Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 116 Secepat Itu Kau Pergi


__ADS_3

Ujung senja membawa cerita tentang luka.


Menyisakan air mata yang tak pernah ada habisnya. Seperti sebuah cerita tentang hidup Anajib dan Dhea.


Hidup keduanya adalah sebuah perjalanan yang penuh liku dan tak pernah kunjung dapat restu dalam rumah tangganya dari kedua orang tua Anajib.


Begitu setia mereka menjaga silsilah ningratnya.


Namun Amir yang bukan siapa-siapa bisa membuka mata hati sang ustadz dengan darah Amir sang bos menantunya yang rela memberikan


darahnya untuk menyelamatkan sang ustadz.


Dan kini semua terulang lagi Amir juga menjadi malaikat penolong buat keluarga ningrat.


Semua masalah seakan jadi mudah dan cepat terselesaikan dengan adanya Amir.


Ketika pihak rumah sakit kesulitan mencari pendonor darah untuk Anajib yang terlalu banyak kehilangan darah ketika kecelakaan.


Amir jualah yang mendonorkan darahnya berupaya menyelamatkan orang yang sangat di cintai Dhea orang satu-satunya yang sudah bertahta di hati Amir sejak masa SMA.


Manusia hanya mampu berupaya namun Tuhan


kadang berkehendak lain dari yang kita inginkan.


Ketika sang belahan jiwa tak mampu lagi berkata-kata. Mata itu terus terpejam tak ada yang bisa Dhea lakukan. Selain berdoa berharap pada yang Kuasa.


Wajah sang ustadz nampak gelisah.


Amir berusaha menenangkannya.


Nampak langkah-langkah berburu para perawat


menandakan mereka dituntut gerak cepat.


Dengan melihat pemandangan yang ada Dhea semakin takut dengan pikirannya sendiri.


Tak ingin ia menduga-duga segera ditepis semua


khawatir yang ada. Kaki Dhea bagai tak bertulang


raganya bagaikan melayang.


Seorang dokter keluar dari ruang dimana Anajib


dirawat. Dan beliau menanyakan pihak keluarga dari Anajib. Pak ustadz Abdul mendekat dan Amir dengan sigap selalu mendampingi sang udtadz.


Dhea semakin takut dari awalnya hanya beliau dan Amir saja yang kerumah sakit namun setelah sampai rumah sakit sang bapak mertua segera menelponnya.


"Semoga Anajib bisa melewati masa-masa kritisnya."


Bisik Dhea dalam doanya.


Namun sayang kenyataan tak seindah harapnya.


Dunia terasa gelap ketika pak dokter bilang "maaf pak saya sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan berkehendak lain."


Bumi yang Dhea pijak terasa berputar dengan cepatnya jiwanya seakan terbang bersama belahan jiwanya. Dhea tak bisa milihat apa-apa.

__ADS_1


Dunianya gelap seketika. Telinganya mendengar seseorang memanggil-manggil namanya.


Suara seorang laki-laki terus memanggilnya tangan itu terasa menggusap pucuk kepalanya.


Dan suara yang satunya terus mengingatkan Dhea untuk istigfar Dhea terus berusaha untuk menuju suara-suara yang terus memanggilnya.


Ketika Dhea membuka matanya nampak sang ustadz yang tak lain bapak mertuanya duduk begitu dekat dengannya.


Tatapan mata yang selalu menatap tajam kini berubah sendu suaranya yang selalu terdengar tegas kini terdengar parau dan selalu terbata.


"Ayo kita pulang dan hapus air matamu!"


Begitu pelan suara beliau dan langkahnya terlihat jelas sedikit melayang sampai Amir memapahnya


menuju mobil. Begitu punya wibawa Amir memerintahkan mbak Lily untuk menyelesaikan semua adminitrasi.


Mbak Lily pun memeluk erat tubuh Dhea.


"Memang tak ada sesuatu yang abadi di dunia ini,


setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sang pemilik semesta."


Begitu kata-kata mbak Lily dalam nasehatnya untuknya.


Mobil mewah Amir akhirnya menepi di halaman rumah joglo itu. Halaman luas itu terasa sempit


dengan para tetangga dan kawan sejawat sang ustadz untuk memberi penghargaan buat putra tunggal dan putra kebanggaan.


Mobil ambulans itu membawa jasad orang yang terkasih. Dhea berusaha tegar walau sebenarnya


"Abi bangun abi....."


Suara Syifa dan Fatir terus memanggil abinya.


Air mata Dhea pun runtuh bersama tangisan anak-anaknya.


Setelah selesai proses pemandian dan mengkafankan akhirnya belahan jiwa itu di bawa ke masjid. Hancur semakin hancur hati Dhea semua kenangan masa kecilnya dan masa-masa


yang telah ia lewati bersama orang yang kini terbujur tak bernyawa.


Ingin rasanya ia bersamanya.


Tak rela belahan hatinya pergi untuk selamanya.


Anajib yang biasanya mengimami dalam setiap sholat kini di sholatkan.


Tiba waktunya jasad itu untuk di kebumikan.


Di pemakaman Syifa dan Fatir berada dalam dekapan erat sang eyang kakung.


Bukan hanya Dhea sang ibu mertua pun tak sanggup menahan pilunya tubuh itu jatuh pingsan dalam pelukan bu lek Euis adik ipar sang ustadz.


Semua begitu cepat berlalu.


Bagai sebuah mimpi yang tiada bertepi sulit untuk dipahami namun semua nyata untuk dihadapi.


Tangan-tangan mungil Syifa dan Fatir menaburkan bunga diatas pusaran sang abi yang telah pergi untuk selama-lamanya lagi-lagi air mata Dhea tumpah membasahi gundukan tanah merah yang masih basah.

__ADS_1


Kini tak akan ada lagi panggilan mas bojo ketika marahnya tak ada cipratan air wudhu ketika senjanya. Gelak tawa masa-masa indah bersama


Anajib tinggal kenangan bersama padasan tempatnya mengambil air wudhu di masjid samping rumah joglo itu.


"Malam ini langit terlihat mendung, bintang pun enggan menampak. Sepertinya langit malam ini sangat tahu apa yang dirasakan oleh hati Dhea."


Rapuh itu pasti berusaha tegar untuk kedua buah


hatinya itu yang Dhea lalukan.


Hatinya terasa tersayat ketika Fatir menanyakan


kenapa abi pergi. Berbeda lagi ketika Syifa sang anak pertama memeluknya "umi jangan sedih abi sudah di surga."


Itu kalimat Syifa begitu tegar bak karang yang menantang kerasnya gelombang.


Dhea memeluk kedua anaknya.


Tak ada lagi bahu atau pun dada sang belahan hati tuk bersandar bagi Dhea. Namun masih ada sajadah tempat Dhea untuk bersujud menggadu pada sang pencipta.


Sebuah penyesalan bagi orang tua ningrat itu sudah tak ada artinya. Walaupun beribu restu akan mereka beri namun sang kebanggaan telah pergi.


Untuk menebus rasa bersalah dan berdosa kedua orang tua itu kini berjanji akan menerima Dhea


dan akan menyayangi kedua cucunya.


Semua kisah bagai misteri begitulah juga dengan


cinta ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda tak terlihat hanya terasa.


Begitu juga dengan cinta antara Dhea dan Anajib.


Kini hanya mampu merasa rindu namun tak mampu untuk bertemu semua hanya semu.


Luka itu begitu terasa menggores hatinya.


Dhea tetap berusaha tegar hadapi dunia.


Syifa dan Fatirlah sumber kekuatan untuk menjalani hari-hari tanpa orang yang ia cintai.


Belahan jiwa kini pergi untuk selama-lamanya.


Senja menghilang walaupun tak pernah berjanji


senja selalu datang lagi.


Berbeda dengan tawa lebar yang pergi dan tak akan mungkin akan kembali lagi.


Doa tulus setulus cinta di hatinya selalu Dhea panjatkan untuk orang yang berani memperjuangkan cintanya tanpa peduli dengan gelar priyayi yang melekat untuknya tak pernah perduli dengan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya.


***


🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya..🌺


Terimakasih untuk kakak reader semua yang masih setia menemani dalam berkarya.🙏🙏


Tanpa kalian apalah artinya saya.

__ADS_1


__ADS_2