
Terkadang kekuatan cinta akan mampu mengalahkan segalanya.
Adzan Subuh terdengar syahdu dari menara masjid ponpes yang berada di seberang tempat kost Dhea.
Suara Adzan itu terus memanggil dan memaksa
pemilik wajah ganteng untuk membuka matanya.
Nampak Dhea keluar dari kamar mandi.
Aroma wangi sabun mandi begitu tercium dari tubuh Dhea yang terlindungi lilitan handuk berwarna ping.
Sepasang mata Anajib terus menatap Dhea yang
begitu terburu-buru mengenakan gamisnya.
Anajib jadi tersenyum geli dengan sikap Dhea yang masih malu-malu padanya.
Haiii. Kamu kenapaa...?
Aku kan sudah jadi suamimu.!
Kata Anajib yang terus mengoda Dhea yang selalu
salah tingkah dibuatnya.
Ketika tangan sang suami mulai menggapainya.
Dhea berkelit menghindar.
Ayo lah mas jangan bercanda.!
Nanti tertinggal sholat berjamaahnya!
Kata sang istri menggingatkan suaminya.
"Oke Cinta."
Kata Anajib dan secepat kilat ia mandi.
Benar-benar seperti kilat .
Begitu cepatnya?
protes Dhea heran melihat Anajib sudah keluar
dari kamar mandi dengan percaya diri melepaskan handuk dan dengan santainya memakai sarung dan baju kokonya.
Dhea merasa malu sendiri.
Dan memalingkan mukanya, menghindari pemandangan di depannya.
Tok.. Tok.. Tok.
Suara pintu diketuk dari luar.
"Assalamualaikum."
Suara bu Euis mengucapkan salam.
Walaikumsalam ..
Cekrekk
Dhea membuka, Ayo mbak Dhea ajak bu Euis.
Tunggu mas sebentar bu, kata Dhea.
Oo... Ya sudah, Saya duluan saja akhirnya bu Euis
memutuskan pergi ke masjid duluan.
Lalu Dhea dan Anajib pun menyusul di belakangnya.
Sholat Subuh berjamaah sudah selesai.
Di lanjut dengan kuliah Subuh yang di isi langsung
pemilik pondok pesantren.
Sepulangnya dari masjid keduanya melangkah menyusuri jalan raya yang berada di depan masjid.
Mas..
Dhea memanggil Anajib yang terus berjalan di sisinya.
Hemmm..
Jawab Anajib sambil menggandeng tangan Dhea.
__ADS_1
Begitu erat tangan itu terus bergandengan.
Seakan takut terpisahkan.
Bagaimana dengan bapak?
Tanya Dhea ingin tahu.
Dhea merasa sudah menghianati sang ustad.
Anajib diam tidak menjawab pertanyaan istrinya.
Kini langkahnya terhenti.
Dhe kamu lapar nggak?
Anajib bertanya sambil menarik tangan Dhea
masuk ke warung nasi.
"Ya Allah mas.'
Maaf ade lupa , mas dari semalam belum makan.
Kini Dhea semakin merasa bersalah.
Sudah nyantai, kata Anajib sambil menarik bangku plastik yang di sediakan pemilik warung nasi .
Lalu ia mengajak istrinya duduk.
Tak lama makanan yang di pesan datang.
Silahkan kakak.!
Kata pelayan itu sambil menyimpan makanannya.
Terimakasih kata keduanya.
Anajib makan dengan lahapnya.
Dhea masih merasa malu, begitu susah payah ia menghabiskan makannya.
Anajib hanya tersenyum dan pura-pura tidak melihat .
Setelah membayar keduanya melangkah pulang
ke kamar kost.
**
Bu, bapak aneh akhir-akhir ini Anajib kalau nginep
ke tempat temannya selalu minta tambahan uang
sakunya. Kata sang suami kepada istrinya.
Lho wajarlah pak, kebutuhan anak kuliah pastilah berbeda dengan waktu ia masih di pondok dulu.
Jawab sang istri membela anaknya.
Anajib selalu di beri jatah harian untuk ngampusnya.
Dan ada juga uang jatah mingguannya.
Dan selama ini dia seminggu sekali akan nginep di rumah Beni teman kuliahnya.
Kadang Beni yang akan berkunjung ke rumahnya.
Bapak dan ibu Anajib tak menyadari.
Uang jatah Anajib sebenarnya terkumpul dengan baik.
Dan tiap pekannya akan Anajib berikan pada istrinya.
**
Waktu terus berjalan dan tak terasa siang menghilang.
Lembayung menghias cakrawala.
Anajib berkemas untuk pulang ke kota kecil.
Dhea terus memperhatikan wajah orang yang sibuk menyalin bajunya.
Anajib duduk di samping Dhea yang duduk di tepi
ranjang.
Lalu Anajib mengeluarkan amplop dari dompetnya. Ini Dhe buat mu...
__ADS_1
Tak lantas menerima.
Dhea masih diam, uang dari mana mas?
Tanya Dhea hati-hati takut menyingung Imamnya.
Dhea tahu suaminya belum kerja.
Wajar ia bertanya itu uang dari mana.
Ini uang halal.!
Kata Anajib memaksa Dhea untuk menerimanya.
Tapi mass... kalimatnya Dhea terhenti.
Kenapaa..??
Tanya Anajib balik bertanya.
Dhea hanya diam tak menjawab.
Anajib mendekat.
Dan keduanya saling menatap.
Aku akan selalu menyebut nama mu dalam doa ku.
Bisik Anajib .
Heningggg...
Keduanya hanyut dalam suasana.
Ketika bibir itu saling bertemu.
Setelah sekian saat, Anajib mengakhirinya.
Di kecupnya kening Istrinya.
Jaga kesehatan yaa, belajar yang rajin.
Kalau bekerja hati-hati dan banyak lagi nasehatnya buat istrinya.
Dhea hanya mengangguk.
Lalu ia mencium tangan suaminya sebelum orang yang ia cintai dan memiliki gelar tawa lebar itu
melangkah ke luar kamar kost.
Langkahnya menuju rumah bu leknya.
Mengambil motor yang ia titipkan sekalian pamit.
Hati-hati yaa mas..
Dhea berpesan pada suaminya.
Bu lek dan pak lek melambaikan tangan.
Ya sayang, pasti !
Mas akan hati-hati.
"Assalamualaikum."
Salam Anajib pada istrinya.
"Walaikumsalam.."
Jawab Dhea sambil terus memandang motor yang
perlahan menjauh darinya.
Jaga suamiku di mana pun ia berada ya Allah.
Jaga ia untuk ku. " Aamiin."
Doa Dhea dalam hatinya.
**
Oke kakak sampai di sini dulu.
Terimakasih semua yang sudah berkenan mampir
Di Kala Senja Di Kota Kecil..🙏🙏🙏
Dan terimakasih juga buat semua rekan author atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya...