
Demi cinta pemilik wajah nyaris sempurna itu.
Harus rela menanggung apapun hukuman yang
sudah menantinya.
Semua perbuatan ada konsekuensinya.
Detak jantung itu terus berpacu ketika langkah menemui sang bapak di ruang tengah semakin dekat. Selangkah lagi dan terlihat wajah berwibawa itu nampak sekali menahan amarahnya.
"DUDUK.!" Perintahnya.
Anajib langsung duduk di hadapan sang bapak.
Lalu beliau berdiri dan berjalan menghampiri Anajib. Tangan itu lagi-lagi meraih dagu berjengot
itu. "Jelaskan pada bapak ini maksudnya APA.?"
Suara itu terdengar "GARANG."
Anajib hanya diam.
Ingin mulutnya bercerita tentang kisah cintanya.
Ingin Anajib menyampaikan kabar gembira akan kehamilan istrinya. Tetapi lidah itu tak sanggup berkata-kata. Bukan ia tak berani, yang terlintas keselamatan kandungan istrinya.
Tak rela Anajib bila Dhea ikut menanggung amarah bapaknya. Hatinya berkecamuk jawaban apa yang harus ia beri buat bapaknya.
DAN PLAK PLAK PLAK.
Belum sempat ia memberi jawaban.
Tamparan itu sudah mendarat di wajah ganteng itu. Ada rasa perih di bibirnya.
Namun tak seperih hatinya.
"BIKIN MALU ORANG TUA.!"
Jika sampai turun KASTA karena perbuatanmu.
"Kurang lama apa kamu mondok.?"
Bapak kira waktu enam tahun di pondok itu cukup
untuk memberi bekal ilmu untukmu mas.!"
Bentak bapak sambil mendaratkan tamparannya lagi "PLAKKK.!"
Ibu yang sedari tadi hanya mendengarkan marahnya sang bapak dari dapur.
Kini ibu ikut nimbrung dan meminta bapak jangan terlalu keras pada Anajib.
__ADS_1
"Sudahlah pak.!"
Kita bicarakan baik-baik kata ibu sambil membantu membersihkan darah dari bibir yang pecah karena amukan sang ustad.
"Lihat perbuatan anakmu buu..!"
Kata bapak sambil mengangkat dagu itu.
Mata ibu terbelalak.
DAN.
"Astagfirullah mas.., perbuatan apa yang telah kamu lakukan..?"
Teriak ibu kesal.
"Itu hasil pergaulanmu."Di luaran sana mas.?"
Kamu tahu mas, itu boleh kamu lakukan tetapi dengan orang yang sudah halal untukmu.!"
Panjang lebar ibu memberi nasehatnya.
Kini Anajib menata hatinya.
Ini mungkin saat yang tepat untuk menceritakan
statusnya. Bibir itu hampir berkata, namun saat itu ibu pergi meninggalkannya.
Namun sayang sang ibu tak sempat mendengar.
Dan sang ustad tak pernah main-main dengan ucapannya. Kini beliau sibuk menghubungi rekannya yang menetap dan mengajar di Mesir.
Ustad Sanusi sudah bersedia mengurus semua keperluan Anajib di sana.
Visa itu sudah lama dicetak.
Dan tiket pesawat ke Kairo sudah dari satu pekan di pesan sang ustad.
Dada sang ustad sudah penuh amarah.
Beliau sudah merasa kepercayaannya yang di berikan pada Anajib sudah dikhianati.
Amarah yang tak mampu beliau kendalikan
ketika KASTA itu ternodai.
Sudah menjadi keputusan sang ustad besok adalah jadwal Anajib terbang ke Kairo.
**
Mungkin karena kondisinya yang sedang mengandung. Dhea sering merasa lelah.
__ADS_1
Namun dia tetap harus berangkat kerja.
"Mas andai kamu tahu, ingin sejujurnya hatiku selalu bersamamu."
Entahlah rasa ingin bermanja mungkin bawaan
bayiku saja, bisik Dhea menghibur hatinya.
Langkah kakinya terus berjalan hingga suara itu menghentikan langkahnya.
"Mbak Dhea." Panggil bu Euis.
"Yaa bu, jawab Dhea sambil membalik badan.
"Mba sudah tahu belum tentang Najib.?"
Pancing bu Euis ke Dhea.
"Tentang apa ya bu..?"
Tanya Dhea penasaran.
"Besokkan Najib....
Kalimat itu belum selesai.
Tiba-tiba Suara Bilqis sudah teriak memanggil nama Dhea.
"Dheeee..., Ayooo buruan.!"
Karena sudah di tunggu Bilqis.
Percakapan dengan bu Euis pun diakhiri.
"Maaf bu Dhea berangkat kerja dulu."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Mbak Dhea, sudah tahukah kamu.?"
Besok adalah hari dimana belahan jiwa mu akan terbang jauh.
Kata bu Euis dalam hati.
Ada rasa haru melihat kisah ponakannya dengan Dhea.
**
Semoga cinta kalian akan menemukan jalannya.
__ADS_1