Kala Senja Di Kota Kecil

Kala Senja Di Kota Kecil
Epidode 43 Bandung ku gapai asa dan cita-citaku.


__ADS_3

Ketika pagi menjelang Dhea merapikan seprai


Dengan menarik setiap ujungnya.


Lalu Dia membuka korden kaca kamarnya.


Pagi ini adalah hari pertama Dhea memulai hidupnya. Dimana untuk kali pertama jauh dari


Semua yang berkaitan tentang kisah hidupnya.


Tak pernah terbayangkan begini jadinya.


"Dhea kira setelah Anajib lulus dari pengasingan


Mereka akan bersama-sama lagi seperti masa kecilnya yang indah penuh cerita canda dan tawa.


Tetapi kenyataan memang tak selalu seindah dengan yang kita harapkan.


Tiba-tiba, "Tok Tok Tok...!


pintu kamarnya ada yang mengetuk.


Dhea bawa langkahnya ke arah pintu.


Dan ketika pintu terbuka.


"Ibu Euis sudah berdiri di depan pintunya."


Ternyata ibu Euis tidak sendiri.


Pak ustad ada bersamanya, Nampak jelas pemilik tatapan tajam itu seperti berat pamit pada Dhea.


"Belajar yang benar.!


"Gunakan waktu sebaik-baiknya.!


Lalu beliau mengeluarkan amplop berwarna coklat. "Ini buatmu.!


Kata pak ustad sambil memberikan amplop itu pada Dhea.


Dhea mengambil amplop itu.


Selanjutnya Dhea mencium tangan itu.


Dan pak ustad pun masuk ke dalam mobil.


Lambaian tangan Dhea dan ibu Euis.


Melepas mobil itu meluncur meniggalkan kota Bandung.


"Mbak Dhea main sini ke rumah ibu kalau bosen di kamar. "kata ibu Euis pemilik kost .


"Iyaa bu terimakasih."

__ADS_1


"Kata Dhea memilih masuk kembali ke kamar."


Di tutupnya pintu kamarnya.


Lalu Dhea membuka amplop coklat yang pak ustad beri. Ternyata isinya ada uang kertas ratusan ribu, "MasyaAllah uang ini terlalu banyak." Kata Dhea.


Seingat Dhea baru kali ini dirinya memegang uang sebanyak ini.


"Ternyata ada sepucuk surat di antara lembaran


uang itu."


Dhea dengan hati-hati menyimpan uang pemberian pak ustad.


Setelah itu Dhea baru memulai membaca surat


Yang diketik dengan rapi.


Tangan Dhea gemeteran , Hatinya terus berdetak Sangat kencang , "karena takut."


Kalau Selama ini Dia mendapat surat dari Anajib.


Hatinya deg-degan karena senang.


Berbeda dengan saat ini kondisinya seperti orang terdakwa yang menunggu putusan.


Dhea mulai membaca suratnya.


Apa yang pak ustad amanahkan.


"Jadilah manusia yang bisa mengatur hidup,


Jangan mau di atur hidup.!


"Tetapi.., jangan melupakan aturan yang


Membuat hidup.!!


Jangan tinggalkan sholat bagai mana pun kondisimu.!


Jangan khawatir semua biaya hidup mu ,


Pendidikan mu tiap bulan akan Di tranfer.


HANYA SATU YANG USTAD MAU.


"TOLONG JAUHIN ANAJIB..!!


Surat itu sudah selesai Dhea baca.


Tak kurang dan tak lebih surat itu hanya sepuluh baris. Tidak panjang memang.


Terapi isi surat yang baris ke sembilan dan baris ke sepuluh atau baris terakhir itu.

__ADS_1


Bagaikan suara "PETIR DI SIANG BOLONG".


Sangat amat mengagetkan memang,


Dan terasa begitu menakutkan.


Dhea terduduk lemas di lantai tepatnya di pojok


kamarnya .


Dan tetes air matanya membasahi wajahnya.


Hatinya hancur seketika.


Musnah sudah semua mimpi indahnya tentang


Sebuah tawa yang selalu menghias wajah berkumis lengkap dengan jambangnya.


***


Kala senja di kota kecil sudah mulai menyapa.


Suasana Masjid sudah nampak mulai ramai Dengan jamaah yang mau menunaikan sholat .


Nampak Anajib beserta Salman sedang berbincang di Serambi samping masjid, Rupanya


Keduanya sedang menanti kedatangan Siti dan Aminah.


Benar saja , ketika kedua sohib Dhea itu Langkahnya sudah mendekat dengannya.


Anajib langsung menghadang keduanya.


"Heyyy...!


"Kok cuma berdua..??


Yang satunya mana..??


Kata Anajib menyapa mereka.


""WADAW..."


Ada yang merindu nichh.. Jawab Siti dan Aminah


Diantara gelak tawanya.


"Hadeuhhh.., Tak beradab .!!


Di tanya bukannya menjawab malah mentertawakan !!


Kesal Anajib bertambah ketika Salman ikut mentertawakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2