
"Tik ... Tok ... Tik.. Tok." suara perjalanan jarum jam dinding dikamar Dhea terus terdengar, sejak
kapan bunyi jarum jam itu begitu merdu bunyi
nya, Dhea baru menyadari bunyi detak jarum jam
itu mampu memberi irama pada hidupnya.
Dhea bangun dari tidurnya dan segera menutup korden kamarnya. terlihat mentari itu mulai menghilang, dan seperti senja senja yang lalu
mentari itu menyisakan warna yang sangat indah
penuh kemerahan , sepertinya mentari tau kekecewaan di hati Dhea. mentari itu ingin menghapusnya bersama menghilangnya sinarnya.
Dhea beranjak mengambil mukenah beserta musafnya. sebelum teriakkan siti dan aminah memanggilnya, Dhea sudah nonggol duluan diteras rumahnya.
"Widihhhhh..." yang habis diomelin camernya.
Berangkat ngajinya nggak harus diteriakin namanya sudah siaga nichh. mulut Siti tak terdengar mengoda lagi , rupanya Dhea menutup mulut Siti dengan tangannya. "suttt .. Dhea terus
menahan mulut Siti dengan tangannya"
"Aduchhh.. sakit tauu .!!
Seketika Dhea menarik tangannya dari gigitan
Siti. "Ochh ... sakit yaaa..??'
Sorriiiiii... sengaja tuchhh, ledek Siti menirukan
gayanya si jahil itu.
Semakin dekat langkahnya dengan masjid tubuh Dhea seperti tak bertulang. tiba-tiba lemas tak berdaya. hatinya terus berbisik penuh doa .
semoga tatapan tajam itu bukan untukku doanya.
Kamu mencari dia... yaaa.?
suara Siti menggoda, Dhea hanya tersenyum menutupi luka hatinya. dan terus melangkah menggambil air wudhu.
"Dheaaa.. suara Salman menghentikan langkahnya. ada titipan buat mu .
dari siapa..? tanya Dhea , bukannya mengambil
amplop biru itu malah bertanya.
nanti kamu juga tau jawabnya , kata salman sambil memberi isyarat jangan berkata - kata
Pak ustad melintasin mereka. "ehem.." suara deheman itu seperti bunyi sinyal ketidak sukaan
pada sesuatu yang beliau tidak suka.
"Kenapa lagi ini waktu terasa lama... batin Dhea,
Dhea sudah nampak gelisah dalam duduknya.
Tatapan tajam itu selalu memperhatikannya.
Haduhhh.. ini pak ustad yang setor hafalan siapa
__ADS_1
tetapi tatapannya selalu tertuju pada ku.
Bisik Dhea sambil terus menundukkan kepalanya
seakan dia sedang khusuk dengan musafnya. padahal Dhea sengaja menghindari tatapan tajam itu. "Alhamdulillah... akhirnya waktu isya tiba dhea pun bernafas dengan lega.
"Andai aku bisa terbang.. ingin rasanya ku cepat terbang pulang, meninggalkan kedua sohibnya
yang selalu memperlambat langkahnya dengan alasan biar bisa ngobrol lama.
"Byee... " Dhea melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi kepada kedua sohibnya itu.
Teman yang aneh ...!!
teriak Siti dan Aminah berharap Dhea mendengarnya.
Assalamualaikum... tanpa menunggu jawaban
salam dari ibu Dhea nampak tak sabar masuk kekamarnya. walaikumsalam suara ibu dari kamar samping. pantesan ibu tidak kelihatan
rupanya ibu sedang istirahat di kamarnya.
Buru-buru Dhea masuk kekamarnya .
"dimana amplop ituuuu..? Dhea terus mencari
diantara halaman demi halaman dari musafnya
ma'afkan aku ya Allah. terpaksa amplop ini ku sembunyikan disini bisik Dhea sambil mencium musafnya.
Dhea mulai membuka amplop biru itu.
Ichh kenapa lagi tangan serasa tak memiliki kekuatan hanya membuka sebuah amplop saja.
Memberi semangat hatinya ingin cepat-cepat bisa tau dari siapa . tapi tangan Dhea bergetar tak berdaya . jantungnya pun seakan ikut berpacu dengan detak jarum jamnya.
Uchh akhirnya amplopnya terbuka juga.
Dhea berdiri memastikan kalau pintu kamarnya
sudah ia kunci. lalu Dhea melompat kekasurnya
Dhea kucek lagi matanya karena kurang yakin dengan penglihatannya Dhea lalu bangun ambil kaca matanya dimeja belajar.
Tapi benar nama pengirimnya orang yang memiliki tawa lebar itu.
Hebat juga dia berani menulis surat ini.
bagaimana klw pak ustad itu sampai tahu hati Dhea mulai mencemaskannya.
Dhea tak tau sudah berapa kali ia membaca surat itu berulang-ulang.
yang Dhea tau baru kali ini hatinya merasakan
kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan.
Dhea tertidur sambil bawa serta surat itu.
Dhea tersenyum diantara sunyinya malam.
__ADS_1
Ibu sempat merasa aneh dengan perubahan putrinya . "Dhea itu belum akan bangun sebelum ibu harus mengetok pintunya. dan tak cukup sekali dibangunkan Dhea itu langsung bangun.
Ibu butuh berkali kali untuk membangunkan Dhea . untuk benar-benar bangun.
Tapi tumben dengan pagi ini. ibu terus bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi syukurlah mungkin dengan didikan pak ustad setiap bada maghrib sudah berhasil membentuk Dhea semakin mandiri dan semakin
rajin ibadahnya. ibu Dhea sengaja menitipkan Dhea pada pak ustad untuk dididik ilmu agama.
"Pagiiii buuu..." Dhea menyapa ibunya penuh senyum bahagia berangkat dulu ya.
Assalamualaikum Dhea berpamitan sambil mencium tangan ibunya .
"Walaikumsalam " jawab ibu yang masih heran dengan perubahan Dhea.
Salma diam-diam merasa aneh dengan sikap Dhea . Dhea yang duduk disampingnya bukannya
yang selama satu tahun dikelas tujuh setahun yang lalu. belum pernah salma melihat Dhea selalu tersenyum.
Rapikan buku paket matematika kalian.!!
itu bukan kode kami akan pulang. tapi kode bu Sri sudah siapkan materi ulangan harian untuk hari ini. Dhea terbelalak melihat angka seratus menghiasi buku ulangannya , kenapa sekaget itu tanya Salma semakin aneh dengan perubahan Dhea. dari dulu seratus itu nolnya ada dua.. terdengar suara Salma sudah berani mengajak becanda Dhea. "Dhea sebenarnya kamu itu mampu cuma sayang... kalau ibu perhatikan dari kelas tujuh dulu kamu orangnya kurang PD dan kurang Fokus.
Sejak kapan bu Sri mampu membaca suasana hatinya. seperti pak ustad saja batin Dhea.
mata Dhea terus mengagumi angka seratus yang menghiasi buku ulangan Dhea. Salma geleng-geleng kepala sambil mentertawakan Dhea .
Siang ini Dhea mengayuh sepedanya terasa ringan . berbeda dengan hari-hari yang lalu kalau jam pulang sekolah itu biasanya sepeda terasa berat karena badannya tak bertenaga karena kondisi perut yang lapar.
Pulang sekolah tanpa diingatkan ibunya. Dhea langsung menganti seragamnya dan dengan sigapnya baju kotor dhea masukkan kemesin cuci.
Lihat alangkah manisnya adab putriku bisik ibu
melihat dhea menganti seprainya sendiri, dan kamarnya terlihat rapi dan harum lagi .
biasanya kamar Dhea juga rapi karena Dhea itu anak mandiri. tapi saat ini kamar ini semakin tampak tambah rapi.
Dhea tak bosan mengeluarkan siamplop biru itu
dari diarynya. Dhea mencari posisi ternyaman untuk membaca surat itu. Dhea menyandarkan badannya ditumpukan bantal.
"Haiii... kamu ... apa kabar..???
selama dikobong aku nggak bisa jahilin kamu.
kadang aku kangen masa itu lho...
kemaren aku dijemput pulang karena sakit.
aku sangat berharap bisa ketemu kamu...
Aku kangen bermain air wudhu dipadasan.
Tapi..., yang paling ku kangeni air wudhunya ku Cipratkan ke kamu... he.. he.
Oke maafkan kejahilanku yaa...
Sampai jumpa di liburan akhir semester.
__ADS_1
Tak terasa air mata Dhea jatuh membasahi surat itu. saat ini Dhea menangis bukan karena kecewa tapi tangis bahagia. Dhea simpan kembali surat itu dan dia beranjak menutup korden jendelannya nampak senja ikut tersenyum bahagia.
Bagi reader yang mau tau lebih banyak lagi tentang cerita yg diatas , Tunggu episode selanjutnya yaa ! 😇