
Kau belahan jiwaku penerang gelapku.
Kau pelipur laraku disaat ku terjatuh.
Kau tak pernah mengeluh disaat kuterpuruk.
Di dalam kamar Dhea sibuk memantas diri memakai hijabnya.Tiba-tiba Anajib nyelonong masuk aja,melihat istrinya berdiri di depan kaca
ia melangkah dan mendekat lalu tangan itu memeluknya dari belakang.
"Sayang udah ijin dulu,abi nggak mo terjadi apa-apa dengan kandungan umi."
Bisiknya ditelinga Dhea.
"Aku nggak enak ijin mulu bi,mang perusahaan nenek moyangku..?"
Jawab Dhea menjawab suaminya.
"Kalau gitu biarkan abi antar ya?"
Tawar Anajib pada Dhea.
Dan keduanya keluar kamar bersiap untuk berangkat.
Sebelum berangkat Dhea seperti biasa pamit dulu
pada sang ustadz dan istri.
Melihat Anajib mengeluarkan mobil beliau bertanya.
"Mo kemana mas?"
"Anterin Dhea kerja pak."
Jawab pemilik tubuh tinggi itu langsung berlalu.
Dan membukakan pintu mobil buat Dhea.
Syifa yang sedang bermain dengan bonekanya.
Rela menghentikan permainannya dan berlari.
"Abi ikut.."
Lalu tubuh mungilnya langsung naik ke mobil
berwarna merah itu.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan.
Ustadz beserta istri terlibat perdebatan.
"Lihat kelakuan anak kita bu,berani-beraninya nikah tidak minta ijin,tau-taunya sudah memiliki
Syifa dan kini Dhea sudah mengandung anak keduanya."
Kata beliau pada istrinya.
"Trus bagaimana dengan perjanjian perjodohan
yang sudah bapak dan ustadz Maliki sendiri setujui ?"
Tanya sang istri mulai khawatir.
Lalu nampak wajah beliau berkerut,dan kini
kaki beliau memilih berlalu keluar dari kamar
Di dalam perjalanan Syifa terus bernyanyi.
"Nanti pulang nganter umi,bapak mengajak abi pergi ke pondok ustadz Maliki."
Kata Anajib pada Dhea.
"Mo melamar Ashofa?"
Tanya Dhea dengan juteknya.
"Heiii,kok berharapnya seperti itu?"
"Oke kalau umi monya begitu."
Kata Anajib sambil fokus menyetir mobilnya.
Tapi matanya melirik sedikit ke arah orang yang mulai manyun,dan haii ada air mata di pipi itu.
Anajib dengan kejahilannya membiarkan istrinya
sibuk menghapus air matanya.
Dan mobil itu akhirnya memasuki gerbang perusahaan di mana Dhea bekerja.
Dan Dheapun turun.
Sebelum melangkah pergi Dhea mencium punggung tangan Anajib. Dan cup bibir merah yang diatasnya dihiasi
kumis tipis itu mendaratkan kecupan sayang dikening Dhea.
Dan dari balik tirai ruang pribadinya.
Sepasang mata itu menyaksikan semuanya.
"Syifa salim sama umi dulu!"
Perintah sang abi,setelah cipika-cipiki dengan belahan jiwa beserta buah hatinya Dhea melambaikan tangannya.
"Daaaa umi!"
Teriak Syifa sambil melambaikan tangannya.
Lalu mobil merah itu segera putar balik,dan melaju meninggalkan perusahaan itu.
Setiap langkah Dhea dalam pengawasan mata setajam elang. Gejolak hati terbakar rasa cemburu
__ADS_1
yang tak beralasan.
Terkadang raga bisa saja membohongi.
Tapi,jiwa sulit untuk diajak kompromi karena ia terlalu jujur untuk masalah hati.
Gejolak hati terus jujur mengakui akan ada perasaan yang terlalu lama ia simpan.
Walau hanya sekedar bisa menatapmu.
Itu sudah mampu menenangkan pikirku.
Dan sedikit membasuh rinduku.
Sulit untuk memilikimu,karena hatimu tak pernah
terbuka untukku.
Langkah Dhea berhenti dimeja kerjanya.
Baru saja pantat itu ditaruh untuk duduk dikursinya.
Seperti biasa mbak Lily menghampirinya
lengkap dengan sapaan dan senyum manisnya.
"Pagi nona,tentunya sudah sehatkan?"
Sapa mbak Lily,senang bercanda dia.
"Alhamdulillah,mbak sudah."
Jawab Dhea sembari tersenyum dia.
"Oke,seperti biasa pak bos menanti laporan kerjamu!"Mbak Lily menyampaikan pesan pak bos pada Dhea.
Langkah Dhea perlahan menuju ruang khusus
pak bos.
Dan perlahan pintu itu Dhea ketuk pelan.
"Masuk."
Suara dari dalam memintanya masuk.
Dhea membuka pintu.
"Permisi pak." kata Dhea sambil melangkah mendekat meja pak bos.
"Duduklah dan tolong baca semua planning yang
dibuat."
Perintah pak bos seperti biasa hanya sibuk menatap layar ponselnya.
Dhea sudah selesai membacakan dari tiga menit
yang lalu.
Dan berusaha mencuri pandang pada tatapan yang selalu sembunyi dari kaca mata hitamnya.
Merasa ada yang memperhatikan nalurinya mengangkat kepalanya.
Sama-sama kagetnya,tidak mengira Dhea berani menatapnya.
Begitu juga dengan Dhea,tidak menyangka wajah
yang selalu tertunduk itu kini menatapnya.
Saking gugupnya tangan Dhea sampai menyenggol gelas minum pak bos.
Dan reflek keduanya maju tangan keduanya berburu menyelamatkan gelas itu.
"Alhamdulillah gelas itu selamat tidak jadi melayang dan terjatuh."
Bisik Dhea tapi ada tangan lain yang ikut menyelamatkan gelas itu.
"Apa?"
Tangan pak bos begitu erat mengegam tangannya.
Dan kaca mata yang selalu melindungi matanya.
Itu terjatuh saat berburu menyelamatkan gelasnya.
"Wajah itu..?"
"AMIR..??
Teriak Dhea sambil berusaha menarik tangannya.
"Eemmm,maaf Dhee!"
Katanya sambil melepaskan tangan Dhea.
"Oke silahkan kembali ketempatmu!"
kata Amir berusaha mendamaikan hatinya.
Dhea tidak pernah menduga pak bos yang setiap
hari ia bacakan planning kerjanya adalah Amir
teman sekolah waktu SMA.
Bagi Dhea tak apa-apa bekerja di perusahaan Amir
niatnya memang tulus bekerja.
Tapi berbeda dengan rasa yang bergejolak dihati
pak bosnya.
__ADS_1
Akhirnya waktu pulang tiba.
Dhea lupa tadi pagi berangkat kerja diantar suaminya.Jadi Dhea harus menunggu dijemput untuk pulangnya.
Sedangkan Anajib sang suami sedang pergi 'sowan' ke pondok pesantren bersama bapaknya.
Dia lupa Dhea tak ada yang menjemput pulang kerjanya.
Mata itu sudah lama menatap Dhea yang lumayan lama menunggu. Mbak Lily dan mbak April sudah dari lima menit sudah pulang dulu.
Akhirnya langkah itu mendekat.
"Belum dijemput?"
Suara itu mengagetkan Dhea.
"Belum,pak!"
Jawab Dhea pada Amir.
Tiba-tiba Amir tertawa.
"Heii,kamu panggil aku Amir saja Dhe..!"
"Maaf tapi bapakkan atasan sekaligus pemilik perusahaan ini."
Jawab Dhea apa adanya.
"Oke,terserah kamu saja."
Jawab Amir sambil melangkah menuju mobil mewahnya dan menawarkan tumpangan padanya.
"Terimakasih,aku menunggu jemputan saja."
Jawab Dhea memilih bertahan untuk menunggu Anajib.
Amir tidak pernah putus asa.
Apalagi gejolak hatinya selalu meronta bila berada dekat dengan Dhea.
Sampai akhirnya mobil merah itu masuk gerbang dan menepi. Melihat mobil suaminya Dhea buru-buru melangkah sebelumnya menganggukkan kelala kearah Amir yang selalu menatapnya penuh kerinduan.
Mobil merah itu melaju perlahan meuju kota kecil.
Dhea masih diam,cemburu dia tau Anajib pulang
dari pondok pesantren milik abahnya Ashofa.
Anajib membiarkan istrinya.
Sampai mobil itu menepi di halaman rumah joglo itu. Dhea masih diam dan turun langsung berlalu.
"Dasar kutu buku,sudah tau suaminya ada di sini
cemburu"
Kalau aku nginep nggak pulang itu baru marah.
Dan Anajib bergegas menyusul Dhea masuk kamar. Ia tak mempedulikan lagi tatapan marah
bapaknya. Dan gelengan kepala ibunya.
Di dalam kamar tidak ada Syifa.
Anajib langsung mengunci pintu kamarnya.
Melihat yang datang suaminya, Dhea langsung menghindar berlalu masuk kamar mandi.
Anajib lebih gesit menyusul ikut masuk ke kamar mandi. Dhea yang dari tadi diam kini buka suara
"Mas bojo, kamu mo ngapain?"
Protes Dhea terdengar kesel karena sijail itu
tak mo keluar.
"Mo mandilah, mang kamu mo yang lain?"
"'Hemmmmmmm....?"
Bisik Anajib menggoda.
Membuat Dhea tak berkutik,dan memilih membiarkan sijail itu mandi.
Selesai mandi.
Dhea meminta Anajib keluar.
"Nggak mau!"
"Aku mau di sini.!"
Jawab Anajib nakal sambil cengegesan dengan kemenangan dia paling senang memperhatikan istrinya yang masih salah tingkah dan malu-malu
dalam pandangannya.
Melihat Dhea terus memegangi ujung handuk yang melindungi tubuhnya.
Langkahnya mendekat,dan tangan itu dengan nakalnya membawa Dhea dalam peluknya
"Sayang kamu jangan punya pikiran cemburu pada Ashofa,aku akan selalu di sini untukmu dan anak-anak kita."
Bisiknya dengan nafas yang memburu.
Dan tangan itu semakin nakal handuk yang melindungi tubuh Dhea entah sejak kapan terlepas.
Dan kini keduanya sudah berada diatas ranjang.
Aku akan meminta hak ku bisiknya pelan.
Dan....
🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya kakak🌺
__ADS_1
TERIMAKASIH HADIR DAN DUKUNGANNYA.🙏🙏
Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisannya.🙏