
Merindukan orang yang Anajib cintai memang begitu menguras energi dalam tubuhnya.
Semua mempengaruhi emosinya.
Ia sadar betul keputusannya untuk menikah muda
adalah untuk menyempurnakan Dinnya.
Anajib tak pernah menyesalinya, yang menyiksanya untuk saat ini adalah cara membagi waktunya, antara tugas akhir yang begitu menyita
waktu, pikiran dan tenaganya.
Sedang sisi lain hatinya sangat merindukan istrinya yang terpaksa hidup jauh darinya.
Pagi ini Anajib dan Beni nampak sibuk mereka mempersiapkan draff akhir dari skripsinya.
Langkah Anajib menuju ruang " Dosbing."
Rasa deg-degan berpacu dalam dadanya.
Dan ia patut bersyukur semua berjalan lancar.
Tak ada revisi.
Bangga memiliki sahabat sepertimu." BRO."
Beni sang sahabat mengakui kecerdasan yang Anajib miliki.
Oke kawan tinggal tunggu wisuda.
Kini Anajib sibuk dengan apply beasiswa, Univ yang menawarkan.
Doa sang ustad untuk putra kebanggaan memang selalu di kabulkan oleh yang Kuasa.
Selangkah lagi menuju Al Azhar Kairo Mesir.
Sebenarnya kenyataan yang sama dengan apa yang suaminya rasakan.
Dhea Anatasya atau nyonya Anajibpun sangat menginginkan kehadiran orang yang ia rindukan.
Tapi sayang kerinduan demi kerinduannya harus
ia relakan tak bertepi.
Pertemuan yang Dhea harapkan untuk saat ini belum bisa terwujudkan. Karena kesibukan suaminya dituntut memprioritaskan tugas akhirnya.
Begitupun Dhea juga harus berjuang menyelesaikan tugas akhirnya.
Dhea dituntut kesabaran dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Karena pusing dan mual harus selalu ia rasakan.
Kamu sakit mag kali Dhe.!
Kata sang sohib. Bilqis sering memergoki Dhea muntah-muntah, kadang di kampus atau di tempat kerjanya.
Seperti saat ini.
Lembayung menghias cakrawala.
Lukisan Tuhan nampak luar biasa indahnya.
Suasana yang selalu menghibur hati seorang Dhea
sulit untuk dilukiskan oleh kata-kata.
Suasana peralihan siang ke malam.
Saat-saat yang selalu ia tunggu, untuk melepas rindu pada seorang Anajib.
Itu hanyalah penggalan dari nyanyian rindunya.
Yang selalu ia kenang dimanapun Dhea berada.
Kala jam istirahat untuk menunaikan sholat Maghrib tiba.
Dhea selalu memandang ke ufuk barat.
Di mana lembayung memamerkan keindahan warnanya.
Itu sudah cukup bagi Dhea mengobati rindu akan
seorang Anajib Putra Ramadhan.
Kali ini Dhea menitikkan air mata rindunya, dan tangannya mengelus perutnya.
"Mas aku merindukanmu."
SEKARANG.
Bukan hanya aku yang merindukanmu.
Tapi ada buah hati kita di rahimku juga selalu
mengharapkan hadirmu bisik hati Dhea sambil mengelus perutnya.
"Buruan Dhe, waktu istirahatkan sangat singkat."
Belum kita cari makan.
Suara Bilqis menyadarkan Dhea yang sibuk berdiskusi dengan hatinya.
__ADS_1
"Siap Bil."
Kata Dhea, lalu mempercepat geraknya.
Ia pun bergegas mengambil air wudhu. Dan segera menunaikan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.
Setelah keduanya selesai sholat maghrib.
Nampak kak Umar datang membawa jinjingan
plastik kresek berwarna putih.
Jadi nampak jelas isi didalam plastik itu.
Dua bungkus nasi, setelah dekat kak Umar memberikan pada Dhea dan Bilqis.
Nihh, ada rezeki buat kalian . Kata kak Umar sambil memberikan plastik putih itu.
"Alhamdulillah."
Ucap syukur Dhea dan Bilqis.
"Wahhhh lagi banyak uang nihhh, pakai acara traktir kita makan?"
Tanya Bilqis sambil tersenyum manis.
"Nggak juga, orang itu amanah dari kak Annisa."
Kata kak Umar sembari tertawa.
"Oke, TKS yaa kak buat kak Annisa.!
Kata Dhea dan Bilqis dan berlalu meninggalkan Umar yang bersiap untuk sholat.
Nampak Umar mengacungkan jempolnya.
**
Di kamarnya Anajib benar-benar "GEGANA"
GELISAH GUNDAH GULANA.
"Dhea kemana sihhh?"
Setiap ku hubungi tak pernah diangkat.
Ini bener-bener harus ku beri hukuman.
Anajib berkata-kata sendiri. Tak pernah menyadari
semua yang ia ucapkan terdengar oleh sang ibu.
Ibu Anajib mengetuk pintu kamar anaknya.
Tok Tok Tok.
Masss...
"Kamu ngobrol dengan siapa?"
Teman bu. Sahutnya dari dalam kamar.
"Lho bukannya Beni sudah pulang yaa?"
Ibu ternyata belum puas dengan jawaban Anajib.
Akhirnya wajah ganteng itu muncul dari balik pintu. Beni memang sudah pulang bu.
Najib ngobrol sendiri, tadinya mau telpon teman.
Tapi HP nya susah di hubungi kata Najib panjang lebar memberi alasan.
Ibu menatap sang putra kebanggaannya.
Ibu heran sama kamu mas, akhir-akhir ini suka
ngobrol sendiri.
Kata ibu sambil berlalu.
Anajib hanya tersenyum mendengarkan protes
sang ibu. O yaa, bu Anajib ijin mo nginep ya.
Ibu yang sudah berlalu, terpaksa menghampiri Anajib dengan rasa heran kini ibu bertanya.
"Segitu sibuknya ya mas tugas mu?"
Tanya ibu penuh protes.
Ini acara nginep aja bu, nggak ada kaitannya dengan tugas. "Tapi cenderung kewajiban batin Anajib."
Melihat buah hatinya sibuk mengeluarkan motor.
Ibu mengingatkan lagi, "mas kamu nggak ijin ke bapak dulu?"
Kan sudah ijin ibu, kata Anajib sambil memakai helmnya. Setelah salim pada ibunya.
pemilik wajah ganteng itu tancap gas meninggalkan ibu yang mengantarnya di teras.
__ADS_1
Gelapnya malam tak ia hiraukan.
Bersama doa ia pasrahkan perjalannya memecah heningnya malam.
Di dalam kamar Dhea merasakan mualnya.
Oeekkk Oeekkk.
Dengan hati-hati ia melangkah ke kamar mandi.
Malam ini mualnya sudah mulai berkurang.
Ia sudah bisa tidur.
Tok Tok Tok.
Mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Dhea bangun lalu duduk sebentar di tepi ranjang.
pusing sedikit, dan hatinya kaget menatap jam dinding baru menunjukkan pukul 03.00.WIB.
Ragu-ragu ia melangkah ke pintu.
CEKREKK..
Ketika pintu kamarnya terbuka, wajah suaminya
berada di hadapannya.
"Ini mimpi apa nyata?"
Batin Dhea masih berdiri mematung tanpa kata.
HEIII..
"Kamu tak menyuruh suamimu masuk?"
Suara itu menyadarkan Dhea.
Ehhh, mas.. buru-buru ia salim pada suaminya.
Lalu Anajib menutup pintu dan menguncinya.
Anajib melangkah mendekat ke Dhea, ingin ia segera memeluk tubuh istrinya yang sudah satu bulan ia tinggalkan.
Belum juga tangan itu mengapai tubuh Dhea.
Tiba-tiba Dhea merasa mual yang amat sangat.
Oeekkk Oekkkk.
Dhea melangkah menuju kamar mandi.
Anajib buru-buru mendekat untuk memberi pertolongan. Tapi tangan istrinya menghalau memberi isyarat agar Anajib jangan mendekat.
Setelah memuntahkan semua makanan yang tadi ia makan Dhea kembali menuju ranjangnya.
Anajib tampak khawatir.
"Dhe kamu sakit apa?"
Kini tangannya berhasil memeluk tubuh orang yang ia rindukan.
"Aku hamil mas."
Kata Dhea dalam pelukan suaminya.
"Apa.?"
Anajib memandang wajah Dhea penuh cinta.
Hatinya sangat bahagia, ciuman sayang mendarat
dikening Dhea. Secepat kilat ciuman itu sudah pindah kebawah kini bibir keduanya bertemu.
Sangat sebentar. Dhea mendorong tubuh suaminya
lagi-lagi rasa mual itu terasa.
Oeekkk Oeekkk
Suara itu begitu indah di telinga Anajib.
Melihat Dhea yang mendekat, ia berdiri dan menuntunnya.
"Maafkan aku ya mas, mungkin mas menginginkan
sekarang?"
Kata Dhea merasa bersalah menatap wajah suaminya yang gagal menuntut haknya.
Nggak papa cinta, masih ada hari esok.
kata Anajib menghibur istrinya.
Dan tak lama suara adzan subuh berkumandang
menghibur keduanya.
__ADS_1
**