
Kata cinta bukanlah mantra,namun cinta bisa
mengubah segalanya.
Cinta tulus seorang Dhea pada Anajib mampu membuatnya selalu bertahan dalam segala keadaan,mampu membuat Dhea melewati semua cobaan dalam kehidupan rumah tangganya.
Sikap kedua orang tua Anajib yang dari awal tak merestuinya,bertahun lamanya Dhea hadapi dengan hati yang hanya dia sendiri yang paham
pahitnya,harga mahal yang harus Dhea bayar untuk cintanya.
Kehidupan rumah tangganya memang selalu dalam pengawasan tatapan tajam beliau sang ustadz guru ngajinya di masa kecilnya.
Yang kini tak lain sudah menjadi bapak mertuanya.
Selama hidup bersama dengan Anajib hadiah dari pernikahannya tak terbungkus dengan indah.
Namun Allah membungkusnya dengan berbagai
masalah,namun Dhea yakin suatu hari restu bapak dan ibu Anajib akan ia dapat.
Ada kebiasaan baru bagi sang ustadz semenjak
beliau sembuh dari sakit akibat kecelakaan tunggalnya. Tiap habis solat Asar di masjid,beliau
tidak langsung pulang kerumah namun beliau
akan menanti mobil mewah Amir sang penolong.
Anajib maupun Dhea hanya saling pandang tak banyak bicara,ketika di meja makan beliau selalu
memuji Amir yang dalam usianya yang masih muda,tapi sudah menyandang kesuksesan.
"Itu tanda kalau Amir itu anak yang mendengarkan
nasehat orang tua,buktinya Amir memilih menjalankan Amanah orang tuanya melanjutkan
roda perusahaannya."
Kata sang ustadz merasa bangga pada Amir.
"Uuhukkk,"Anajib yang sedang menyuap nasinya
tersedak. Dhea buru-buru memberi minum pada suaminya.
Setelah minum air putih yang diberikan istrinya,kini Anajib memilih meninggalkan meja makan Dhea memilih tinggal karena Syifa belum menyelesaikan makannya.
Kini tatapan sang ustadz tertuju pada Dhea dan Syifa,"ayo selesaikan makannya,biarkan abi Syifa
yang sedang nggak mau makan."
Kata beliau segera menghabiskan makannya
lalu berlalu meninggalkan meja makan.
Sang ibu pun ikut meninggalkan meja makan
dalam diamnya.
Syifapun kini menyusul kedua eyangnya.
Tinggal Dhea yang harus segera merapikan meja
makan. Gerakannya begitu cekatan berharap Fatir
kecil belum terbangun dari tidurnya.
Setelah menyelesaikan cucian piring kotornya,
kini Dhea membawa langkahnya menuju kamarnya.
Suara Fatir sudah terdengar rewel. Dhea mempercepat langkahnya pintu kamar sudah terbuka,nampak sang abi berusaha mendiamkan Fatir namun belum berhasil.
Kini Dhea duduk ditepi ranjang dan membawa Fatir dalam pangkuannya. Dan segera memberinya
__ADS_1
ASI seketika tangis Fatir terhenti.
Anajib terus menatap Dhea dalam.
Orang yang duduk dihadapannya terus fokus dengan Fatir yang sedang minum ASI.
"Umi.. maafkan abi ya belum bisa membuat mu
bahagia."
Suara Anajib terdengar pelan tapi sangat jelas
terdengar.
"Abi bicara apa?"
"Aku bisa hidup bersama dengan mu,itu sudah suatu kebahagiaan."
Jawab Dhea meyakinkan suaminya kalau dirinya
benar-benar bahagia.
"Tapi abi merasa belum bisa buat mu bahagia,
abi rasa hanya selalu memberimu luka."
Tak disangka ucapan Anajib kini terdengar putus asa. Dan kini dia terduduk di meja kerjanya.
Dhea menggendong Fatir dan melangkah mendekat padanya.
"Aku sangat mencintai mu abi,apapun yang terjadi
akan selalu kita hadapi bersama."
Kata Dhea berusaha menghibur hati suaminya.
"Apapun yang terjadi?"
Kata Anajib mulai ragu.
Jawab Dhea terus meyakinkan.
"Abi ingin mengajak kamu tinggal di pondok!"
Suara Anajib mantap.
Kini Dhea mulai terdiam,hatinya mulai berkecambuk dengan tinggal di pondok berarti hari-harinya akan selalu berjumpa dengan Ashofa.
"Kenapa umi terdiam?"
Suara Anajib membuatnya terkejut.
"Butuh waktu untuk menjawabnya."
Jawab Dhea pergi meninggalkan Anajib dan menidurkan Fatir. Lalu ia mengajak Syifa yang sedang bermain di ruang keluarga diantara kedua eyangnya. Setelah meminta ijin Dhea membawa Syifa masuk dalam kamar.
"Umi aku masih mo main!"
Protes Syifa.
"Besok kakak Syifa harus bangun pagi karena sekolah."
Bisik Dhea pada anaknya. Syifa kini sudah memiliki ranjang sendiri jadi Syifa tidur di samping Fatir sang adik. Setelah menidurkan kedua anaknya Dhea menuju ranjangnya.
Sepanjang malam pikiranya sibuk mencari jawaban apa yang akan ia berikan buat Anajib untuk esok harinya. Anajib sendiri sudah terlelap dalam tidurnya lengan kokoh itu terus memeluknya.
Heningnya malam memaksanya terpejam dalam pelukan orang yang sangat ia cintai.
Tangisan Fatir membangunkannya.
perlahan Dhea singkirkan lengan yang memeluknya. Menjelang subuh Fatir selalu terbangun Dhea segera memberinya ASI dan tangisan itu segera berhenti.
Suara adzan mengumandang membangunkan jiwa-jiwa yang beriman. Anajib segera menuju kamar mandi yang ada di kamar.
__ADS_1
Dhea menuju mesin cuci,sudah menjadi rutinitas
yang tak terlewatkan mencuci sembari di tinggal solat subuh. Mengerjakan segala sesuatu berpacu dengan waktu. Kalau Fatir kecil bangun sudah repot dia. Selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya Dhea buru-buru masuk lagi kekamarnya.
Dhea nampak duduk termenung di tepi ranjangnya
ketika pemilik tubuh tinggi itu masuk kamar sepulang dari solat subuh di masjid.
Segera mendekat Dhea mencium punggung tangannya. Lalu tangan itu meraih Dhea,kini keduanya berdiri saling berhadapan.
Tatapan Anajib meminta jawaban.
Jujur Dhea belum punya jawaban yang harus ia berikan. Pemilik tubuh tinggi itu membungkuk
dan berbisik "Abi menunggu jawaban umi."
Dan kini bibir itu saling bertemu Anajib terus memburu Dhea pun melayang menikmati sentuhan Anajib.
Sesaat keduanya hanyut dalam ciuman.
Dan suara deheman itu memaksa keduanya melepaskan pagutannya.
Nampak jelas semu merah menghiasi wajah Dhea.
Dan Anajib tersenyum sembari menutup pintu kamarnya. Segera ia mengganti bajunya Dhea keluar kamar siapkan sarapan untuknya.
Setelah menghabiskan sarapannya,ia pamit kepada bapak dan ibunya kini ia segera mendorong MOGE nya.
Dhea membawakan helm dan jaketnya.
Selesai memakai jaket lagi-lagi pemilik tubuh tinggi itu memeluk Dhea kini ia membungkuk untuk berusaha menyentuh bibir istrinya.
Hanya sekilas bibir itu saling bertemu.
Dhea segera mencium punggung tangan suaminya
"hati-hati ya abi."
Pesannya.
Anajib yang sudah menaiki MOGE nya menganggukkan kepalanya setelah memakai helmnya ia lacukan motornya. Setelah bayangan
orang yang ia cintai tak nampak oleh mata.
Dhea kembali masuk ke rumah.
Kini dia sibuk menyiapkan Syifa untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba suara tangisan Fatir menghentikan aktivitasnya. Kini langkah Dhea menuju kamar sembari menggendong Fatir yang sedang menangis Dhea terus membantu Syifa memakai seragamnya.
Entah ada angin apa pemilik tatapan tajam itu mendekat dan mengambil Fatir sang cucu dari gendongan uminya.
Untuk kali pertama Fatir berada dalam dekapan eyangnya. Sungguh sebuah anugrah yang terindah
bagi Dhea menyaksikan tangan itu mendekap dan terus membelai lembut kepala Fatir.
Dan tangis Fatir tak terdengar lagi.
Mungkin Fatir merasakan ungkapan cinta atau sayang sang eyang kakungnya?
Entahlah hanya sang ustadz yang paham makna
dekapan dan belaiannya untuk Fatir.
Pagi ini Dhea merasakan kebahagian yang belum pernah ia rasakan selama tinggal di dalam keluarga priyayi itu.
Dhea hanya menatap dari kejauhan sang ustadz mencium kening Fatir.
Tak terasa air mata itu jatuh membasahi ke dua pipinya. Dhea bersyukur atas cinta yang beliau berikan buat Fatir anaknya.
🌺Sampai jumpa di episode selanjutnya...🌺
Mohon maaf buat kakak reader semua...
Author telat up nya🙏🙏🙏
__ADS_1
Dan terimakasih atas dukungannya💕🙏
.