubitan di pinggang badan tinggi tegap milik Amir.
"Umiiiii....."
Suara Fatir berteriak memanggilnya.
Dhea keluar kamar di susul Amir.
Semua sudah rapi keluarga nigrat itu sudah bersiap untuk pergi ke Bandung.
"Syifa maupun Fatir salim pada umi dan abi Amir dulu...!"
Kata eyang kakungnya mengingatkan kedua cucunya.
"Dhe.. kamu mo ikut nanti nyusul saja dengan nak Amir..!"
Suara ibu mertua kini yang menyadarkan Dhea yang masih terdiam.
"Baik bu.... "
Amir yang menjawab ibu mertuanya.
Mobil merah itu perlahan meninggalkan plataran rumah joglo. Lambaian tangan Syifa dan Fatir juga sudah tak nampak lagi.
Kini rumah joglo nan luas semakin terasa sunyi.
Bak tiada penghuni.
Amir sudah selesai mandi dan saat ini Dhea melihat Amir mendorong MOGE. Itu keluar dari penyimpanannya selama ini.
__ADS_1
"Cepat naik.!"
Amir meminta Dhea segera naik di belakang punggung Amir boncengan itu terasa tinggi dan asing bagi Dhea. Sekian lama sang ustadz tidak
ngijinin Amir maupun Dhea mengendarai motor.
Semenjak musibah itu terjadi dan merengut nyawa putra kebanggaan sang nigrat.
"Amir... bagaimana kalau pak ustadz marah?"
Protes Dhea yang selalu patuh pada keduanya.
"Mereka nggak akan tau..!"
Jawab Amir yang sudah duduk di atas MOGE nya.
Dhea nampak ragu. Tapi akhirnya ia naik juga.
Jiwa Amir yang selalu merindukan berpetualang diatas aspal bersama MOGE nya.
Kini terbayar sudah.
Kenangan masa SMA kini Amir ulang kembali.
Teriakan Dhea yang memintanya untuk berhenti tak pernah Amir pedulikan.
Tangan istrinya semakin kencang memeluk pinggangnya.
"Amir.....Stop aku bilang.!"
Dhea terus mengiba.
Namun Amir terus melajukan MOGE nya.
Entah sudah berapa saat Amir memarkirkan motornya namun Dhea terus memeluk pinggang Amir.
"Mo sampai kapan kalian diatas motor itu..?"
Teriakan suara maminya Amir mengagetkan Dhea
yang terus memeluk erat pinggang Amir.
Sang mami geleng-geleng kepala melihat ulah jail Amir pada istrinya.
Teriak Dhea tertahan.
Susah payah Dhea turun dari boncengannya.
Setelah ia turun dan salim pada mami Amir.
"Apa kabar kalian..?"
Sang mami menyambut dengan pelukan.
"Kemana Syifa dan Fatir..?"
Tanya beliau menanyakan kedua anaknya.
"Mereka ikut eyangnya ke Bandung.."
Jawab Dhea.
"O.. ya sudah mami akan ada urusan dengan perusahaan batik yang di pekalongan harus segera mami turun langsung karena untuk pemilihan bahan baku dan corak untuk kepentingan produksi."
Kata sang mami segera berangkat dengan di antar sopir dan asisten pribadinya.
Lagi-lagi Dhea mendapati rumah besar nan luas milik Amir itu sunyi bak istana tanpa penghuni.
Amir entahlah ia menghilang kemana?"
Kini Dhea memilih untuk mandi namun ia lupa untuk membawa handuknya.
"Amir...."
Dhea berteriak dari kamar mandi.
Namun suara Dhea sia-sia tak terdengar oleh siapa pun.
Dhea membuka sedikit pintu kamar mandi yang ada di kamar.
"Amir...."
__ADS_1
Dhea mencoba memanggil lagi.
Dan Dhea melihat di atas ranjang besar itu Amir nampak mendengarkan musik.
"Amir....."teriak Dhea.
Berhasil Amir menoleh kearah Dhea yang mengintip di balik pintu.
"Tolong ambilkan handuk..!"
Pinta Dhea pada Amir.
Dhea nampak lega Amir berjalan mendekat membawakan handuk untuknya.
"Oke terimakasih Amir."
Kata Dhea tanpa curiga.
Namun ketika tangan itu mengambil handuk.
Amir segera menarik tangan itu..
Tubuh polos belum sempat tertutup oleh handuk.
Kini berada dalam pelukan Amir.
"Amir...."
"Amir...."
Dhea terus memanggil nama Amir.
Sambil terus memukul dada bidang yang penuh dengan bulu-bulu halus itu.
"Jangan berisik... aku mo minta hak ku...!"
Kata Amir terus tertawa.
Akhirnya Dhea menyerah juga dalam kekuasaan Amir. Namun begitu lama Dhea menunggu Amir tak melakukan apa-apa.
Ketika Dhea membuka matanya Amir berada disampingnya.
"Amir lakukan apa yang mestinya kamu lakukan!"
Kata Dhea mulai memeluk Amir.
Setelah itu Amir baru benar-benar menunaikan tugasnya baru malam ini Amir mendapatkan haknya.
Amir pun ingin memiliki sang pewaris untuk meneruskan kejayaan perusahaannya.
Bukan materi obati hati...
Bukan kilauan harta untuk obati lara.
Karena Amir tau Dhea bukan wanita yang seperti itu.
Dhea akhirnya luluh sendiri.
Dengan sabar Amir menantinya.
kini perlahan Dhea lupa perlahan tapi pasti ia jarang menangis di atas nisan Anajib.
Selama keluarga priyayi membawa ke dua buah hatinya berlibur ke Bandung.
Selama itu pula Amir membawa Dhea pulang ke istananya.
Amir terus berusaha mulai menjauhkan Dhea dari semua kenangan tentang dia.
Tentang rasa itu yang kadang membuat Amir tergores rasa cemburu.
Toh setiap orang memiliki masa lalu.
Itu yang selalu Amir menghibur hatinya.
Mencintai Dhea dengan semua kenangan dan semua penderitaannya. Adalah pilihan dalam hidupnya.
Biarlah senja demi senja akan setia mengoreskan cerita walau kadang ceritanya tak seindah sang senja...
****
Maaf selalu terlambat untuk up..🙏🙏🙏
__ADS_1
Kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.
Terimakasih atas dukungan.🙏🙏🙏