
"Tak ingin kau terluka,biarlah aku menghadapi semua."
🌺 "Jika semua yang kita impikan segera terwujud,dari mana kita belajar sabar?"
"Jika semua doa kita terus dikabulkan,dari mana kita belajar ikhtiar?"
"Seseorang yang dekat dengan Tuhannya,bukan berarti tak ada kekurangan."
"Seseorang yang tekun berdoa,bukan berarti tidak
ada masa-masa sulit."
"Biarlah Allah yang berdaulat atas hidup kita mas."
Dhea terus berkata-kata sambil menatap wajah cantik bidadari kecilnya.
Kini Dhea melangkah lalu dibukanya lebar-lebar
jendela kamar yang sangat luas itu.
Terasa olehnya semilir angin membelai wajahnya.
Kini langkahnya mendekat pada photo yang terpasang manis didinding kamar.
"Syifa sayang itu wajah abimu nak,wajah yang selalu kita rindu."
Bisik Dhea pada anaknya yang berada dalam gendongannya.
"Mas,semoga kamu sehat-sehat selalu disana ya mas!"
Dhea terus ngobrol dengan photo suaminya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk.
"Dheeee."suara istri pak ustad memanggilnya.
Dhea segera melangkah untuk membuka pintu.
Cekrekk.
Pintupun terbuka wajah itu nampak tersenyum.
Lalu beliau meminta ijin masuk.
Dan duduk ditepi ranjang.
"Sini ibu jagain anakmu,dan sono kamu makan dulu!"Perintah beliau sambil membawa Syifa dalam pangkuannya.
Dhea hanya diam bukannya langsung pergi kedapur untuk makan.
"Kamu kenapa Dhe?"Tanya beliau.
"Maaf ya bu,saya dan Syifa sekarang malah grepotin ibu dan bapak!"
Kata Dhea sambil duduk disamping beliau.
"Udah nggak usah dipikirin mas bojomu yang nggak tau diri itu,sudah punya anak istri kok nggak tanggung jawab pada anak dan istrinya."
Istri pak ustad sangat marah pada mas bojo.
"Sono makan!"
"Ibu sudah masakin sayur biar ASI mu banyak!"Perintahnya menyuruh Dhea segera makan.
DEG.
Kata-kata beliau begitu tajam bak pisau yang menghujam direlung hati yang paling dalam.
Dan Dhea memilih pergi kedapur untuk makan.
Dhea selalu bergerak cepat berharap tak bertemu dengan pemilik tatapan tajam itu,dan deheman itu sangat mengagetkan Dhea.
Ehemmm Eehemmmm.
"Beliau ternyata baru pulang dari kantor,selain pendakwah beliau juga tercatat sebagai pendidik
__ADS_1
disalah satu SMA.
"Uhuhhhkkk",Dhea yang sedang menyuap langsung tersedak karena begitu kaget.
Segera Dhea menghabiskan makannya.
Karena Syifa ada bersama ibu ustad,Dhea berusaha membantu pekerjaan yang biasa ia kerjakan dulu ketika masih tinggal bersama ibunya.
Hanya merapikan rumah,mencuci piring dan baju itu mah pekerjaan harian mak-mak dan Dhea mampu melakukan semua itu.
Tiba-tiba suara tangis Syifa terdengar.
Oau oau oau..
Dhea memutuskan menghentikan aktivitasnya.
Lalu langkahnya menuju kamar.
Setelah mengeringkan tangannya.
"Oo sayang bidadari umi."
"Cup cup,"Kata Dhea sambil memberi ASI pada anaknya.
Beliau nampak memperhatikan bagaimana Dhea dengan sabar memberi ASI pada anaknya.
****
Hari-hari terus berlalu.
Senja demi senja sudah terlewati semua kenangan
masa kecil selalu terkenang manakala setiap Dhea
ikut menghadiri pengajian rutinan.
Semuanya masih sama padasan itu.
Tatapan tajam itu.
Dhea tak bisa bertemu dengan mereka karena Siti sudah menikah dan dibawa suaminya.
Dhea merasa semakin kehilangan.
Semua temannya dan ibunya yang ikut kakaknya
di Surabayapun belum lama telah berpulang pada yang kuasa.
Sempurna sudah luka dihatinya.
Ingin Dhea bisa menyandarkan kepalanya didada
suaminya namun apadaya dada itu sangat jauh berada.
***
Waktu begitu cepat berlalu.
Syifa kecil pun semakin tumbuh dan menjadi anak yang cerdas.
Dan Dhea memutuskan mencari kerja di Jogja.
Dengan modal ijasah S1nya.
Hari-hari Syifa dititipkan pada ibu ustad.
Tak terasa Dhea membesarkan Syifa tanpa suami disisinya. Kini usianya Syifa sudah satu tahun ia sudah bisa berjalan dan berbicara umi,abi dan eyang.Dan masih banyak lagi.
Hari demi hari Dhea dan anaknya lewati bersama keluarga ningrat.
Pak ustad maupun istri tak pernah menyadari Syifa
adalah cucu di keluarga ningrat.
Dengan berjalannya waktu Dhea meminta ijin untuk tinggal dirumahnya sendiri.
__ADS_1
"Ibu dan bapak ijinkan Dhea untuk tinggal dirumah
sendiri,karena nggak enak selalu merepotkan."
Kata Dhea pamit untuk ijin tinggal sendiri.
Diluar dugaan jawaban yang beliau berikan.
"Tidak akan bapak ijinkan!!"
"Tidak akan pernah kamu keluar dari rumah ini!"
Suara penuh wibawa itu memutuskan Dhea harus tinggal dirumah itu.
Setelah memberi keputusannya beliau melangkah pergi meninggalkan Dhea yang sedang memangku Syifa kecil.
"Umi kapan abi pulang?"
Entah kenapa akhir-akhir ini Syifa rewel menanyakan abinya.
Mendengar rengekan Syifa langkah beliau terhenti.
"Entah ada keajaiban apa?"
Beliau membalikkan badan dan mendekat pada Syifa.
"Syifa.. ikut eyang saja yukkk menangkap ikan di kolam!"
Bujuk beliau.
Akhirnya Syifapun luluh juga dan langkah kecilnya mengikuti langkah sang ustad.
Drett drettt drett.
Ponsel Dhea bergetar ada panggilan masuk.
"Assalamualaikum."Umi...
Suara orang disebrang sana menyapa.
Suara itu sangat Dhea rindu untuk menyapanya.
"Walaikumsalam."Abi..
Jawab Dhea.
"Abi aku rindu."
kata Dhea tak mampu sembunyikan rasa rindunya.
"Abi akan pulang sayang.."
Suara disebrang sana menghibur hati orang yang
merindukannya.
Dan telpon itu terputus "kebiasaan ini orang!!"
Teriak Anajib gemes dengan kelakuan istrinya.
Kebiasaan lama Dhea selalu lupa ngisi daya.
Dhea tersenyum bahagia.
"Terimakasih ya Allah atas kabar gembira ini."
"Semua ini cukup membuatku bahagia."
Lembayung nampak menghias cakrawala.
Semestapun ikut merasakan bahagianya Dhea.
***
🌺🌺🌺 Terimakasih buat kakak semua atas dukungannya, apalah arti tulisan saya tanpa kalian semua...❤❤❤
__ADS_1