
"kutu buku aku sangat merindukanmu."
Bisik Anajib sambil terus menatap Dhea yang masih terlelap kalah dalam kantuknya.
Entah berapa menit Anajib hanya duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah itu.
Kini tangannya membelai wajah orang yang sudah menyiksanya dalam kerinduan dan keinginan untuk menuntut haknya.
"Dhe ayolah buka matanya kamu nggak rindu apa?"Ini mas datang, Dhe...
Mata itu masih terpejam.
SUNGGUH GEMASSSSS AKU.!!"
Keluh Anajib dalam hati.
Sungguh tak mampu lagi Anajib menahan gejolak yang ada ingin segera aku menghukummu.
Gejolak nya sudah tak mampu lagi ditahannya.
Kini tangannya membelai wajah Dhea.
wajah gantengnya mendekat sangat dekat hingga nafasnya membuat hawa hangat di wajah Dhea.
Dan akhirnya mata itu pun terbuka.
wajah itu nampak kaget.
"Mas apa yang kau lakukan.?"
Tanya Dhea pada suaminya yang sibuk menyusuri
wajahnya dengan bibirnya.
"Menurutmu...?"
Tanya sang suami menatap nakal.
Lalu tak ada percakapan karena bibir itu sudah
secepat kilat menguasai bibir Dhea.
Entah dari mana keberanian Dhea kini membalas
pergerakan suaminya.
kini bibir itu bergerak turun terus menyusuri setiap lekuk dan lembah perbukitan.
Detak jantung pemilik wajah ganteng itu semakin berpacu. Dhea merasakan tangan itu mulai bekerja satu persatu yang menempel pada tubuh Dhea dilepasnya dan tangan itu menanggalkan pakaiannya sendiri.
Dan kini tangan itu semakin nakal pergerakannya. Dan Dhea hanya pasrah bentuk menunaikan kewajibannya.
Keduanya bermandikan peluh hingga akhirnya sampai pada puncaknya.
Terimakasih ya Dhe. Kata Anajib sambil berbaring di samping istrinya.
Kini dia mencium sayang kening Dhea.
Untuk sesaat ke duanya saling menatap.
"Mas alasan apa yang kamu berikan pada bapak sehingga beliau memberimu ijin bisa keluar untuk bisa menjumpai ku.?"
Anajib hanya tersenyum.
Dan mengacak rambut istrinya.
Mas tidak minta ijin bapak, tapi minta ijin pada ibu.
Kini mata itu menatap dalam. "Dhe kamu jangan banyak pikiran." Mas kan sudah bilang nanti kita hadapi bersama. Pokoknya mas minta tolong jaga buah hati kita. Selama mas melanjutkan study keluar. "Bagaimana kalau aku rindu mas..?"
DEG.
Pertanyaan itu yang Anajib takutkan.
Karena sebenarnya jiwanya sendiri bisa rapuh karena tersiksa rindu.
"Kamu tinggal menitipkan rindumu pada doa dan senja."
Seperti kamu dulu menanti mas pulang dari pondok. Dan seperti saat sekarang ini.
Kamu bisa melaluinya, bisik Anajib dengan susah payah menekan rasa harunya.
"Sudahlah kita mandi dulu."kata Anajib sambil menarik tangan Dhea.
"Mas saja dulu ."kata Dhea memalingkan pandangannya. Melihat kelakuan suaminya.
"Heyy kamu kenapa.?"
Kata Anajib sambil cipratkan air kearah Dhea yang
menyembunyikan diri di balik selimutnya.
__ADS_1
"Dhee."
"Baju mas mana.?"
Suara itu meminta baju salin.
Dhea bangun dan melilitkan selimut itu untuk menutup tubuhnya.
Pemilik tawa lebar itu tertawa nakal.
"Aku sudah melihat semuanya Dhe."
"Kenapa masih malu.?"
Tangan itu dengan nakalnya menarik selimut yang dililitkan di tubuh Dhea.
"Astagaa mas, nakalnya kamu.!"
"Sebagai hukuman cari sendiri bajumu.!"
Teriak Dhea yang buru-buru melangkah ke kamar mandi. Dan BRUK suara pintu kamar mandi itu Dhea tutup.
Anajib pun cengegesan melihat kelakuan istrinya
yang selalu malu-malu.
Cekrek..
Pintu kamar mandi itu pun terbuka.
Tubuh itu nampak indah untuk dilewatkan dari pandangan. Anajib menatap tubuh yang kini semakin banyak perubahan dari semua segi ukuran. wajar Dheakan dalam kondisi mengandung buah hati mereka.
Merasa selalu dalam pandangan nakal suaminya
Dhea sampai meminta Anajib untuk menghadap dinding dulu.
"Mas tolong tatapannya jangan kesini mulu.!"
"Tolong menghadap dinding sebentar.!"
Kata Dhea berharap sambil terus memegang handuk pelindung tubuhnya.
"Nggak mau.!"
"Dindingkan tidak indah untuk di pandang.!"
Mas jauh-jauh ke sini untuk memandang mu.
"DASAR NAKALLLL..!"
Teriak Dhea kesal.
Dan dengan gerakan secepat kilat Dhea memakai bajunya.
"Mas kamu mau makan sekarang atau nanti.?"
Kalau sekarang, maaf belum ada nasi.
Nanti saja ya mas.!
"Maaf nanti pulang dari sholat berjamaah sekalian beli nasi ya mas.!"
"SIAP NYONYA."
Kata Anajib sambil tertawa.
Dasar BUMIL nawarin makan tapi nggak punya nasi. Anajib membatin geli kelakuan istrinya.
Tiba-tiba, drettt drett ponsel Anajib berbunyi.
Dhea menyiapkan sajadah dan mukena.
Dari bapak.!
Anajib menatap Dhea.
Angkatlah mas..
"Assalamualaikum." Pak.
Salam Anajib menyapa sang bapak yang menelponnya.
"Walaikumsalam."
Suara bapak terdengar kas dengan wibawanya.
"Kamu bermalam di mana mas?"
Suara itu terdengar mulai dengan nada tinggi.
"Di teman pak, Najib sudah minta ijin ke ibu pak."
__ADS_1
"Bapak mau kamu pulang sekarang.!!"
Tutttt tuttt. Dan panggilanpun terputus.
Dhea sudah mendengar percakapan antara anak dan bapak itu.
Kini keduanya saling menatap.
"Aku akan melakukan apa yang kamu mau."
Kata Anajib pada istrinya.
Kini Dhea mengambil jaket suaminya.
"Pulanglah mas, turutin permintaan bapak."
Kata Dhea sambil memberikan jaket itu.
"Tapi Dhe bila kamu mau aku bermalam, aku akan turuti kemauanmu."Kata Anajib.
"Tidak mas. Pulanglah!"
Kata Dhea yang sebisanya menahan rindunya.
Pada suaminya.
Anajib mengeluarkan amplop seperti biasanya.
Suaminya akan memberinya uang jatah hariannya
buat Dhea. "Terimalah Dhe..!" lalu amplop itu dikasihkan dalam gengaman jemari Dhea.
"Mas..hati-hati ya.!"
Kata Dhea dengan suara parau susah payah menahan tangisnya.
"Pasti cinta, mas akan hati-hati."
Jaga selalu buah hati kita.
Sebelum keluar kamar tubuh tinggi itu mencium kening dan mencium perut Dhea.
"Assalamualaikum."
Lalu Dheapun mencium tangan suaminya.
"Walaikumsalam."
Jawab Dhea .
Sekejap bayangan orang yang ia cintai menghilang .
**
Senja di kota kecil panoramanya membuat kagum siapapun yang memandangnya.
Nampak pak ustad mondar-mandir di teras rumahnya yang sangat luas yang bergaya joglo.
"Bapak sudah melarang kenapa ibu malah memberi ijin?"
Jadi itu anak tidak disiplin.
Suara sang bapak mulai terdengar galaknya.
"Yaa udah, ibu minta maaf pak.!"
Kedua orang tua itu terus menunggu.
Dan sampai masuk sholat maghrib tiba.
Yang di tunggu belum kunjung datang.
Akhirnya pak ustad memilih pergi ke masjid.
Nampak sang ibu semakin cemas dan menutup pintu lalu masuk ke dalam rumah.
Motor itu terus melaju.
Tak pernah takut apa yang akan terjadi.
Kini motor itu menepi, karena Anajib akan melaksanakan sholat dulu.
Dhea pun tak jauh berbeda.
Ia melangkah mengambil air wudhu.
Biarlah kisah cinta ini ku serahkan pada kuasa Tuhan. Bisik hati Dhea berusaha tegar menghadapi
kenyataan hidupnya.
***
__ADS_1