
"Aku mungkin bisa menunda ingin aku lama-lama selalu bersama Dhea."
Berbuat jail ke dia sampai aku puas menatap
Wajahnya. Ingin setiap senja ku menantimu di masjid untuk belajar mengaji bersama.
Tapi yang paling ku suka main air wudhu,
lalu ku pegang tanganmu, Sampai kamu melotot
marah padaku.
Sampai baju kita basah karena cipratan air wudhu, Karena wudhu kita selalu kita ulang.
"Haaa Haa. " Kamu lucuuu..!
Kalau kamu sedang marah!!
"Tapiii aku bisa tau hatimu, sebenarnya juga suka.
"TAPI SAYANG WAKTU TIDAK AKAN MENUNGGU.!!
Mungkin senja nanti matamu akan lelah mencariku, Dan pasti hanya kecewa yang akan
kamu rasa.
Karena saat ini aku sudah kembali ke pondok.
Seperti biasa aku tak sempat menulis surat untuk mu.
***
Kesibukan di pondok menuntut ku untuk fokus
akan segudang kegiatan.
Hari-hariku selalu sibuk dengan,
"Sorongan, adalah sebuah istilah mengaji langsung dengan guru atau ustad
membaca di simak ustad."
"Bandongan, itu metode mengaji berjamaah
bersama-sama dalam satu tempat satu guru.
"Simakan". Untuk hafalan nadzom, mutan, syarah
Hafalan Al-Quran. simak Alfiyah.
Dan masih banyak lagi pembelajaran yang
Butuh Fokus ku.
***
"Di tengah hiruk-piruk persoalan hidup yang silih
berganti." Kehidupan pondok itu tak mengenal
karepe Dewee.Alias Semaunya sendiri."
Semua gerak seakan ada kebijaksanaan.
"Kebijaksanaan seseorang dapat diraih dari kehidupan yang telah dilaluinya, serta bagaimana cara menyikapinya."
"Tapi aku harus terus bertahan, karena pondok
adalah pilihan."
Mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan sedangkan bersyukur akan
senantiasa membawa kita pada kemudahan.
Dengan bertambahnya usia, Membuat Dhea semakin bertambah pandai menyikapi setiap
kenyataan yang ada di hadapannya.
"Walau rasa hati ingin selalu bersamanya di setiap senja."
Tapi itu hanya sebuah harap yang sia-sia, karena
Dia berada jauh darinya.
"Yaaa... Semua demi sebuah cita-cita."
Untuk saat ini Dhea harus rela mememdam
Semua rasa, semua rindunya.
Semua keinginannya untuk selalu berada didekatnya.
***
Seperti biasa Dhea tumpahkan semua rindunya.
Hanya lewat coretan penanya di antara senja
Yang merah merona warna indahnya.
"Haiii... kamu..."
Kadang ku tak sanggup menghadang rinduku.
Dan akhirnya runtuhlah air mataku.
"Heeeheee.."
kamu benar !
Tapi sebenarnya aku suka jailmu.
Malah sekarang aku merindukan kejailan mu.
"Haiii... kamu."
Apalah hatimu juga memiliki rasa yang sama
seperti diriku??
Hee hee , sebenarnya aku berharap kamupun sama.
kadang mata ini lelah mencarimu.
Di antara salman, dan yang teman yang lainnya.
Tapi senja, demi senja ku harus telan kecewaku.
Tapi aku sudah terbiasa menelan kecewa.
Tapi.. aku terus berharap dalam pencarianku.
Dan akhirnya semua harapku hanya sia-sia.
"Haiii kamu."
Di sini aku selalu menunggumu.
Bersama rinduku.
Bersama tetesan air wudhuku.
__ADS_1
Mungkin padasanpun juga sama menantimu.
Rinduku bagaikan ilusi yang tak bertepi.
Suara adzan mahgrib sudah dikumandangkan.
Dan langkah kaki membawaku ke padasan.
"Uuuhhhh.."
Dadaku terasa sakit bagai ada beban yang menghimpit. Bila setiap aku ambil air wudhu.
Aku selalu terkenang dirimu.
Duchhhh.. sulitnya berdamai dengan hatiku.
Kerinduanku padamu, Benar-benar menyiksa hati dan hidupku.
***
"Hidup memang sebuah perjalanan."
Dan hidup juga sebuah pilihan.
Roda kehidupan terus berputar.
Kenyataan hari ini yang harus kita jalani.
Karena Tuhan sudah ciptakan kehidupan ini.
Sepaket dengan cobaan dan jalan keluar.
Itu bagi kita yang beriman , akan selalu sabar
Jalani proses kehidupan.
"Semenjak di bangku SMA."
Dhea pun semakin sibuk dengan kegiatan di sekolahnya. Di lanjut Eskul demi Eskul, yang
Dhea ikuti. Membuat pulang sekolahnya selalu
masuk senja.
Dan rutinitasnya masih sama pagi sekolah.
Senja masih wajjb pergi mengaji.
Saat ini entah sudah kesekian kalinya Dhea datang terlambat. kehadirannya di sambut
dengan tatapan tajam.
Pak ustad sudah masuk materi.
Senja ini, sama dengan senja yang lalu.
"Setor hafalan, dan kadang memperbaiki bacaan.
kadang kala pak ustadz juga suka menggulang
materi yaitu tentang niat.
"Hadeuhhhhh.. " entah kenapa kalau berbicara
Tentang niat, Nyata sekali pak ustad menyidirku.
***
Tak terasa libur semester tiba.
"Apa sichhh.. yang Dhea harapkan??
Banyak harapan demi harapan yang ia nantikan.
bagi Dhea maupun Anajib.
"Senjapun Akhirnya Tiba."
Aku masih yang dulu, selalu menunggumu.
Bersama senja, Berharap kau selalu ada.
kutata hatiku untuk berjumpa denganmu.
Dhea merasa getar-getar hatinya.
tak mampu ia sembunyikan.
Langkahnya terasa melayang dari rasa bahagianya.
"Andai Dhea tau."
Ternyata tawa lebar pun tak jauh beda dengannya. Kondisi hatinya pun penuh warna.
Detak jantung semakin berpacu ketika masjid
Sudah nampak di mata.
"Huuhhhhh."
Tawa itu masih kas menghias wajahnya.
Semakin jelas tampannya.
Siti dan Aminah melangkah sengaja meninggalkan Dhea.
Tangan Dhea sudah ada dalam pegangannya.
Dhea hanya diam , Tawa lebar semakin erat
mengengam jemarinya.
"Haiii.. apa kabarmu..??
Tanyanya.
"Alhamdulilah baik."
Jawab Dhea.
Tawa lebar tanpa malu selalu menatap wajahnya
Haiii..., gemana sekolahmu?
Belum sempat Dhea menjawabnya.
"EEHEEMMMM"!!
Seketika tangannya melepaskan gengamannya.
Secepat kilat kami berdua berburu langkah
Dulu-duluan ke padasan.
"Dipadasan, seperti biasa..
Mereka berdua malah becanda dengan air wudhu
Kalau dilihat usia mereka bukan anak SMP atau
pun anak SD.
__ADS_1
Tapi lihat kelakuannya .
Masih sama tiga tahun yang lalu.
Aamiin...
Suara jamaah menghentikan canda mereka.
Anajjb sempat mencipratkan air sisa wudhu
di mukanya ke arah Dhea.
Iichhhh.. kamu!!
Protes Dhea, "Haaahaa" Kamu sukaaaa yaa?
Tawa lebar terus melangkah dan Dia masih sempat menoleh sambil terus tertawa.
Keduanya menyusul rakaat yang tertinggal.
Materi akan dimulai, Tatapan tajam itu mulai
Mengabsen. Dan "Tatapan itu berhenti pada Dhea". Lalu wajah penuh wibawa itu malah
Berdehem .
EEHEMMMM.
Coba Dhee.. "Murajaahnya!!
Suara itu.. pelan tapi cukup mengagetkan!
"Duuchhhh" kenapa harus akuuu?
Selalu jadi korban..?
wajah wibawa itu terus menatap dan masih menanti Suara Dhea untuk di simaknya.
Dhea mencuri pandang ke tawa lebar.
Dia berharap memilik kekuatan , untuk murajaah
nya. "Dia tersenyum dan mengangguk seakan
dia memberi isyarat untuk mensupportnya.
Akhirnya .. walaupun pelan tapi Alhamdulilah
Hafalanku, kembali ketika aku untuk murajaah.
"Heeemmmm..."
Cuma itu penghargaan untuk usahaku.
Tapi tak masalah bagiku.
Kuhibur usahaku, Dengan mengingat niat.
"Yupsss..!
Ku harus belajar luruskan niat.
Ketika waktu sholat isya tiba.
Dhea menghirup udara, lalu Ia hempaskan
bersama rasa di dadanya.
***
Malam semakin larut..
Tapi mata ini tak mampu kupejamkan.
Tangan ini yang sudah Dia pegang?
Kenapa aku membiarkannya?
Kenapa aku tak berusaha untuk melepaskannya.
"Hati ku merasa bahagia.."
Ketika bersamanya?
Dhea paksa matanya untuk terlelap.
Membawa serta bahagianya.
"Bukan hanya Dhea."
Ternyata tawa lebarpun tak jauh berbeda.
Wajah tampan itu selalu tersenyum.
Hatinya terus bergetar bila selalu teringat
Dhea, "haaaahaaa".
Dia lucuuu, kenapa dia selalu marah ?
Padahal hatinya suka.
"Tawa lebar itu menyembunyikan wajahnya
Di bawah bantal."
Tapi bibirnya terus tersenyum.
Kenapa Dia tadi hanya diam, ketika tangannya
kugengam.?
Terlihat jelas ku lihat betapa Dhea menyimpan rindunya.
"Harusnya aku senang, melihatnya selalu
merindukanku, Aku juga senang melihat tatapannya sudah mulai tenang."
Dia pun semakin pintar dari segi hafalannya.
Kenapa hatiku kadang gelisah bila akan meninggalkannya, Aku tidak akan kemana-mana
Aku pergi juga hanya untuk sementara.
Dengan mengingatmu adalah kebahagian
bagiku. Dan merindumu bila aku jauh darimu.
"Rindu tidak menuntut banyak hal."
Ia hanya mengharapkan kabar dan pertemuan.
RASA INI ...
Apakah ini yang dinamakan cinta..?
Anajib tersenyum sendiri.
Cinta itu seperti angin. ku tak dapat melihatnya.
Tapi ku dapat merasakanya. Anajjb pun pejamkan matanya dan merajut mimpi indahnya.
__ADS_1
***
Okee sampai jumpa di Episode Selanjutnya1😉