Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Episode 119 Cinta Sejati Amir


__ADS_3

Cinta sejati dapat diartikan sebagai perasaan yang


tulus dan datang dari hati yang paling dalam.


Menerima segala kekurangan dan selalu berusaha


menjadi yang terbaik.


Memiliki cinta sejati membutuhkan proses yang panjang dan tidak dapat diraih hanya dengan waktu yang singkat atau sekejap saja.


Cinta sejati pun tidak hanya dapat di berikan atau miliki kekasih hati atau pasangan saja tapi Amir juga berikan cinta dan kasih sayangnya buat keluarga. Entah itu keluarga sang ustadz ataupun


keluarga yang Amir bina dengan Dhea.


Keluarga bukanlah hanya sekedar status. Keluarga


merupakan tempat pulang uang dan popularitas yang Amir miliki tak mampu membayarnya kebersamaan dengan Dhea dan kedua anaknya.


Butuh waktu yang panjang dan sebuah pengorbanan Amir mendapatkan semuanya.


Temaram lampu kamar Amir menambah suasana


semakin romantis belum di tambah alunan lagu yang mendayu-dayu. Amir terus memejamkan mata menikmati suasana yang begitu menenangkan batinnya.


Sekian lama terbayar sudah ia lewati hari-hari bersama malam menemani Dhea yang selalu menangis meratapi kisahnya yang ditinggal oleh Anajib. Alhamdulillah Dhea mulai menerima keadaan Anajib kini hanyalah sebuah kenangan.


Dan Dhea berhak bahagia bersama orang yang tulus mencintainya.


Seketika Amir mematikan musik ketika Dhea mulai menggigau. Saat ini Amirpun tidak pindah kamar. Justru Amir tersenyum dan terus memandangi wajah orang yang terus memanggil namanya.


"Amir....."


"Amir...."


"Amir..."


Suara Dhea terus memanggilnya..


"Panggil terus namaku Dhe...."


Bisik Amir sambil memeluk Dhea.


"Hemmmm,begitu baru benar panggil nama suamimu..!" Walaupun berisik aku nggak akan pindah kamar.."


Amir terus berbisik pada Dhea yang terlelap dalam tidurnya dan terus memanggil namanya.


Bagi Amir suara Dhea yang terus memanggil dibawah alam sadarnya lebih indah dibanding lagu romantis pengantar tidurnya.


"Amir....!"


Suara itu begitu jelas terdengar ditelinga Amir.


"Amirr......!"


Kali ini semakin kencang bak toak.


Perlahan tapi pasti Amir segera membuka matanya.


Nampak jelas Dhea begitu dekat berada di depan mukanya.


Ketika Amir hendak memeluknya Dhea malah menariknya untuk bangun.


"Amir ayooo bangun..!"


"Kamu kalau malas bangun kita akan tinggal di rumah pak ustadz.."


Ancam Dhea pada Amir.


Mendengar pak ustadz Amir segera bangun.


Dan segera mengambil air wudhu.


"Oke...,aku bangun nyonya..!"


Jawab Amir sambil cengegesan.


Setelah solat subuh berjamaah Amir melompat lagi di atas ranjang kekuasaannya.


Dengan serta membawa Dhea dan seperti biasa Dhea akan komplain.


"Amir sudah siang kenapa kita tidur lagi..?"


Tanya Dhea yang terdengar bawel.

__ADS_1


"Siapa yang ngajak kamu tidur bawel..?"


"Kita akan olah raga dan jangan lupa selalu panggil nama suamimu yang tampan ini dengan benar!"


Dan setelah selesai berkata-kata Amir tidak bermain-main dengan ucapannya.


Dhea terus sembunyi di dalam gulungan selimut.


Begitu mudahnya Amir menerjang perlindungan Dhea dan penuh cinta Amir menerkam Dhea.


Teriakan demi teriakan Dhea membuat Amir semakin kecanduan.


Amir bagai diatas angin senyum kebahagiaan terukir jelas menghias wajah tampannya.


Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.


"Siapa lagi pagi-pagi buta bikin kacau saja..!"


Amir mengomel sambil meraba keberadaan Dhea.


"Kemana lagi Dhea..?"


Dan mata Amir terbelalak melihat jam dinding dikamarnya menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Astaga ternyata sudah siang,kukira masih pagi buta.."batin Amir.


Suara pintu terus di ketuk dan tak mau menunggu.


Sambil berlindung diselimut Amir berjalan menuju


pintu.


Ketika pintu dibuka wajah Fatir dan Syifa sudah tersenyum menyapanya.


"Lhooo... kalian..?"


Tanya Amir penuh heran.


"Maaf abi,umi yang minta kami bangunin abi."


Jawab keduanya sambil terus tersenyum.


"Oke terimakasih sayang,dan tolong panggil umi!" pinta Amir pada keduanya.


Lalu Fatir dan Syifa pun berteriak memanggil uminya.


Dengan hitungan detik langkah Dhea sudah menjumpai Amir yang hendak mandi.


Kepala Amir keluar sedikit dari pintu kamar mandi.


"Ada apa..?"


Tanya Dhea.


"Kapan Fatir dan Syifa datang..?"


Tanya Amir diposisi semula.


"Barusan,mereka bersama eyang kakungnya."


Jawab Dhea sembari merapikan seprai kamarnya.


Mendengar dengan eyang kakungnya Amir tidak banyak tanya.


Entahlah tanpa melihat wajah beliau saja.


Sudah terbayang kewibawaannya. Pak ustadz bukan siapa-siapa Amir. Namun bapak itu seperti


memiliki kekuatan untuk selalu mengatur hidup Amir kearah ketaatan.


Selesai mandi Amir menjumpai beliau. Dengan wibawa beliau berkata "anak-anak minta menjemput uminya..!"kata beliau pada Amir yang duduk dihadapannya.


Amir hanya mengganguk setuju.


Walau sejujurnya hati Amir lebih suka Dhea tinggal dirumahnya.


Dengan demikian akan membantu proses move on


Dhea akan serangkaian kenangannya bersama Anajib. Dhea memang tak akan pernah sepenuhnya melupakannya. Tetapi Amir terus berusaha membantu Dhea untuk berusaha menerima perpisahan dengan Anajib.


Kembali kerumah joglo adalah sebuah perjuangan


dan butuh keberanian untuk menghadapi kenyataan terus belajar berdamai dengan masa lalu bukan hal yang mudah untuk seorang Dhea.

__ADS_1


Semua hal yang terjadi di masa lalu itu mengandung pembelajaran tentang sebuah perjuangan dan pengorbanan.


Untuk sebuah pengakuan sang ustadz butuh waktu panjang.


Dhea maupun Amir tidak bisa mengubah arah mata angin. Namun keduanya bisa menyesuaikan pelayaran rumah tangganya untuk menggapai tujuan mereka.


Bagi sang ustadz senyum Dhea adalah awal kehidupan yang mereka rindukan bersama keluarga nigratnya. Dhealah yang melahirkan generasinya lahir ke dunia.


Lembayung selalu setia menghias cakrawala.


Begitu juga Dhea terus setia menanti Amir pulang dari perusahaannya.


Bukan masalah bagi Amir dimanapun Dhea menantinya di Istana megahnya.


Ataupun di rumah joglo sang priyayi.


"Melihat senyummu... hilang lelahku."


Bisik Amir pada Dhea yang kini sedang berbadan dua.


Tak ada teriakan Fatir dan Syifa karena keduanya


sudah kembali kepondok pesantren.


Kebahagian bagi sang ustadz kedua cucunya selalu taat akan semua nasehatnya.


Dhea pun tak pernah menaruh dendam pada beliau. Entahlah doa apa yang beliau panjatkan.


Amirpun selalu mengiyakan semua permintaannya.


Kehilangan Dhea kini yang beliau rasa dan takutkan.


Namun dengan wibawa yang beliau punya semua kehendak pastilah bisa.


Dhea tetaplah Dhea yang selalu menjujung tinggi


bakti pada sang keluarga priyayi.


Walaupun kini Amir sudah memperistrinya dan Amir mampu memberi apapun yang Dhea mau.


Toh tak serta merta Dhea meninggalkan keluarga


yang sudah banyak menoreh luka di hatinya.


"Terimakasih ya Dhe... kamu masih mau menemani bapak dan ibu di sini.."


Suara wibawa itu memecah kesunyian dimeja makan malam ini.


Dhea hanya mengganguk seperti biasa.


Sampai Amir dengan jailnya menginjak kakinya.


"Auhhhhh.... "teriak Dhea sambil melotot ke Amir yang tanpa dosa terus menyuap nasinya.


Seperti paham suasana meja makan akan menjadi apa,sang ustadz dan istri memilih pergi meninggalkan keduanya.


"Amir......"


"Sakit tau... ,sebagai hukuman merapikan meja makan adalah tugas mu..!"


Teriak Dhea merasa kesal pada Amir yang semakin hari semakin jail.


"Baik nyonya jangankan cuma nyuci piring,mencuci kolam renang sekalipun akan saya laksanakan..!"


Kata Amir sambil merapikan meja makan.


"Bomat...!"


Kata Dhea berlalu meninggalkan Amir.


"Dasar bumil..,dikit-dikit hukuman..!"


Kata Amir sambil mencuci piring bekas makan mereka.


Cinta benar-benar ampuh mampu membuat Amir


selalu tulus melakukan apapun demi orang yang ia cintai. Apalagi kini Dhea sedang mengandung buah hatinya.


*****


Sampai jumpa diepisode-episode terakhir tentang


kisah kala senja di kota kecil...

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya...🙏🙏🙏


__ADS_2