
Sederhana saja!
Jauh yang menjauhimu, dekati yang mendekatimu
dan cintai yang mencintaimu.
Percayakah kamu akan kekuatan cinta?"
Cinta bisa membuat seseorang rela melakukan
semua. Begitu juga dengan Anajib yang rela memboyong keluarga kecilnya untuk selalu bersamanya. Ingin ia pahamkan pada bapak dan ibunya cintanya pada Dhea tak bisa mereka
pisahkan kecuali maut yang akan memisahkannya.
Dhea juga selalu mencintai Anajib dalam ketaatannya. Tak jarang air mata membasahi pipi Dhea karena sikap kedua orang tua Anajib yang tak kunjung menerima walaupun Syifa dan Fatir sudah melengkapi rumah tangganya.
Sebenarnya Anajib dan Dhea tak pernah menyadari hati kedua orang tua yang kini hanya tinggal berdua saja di rumah joglo yang sangat luas itu. Semenjak kedua cucunya jauh berada
mereka selalu merasakan kerinduan yang mendalam.
Tak jarang mereka menelpon menanyakan kabar cucunya pada Anajib.
Padahal sebulan sekali keluarga kecil itu akan selalu berkunjung melepas rindu kedua eyangnya.
Waktu dan masa telah berlalu begitu cepatnya.
Tak terasa usia Syifa dan Fatir sudah bertambah.
Kini Syifa sudah duduk di kelas lima madrasah yang masih satu yayasan dengan pondok pesantren di mana sang abi mengajar.
Dan Fatir pun sudah masuk TK.
Semenjak tinggal di pondok Dhea tidak lagi bekerja di perusahaan Amir bersama mbak Lily dan mbak April karena jarak tempuhnya semakin jauh kalau dari pondok.
Hari-hari Dhea membantu di pondok sebagai tenaga admin. Yang membuat Dhea heran semenjak tinggal di pondok ia belum pernah bertemu dengan putri kyai yang bernama Ashofa.
Padahal hatinya sangat ingin melihat wanita yang menjadi dambaan bapak dan ibu mertuanya.
Bagi Dhea tak pernah tau.
Tapi bagi Ashofa sangat paham Dhea istri Anajib yang gagal menikahinya. Hanya demi seorang Dhea wanita yang telah membuat Anajib berani
menentukan langkahnya untuk menikah walau tanpa restu bapak ibunya.
Hari-hari Dhea menjalankan tugas di pondok dan kewajiban mengurus rumah tangganya.
Kadang ada rasa cemburu mana kala di kantor para staf pengajar membincangkan tentang Ashofa putri sang kyai yang kuliah ke Kairo. Ternyata Ashofa memilih melanjutkan studynya
__ADS_1
ke timur tengah. Setelah mengetahui perjodohannya dengan Anajib gagal.
Perasaan Dhea merasa tersindir.
Tapi biarlah orang mau bilang apa yang terpenting baginya adalah Anajib selalu menjaga hati dan perasaannya untuknya.
Dhea semakin merasakan posisinya menjadi nyonya Anajib menjadi sorotan entah itu di pondok
maupun di lingkungan keluarga ningrat keluarga Anajib.
Entahlah ini senja ke berapa kalinya keluarga kecilnya belum sempat mengunjungi eyang
mereka di kota kecil.
Hingga nampak mobil avanza merah itu terparkir
di depan pondok. Nampak pak Soleh sopir keluarga Anajib turun membukakan pintu mobil
untuk sang majikan.
Beliau sebelum menuju bangunan yang di tempati keluarga kecil Anajib. Beliau menjumpai pak kyai.
Setelah itu beliau baru menjumpai cucunya.
Terdengar suara pintu diketuk membawa langkah Dhea menuju pintu alangkah kagetnya setelah pintu ia buka nampak bapak dan ibu mertua.
"Di mana Fatir..?"
Suara bapak mertua terdengar tak mampu menahan rindunya pada sang cucu.
"Fatir dan Syifa ikut abinya ke pondok."
Jawab Dhea singkat semenjak jadi menantunya sangat jarang beliau bercakap dengan Dhea.
Ibu hanya diam seperti biasa beliau hanya memberi senyumnya.
Tak lama kami menunggu akhirnya. Suara Fatir,
Syifa dan sang abi mengucapkan salam.
"Assalamuallaikum.."
"Walaikumsalam."
Jawab kami bersamaan.
Lalu Anajib mendekat dan mencium punggung tangan bapak dan ibunya diikuti Syifa maupun Fatir. Saat Fatir yang mencium punggung tangan sang eyang. Tangan itu membawa Fatir dalam peluknya. Lalu beliau tak berhenti mencium cucunya.
__ADS_1
"Ayo kemasin barang kalian!"
Titah beliau.
Dengan ketaatan dan selalu dalam diamnya Dhea
mengemas kebutuhan anak-anaknya.
Liburan ini memang sudah niat Anajib mengajak
anak-anak dan Dhea untuk berkunjung ke kota kecil. Namun entahlah sang bapak sampai menjemput keluarga kecilnya.
Setelah berpamitan pada pak kyai.
Mobil merah itu melaju perlahan meninggalkan pondok.
Syifa dan Fatir nampak senang sepanjang jalan keduanya terus bercerita.
Tak terasa mobil itu menepi di depan rumah joglo.
Malam ini Syifa sudah disiapkan kamar oleh eyangnya.
Eyang kakung selalu mendekat dengan Fatir.
Sampai tidur Fatir ingin bersama eyang kakung.
Sunyinya malam menyelimuti kota kecil.
Malam ini Ananjib dan Dhea bak pengantin baru
kini di kamar mereka tinggal berdua.
"Terimakasih ya umi telah terus kuat mendampingi ku walau terkadang beban terasa berat."
Kata Anajib berbisik pada Dhea.
Dhea hanya menggangguk dan tersenyum bahagia. Dhea selalu yakin hati mertuanya akan luluh. Suatu saat nanti.
Dhea selalu mencintai Anajib dalam ketaatan.
Karena ia percaya kuasa Tuhan akan selalu menolongnya.
***
🌺 Sampai jumpa di episode selanjutnya🌺
Mohon maaf author telat up.
__ADS_1
Dan terimakasih atas dukungannya..🙏🙏🙏