Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 69 Hari Wisuda


__ADS_3

Sejujurnya hati Dhea ingin selalu bersama orang yang sudah menitipkan buah hati di rahimnya tapi apa daya, jalinan cinta keduanya terhalang restu sang ustad. Status pernikahan yang mereka sembunyikan itupun belum beliau ketahui.


Hari-hari terus berganti.


Tugas akhir kuliah sudah terselesaikan tak ada halangan dan hambatan.


Ke duanya tinggal menunggu hari wisuda.


Dan hari yang dinanti pun tiba.


Tak ada yang menghadiri wisuda Dhea.


Karena sang ibu yang di kota kecil sedang sakit.


Semalam pak ustad menelponnya.


"Assalamualaikum ."


"Dhe apa kabarnya.?"


Deg degan mendengar suara ustad yang menelponnya.


"Walaikumsalam, ustad."


"Alhamdulillah Dhea sehat."


"O ya."


Sepertinya bapak tidak bisa mengantar ibumu,


ke Bandung karena beliau sedang sakit.


Terdengar suara ustad penuh kehati-hatian menyampaikan kabar sakitnya sang ibu.


DEG.


"Sakit apa ibu, ustad.?"


Dan air matanya runtuh seketika.


"Sakit biasa..,"kalau udah sepuh mah banyak yang di rasa."


kata sang ustad. dan mengakhiri percakapannya.


"Udah ya jaga dirimu."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jawab Dhea.


Dan pagi ini Dhea Anatasya melangkah seorang diri, berbeda dengan Bilqis dan Rey yang di hadiri


mama dan papanya.


Dhea harus ikhlas melangkah ke "GOR"


tempat prosesi wisudanya.


Tanpa sang imam belahan jiwanya.


Tanpa seorang ayah disisinya, karena memang ia sudah yatim dari usia dua bulan dalam kandungan ibunya. Dan tanpa hadirnya seorang ibu.


Karena beliau sedang sakit dan tak mungkin hadir untuk mendampingi hari keberhasilannya.


Walaupun tanpa siapa-siapa. Yang hadir untuk menjadi saksi pencapaian suksesnya.


Namun Dhea pantas berbangga, bukan niat hatinya untuk bersombong dengan pridikat


Cum Laude yang berhasil ia raih.


Ia sangat bersyukur dengan kondisi kehamilannya


masih bisa menjadi lulusan terbaik IKOM.


...Tak ada buket bunga, tak ada ucapan dari orang...


yang istimewa. Walaupun air mata Dhea runtuh jua, itu adalah air mata bahagia.


Nampak Bilqis dan Rey.


Kedua sohibnya itu melangkah menghampiri Dhea.


"Wah bumil hebat juga."


Selamat yaa.


"Terimakasih." kata Dhea.


Kedua sohibnya mengulurkan tangannya, memberi ucapan pada Dhea. Yang duduk sendirian di bangkunya. Acara wisuda sudah selesai dari tadi tapi ketiga sahabat itu belum meninggalkan "GOR."


Nampak ketiganya masih berselfi ria.


Setelah puas baru ketiganya berpisah.


Dhe lusa kita berjumpa di tempat kerja yaa teriak Bilqis. Mereka dapat cuti untuk menghadiri wisudanya.


Di Universitas yang berbeda.


Wajah-wajah berbahagia dibalik baju toga yang menjadi kebesaran bagi mereka untuk hari ini.

__ADS_1


Menandakan keberhasilan mereka.


Nampak wajah ganteng yang di hiasi kumis tipis dan jambangnya yang menjadi ciri kas kegantengannya.


Wajah itu selalu tersenyum.


Dia Anajib putra Ramadhan.


Lulusan terbaik dari UNY. Tahun ini pridikat Cum Laude berhasil ia raih.


Nampak senyum bangga sang ustad menyaksikan


prestasi sang putra kebanggaan.


Sang ibu pun nampak menitikkan air mata bahagianya.


Setelah prosesi Photo dengan bapak dan ibunya.


Anajib melangkah menuju mobil merahnya.


Bapak dan ibu juga langsung masuk ke mobil.


Anajib tak mampu menyembunyikan gelisah hatinya.


Laju mobil itu menepi di depan rumah besar yang bergaya joglo.


Nampak ustad dan istrinya turun dari mobil.


Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Anajib pun berlalu menuju kamarnya.


Tak sabar ingin segera menyapa Dhea.


Langsung menghubungi kontak istrinya.


Tutttt Tuttttt Tuttt.


"No yang anda tuju tidak dapat di hubungi.!"


Kecewa hatinya tak mampu di tahannya.


"UCHHHH KEBIASAAN.!"


Teriak Anajib penuh kecewa.


Dan " pranggg...!"


Suara gaduh terdengar dari dalam kamar Anajib.


"KAMU KEMANAA DHE..?"


Tok Tok Tok..,


Mas kamu kenapa?


Suara sang ibu terdengar dari balik pintu kamarnya.


CEKREKK.


Anajib membuka pintunya.


wajah ibu dan bapak sudah siap minta jawaban darinya.


Tatapan mata bapak penuh menyelidik.


Berbeda dengan tatapan sang ibu yang sangat khawatir.


"Maaf bu, pak.


"Najib tidak sengaja menjatuhkan helm."


Nampak bapak geleng-geleng kepala lalu pergi meninggalkan Anajib yang garuk-garuk kepalanya.


Ibu berniat melangkah pergi.


Tetapi Anajib menahannya.


"Ibu tolong ijinkan malam ini saya bermalam."


Ibu hanya diam dan menatap Anajib.


"Kamu tidak dengar bapak bilang apa mas.?"


Tanya ibu kesal.


"Tapi teman dah menunggu ku bu."


Anajib terus berharap ijin sang ibu.


Akhirnya.


"Yaa dah sana, nanti ibu yang akan pamitin ke bapak."


Lalu Anajib secepat kilat memakai jaket dan helmnya.


Lalu salim pada ibunya.


"Assalamualaikum." Pamitnya.

__ADS_1


"Walaikumsalam."


"Hati-hati yoo mas.!"


Pesan sang ibu.


Anajib menghidupkan motornya.


Dan tancap gas.


NGEUENGGGGGG...


Secepat kilat motor itu melaju meninggalkan rumah kediaman.


Sebenarnya banyak waktu untuk menjumpai istri yang sedang mengandung buah hatinya.


Tetapi terkendala ijin bapak yang membatasinya.


Atas ijin sang ibu akhirnya ia berhasil menjumpai orang yang selalu membuatnya tersiksa menahan rindu.


Sang bapak tak pernah tahu, nginepnya Anajib untuk menjumpai istrinya.


Kenyataan yang sangat sulit untuk keduanya.


Dhea harus rela menjaga kandungannya tanpa kehadiran suami di sisinya.


Ingin hatinya bermanja, berbagi cerita dengan belahan jiwanya. Namun apalah daya kisah cinta mereka tak seindah drama korea.


Dhea ikhlas menjalaninya. Baginya bisa memilik Anajib sudah cukup untuknya walaupun tidak bisa selalu bersama.


Cinta memang butuh perjuangan.


Dhea memilih meluruskan pinggangnya.


Semenjak kehamilannya, ia sering merasakan cepat lelah. Dhea akan menggunakan waktu cutinya dengan banyak istirahat.


Ia cepat terlelap.


Suara ketukan pintupun tak terdengar olehnya.


Tok Tok Tok..


Pintu itu terus di ketuk dari luar.


Dhe..


"Astagaaaa..., seneng banget kamu buat ku tak sabar. Suara hati pengetuk pintu terus ngedumel.


Bener-bener semakin tak sabar aku menghukummu.!"


Tok Tok Tok..


"Dheeee.."


Pintu itu semakin kencang suaranya.


Akhirnya.


"Ya Allah."Perbuatan siapa sihh.?"


Sungguh tak sopan banget.


Dhea bangun melangkah menuju pintu.


CEKREKK.


Pintu terbuka, tak menunggu pemilik kamar mempersilahkan masuk.


"Assalamualaikum."


Ia mengucapkan salam dan langsung masuk kekamar.


"walaikumsalam."


Dhea menjawab salam, dan menutup kembali pintu dan menguncinya.


Tubuh tinggi itu melepas helm dan jaketnya.


Masih diem tak berkata-kata.


Dhea masih terbawa kantuknya.


Kini malah kembali membaringkan tubuhnya.


Dan mata itu kembali terpejam.


"Astagfirullah." Bumil kamu menguji sabarku.


Bisik Anajib yang rela jauh-jauh hanya untuk menjumpainya.


Ingin rasa hatinya menerkam istrinya seketika.


Tetapi pemilik wajah ganteng itu memilih duduk di tepi ranjang dan terus menatap wajah orang yang sedang mengandung buah hati mereka.


Tak ada kata-kata yang mampu untuk melukiskan


rasa bahagianya.


Untuk saat ini ia hanya memandangi wajah Dhea yang nampak lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


**


__ADS_2